Ardi Wijaya.
seorang mahasiswa siswa kedokteran berusia 20 tahun. pria tampan. yang memiliki tinggi tubuh 175 cm. kulit putih dan berhitung mancung. pintar dan juga Soleh harus patah hati ketika gadis yang di cintai nya menerima lamaran dari bosnya.
ia juga harus menerima di jodohkan dengan adik dari gadis tersebut. yang bernama Aisah. seorang gadis yang cerdas dan juga ceria. apa kah Aisah bisa mengantikan posisi kakaknya di hati pria tampan itu?
bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
capter 34
Aisah mendekat kan wajah nya ke wajah Ardi.
bang boleh ya?" ucapnya meminta izin.
Ardi tersenyum memandang wajah gadis tersebut. Ia menjauhkan wajahnya dari Aisah.
" Rumah kak Arum di lengkapi CCTV. mau di marahin kak Arum?" tanya nya kemudian.
" He...he... Ica lupa. " ucap gadis tersebut saat baru mengingat cctv yang ada di semua tempat. wajah gadis itu tampak memerah menahan malu .
"Udah tidur. " ucap Ardi saat di lihatnya Vira Yang terlelap di pangkuan nya.
" Biar Ica aja yang gendong tangan Abang pasti udah pegal." ucap Aisah sambil mengembangkan tanganya.
" Gak apa Abang aja." ucapnya sambil berdiri. Aisah berjalan di sebelah nya.
Habibi yang melihat Ardi mengendong putri nya yang sudah tertidur, mengambil ahli putri nya dan membawa nya ke kamar.
" Mau makan masakan khas Eropa atau khas Indonesia ?" tanya Arum saat Ardi duduk di meja makan tersebut.
" Ciri khas Indonesia dong, kalau khas Eropa nggak kemakan lagi udah bosan." jawab nya.
"Di sana jangankan mau cari rumah makan khas Padang cari rumah makan khusus muslim aja lumayan sulit " curhat pria tersebut.
Arum sudah mempersiapkan menu kesukaan sahabatnya itu Ia memasak dendeng batokok seperti yang sering di beli Ardi di rumah makan Padang. gulai cincang, rendang daging, asam pedas ikan patin, gulai ayam, sambal cabe hijau rebus pakai ikan teri. semua yang disajikannya masakan khas Minang.
Ardi tampak begitu senang melihat menu yang ada di atas meja.
" jarang ya bang makan masakan khas Indonesia. " ucap Aisah.
" Di asrama ramai juga yang jago masak sehingga bisa minta-minta kalau lagi pengen banget. kalau gak, Abang kasih duit ke orang itu, entar orang itu yang masak.
Banyak juga yang dikirimin keluarganya yang dari Indonesia kalau dapat kiriman, biasanya kami makan sama-sama." ucap Ardi menjelaskan panjang lebar.
tapi semenjak pindah ke kos muslim. udah susah dapat makan masakan Indonesia.
" kenapa pindah?" tanya habibi yang memasukan nasi ke piring nya.
" Aku di sana praktek di rumah sakit punya orang tua teman. jam kerja mulai dari jam 5 sampai jam 11 malam. lokasi nya dari asrama cukup jauh. sampi di asrama udah jam 12. gak enak sama penghuni asrama. makanya pindah. " ucapnya
" Besok Ica masakin rendang. Ica kirimkan untuk Abang." ucap Aisah dengan begitu yakinnya.
" Udah pandai masak dek?" tanya Arum sambil memandang adik bungsunya.
" Ica belajar, biar nanti kalau udah nikah. masakan nya udah enak. " jawab nya yang membuat Siti menggelengkan kepalanya.
" kasihan dokter Ardi dong. Udah senang di dapat kiriman dari Indonesia gitu di makan rasanya seperti menjalani kehidupan. ada rasa manis, pahit, pedas, asin, Asam. semua bercampur jadi satu." ucap pria itu mengeluarkan filosofi nya
" Hus... gak boleh ngejek adek kamu." ucap Siti yang membela putri bungsu nya.
Habibi hanya tampak tersenyum bila ia sudah berjumpa dengan adik-adik iparnya
Aisah menjulurkan lidahnya. mengejek Azzam.
" kalau mau nikah, gak bisa modal pintar masak aja dek." ucap Arum sambil memasukkan rendang ke piring nya.
" modal apa? tanya Aisah yang tampak antusias.
" Dewasa dulu." ucap Arum sambil membesarkan mata nya ke pada sang adik.
" masih kecil udah ngomong nikah." omel wanita itu.
" Abang dulu nikah." ucap Azzam sambil tersenyum.
" Abang cepatan biar Ica bisa nyusul." jawab Aisah yang membuat Ardi tertawa.
" kalian, kecil-kecil udah sibuk aja mau nikah."
omel Arum.
mereka mulai menikmati menu yang di sajikan. mereka makan sambil mengobrol ringan.
aku pamit ya, tadi Ari minta di jemput di rumah sakit jam 2 ucapnya.
