Noda hitam yang sudah mengotori tak akan bisa di hapus oleh waktu. Menikahi perempuan yang pernah di sakiti tidak menjadikannya terobati. Tapi justru dendam akan menjadi bumbu rumah tangga. Tapi kini ia meminta maaf dengan kedatangan dirinya yang telah bertransformasi menjadi ustadz, apakah akan ada ujung dendam?
Simak kisahnya,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma .R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Bak seorang pangeran yang menemui putri kerajaan
Suasana kamar serasa penjara bagi Mina. Untungnya di kamar itu banyak kenangan saat enam tahun ia pernah menempati kamar tersebut. Jadi ia mencoba menyibukkan diri mengambil album di meja. Ia melihat foto dirinya dulu bersama ibu dan kedua Tantenya.
"Dulu kita bisa sebahagia ini, tapi sekarang aku bahkan nggak tau kita ini masih bisa disebut keluarga atau tidak, tanteku sendiri serasa penjahat yang perlu aku takuti," batin Mina sedang air mata menetes tepat di foto itu.
Azan Maghrib berkumandang, Mina berwudhu dan melaksanakan sholat. Untungnya di kamar ada kamar mandi, hingga ia tak perlu mengetuk-ngetuk pintu untuk memanggil tantenya.
Usai sholat ia lanjutkan dengan berdzikir untuk menenangkan hatinya. Bercucuran air matanya meratapi keadaan yang sulit untuk dilalui. Tiba-tiba pintu terbuka, Tante Maya muncul membawa makan malam untuk Mina.
"Makanlah, dan jangan pernah berpikir untuk lari, rumah ini dikelilingi penjaga," tegas Maya menatap Mina.
"Aku nggak tau apa yang ada di pikiran Tante hingga Tante tega mengurung aku seperti ini," ucap Mina menatap tajam tantenya.
"Kamu seperti anak kucing yang tidak mengerti apa pun, tinggallah kamu di kamar ini sampai kamu sadar kalau athar tidak pantas untuk dicintai!" tegas Maya, kemudian langsung mengunci pintu kembali. Dengan teganya ia pergi tanpa mendengar perkataan apa pun dari mulut Mina.
Mina pasrah tak bisa kemana-mana. Hp nya yang mati semakin membuat ia khawatir dengan Athar.
...**...
Athar tak langsung pulang setelah Maya mengusirnya. Ia singgah sesaat di sebuah mesjid. Orang orang di sana tampak ramah pada Athar. Hingga ia tak perlu repot-repot mencari persinggahan.
Bagaimanapun juga athar dulu pernah menjadi anak berandalan, ia tau bagaimana cara mengatasi ini. Namun ia hanya menunggu momen yang pas.
"Ya Allah ..lindungilah Mina ku," batin Athar yang amat merindukan Mina.
Malam itu Athar mulai beraksi, ia dengan keberaniannya datang diam-diam ke rumah Tante Maya. Sampailah di depan rumah. Athar melihat penjaga yang ada di setiap sisi rumah. Jadi ia harus memikirkan cara untuk masuk ke rumah itu.
Saat ini Mina membuka jendela kamarnya, ia menatap ke langit, melihat rembulan yang amat terang diantara jejeran bintang. Mina menatap keindahan malam sembari mengingat suaminya.
Athar melihat sebuah jendela terbuka dari sisi kanan rumah. Ia memperhatikan lebih teliti. "Itu kan Mina.." batin Athar. Ia lalu memikirkan cara untuk bisa masuk.
Sebuah ide muncul di pikirannya. Athar buru-buru mencari tali untuk bisa dijadikan alat memanjat ke jendela kamar Mina. Ia tampak terampil menghadapi keadaan semacam ini.
Setelah ia mendapat tali itu, barulah Athar menjalankan rencananya. Ia melempar beberapa batu ke sisi yang lain untuk mengalihkan perhatian penjaga. Seketika penjaga itu kaget dan mengikuti suara keras itu.
Athar buru-buru menyelinap masuk gerbang rumah. Buru buru Athar ke sisi kanan rumah, dan berdiri di bawah jendela mina yang ada di lantai dua.
"Mina.." panggil Athar dengan nada pelan.
Mina mendengar suara kecil yang memanggilnya. Ia mencari-cari suara itu. Ia melihat ke bawah ternyata ada Athar. "Mas Athar..kamu.." mina masih tak yakin dengan apa yang di lihatnya.
