PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duo Pengacau
Mobil yang dikendarai Sam berhenti di depan rumah makan Sunda yang baru saja bukan dua bulan lalu. Tempat makan ini langsung viral di media sosial. Selain rasa masakannya yang lezat, di sini juga menyediakan beragam fasilitas yang disediakan pihak pengelola.
Pengunjung yang datang dapat menikmati makanan di saung yang disediakan. Ada berbagai macam tipe saung. Dari yang besar yang bisa menampung sepuluh orang, sampai yang kecil, yang hanya menampung dua orang saja. Bentuk saungnya pun bermacam-macam. Ada yang atapnya berbentuk kotak, berbentuk segitiga dan segilima. Posisi saung juga ada yang di tanah, di atas kolam dan di antara hamparan sawah. Untuk saung yang berada di hamparan sawah, bentuknya seperti saung yang sering digunakan petani untuk beristirahat.
Selain saung, tempat ini juga menyediakan fasilitas lain seperti toilet yang dibangun seperti jamban, namun tetap tertutup dan menggunakan kloset. Lalu ada tempat ibadah atau mushola. Bagi peselancar dunia maya juga bisa menggunakan wifi yang disediakan. Lalu pengunjung juga bisa ikut menanam padi atau menjaring ikan di empang. Dan fasilitas terakhir yang membuat tempat ini ramai adalah selasar yang menyediakan peralatan karaoke. Pengunjung yang datang diperbolehkan menyumbangkan suara emasnya.
Belum lama Sam dan Aiza sampai, sebuah mobil berhenti tepat di samping mobil Sam. Dari dalamnya keluar Gilang dan Dipa. Sam langsung berdecak melihat kedatangan adik dan sepupunya. Sudah pasti kedua orang itu akan mengganggu waktu makan siangnya bersama dengan Aiza.
“Weh.. ada bang Sam. Kok bisa sih kita ketemuan di sini?” tanya Gilang.
“Cih.. sok polos,” gumam Sam kesal.
“Assalamu’alaikum Aiz..” seru Dipa seraya menangkupkan kedua tangannya.
“Waalaikumsalam.”
“Tambah cantik aja sih.”
“Ehem!!”
Sam berdehem kencang kemudian mengajak Aiza masuk ke dalam. Seorang pelayan langsung menyambut kedatangan mereka.
“Saung untuk berapa orang?”
“Dua,” jawab Sam.
“Empat. Masa kita ngga diajak,” protes Gilang.
“Kalian kan tamu tidak diundang,” ketus Sam.
“Buat empat orang. Yang dekat selasar bisa?” tanya Gilang.
“Boleh. Mari..”
Mau tidak mau Sam menyetujui usulan Gilang yang ingin makan bersama. Pelayan wanita itu mengajak Sam dan yang lain menuju saung yang berada di dekat selasar. Setelah semuanya duduk, pelayan tersebut memberikan buku menu. Sam melihat-lihat menu bersama Aiza, sementara buku menu yang satu diberikan pada adiknya.
Dipa beringsut mendekati Aiza. Dia ingin melihat buku menu yang ada di tangan gadis itu. Baru saja kepalanya mendekat, Sam sudah mendorongnya menjauh. Dipa tak menyerah, dia kembali mendekat dan kembali didorong oleh Sam. Dorongannya kali ini cukup kuat hingga membuat Dipa terjungkal dan hampir jatuh dari saung.
“Buset tenaga lo udah kaya Samson,” sewot Dipa.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Sam tanpa mempedulikan Dipa.
“Nasi merah kayanya enak, a.”
“Boleh. Lauknya mau apa?”
“Ehmm.. ikan bakar, sambal terasi, tumis kangkung, tempe goreng sama karedok.”
“Boleh, aa ikut aja maunya kamu.”
“Gue mau..”
“Pesan nasi merah, ikan bakar, sambal terasi, tumis kangkung, tempe goreng sama karedok. Buat yang dua ini kasih aja pepes peda, hampas kecap sama bakwan jagung,” Sam langsung memotong ucapan Dipa.
“Eh buset kita dikasih pepes peda, bakwan jagung sama apa tadi?”
“Hampas kecap,” sahut Gilang.
“Nah itu. Yang kaya gimana sih hampas kecap?”
“Maaf, pak. Ngga ada menu hampas kecap di sini. Mau ganti menu apa?”
“Ulukutek leunca ada?”
“Ada, pak.”
“Ya udah ganti itu aja.”
Sang pelayan menganggukkan kepalanya. Setelah mencatat semua pesanan, dia segera meninggalkan saung.
“Bang tega benar. Masa kita cuma dikasih pepes peda, ulukutek leunca sama bakwan jagung doang,” protes Gilang.
“Kalian tamu ngga diundang. Masih untung dikasih makan.”
Aiza hanya terkikik saja melihat perdebatan Sam dengan Dipa dan Gilang. Dipa menarik tangan Gilang, lalu membisikkan sesuatu di telinga pria itu. Wajah Gilang berubah sumringah setelah mendengar apa yang dikatakan Dipa.
Dikarenakan perut sudah keroncongan, begitu makanan sampai, mereka langsung menyantapnya. Dipa dan Gilang tidak punya pilihan selain memakan makanan yang dipesan oleh Sam. Ketika Gilang hendak mengambil ikan bakar, Sam langsung menarik piring menjauh.
