Selma, seorang perempuan yang baru saja lulus SMA, harus mengubur impiannya untuk kuliah dengan beasiswa. Pacaran yang terlampau batas, membuatnya harus menanggung kehamilan bayi kembar di usia dini.
Sementara orang tua Radit, pacar yang juga teman sekolah Selma, hanya ingin bertanggung jawab dengan memberikan sejumlah uang, bukan dengan menikahkan anak mereka karena Radit harus kuliah di luar negri demi masa depannya. Hubungan mereka harus kandas begitu saja tanpa saling mengetahui kabar masing-masing.
Hingga 8 tahun kemudian, Radit yang sudah menikah, bertemu kembali dengan anak kembarnya tanpa disengaja dan tanpa ia tahu.
Apakah mereka akan kembali bersatu, atau kembali menjalankan kehidupan masing-masing?
Ikuti kisah selengkapnya di sini ya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolong Aku
Radit segera menggandeng tangan Selma dan mengajaknya pergi. Seakan ia sudah muak pada mantan istrinya itu. Meski dalam benaknya muncul banyak pertanyaan mengapa Gita bisa ada di sana.
“Perasaan tadi waktu kita datang dia tidak ada,” ujar Selma.”
“Dit, Gita tidak hamil denganmu, kan?” lanjut Selma mulai kepikiran.
Radit menghentikan langkahnya. “Tidak, Sayang. Aku tidak pernah berhubungan dengannya sudah lama, bahkan jauh sebelum aku menggugat cerai. Mungkin, dia hamil dengan selingkuhannya yang tak mau bertanggung jawab.”
Selma masih terdiam memikirkan jawaban suaminya. Jujur, ia takut jika ternyata saat perceraian itu, Gita tengah hamil anak Radit. Melihat Selma yang masih terdiam, membuat Radit harus meyakinkannya kembali.
“Saat perceraian saat itu, aku dan kuasa hukum sudah memastikan bahwa Gita tak sedang hamil. Artinya, jika sekarang dia mengandung, bukan dari aku,” ujar Radit yang seolah tahu isi pikiran istrinya.
Selma cukup lega mendengar hal ini. Bagaimana tidak, jika seandainya benar Gita hamil anak Radit, tentu akan merepotkan rumah tangganya. Apalagi, Gita dan Radit sudah menikah, jelas segala hal tentang anaknya akan menjadi kewajiban Radit.
Radit kemudian meminta Selma agar tak pusing memikirkan kehamilan Gita. Lebih baik, mereka memikirkan calon anak ketiganya. Ia sudah tak sabar ingin memberikan kabar bahagia ini pada kembar.
###
Sementara itu, keesokan paginya Gita kembali menemui Seno untuk meminta pertanggung jawabannya. Sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter semalam, ia dinyatakan hamil dengan usia janin 5 minggu. Hal ini seakan sesuai dengan jarak saat mereka berhubungan.
Namun nihil, Seno tetap tak mau bertanggung jawab menikahi Gita karena ia sudah memiliki calon istri.
“Sori, Git. Bersamamu hanya pelampiasanku saja, tak berarti aku serius. Kita sama-sama tukang selingkuh, jadi tak seharusnya kita menjalani hubungan yang sesungguhnya. Tapi tenang saja, aku bisa bantu kamu menggugurkan kandunganmu, aku ada kenalan mantan bidan yang berpengalaman dalam hal ini,” jelas Seno dengan mudahnya.
Gita menampar Seno karena tak terima dengan responnya. Semudah itu dia berkata demikian. Seolah lupa pada dosa apa yang telah mereka lakukan.
“Git, jangan munafik! Kita sama-sama menikmati. Kenapa kamu jadi tidak seasyik dulu sih?” Ucapan Seno semakin membuat Gita emosional.
“Jangan pernah menyesal atas apa yang sudah kamu lakukan!” ucap Gita pergi meninggalkan Seno.
Hatinya kalang kabut. Bagaimana mungkin ia akan menggugurkan kandungannya lagi, sementara dokter sudah mengetahui riwayat aborsinya yang tak sesuai dengan aturan medis kala itu. Hal ini juga akan berdampak pada organ reproduksinya nantinya. Bahkan, dokter mengatakan jika ia kembali menggugurkan kandungannya, besar kemungkinan Gita tak lagi bisa hamil.
