Sebuah kecelakaan yang terjadi enam bulan lalu membuat Baby Corn harus kehilangan sebelah kakinya. Ia juga sempat mengalami koma selama tiga bulan. Sementara kekasihnya Lucky meregang nyawa di lokasi kecelakaan.
Seorang dokter bernama Maxime, memantau perkembangan kesehatan Baby dari mulai terapi sampai ia dinyatakan sembuh. Perlahan timbul rasa suka pada Baby. Karena berstatus duda, ia tak pernah mengakui jika dirinya jatuh cinta pada Baby.
Setelah siuman, Baby tinggal di Paris, Perancis, sebuah kota yang penuh keromantisan. Ia berharap bisa melupakan kenangan pahit setelah kehilangan sebelah kaki dan juga kekasihnya.
Cita-citanya terhenti karena fisik yang cacat, membuat Baby harus membuat kaki palsu. Di saat yang sama, perjuangan cinta dokter Maxime diuji ketika Baby memutuskan untuk masuk dunia modeling.
Bagaimana perjuangan dokter Maxime dalam meraih cintanya, apa Baby bisa menjadi supermodel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. KEJUTAN
Sebuah trauma masa lalu kadang membuat orang menjadi insecure. Usia yang terus bertambah belum lagi kisah perceraian yang membuat hati sang duce membeku membuat dirinya harus berpikir berkali-kali lipat untuk memulai cinta.
Bayangan Baby yang tiba-tiba datang membuat dunianya sedikit berwarna. Keceriaan, canda tawa, sikap apa adanya dari Baby membuat dirinya seolah kembali berjiwa muda.
Dokter Maxime masih memainkan pulpennya diatas berkas-berkas untuk melengkapi persyaratan untuk kelanjutan studinya. Tuntutan Kakek Delicious menginginkan agar Maxime bisa melanjutkan kuliahnya di University of Oxford, Inggris sedikit membuatnya galau.
Sebuah keputusan sulit harus ia ambil segera, di mana saat ini ia sangat menginginkan pendidikan yang lebih untuknya, tetapi ia juga tidak ingin jauh dari Baby.
"Apa aku pergi sekarang, ya?"
"Lagi pula dia sendiri yang menyuruhku menjauh?"
Dokter Maxime memijat pelipisnya, "Oh, my good, i'm crazy."
.
.
"Bagaimana keadaanmu sayang? Gimana kalau kita makan malam di luar untuk merayakan ...."
"Merayakan kaki baruku? Nggak usah, Ma."
"Kenapa, sayang? Kamu nggak suka dengan desain kaki yang barumu ini?"
"Suka, tapi ...."
"Happy birthday dedek kesayangan, Abang."
Tiba-tiba, Michael membawa kue tart bentuk little peony ke hadapan Baby.
"Woi, hari ultah gue 7 Februari, bukan sekarang. Dasar Abang bengek!" cibir Baby.
Justru Baby-lah yang lupa kalau hari ini tanggal 7 Februari karena terlalu fokus pada pengobatan kakinya.
Michael menaruh kuenya di meja, lalu menempelkan telapak tangannya ke kening Baby, "Nggak panas sih."
"Trus ...."
"Kok lupa sama tanggal lahirnya sendiri?"
"Mau ngibulin gue ya, ini tuh tanggal berapa? tgl 6 Abang dudul, tanggal tujuh tuh besok!" ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eh, iya, besok gue ultah, astaga," ucapnya senang.
"Lah tuh ingat, kan gue setting jam gue waktu Indonesia."
"Jadi nggak salah dong kita merayakan ultah kamu pake waktu Indonesia, tapi kamunya di Paris."
"Bengek ...." Baby merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Michael penuh haru.
"Makasih, ya. Cuma Abang yang inget ultah gue, terhura aku ... hu ... hu ... hu ...."
Terlalu bahagia membuat Baby sampai menitikkan air mata. Sementara itu Jas Jus menggebrak meja pamannya yang handsome.
"Astaga Jas Jus, ngapain kamu?" ucapnya menahan geram.
"Seharian ditungguin di apartemen bukannya balik malah asyik-asyikan di sini! Uncle sehat?"
"Alhamdulilah sehat sekali, sepertinya kamu yang kurang sehat, sampai membuat spot jantung."
"Wkwkwk sorry my Uncle. Abisnya gue sengaja sih. Masa udah ketuk pintu berkali-kali, engga disuruh masuk, 'kan kecantikan paripurnaku bisa luntur kebanyakan berdiri di depan pintu."
"Uhuk, narsisnya ketinggian, Nona."
"Uwu dong."
Bukannya menghormati pamannya dengan duduk manis di kursi, Jas Jus sengaja duduk di atas meja tepat di depan dr. Maxime berada.
"Astaga Jas Jus, kamu tuh ngedudukin arsip penting tau, minggir gih!"
"Dih, nggak asik, gitu aja sewot."
"Nah lo, gue jadi lupa kan kesini buat apa?"
Jas Jus tampak mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuknya, berusaha untuk mengingat sesuatu yang penting hingga ia terjingkat karena ponselnya berdering. Tidak lama kemudian ia malah bernyanyi mengikuti suara dering ponselnya.
"So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight"
Lantunan lagu Beautiful in White dari Shane Filan mengalun indah di sana.
Mengetahui aksinya yang terlalu heboh membuat Jas Jus hanya bisa nyengir kuda saat menoleh pada Uncle-nya.
"Sorry, abis kebiasaan dari orok, he he he ...."
"Trus kamu ke sini mau apa?"
"Aku mau ajak Uncle untuk ...."