" oh iya, hati-hati ya." Ucap Arum.
" Tante mau Ardi antar pulang." tanya nya kemudian.
" Gak usah,Tante nanti pulang sama Azzam aja." jawab Siti.
" Aku bawak Aisah jalan ya Tante, Aisah juga mau nganterin aku ke bandara. " ucapnya untuk meminta izin.
" nanti Ica pulang sama siapa?" tanya siti.
sama Ari atau nanti Doni dan sarah yang ngantarin. soalnya mereka ikut ke bandara. ucap Ardi menjelaskan.
" Ya udah kalau begitu. nak ardinya hati-hati ya Tante titip Aisah, tolong di jagaini.
ucap Siti.
ingat jangan di apa-apain, ingat masih kecil tu. ucap Arum. yang membuat Ardi tertawa.
" Tapi udah minta nikah kok. ucap Ardi yang membuat wajah gadis itu memerah.
" aku pamit ya mas." ucapnya sambil menyalami tangan Habibi. hati-hati ya terimakasih atas kunjungan nya." ucap Habibi yang tersenyum ramah.
" hati-hati pak dokter. semoga cepat selesai. ucap Azzam yang menyalami tangan Ardi.
kalau mau liburan ke Ambrik kabari." ucapnya.
" Siiip ." jawab Azzam
setelah berpamitan ardi meninggal kan rumah tersebut.
Arum menatap sahabatnya itu hingga mobil yang di kendarai oleh sahabnya itu menghilang. senyum nya yang manis tercetak di sudut bibirnya. akhirnya ia bisa melihat Ardi bahagia. ia tidak pernah melihat sahabatnya itu tampak begitu bahagia seperti saat ini
******
Ardi mengemudi kan mobilnya menuju rumah sakit tempat Ari bekerja. belum sampai di rumah sakit tersebut, ponselnya berdering.
ia melihat Ari yang memangil.
Ardi mengangkat telpon tersebut.
"Hallo RI,." Ucap Ardi saat ia mengatakan sambungan telepon tersebut.
" Iya hallo Di, aku ada rapat di rumah sakit. dan selesai kemungkinan jam 5 atau jam 4 paling cepat, jadi kamu gak usah jemput aku." ucap Ari di sebrang sana.
"Aku sedang jalan menuju rumah sakit. " jawab Ardi.
"Nanti aja jemput aku. kamu istirahat aja di apartemen. pin pintunya tanggal lahir aku. nanti aku wa". ucap Ari.
" Gak usah aku masih ingat, tapi aku sama Aisah. " jawab Ardi.
" Ya gak apa bawak aja, biar lu puas-puas lepas rindu." ucap pria tersebut.
"Tapi ?" ucap Ardi terhenti
Ari tertawa di sebrang sana." lu tu gak mungkin ngapa-ngapain calon istri lu. berani cium aja lu hebat ucap Ari ." yang penuh ejekan. Ia sangat mengenal watak sahabnya itu. membuat Ardi berdecak kesal.
"Udah gak apa bawak aja Aisah biar lu bisa istirahat. kasihan gue lihat lu kurang istirahat. ntar balek ke sana langsung sakit lu."
ucap Ari yang mencemaskan sahabat nya tersebut.
" tapi beneran gak apa ini aku bawak Aisah." tanya Ardi lagi yang tampak ragu. mengingat ini untuk pertama kalinya Ia akan membawa gadis masuk ke dalam apartemen.
lu tu sayang banget sama Aisah, mana mungkin lu mau ngapain-napain calon istri lu." ucap Ari yang begitu yakin.
"Ya udah kalau gitu gua ke apartemen Lu." jawab Ardi.
"kalau lu lapar minta aja Aisah masak. bahan-bahan di kulkas lengkap. " ucap Ari.
"Kenapa apa bang?" tanya Aisah saat Ardi sudah menutup panggilan telepon tersebut.
"Bang Ari pulang jam 4 atau atau jam 5 ada rapat di RS." jawab nya.
"Adek mau gak kalau kita ke apartemen nya bang Ari?" tanya Ardi yang tampak ragu. tapi apa yang dikatakan Ari itu emang bener. Ia butuh istirahat. dan saat ini kepada nya sedikit berat.
dengan cepat Aisah mengangukan kepalanya.
Gak takut?" tanya Ardi.
" Gak jawab gadis tersebut penuh tekad.
" Beneran gak nyesal?" tanya nya lagi.
" Gak ." jawab Aisah.
Ardi Tersenyum memandang gadis tersebut. dan kemudian mengusap puncak kepalanya.
Ia mengengam tangan Aisah kemudian mencium nya. " I Love you sayang." ucapnya kemudian.
******
like, komen dan votenya nya.
terimakasih atas dukungan nya. 😊😊🙏🙏🙏