Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala Tersesat
Bagai serigala yang tersesat, mungkin kata itu bisa menggambarkan keadaan Bimo sekarang. Meskipun, dia adalah salah satu jagoan yang disegani di sekolah, namun dalam kelompok kecilnya ia sering terkucilkan. Para serigala lain kurang menyukainya karena sifat impulsifnya. Berulang kali genk serigala hampir dibubarkan karena Bimo yang sering bongkar rahasia.
Dalam kesendiriannya, ia berdiri menunduk sambil menyenderkan tubuhnya di lampu jalan yang mati di siang hari. Terngiang kenangan saat dirinya berjalan berdua dengan Dion, tanpa suara namun cukup tentram dan nyaman.
Baginya, Dion satu-satunya teman di genk-nya yang nyambung dengannya. Dion tidak seperti Tio yang suka ceramah, tidak seperti Rendi yang menyepelekannya, atau Edi yang suka menjadikannya bahan lelucon. Dion adalah alasannya tetap bertahan di lingkaran pertemanan itu.
"Bim, kita ikut klub ini yuk!"
Ingatannya kembali di hari pertama naik kelas 11. Waktu itu, mereka berdua sedang berjalan santai dari gerbang menuju kelasnya.
"Males ah! Ogah gue temenan sama anak culun-culun itu," jawab Bimo.
"Culun? Culun darimananya? Mereka ini pentolan satu sekolahan loh!"
Bimo masih memicingkan matanya. Baginya, anggota klub itu hanya sekelompok anak kaya yang suka buat onar. Meskipun dirinya juga seperti itu, tapi setidaknya dia tidak membawa embel-embel kekayaan dan kekuasaan orang tua. Dia murni 'underground fighter'.
"Oh c'mon!!!" Pinta Dion.
"Nggak bisa Bahasa Enggres!!!" Kilah Bimo.
"Katanya kalau ikut klub itu, kita bisa dongkrak nilai kita loh. Yuk ikut yuk! Katanya kamu mau nerusin ke Universitas?"
"Kata siapa? Orang abis lulus, gue langsung kerja di warungnya emak." Bimo berjalan santai memimpin menuju kelas.
"Ayolah! Nanti kita bisa kuliah bareng. Pasti seru deh!!"
"Nggak!"
"Iya!"
"Orang gue bilang nggak."
Bayangan masa lalu itu berakhir dengan dirinya yang tertawa lepas meladeni kebawelan Dion. Matanya masih terpejam, mengenang masa indah itu. Hingga ingatan Dion yang jatuh dari lantai 4 itu mulai muncul.
Brakkk!
Matanya terbuka lebar, nafasnya tersengal dan dadanya naik turun. Di jalan yang dipenuhi oleh pengendara motor itu tiba-tiba membisu dan hanya menyisakan dengungan di kepalanya.
Sejenak ia duduk di bangku pinggir trotoar untuk mengatur nafasnya. Pandangan matanya lurus menatap layar HP. Di kepalanya, ia sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya demi sahabatnya. Rasa bersalah yang ia tahan dalam hatinya telah menggerogoti jiwanya. Bagaimana dia bisa diam saja setelah apa yang terjadi pada sahabatnya itu?
Apakah enggan terlibat adalah satu-satunya alasan? Atau sebagian dirinya mendeteksi bahaya yang akan terjadi jika ia mengungkapkannya ke permukaan?
Lalu fokusnya teralihkan pada nomor kontak Emma yang ia beri nama "Guru Cerewet".
Emma memang memberikan kontaknya untuk berjaga-jaga kalau Bimo menemui masalah. Akan tetapi setelah hampir dua minggu Emma resign, Bimo tak juga kunjung menghubunginya.
Itu cukup melegakan, karena artinya Bimo baik-baik saja. Namun, suasana yang terlalu tenang sedikit membuat Emma khawatir.
Tuuut.....
Setelah hampir setengah jam Bimo menatap nomor itu, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi si Guru cerewet. Tentu saja, Emma menerima panggilan dari Bimo dengan cepat.
"Halo? Bimo? Ada apa? Kamu nggak kenapa-kenapa kan?" Cerocos Emma di panggilan Telepon.
"Bawel banget ni orang."
"Hei! Sopankah begitu?" Mendengar suara Bimo yang penuh kurang ajar itu, membuat hati Emma meringan. Setidaknya Bimo masih baik-baik saja.
"Kenapa Ibu malah nggak ngajar lagi? Dipecat ya?"
"Sembarangan aja kalau ngomong. Ibu resign tahu!" Jawab Emma.
"Justru itu, kenapa Ibu resign? Apakah Ibu takut?" Bisiknya. Kali ini suara Bimo terdengar berat dan merana.
'Skorsku berakhir,' Emma ingin sekali menjawab jujur.
