Andika Saputra seorang pemuda yang baru memasuki dunia kerja di ibu kota. Dia seorang arsitek, bekerja di perusahaan kontraktor "Satria Group" yang cukup punya nama di ibu kota. Kinerjanya sangat bagus dan kejujurannya menjadi perhatian manajemen perusahaan termasuk Gunawan Presdir perusahaan tersebut. Hingga Gunawan sangat menginginkan Andika menjadi menantunya, suami untuk Karina anak semata wayangnya.
Ujian demi ujian kehidupan dilalui oleh Andika, dari mulai kepergian ibunya utk selamanya, perjuangan meraih karirnya, termasuk perjuangan cintanya.
Akankah Andika berjodoh dengan Karina?
ataukah ada wanita lain yang dicintainya?
Temukan jawabannya.....!
Selamat membaca.
Salam
Umi Haifa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Haifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Menikah
Karina hanya diam mematung, masih tidak percaya dengan yang diucapkan Andika.
Karina meninggalkan ruang tamu menuju kamar Zahra, ia mencari HP di dalam tasnya yang sejak kemarin dimatikannya. Kemudian ia menyalakannya. Banyak sekali notif pesan dan panggilan telfon yang masuk. Ia mencari nomor kontak Papanya dan langsung menghubunginya melalui vidio call.
Ternyata benar Mamanya sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit. Saat Vcall tersambung Gunawan sedang berada di samping istrinya. Begitu terkejutnya Karina melihat mamanya terbaring lemah di tempat tidur pasien. Ia terduduk lemas di lantai di samping tempat tidur Zahra dengan berlinang air mata. Hanya kata maaf yang keluar dari bibirnya disertai tangisan.
" Maafkan Karin Pah, maafkan Karin Mah." ucapnya lirih. Air matanya terus berjatuhan di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak, hatinya sakit serasa diiris-iris sembilu.
" Pulanglah Nak, Papa Mama menunggumu." Ucap Gunawan dengan sedikit senyuman di bibirnya, di layar HP wajahnya terlihat lelah, namun terlihat guratan kebahagiaan karena putrinya sudah menghubunginya.
" Iya Pah, Karin pulang sekarang." Terlihat penyesalan di wajahnya. Kalau saja ia tidak pergi meninggalkan rumah mungkin mamanya tidak akan berbaring lemah di rumah sakit, tapi semua ini sudah terjadi, saat ini Karina ingin segera berada di samping mamanya, meminta maaf, mendampingi mamanya dengan harapan mamanya pulih kembali. Ia akan melakukan apapun agar mamanya sehat kembali.
Karina keluar kamar Zahra dengan membawa travel bag dan tas punggungnya. Ia kembali ke ruang tamu menemui Andika dan Zahra, ibunya Zahra juga berada di ruang tamu, Zahra sudah memberitahu ibunya kalau mamanya Karina sedang dirawat di rumah sakit.
"Ra aku pulang yah, terima kasih atas batuanmu." Karina memeluk Zahra, masih menetes air matanya. Zahra membalas pelukan sahabatnya.
" Mamamu pasti pulih lagi, kamu yang sabar yah." ucap Zahra sambil menepuk punggung Karina. Karina melepaskan pelukannya , kemudian pamit kepada ibunya Zahra.
" Karin Pamit dulu tante, terima kasih banyak, maaf jd merepotkan tante dan keluarga." Ucap Karina, ia mencium punggung tangan kanan ibunya Zahra.
" Kamu sabar ya Nak, insya Allah mamamu akan pulih kembali, tante akan selalu mendoakan untuk kesembuhan mamamu" ujar Ibu Zahra
" Terima kasih banyak tante." Setelah pamit Karina keluar meninggalkan ruang tamu tanpa memperdulikan Andika.
Andika langsung pamit kepada Zahra dan ibunya, ia menyusul Karina dengan cepat menuju mobilnya yang diparkir di luar pintu pagar. Andika menekan remot kontrol untuk membuka kunci mobilnya dan membuka pintu depan mempersilahkan Karina masuk.
" Masuklah." ujarnya. Karina masuk dan duduk tanpa berkata apapun.
Setelah menutup pintu mobil Andika pun masuk dan menyalakan mobilnya, tak lupa menyalakan AC yang membuat suhu di dalam mobil terasa lebih sejuk. Ia pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Zahra.
Karina duduk menghadapkan wajahnya ke jendela pintu mobil di sebelah kirinya, sehingga posisinya membelakangi Andika. Air matanya kembali menggenang dan jatuh di kedua pipinya. Ia masih menyalahkan dirinya yang telah membuat mamanya mengalami serangan jantung. Bagaimana kalau keadaan mamanya memburuk, kemudian meninggalkannya untuk selamanya sebelum sempat bertemu dengannya? Tidak....tidak itu tidak akan terjadi. Kalau sampai terjadi ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri, semua ini karena keegoisannya. Kalau sampai mamanya meninggal ia akan menyesal seumur hidupnya.