Athar langsung melemparkan tali itu ke atas hingga masuk ke jendela kamar Mina. Mina langsung faham tanpa harus mendapat penjelasan. Mina lalu mengikatkan tali itu ke tiang jendela.
"Naiklah.." kata Mina sembari memberi isyarat dengan tangannya. Athar buru-buru naik. Ia begitu terampil menghadapi hal sulit ini karena memang saat muda dulu ia sering melakukan ini ketika ia terlambat pulang ke rumah.
Langkah kaki penjaga mulai terdengar, buru-buru Athar masuk ke dalam kamar Mina dari jendela. Ia tampak masih ngos-ngosan.
"Cepat..sembunyi..ada penjaga," ucap Mina yang langsung mengangkat tali itu dan menyembunyikannya.
"Ada apa pak..kok tadi saya kayak dengar sesuatu?" sapa Mina pada seorang penjaga di bawah. Ia berdiri menatap ke bawah dari jendela.
"Nggak pa pa non, udah di cek ternyata nggak ada apa apa, mungkin cuma kucing," jawab seorang penjaga dari bawah.
"Oh ya udah makasih ya," ucap Mina lalu ia menutup jendela kamarnya.
Mina langsung memeluk Athar yang masih ngos-ngosan. "Kamu nggak pa pa kan mas, ada yang luka nggak, Tante Maya nggak ngapa-ngapain kamu kan?" tanya Mina beruntun
"Aku baik baik aja sayang, kecilkan suaramu, takut nya Tante dengar kita," bisik athar ke telinga Mina.
Mina masih tak menyangka bahwa suaminya sepintar ini hingga bisa menerobos masuk. "Kamu kok bisa masuk?" tanya Mina menatap Athar.
"Aku akan lakuin apa pun agar bisa melihat kamu, kita akan segera keluar dari sini," ucap Athar
"Keluar apanya, kamu kan lihat sendiri bagaimana banyaknya penjaga di bawah, sulit untuk kabur,"
"Sayang..kita berdoa aja ya, kamu jangan sedih gitu, Allah pasti beri kita jalan keluar,"
"Lagian aku nggak akan bisa pergi dari sini mas, lebih baik kamu nanti pergi sendiri aja karena percuma, kalau aku kabur kamu akan dalam bahaya," tutur Mina menatap suaminya.
Athar mengelus kepala Mina, menatap sang istri yang amat khawatir. Ia menggenggam tangan istrinya seraya menenangkan hatinya. "Yakinlah semua akan baik baik saja nantinya," tutur Athar.
"Aamiin..oh ya kamu nggak hubungin Tante Nurul, siapa tau dia bisa bantu kita,"
"Udah aku hubungi, tapi kayaknya di kampung nggak ada jaringan, jadi telponnya nggak masuk,"
Suara langkah kaki terdengar mendekat ke kamar Mina. "Sembunyi.. sembunyi...itu pasti Tante!" suruh Mina pada athar. Athar langsung buru-buru sembunyi di bawah tempat tidur.
Pintu kamar terbuka, ternyata itu hanyalah pembantu di rumah. "Non mau saya buatin kopi, teh atau apa gitu.."
"Saya kayaknya pengen teh anget sama cemilannya sekalian, tapi banyakin ya Bi, kopinya juga double aja, saya pengen makan banyak," jawab Mina
"Baik tunggu sebentar ya.." ucap bibi, lalu seorang penjaga langsung menutup pintu kamar itu seperti semula.
Athar pun keluar dari persembunyiannya. "Jangan mengeluarkan suara keras ya, ada penjaga di depan," bisik Mina ke telinga Athar.
"Iya Mina..aku sudah seperti pangeran yang ingin menculik putri kerajaan, susahnya minta ampun!" ucap Athar ke telinga Mina.
"Kamu menyesal ya.."
"Nggak sayang..aku justru merasa ini perjalanan yang seru untuk bertemu kamu," ucap Athar menatap mata Mina dengan jarak yang dekat.
"Kamu nggak lirik perempuan lain kan??" sorot mata Mina tampak tajam
"Astaghfirullah..hanya kamu yang aku punya,"
"Siapa tau aja pas aku di sini kamu malah kesempatan nyari yang lain,"
"Nggak sayang..aku tidak seburuk itu," ucap Athar ke telinga mina.
Makasih Thor..
aku tunggu karyamu yang lain..