Satu demi satu penduduk di Kota Bjork menghilang secara misterius. Jose, anak lelaki keempat dari keluarga Argent memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut setelah pelayan di keluarganya mati mendadak. Hal yang aneh adalah, mayatnya ditemukan kering tanpa darah. Sejak itu rentetan kematian dan orang hilang mulai muncul dalam jumlah besar. Kecurigaan Jose tertuju pada orang baru di kota tersebut, William. Penyelidikan Jose malah membawa dirinya ke rahasia gelap di Bjork.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara Zwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
“Yah, Jose itu ... menyenangkan,” ucap Maria setelah mencari padanan kata yang tepat. Jose cukup populer di kalangan kawan-kawannya, ia tidak akan merusak citra itu dengan membeberkan kekurangan yang terlihat di matanya. “Sifatnya tidak mudah ditebak, jadi kadang aku seperti memiliki adik lelaki yang bengal.”
Untunglah Lidya hanya mengangguk saja menerima pendapat itu. “Dave kadang bercerita juga soal Tuan Jose Argent, dan memang katanya Mr. Argent yang ini sama sekali sulit ditangkap.”
“Tentu, karena dia belajar parkur, kan?” Maria tergelak.
Lidya ikut tertawa, tetapi meneruskan dengan suara lembut, “Dave menelponku waktu dia mau pergi dengan Mr. Argent. Katanya, ini pertama kalinya Mr. Argent tertarik lagi masuk ke Gedung Diskusi, makanya dia tidak ingin melewatkan malam itu. Dave berpikir pasti akan seru melihat Mr. Argent berdebat setelah sekian lama. Mereka satu kampus, dan rupanya Dave memandangnya sangat tinggi.”
Maria ingin tahu ke mana arah pembicaraan Lidya, jadi ia tetap diam dan mendengarkan saja.
“Dave orang yang menepati janjinya, apalagi kalau dia sedang tertarik pada sesuatu. Dan bisa kubilang, kemarin itu dia benar-benar tertarik dengan apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya, Mr. Argent. Aku yakin ... tidak mungkin mendadak dia mengingkari janji lalu menghilang begitu saja tanpa sebab.”
Maria mengangguk pelan. “Tentu, aku juga berpendapat begitu. Tapi polisi sudah bergerak untuk mencarinya, bukan? Mereka akan menemukannya dengan segera.”
“Yah, itu membuatku sedikit lega memang,” Lidya menarik napas, membuat bahunya turun dengan lemas ke bawah. “Oh ya, omong-omong, aku mendengar sesuatu yang pasti akan mengejutkanmu.”
“Apa itu?”
"Kudengar, Sir William tertarik padamu. Dia bertanya banyak hal tentangmu pada orang-orang."
“Kau pasti tidak serius!” Maria menepis, tetapi matanya berkilauan. Darahnya berdesir aneh mendengar nama pria itu diucapkan.
“Tidak, tidak, aku mendengarnya sendiri dari teman-teman.” Lidya berusaha meyakinkan. “Kau tahu? Untuk mendapatkan informasi soal Dave, aku bepergian ke sana kemari. Perempuan adalah sumber informasi yang hebat, kan? Kita tinggal datang ke satu orang dan dia pasti bisa menyebutkan dengan detail kabar-kabar terbaru. Karena itu aku bepergian mengunjungi banyak teman. Mereka pasti bisa membantuku menemukan Dave. Jaringan kabar—eh, kenapa aku malah melantur? Sampai mana tadi? Ah, ya, pokoknya dari situlah aku mendengar kabar ini!”
“Yah, kita sama-sama tahu apa yang sering dibicarakan orang-orang,” Maria berusaha menahan senyum. “Mereka suka melebih-lebihkan informasi agar terdengar menarik. Mungkin dia hanya menanyakan hal-hal sederhana, mungkin dia penasaran kenapa ayahku tidak berada di Garnet. Banyak orang penasaran."
“Kurasa bukan begitu. Kau kan termasuk perempuan yang diajak berdansa dengannya saat di pesta.”
Maria mengulum senyum, kembali teringat aroma mawar yang semerbak di dalam rumah Sir William. Waktu itu ia juga diperkenankan berdansa satu lagu dengannya. Dansanya sangat terampil, membuat tubuhnya seperti melayang di udara, rasanya seolah Sir William sudah terlatih menarikan dansa itu selama ratusan tahun sehingga begitu menghapal tiap lekuk gerak yang harus dilakukan.
“Dia juga berdansa dengan orang lain.” Maria menggeleng, berusaha menyangkal gosip yang mulai beredar. “Ada banyak orang yang diajaknya berdansa. Lagi pula, yang seperti itu tidak bisa dijadikan pegangan. Para pria sering merayu perempuan, tetapi yang membuat mereka jatuh cinta justru tidak akan dirayu. Kadang-kadang begitu, kan? Bisa jadi satu atau dua dansa justru tidak berarti apa-apa bagi seseorang.”