Andika yang sedang fokus mengendarai mobilnya ,sesekali melihat ke arah Karina, terlihat bayangan Karina dari jenda pintu mobil di sebelah kirinya yang sedang berlinang air mata dan sesekali mengusap air mata di pipinya, walau tak terdengar suara isak tangis namun bisa dipastikan Karina sedang menangisi mamanya dan mengkhawatirkannya.
" Tadi siang kondisi mamamu sudah stabil, tinggal menunggu kesadarannya kembali." Suara Andika memecah kesunyian dua insan yang sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
" Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, semua yang terjadi sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Insya Allah mamamu akan kembali pulih." Tambahnya berusaha menghibur Karina
Karina tidak menanggapi ucapan Andika. Ia masih menghadapkan wajahnya ke jendela.
Tau apa kamu dengan perasaanku. Ini juga gara-gara kamu. Kalau saja dari awal kamu menolak perjodohan ini, semua tidak akan terjadi seperti ini. Batin Karina kesal.
Andika kembali fokus memperhatikan jalanan kota Bandung yang terlihat padat. Jalanan menuju pintu masuk tol Pasteur di sore hari memang selalu bertambah padat karena bertepatan dengan jam pulang kantor. Saat mobil Andika berhenti di lampu merah, ia melihat seorang perempuan yang dikenalnya berjalan menyebrang jalan melewati mobilnya.
" Riana...." Gumamnya dengan suara pelan namun terdengar oleh Karina, Karina pun menoleh melihat Andika yang sedang memperhatikan seorang perempuan berhijab yang sedang menyebrang jalan. Kemudian Karina mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Lampu merah pun berganti hijau, Andika melajukan lagi mobilnya memasuki pintu tol yang menghubungkan kota Bandung dan Ibu Kota.
Entah kenapa setelah melihat Riana, detak jantung Andika bertambah cepat dan tidak beraturan, perasaannya pun masih sama seperti dulu, ada perasaan bahagia saat melihatnya. Yang ada di pikiran Andika saat ini adalah Riana. Setelah ia membatalkan perjodohan dengan Karina sepertinya masih ada harapan Andika untuk melamar Riana, dan hidup bersama mengarungi rumah tangga, toh selama ini Riana belum mengetahui perjodohan Andika dengan putri presdirnya, dan mungkin saja Riana sedang menunggu Andika datang melamarnya seperti yang diucapkan adiknya beberapa hari yang lalu.
Ya Allah jika dia memang jodohku, dekatkanlah, jika bukan jodohku lapangkanlah hati ini. Doa Andika dalam hatinya.
Andika melihat ke samping kirinya, terlihat Karina sedang memejamkan matanya, ia tertidur setelah genangan air mengering di kedua matanya. Andika menghembuskan nafas panjangnya. Ya sepertinya Karina bukan jodohnya, ia pun ikhlas, selama ini pun ia menerima perjodohan dengan Karina bukan karena mengikuti hawa nafsunya, ia hanya mengikuti petunjuk yang ia dapatkan di alam mimpinya setelah meminta petunjuk dan menyerahkan urusannya kepada Sang Pengatur Hidupnya, Allah Azza Wajalla.
Waktu telah menunjukan pukul delapan malam saat mobil Andika memasuki tempat parkir rumah sakit tempat Ambar dirawat. Andika mematikan mesin mobilnya. Ia melihat Karina masih tertidur pulas, sepertinya kelelahan dan ngantuk berat.
Andika membangunkan Karina dengan memanggil namanya beberapa kali. Karina pun terbangun, ia mengucek kedua matanya yang sembab dan terasa sedikit perih.
" Kita telah sampai." ucap Andika, ia keluar dari mobilnya berjalan menuju pintu mobil dekat Karina dan membukakan pintunya.
Setelah Karina turun Andika mengambil travel bag Karina yang disimpan di jok tengah dan menentengnya, kemudian berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit yang terlihat megah seperti hotel bintang lima. Karina berjalan di belakang mengikuti Andika. Perasaannya campur aduk, sedih, perasaan menyesal, bahagia karena akan bertemu lagi dengan Papa Mamanya.
Andika membuka pintu ruang tunggu CICU, terlihat Gunawan sedang duduk di kursi tunggu bersama Syahrul yang selalu menemani Gunawan.
Melihat papanya berada di ruangan itu, Karina langsung berlari menghampiri dan memeluknya disertai isak tangis dan deraian air mata yang tidak bisa ditahan, air mata yang tadi sempat mengering keluar membanjiri kedua pipinya.
" Sayang...akhirnya kamu pulang." Ucap Gunawan bergetar. Ia membalas pelukan putrinya, dan mencium keningnya.
