Demi menikahi cinta lamanya, Zein menceraikan istri sahnya.
Mungkinkah Zein akan menyesali keputusannya itu?
Sekuel dari Penjara Cinta Untuk Stella.
Semoga suka😍😍 Stay Tune😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Terbaik
"Pa... tolong jangan terlalu keras pada Zein. Kasihan putra kita, dia seperti orang linglung," ucap Laila khawatir.
"Biarkan saja, Ma! Biar dia tahu rasa. Biar lain kali dia nggak gegabah," jawab Laskar. Kemudian pria ini pun memutuskan kembali ke ruang kerjanya. Untuk melanjutkan zoom meeting yang tertunda.
Tak dipungkiri, bahwa hatinya sendiri juga terluka, sedih, karena telah menyakiti sang putra. Namun, Laskar hanya ingin sang putra lebih menghargai sebuah hubungan dari pada mencla mencle tidak jelas begitu. Zein keterlaluan. Harusnya dari awal dia tidak gegabah.
Laila sendiri saat ini hanya bisa duduk pasrah, ingin rasanya ia mempertemukan mereka sekarang. Namun, sekali lagi, apa yang dikatakan sang suami adalah benar. Zein harus memantapkan hatinya terlebih dahulu. Baru mereka akan menginginkannya bertemu dengan Zi.
Meskipun begitu, Laila juga tidak yakin kalau Zi bakalan mau menemui Zein. Laila tidak yakin jika Zi mau kembali lagi pada sang putra. Mengingat Zi sendiri juga memiliki pendirian yang teguh perihal pilihannya.
"Ada apa, Ma? Kenapa Mama sedih begitu?" terdengar ucapan seseorang dari belakang sofa di mana Laila saat ini berada.
"Eh, Ra. Abangmu tadi datang," jawab Laila sembari memijat keningnya.
"Abang? Datang...mau ngapain lagi, Ma?" Safira terlihat sedikit kesal.
"Dia menginginkan mantan istrinya. Abangmu sudah tahu kalo kakak iparmu mengandung," ucap Laila, terdengar lemah, terdengar sedih.
"Abang tahu kak Zi hamil? Dari mana?" tanya Safira, heran. Sebab yang tahu Zi hamil hanya keluarganya dan juga dirinya.
"Entah! tapi Mama sama papa nggak ada kasih tahu dia." Laila kembali memijat pelipisnya. Entahlah, kepalanya serasa mau pecah saja.
Safira menatap Lutfi yang saat ini hanya diam memerhatikan dirinya dan sang Mama. Lalu dari tatapan tersebut, Lutfi yakin jika sang istri pasti mencurigainya.
"Bukan aku, Bun. Demi Tuhan!" ucap Lutfi sembari mengacungkan dua jari kepadanya.
"Bukan dia, Ma! Lalu siapa ya?"
Mereka bertiga terlihat berpikir. Saling menatap saling menerka. Siapakah gerangan yang memberitahu Zein kalau Zi mengandung buah hati mereka.
***
Di sisi lain, Zi telah memantapkan hatinya untuk membesarkan buah hatinya sendiri. Tanpa campur tangan siapapun.
Zi hanya tidak ingin merepotkan siapapun. Tidak ingin behutang budi pada siapapun.
Namun, Zi tidak jadi pergi ke luar negeri, karena ia yakin keluarga mantan suaminya akan jauh lebih mudah menemukannya. Melacak ke mana ia pergi dengan pasport dan kartu Identitas miliknya. Apa lagi saat mengingat betapa mudahnya mereka menemukan ya setelah empat bulan menghilang dari Jakarta.
Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, akhirnya Zi pun memutuskan untuk pergi ke pelosok daerah. Zi rasa, daerah seperti itu akan jauh lebih aman di banding perkotaan saat ini.
Semalaman untuk ia mulai mencari daerah mana yang cocok untuk ia gunakan sebagai tempat untuk bersembunyi.
Lalu, ia teringat salah satu temannya dulu. Yang bekerja dengannya di sebuah rumah sakit. Lalu ketika beliau menikah, ia ikut sang suami pulang ke kampung halaman.
Kini wanita itu tinggal di sebuah kampung dan bekerja di sebuah puskesmas di daerah suaminya tersebut sebagai Bidan.
"Apakah sebaiknya aku ke sana aja?" tanya Zizi pada dirinya sendiri.
Zizi diam sesaat. Lalu ia pun mencari buku harian di mana dia biasa menulis sesuatu di sana. Barang kali ia masih menyimpan alamat bidan tersebut.
"Tak apalah di pelosok, yang penting aku bisa tenang membesarkan mereka. Ya Tuhan, tolong bantu hamba. Bagaimanapun perjalanan hidup ini, aku percaya, tidak akan pernah terjadi tanpa kehendakmu. Aku percaya, Engkau adalah maha pengasih lagi maha penyayang. Aku yakin, semua pasti akan baik-baik saja," ucap Zi sembari terus mencari alamat seseorang yang pernah menjadi sahabatnya dulu.
Beruntung, alamat itu masih ada di buku tersebut. "Yes... Alhamdulillah... " ucap Zi ketika menemukan alamat yang ia cari.
Tak menunggu waktu lagi, Zi pun segera menghubungi sang sahabat. Barang kali mau menampungnya untuk sementara waktu. Setidaknya sampai ia mendapatkan pekerjaan. Atau memiliki pekerjaan.
Lagi-lagi Zi mendapatkan nasib yang cukup baik. Sang sahabat dengan senang hati menerimanya. Bahkan beliau juga siap mencarikan tempat tinggal untuk Zi.
Zi bahagia, Zi tersenyum. Karena sahabatnya ini juga siap menjemputnya di Bandara Juanda dan membawanya ke tempat di mana beliau berada.
Tak menunggu waktu lagi, Zi segera bersiap dan memesan taksi. Namun sebelum itu, ia harus memastikan bahwa para pekerja yang bekerja di dalam rumahnya sudah terlelap terlebih dahulu.
***
Pria yang terlibat tabrakan dengannya kini sudah sadar. Namun Vita memilih pulang dan meminta asisten rumah tangganya untuk menjaga pria tersebut.
Bukan tidak mau bertanggungjawab, tetapi wanita ini harus menjemput sang kekasih di Bandara.
Ya, Zein memintanya untuk menjemput di Bandara.
Tentu saja ini sangat membuat Vita bahagia. Karena Zein yang biasanya cuek dan tak ingin berdekatan dengannya, tiba-tiba saja membutuhkannya. Bukankah ini sesuatu yang sangat Vita tunggu.
Bersambung...