“Ya, kadang memang begitu. Para pria selalu berkata bahwa kita adalah makhluk yang rumit, padahal mereka lah misterinya." Lidya tertawa. Meski begitu, kentara sekali tawanya tidak alami. Maria berpikir mungkin gadis malang itu sedang menyembunyikan kecemasannnya dengan berusaha tetap ceria. Ia tahu bahwa Lidya setengahnya hanya berbasa-basi. Mungkin Lidya juga mengatakan hal yang sama kepada perempuan lain yang dianggapnya kawan. Namun tetap saja Maria tidak bisa tenang.
Sir William? Tertarik padaku? Memang sih, tatapannya terasa berbeda kalau melihatku. Rasanya seakan-akan kami adalah kekasih yang lama tidak bertemu.
Meski masih baru di Bjork, Sir William termasuk orang yang paling sering dibicarakan, baik oleh para wanita maupun laki-laki. Kekayaan serta kepiawaiannya dalam melakukan segala hal selalu jadi topik khusus di sela pembicaraan. Maria sendiri tahu bahwa hanya sekadar pernah berdansa satu atau dua kali saja tidak bisa membuktikan kebenaran kata-kata Lidya, tetapi ia menikmati gosip itu sebagai kesenangan pribadi.
Segera setelah Lidya pamit pulang dan Maria baru sampai pintu kamar untuk istirahat, seorang pelayan lagi-lagi datang untuk memberitahu bahwa ada tamu yang mencarinya.
“Ya ampun, hari ini aku capek sekali dan tidak ingin menerima tamu mana pun,” ucap Maria jujur. Makan siang di rumah Keluarga Argent sama sekali bukan kegiatan yang melibatkan aktivitas fisik, tetapi menerima rentetan pertanyaan dan kesinisan dari Marco, ditambah sifat pendiam Jose yang mendadak, semua itu sudah cukup untuk membuatnya merasa lelah. Apalagi ditambah dengan kedatangan Lidya yang terus-terusan membawa keluhan kalau bukan cerita bernada negatif. “Suruh dia kembali lain kali. Minta maaf saja padanya dan bilang bahwa aku sudah tidur.”
“Anda yakin, Nona?” tanya pelayannya dengan tatapan waswas.
Maria yang jeli segera menangkap arti dari wajah tak percaya itu. “Ya, tentu saja aku yakin. Memangnya kenapa? Siapa yang datang?” Ia mulai berpikir jangan-jangan Jose yang datang. Namun kalau memang Jose, pelayannya tidak akan kelihatan berwajah tegang seperti ini. Mungkin Marco.
Tapi untuk apa orang itu datang?
“Yang datang adalah Sir William Bannet,” jawab pelayannya khidmat.
“William Bannet yang mana? Maksudmu ... maksudmu Sir William?” Maria mengerutkan kening.
“Ya, Nona. Beliau saya persilakan menunggu di ruang tamu.”
***
Maria mengintip keluar, dari balik dinding, melihat bahwa memang benar yang datang menemuinya dan sedang menunggu di sana adalah Sir William yang terkenal itu. Orang-orang bilang kekayaannya bahkan melebihi Argent. Cara berbusananya terlihat sangat elegan dan pas di badannya, seolah-olah pakaian yang dia kenakan memang dirancang khusus untuk dikenakan oleh William. Tidak ada yang tahu kenapa pria sepertinya datang dan tinggal di kota suram seperti Bjork.
Apa yang dia inginkan? Maria tidak mengerti. Ia memang menyukai Sir William, mungkin lebih dari yang ia akui, tetapi selama ini Maria masih menganggapnya hanya suka dalam artian menggemari. Seperti penonton menyukai aktor teater.
Mungkinkah Lidya benar, Sir William memang tertarik padanya? Disukai oleh orang lain bukanlah pengalaman langka bagi Maria. Banyak pria datang melamar, separuhnya karena mengincar nama keluarganya, sisanya benar-benar jatuh hati pada pandangan pertama, kedua, atau bahkan ketiga. Namun banyak pinangan ditolak oleh keluarganya lantaran ibunya terlalu pemilih. Hanya sedikit lelaki yang disukai Winona Garnet, dan tidak ada satu pun yang berkenan di hati Maria. Sir William mungkin akan jadi salah satu yang memenuhi harapan baik Winona dan Maria.
Tapi rasanya aneh ...
Maria menyentuh dadanya sendiri, tidak mengerti kenapa mendadak jantungnya berdegup terlalu kencang dan sesuatu menggelitik perutnya. Ini perasaan yang tidak bisa ia mengerti.
kak Nara gk ada niatan nerbitin karyamu kah?
pengen punya versi buku fisiknya😔
dari baca sambil nunggu kaka up sampe baca ulang karna kangen😞😞