Di mobil, ia hanya bisa menangis. Tak bisa sepenuhnya dikatakan sebuah penyesalan, karena sedari dulu memang begitu sifatnya yang tak kunjung berubah. Tak ada pilihan lain, mau tak mau ia harus membesarkan janinnya. Namun, ia tak mau menanggungnya sendiri. Ia tak siap menanggung malu.
Kemudian, Gita tampak mengubek-ubek isi ponselnya seakan ingin menghubungi seseorang. “Luki, iya Luki. Dia pasti bisa membantuku.”
Tak lama, panggilannya terhubung dengan salah satu sahabatnya, Luki, yang selalu mengingatkan Gita untuk berubah, meski Gita tak pernah sekali pun menghiraukannya.
“Hai, Luki. Kamu di mana sekarang? Aku sedang ada masalah,” ujar Gita tak mau berbasa-basi.
Tak sungkan, Gita mengadukan permasalahannya. Ia bermaksud ingin Luki yang menikahinya. Karena hanya Luki lah yang bisa ia andalkan saat ini.
“Hanya sampai anak ini lahir, Ki. Papaku bisa marah kalau tahu aku hamil di luar nikah. Setidaknya, setelah anak ini lahir, kita bisa cerai dan kamu bisa menikahi siapa pun yang kamu mau. Orang tuaku juga sudah mengenalmu, jadi pasti pernikahan ini akan lancar nantinya. Sederhana saja kok acaranya, hanya formalitas. Plis, Ki, cuma kamu yang bisa membantuku keluar dari masalah ini.”
Siang harinya, Luki menemui Gita, sesuai dengan janji di tempat yang telah mereka rencanakan.
Gita tampak memohon pada Luki agar mau mengabulkan permintaannya. Hanya sekitar 35 minggu saja, tugas Luki mendampinginya hingga ia melahirkan. Tak hanya itu, Gita juga memberikan amplop berisi uang sebagai imbalan jika Luki mau menerima permintaannya.
Luki tampak berpikir. Sesungguhnya, ia tak benar-benar menganggap Gita murni sahabatnya. Bahkan hingga sekarang pun, ia masih menyimpan hati pada Gita, meskipun ia tahu bagaimana kelamnya kehidupan malam sahabatnya itu. Namun di sisi lain, ia tak ingin mempermainkan pernikahan. Baginya, pernikahan cukup sekali seumur hidup.
Luki menyodorkan lagi amplop yang di serahkan Gita. “Ambil saja, Git. Aku tidak butuh. Kalau pun aku mau menikahimu, itu karena aku tulus menyayangimu dan bukan karena uang. Aku bisa saja mengiyakan permintaanmu. Tapi ada syaratnya, apa kamu sanggup?”
Gita mengangguk.
“Aku akan menikahimu, asal kita tidak akan bercerai, dan kamu mau berubah. Aku mau kamu jadi wanita baik-baik, Git. Bukan wanita malam yang hobi berselingkuh, hingga tidur bersama banyak pria hanya untuk sekedar melampiaskan nafsumu. Lihat lah, Git, kamu begitu cantik. Tuhan bahkan memberikanmu kemudahan bisa hamil. Di luar sana, banyak wanita yang tak bisa hamil. Apa tidak pernah ada sedikit pun rasa bersyukur darimu?” lanjut Luki mengingatkan agar sahabatnya itu berubah.
Gita hanya kaku terdiam.
Luki kembali melanjutkan ucapannya bahwa mau sampai kapan Gita seperti ini. Ia sudah kehilangan rumah tangganya yang banyak orang impikan. Sekarang, ia hampir saja kehilangan kesempatan untuk hamil jika ia menggugurkan kandungannya lagi. Lalu, mau apa lagi yang ingin Gita buang dari hidupnya.
“Berubah lah, Git. Kamu sudah melangkah terlalu jauh. Hidup yang fana ini terlalu membuaimu hingga penyesalanmu akan datang satu per satu. Percaya padaku, cepat atau lambat hidupmu akan hancur. Aku masih menunggumu meski waktuku juga tak banyak. Yang harus kamu ingat, bisa jadi hanya aku laki-laki yang bisa menerimamu. Tapi, semua pilihan tetap ada di tanganmu,” ujar Luki sembari berdiri bersiap untuk pergi meninggalkan Gita sendiri.
“Luki, tunggu!” cegah Gita menarik tangan Luki.
...****************...