Sepajang makan siang, Aiza sudah seperti istri Sam saja. Gadis itu selalu mengambilkan makanan untuk pria itu. Begitu pula dengan Sam yang tidak enggan memisahkan daging ikan dari durinya demi neneng Aiza. Dipa hanya menggelengkan kepalanya saja ketika melihat Sam yang biasanya berwajah datar, kini penuh dengan senyuman.
“Cinta emang bisa bikin orang jadi ngga waras,” bisik Dipa pelan namun masih bisa tertangkap oleh Sam.
“Ehem!!”
“Ehem juga!!” balas Dipa.
“Bang.. kan udah nih makannya, sekarang kita ke selasar yuk,” ajak Gilang.
“Ngapain?”
“Kita mau konser. Mau ngga, bang?” Gilang melihat pada Dipa.
“Hayo..”
Gilang dan Dipa segera keluar dari saung, lalu berjalan menuju selasar. Aiza ikut berdiri kemudian mengajak Sam. Mau tidak mau pria itu bangun dan menuju selasar. Sam mendudukkan diri di dekat Dipa dan Gilang yang sedang memilih lagu. Aiza duduk di sampingnya.
Irama musik langsung terdengar. Lagu pertama akan dinyanyikan oleh Dipa. Beberapa pengunjung yang sudah selesai makan, ikut turun ke selasar untuk melihat penampilan pria itu. Untuk kali ini Dipa akan menyanyikan sebuah lagu milik bang haji yang sudah diaransemen ulang oleh anaknya.
“Dirinya, diriku tergila-gila padamu. Cintanya, cintaku sama besar kepadamu.”
Ketika menyebut dirinya, tangan Dipa mengarah pada Sam. Saat menyebut padamu, menunjuk pada Aiza. Sam hanya berdecak sebal. Sepertinya Dipa sengaja memproklamirkan cinta segitiga yang terjadi di antara mereka. Gilang tertawa melihat wajah keki kakaknya. Diam-diam dia merekam wajah Sam yang tengah bête.
“Tentu saja dia, tak mau mengalah, melepas dirimu untukku. Dan begitu juga, aku tak kuasa, melepas dirimu untuknya. Sedangkan kutahu, cintamu padaku, sama seperti kepadanya. Hingga engkau ragu, bahkan tidak mampu untuk menentukan yang mana. Dia atau aku.”
Kembali Sam dibuat kesal, karena Dipa selalu menunjuk dirinya. Aiza malah tidak menyadari perubahan wajah Sam. Gadis itu benar-benar menikmati pertunjukkan Dipa yang memang bersuara merdu. Setelah Dipa, kini giliran Gilang yang unjuk gigi. Sama sepertu Dipa, pria itu juga menyanyikan lagu bertema segitiga.
“Dia untukku, bukan untukmu. Dia milikku, bukan milikmu. Pergilah kamu, jangan kau ganggu. Biar aku mendekatinya. Kamu tak akan mungkin mendapatkannya. Karena dia berikan aku, pertanda cinta. Janganlah kamu banyak bermimpi, oh. Dia untuk aku.”
Usai menyanyikan lirik tersebut, Gilang memberikan mic pada Aiza, kemudian pria itu berlari menghindari Sam yang hendak menangkapnya. Kedua kakak beradik itu bermain kejar-kejaran di selasar. Namun aksi keduanya terhenti ketika mendengar irama musik lagu Sunda.
“Ayo bapak-bapak, ibu-ibu kita goyang sama-sama.”
Seakan terhipnotis dengan ajakan Aiza, para pengunjung yang semula hanya menonton mengikuti keinginannya untuk ikut berjoged. Sambil menggerakkan pinggulnya, ibu bertubuh demplon itu bergoyang mengikuti irama lagu. Ingin ikut bernyanyi bersama Aiza.
“Meni nyeuri.. nyeuri nyeuri teuing. Ceurik ati ditambelarkeun. Henteu beunang ku disabaran. Aduh alah ieung.. tega teh teuing. Indit sore, kurunyungna subuh. Abdi tunduh mukakeun tulak. Aduh alah ieung, tega teh teuing,” Aiza memulai nyanyiannya.
“Nyeuri.. nyeuri.. moal beunang diubaran. Kajeun tutumpuran, paeh ge teu panasaran. Meungpeung ngora keneh. Meungpeung urang can batian. Pek geura serahkeun, talak tilu sakalian,” sambung sang ibu yang bersama Aiza.
Gilang langsung mendekati Aiza dan berjoged di dekat calon kakak iparnya itu. Dipa pun ikut begoyang. Dia beradu goyang pinggung dengan ibu yang menyanyi bersama Aiza. Sam mendekat kemudian menarik Dipa menjauh dari Aiza. Namun pria itu berhasil mendekati terus. Baik Gilang maupun Dipa selalu berusaha mendekati Aiza sampai gadis itu menyelesaikan lagunya. Sam hanya bisa melihat kesal pada duo pengacau yang sudah mengganggu waktunya bersama Aiza.
🍄🍄🍄
Sam kepalanya ngebul😂