"Bukan begitu, Ibu-"
"Pasti ada tawaran pekerjaan yang lebih menjanjikan ya?" " Yah, bisa dimengerti sih, di sini banyak orang jahatnya."
Emma mencelos. Bagaimana Bimo bisa menyimpulkan seperti itu? Siapa yang dimaksud jahat disini? Banyak? Siapa?
"Siapa yang jahat?" Tanya Emma tanpa basa-basi.
"Ada lah..."
Emma hanya diam memutar otaknya. Sedangkan Bimo yang sudah ragu dari awal, semakin menutup rapat mulutnya.
"Kita ketemu besok di Taman dekat Alun-alun. Kamu bisa?" Tanyanya kepada Bimo yang ikut diam.
"Kenapa nggak sekarang?" Ucap Bimo.
"Ini sudah sore. Kalau menunggu Ibu datang, kamu bisa semalaman disana," jawab Emma.
"Emangnya posisi Ibu dimana? Jauh kah? Luar kota ya?"
"Ya begitu lah, jadi kita ketemu besok sepulang sekolah. Oke?"
"Oke!"
.
.
.
Siang hari di hari setelahnya, Emma mengajak Tejo untuk menemui Bimo.
Awalnya ia berniat untuk datang sendirian demi kenyamanan Bimo. Tapi setelah dipikir-pikir, Emma masih membutuhkan bantuan Tejo untuk berjaga-jaga kalau dirinya tiba-tiba colaps. Dia juga bisa meminta Tejo menjaga jarak kalau Bimo nantinya merasa tidak nyaman.
Bermodalkan buku catatan hitam kecil, Emma mengendarai mobil dengan Tejo yang tertidur di kursi penumpang hampir 5 jam.
"Ck ck ck, anak ini kerjaannya molor terus."
Emma menggelengkan kepalanya melihat wajah gembil partnernya itu yang sudah tertidur seperti bayi.
Lalu fokusnya kembali kearah jalanan yang sedikit ramai karena bubaran pabrik. Namun, Emma berusaha agar dirinya sampai ke tempat janjian dengan cepat agar Bimo tidak menunggu lama.
"Fyuh! Akhirnya sampai juga."
Emma membuka pintu mobilnya dan membangunkan anak piyik itu. Di Taman ada banyak sekali orang yang sedang bersantai dan bermain. Untuk itu, Emma memusatkan pandangannya pada anak -anak yang memakai seragam.
Tuuuuut...
"Halo Bim, kamu dimana?"
Karena tak kunjung menemukan sosok Bimo, Emma langsung menelponnya.
"Saya disini bu! Saya bisa melihat punggung Ibu!"
Lalu Emma menoleh. Dengan jelas Emma melihat Bimo tersenyum sumringah penuh kelegaan. Dia berlari ke arah Emma dengan riang tanpa tahu apa yang akan terjadi.
Jleb!
Seseorang menabraknya di tengah kerumunan dan menusuknya dengan pisau.
Bimo yang awalnya tersenyum, kini berubah syok. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata dan berakhir terkapar di trotoar.
"Bimo!!!"
Emma yang menyaksikan kejadian menyeramkan itu, langsung berlari ke arahnya.
"Tejo! Tolong...." Tejo yang juga berlari mengikuti atasannya itu mengangguk, mengerti perintah tanpa ucapan itu. Tejo dengan sigap menelpon ambulan, dan berusaha menghentikan pendarahan di perut Bimo sedangkan Emma berlari mengejar si penusuk.
Drap drap drap
Emma berlari sekencangnya mengikuti pelaku. Namun ramainya jalan sedikit menghambatnya.
"Ck"
Kemudian matanya beralih ke jalan tikus yang tepat berujung di depan pelaku melarikan diri. Ia berbelok tajam ke gang tersebut.
"Hah hah hah!"
Emma mengatur nafasnya masih dengan lari kencangnya. Matanya tetap fokus pada rute pelarian si pelaku.
Setelah lama berlari, si pelaku sepertinya merasa dirinya telah jauh dari jangkauan orang yang mengejarnya. Tanpa ia sadari, orang yang itu telah mendahuluinya dan berdiri tepat di depannya.
Bugh!!
Emma meninju muka pelaku, hingga ia terpelanting dan jatuh ke tanah. Namun si pelaku itu masih bisa berdiri. Ketika ia hendak melarikan diri lagi, Emma menerjang dengan tendangannya yang langsung menghantam punggung pelaku hingga ia mencium tanah. Dengan sigap ia kunci pergerakan pelaku dengan tangannya dan akhirnya memborgol si pelaku.
delulu ny levi bener2 udh perlu dibawa ke psikiater, hehe canda... dia beneran suka emma gk sih /Sweat/
obatnya promag 🤭