" Maafkan Karin Pah....Maafkan Karin, ini salah Karin." Ucapnya sambil masih memeluk papanya.
" Ini takdir Allah sayang, ayo kita temui mamamu, Papa akan minta ijin supaya kamu bisa bertemu mamamu, mamamu belum sadar, tapi Papa yakin ia sangat bahagia dengan kedatanganmu." Gunawan mengajak putrinya menuju ruangan pasien. Sebelum melangkahkan kakinya Gunawan melihat Andika berada tidak jauh darinya sedang berbincang dengan Syahrul. Gunawan menghampirinya terlebih dahulu.
" Terima kasih Andika, saya berhutang budi padamu." Ucap Gunawan
" Tidak ada hutang budi Pak, bukankah Bapak telah menganggap saya seperti keluarga Bapak?" Andika merasa ucapan Gunawan terlalu berlebihan, padahal Andika yang merasa berhutang Budi atas kebaikan Gunawan yang diberikan kepadanya selama ini. Gunawan menganggukan kepalanya dan merangkul bahu Andika dengan tangan kanannya.
" Ayo kita lihat mamanya Karin." ajak Gunawan
" Baik Pak." Andika mengikuti langkah Gunawan menuju ruangan pasien. Gunawan meminta izin kepada petugas agar putrinya bisa melihat mamanya, dan petugas pun mengizinkan. Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan perawatan pasien. Setelah menggunakan pakaian khusus, Gunawan dan Karina lebih dulu masuk menemui Ambar, sementara Andika menunggu di ruangan untuk pengunjung yang hanya bisa melihat pasien dari balik kaca pembatas ruangan.
Karina langsung mencium kening mamanya dan memeluk tubuh mamanya yang tetap dalam keadaan tertidur. Tangisnya tumpah tak tertahankan, dengan terisak Karina memanggil mamanya dengan suara pelan takut mengganggu pasien di sebelah mamanya yang hanya terhalang oleh gorden.
" Mah ini Karin Mah....maafkan Karin Mah....." ucapnya disertai tangisan dan derai air mata.
" Bangun mah, lihat ini Karin, buka matanya Mah, karin kangen sama Mama....bangun Mah." Gunawan mengelus punggung putrinya menenangkannya. Namun Karina masih terus saja berbicara kepada Mamanya yang belum juga mau membuka matanya.
" Mah Karin gak akan ninggalin Mama, Karin akan terus bersama Mama, tapi Mama harus bangun....ayo bangun Mah." Air mata Karina membasahi pipinya hingga membasahi punggung tangan mamanya yang sejak tadi dipegang Karina. Ia bingung kenapa mamanya tidak bangun. Bagaimana kalau mamanya tidak akan bangun lagi atau malah meninggalkannya untuk selamanya. Sempat terpikir oleh Karina kalau mamanya tidak bangun lagi. Tidak....itu tidak boleh terjadi, Karina belum siap kalau harus ditinggalkan mamanya. Ia akan melakukan apa pun asal Mamanya bisa bangun dari komanya, setelah mamanya pulih dari koma ia akan melakukan apa pun asal mamanya bahagia, termasuk menikah dengan Andika akan ia lakukan kalau itu membuat mamanya bahagia. Benarkah Karina mau menikah dengan Andika untuk membahagiakan mamanya?
" Ayo bangun Mah." Karina masih terus berusaha membangunkan mamanya, namun tetap Ambar masih betah dengan tidur lelapnya. "Mah Mama mau lihat Karina menikah dengan Mas Andika kan? Karina mau menikah dengan Mas Andika Mah, tapi Mama harus bangun, Karin akan melakukan apa pun asal Mama bahagia." Gunawan terharu mendengar ucapan putrinya, ternyata Karina sangat menyayangi mamanya.
" Karin tidak perlu seperti itu....kami sudah membatalkan perjodohanmu dengan Andika, Papa tidak mau perjodohan ini membuat kamu bersedih Nak dan kamu terpaksa melakukannya." Ucap Gunawan penuh kelembutan.
"Tidak Pah, Karin bersedia menikah dengan Mas Andika, Karin tahu Mama sangat menginginkan Karin menikah dengan Mas Andika, Karin janji tidak akan mengecewakan Papa dan Mama." Itulah yang saat ini terpikir oleh Karina, tidak peduli ia mencintai Andika atau tidak, yang penting saat ini keputusannya bersedia menikah dengan Andika bisa membuat mamanya bangun lagi dan Karina bisa membayar kesalahnnya yang menyebabkan mamanya mengalami serangan jantung. Urusan kehidupannya setelah menikah itu urusan nanti yang akan ia pikirkan lagi.
bersambung
*** Hai...hai...hai...terima kasih sudsh membaca novel perdanaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like. comen dan vote yah, biar Thor tambah semangat melanjutkan novel ini. Ditunggu saran masukannya juga yah. Daahhhh.🤗
terimakasih