Di tempat semua orang yang sedang berjuang demi mengubah masa depan, hanya beberapa anak yang tengah berjuang demi membalaskan dendam. Ini adalah akademi bagi para bangsawan yang ingin mengubah masa depan dan memperjuangkan kemerdekaan mereka.
—
Pembantaian keji terhadap keluarga ternama dengan pasukan militer yang kuat, kini hanya tersisa nama. Sebagai satu-satunya yang terselamatkan, ia mengambil langkah untuk membalaskan dendam keluarganya. Panah api itu tak kunjung berhenti menembak, bangunan besar itu kini dilapisi oleh api, di setiap penjuru bangunan penuh dengan api dan asap.
Matanya membulat sempurna, wajahnya menegang, jari-jari kecilnya bergerak perlahan, kakinya melangkah ke depan, hanya satu langkah sebelum seseorang menahannya dari belakang. Satu tangannya terulur ke depan, berharap ini hanyalah mimpi. Kini pandangannya gelap setelah seseorang di belakangnya mulai menutup pandangan nya.
—
5 Tahun setelah Tragedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliet's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Balas Dendam kecil (9)
Pandangannya beralih pada si kembar dan dua pengawalnya.
"Untuk Kael, fokuslah pada kendali aliran mana dan latihan ketahanan fisikmu bersama Eric. Kalian berdua juga bisa saling mengasah teknik berpedang khas keluarga atau kemampuan bertarung kalian masing-masing," instruksi Elouis.
"Untuk Kazel, pelajari materi strategi dari Vincent. Ada kemungkinan arena pelatihan khusus nanti berupa hutan liar atau pulau tak berpenghuni, jadi dalami pemetaan wilayah seperti itu. Kazel, kau juga bisa sesekali melatih fisikmu bersama Eric dan Kael."
Terakhir, Elouis menatap Vincent. "Sedangkan Vincent, kau bisa melatih perapalan sihir tingkat tinggi bersamaku atau Edith. Bagaimana? Apakah ada yang perlu ditanyakan lagi?"
Vincent membaca cermat lembaran materi yang ditulis oleh Elouis, meninjau ulang detailnya sebelum memberanikan diri untuk bertanya.
"Kapten, bukankah beberapa hari lagi kelas reguler akan segera dimulai?" tanya Vincent. "Apakah diperbolehkan jika saya menyerahkan tugas mengeksekusi 'hidangan utama' ini melalui para bayangan kita?"
Elouis sedikit memiringkan kepalanya, menimbang kembali segala risiko serta kemungkinan yang dapat terjadi. "Kau bertanya seperti itu... apakah kau sudah memikirkan kandidat yang tepat untuk menggantikan posisimu?" balas Elouis tenang.
Vincent terdiam sejenak. "Ah... Anda benar. Saya belum memikirkan satu pun kandidatnya," gumam Vincent pelan, lantas perlahan tenggelam dalam memorinya sendiri demi mencari sosok yang cocok.
"Apakah kalian berempat tidak ada pertanyaan lain?" tanya Elouis beralih menatap Edith, Eric, Kael, dan Kazel, membiarkan Vincent berkutat dengan pikirannya sendiri.
Kazel meraih kertas yang berada di depan Edith—kertas instruksi yang baru saja dibagikan oleh Elouis. "Mhm... Apakah Kapten sudah memiliki gambaran pasti tentang apa yang akan terjadi di lokasi pelatihan nantinya?" tanya Kazel.
Elouis mengangguk pelan. "Kurang lebih. Apakah kau ingin memastikan sesuatu?"
Kazel menggelengkan kepala. "Bukan begitu, tapi... apakah Kapten benar-benar sudah memperhitungkan siapa saja siswa yang berpotensi mengikuti pelatihan khusus ini?"
"Ah... belum sepenuhnya. Namun akan kukatakan saja sekarang, ada kemungkinan besar kandidat-kandidat kuat berasal dari Kelas Khusus yang dipimpin oleh Senior Arthur," jelas Elouis.
"Anak-anak yang memiliki potensi kekuatan berbahaya terbanyak berada di kelas tersebut, dan aku belum tahu secara pasti siapa saja di antara mereka yang akan turun bertarung," lanjut Elouis.
Ruangan seketika hening. Kelimanya sibuk menerka-nerka siapa saja deretan murid berbahaya di bawah naungan Senior Arthur yang akan menjadi ancaman di medan ujian.
"Ivory Strom... Cecilia Maverick... Daniel Craig... Grey... dan ada satu lagi," gumam Vincent tiba-tiba di sela-sela lamunannya.
Elouis beserta empat anggota lainnya sontak menoleh dan menatap Vincent dengan raut terkejut. Sudut bibir Elouis perlahan terangkat membentuk senyuman puas yang amat dingin.
"Heh... Ingat baik-baik nama-nama itu," ucap Elouis tenang seraya mengalihkan pandangannya pada Eric. "Dan Eric... kau bisa mengawasi gerak-gerik nama-nama itu melalui jaringan bawahanmu, bukan?"
Eric menganggukkan kepalanya, paham betul akan tugas pengawasan yang baru saja dibebankan padanya.
"Pangeran Dominic dan Tuan Muda Lamortha juga berasal dari Kelas Khusus itu," sela Kael secara tiba-tiba. "Namun tampaknya mereka tidak seberbahaya murid lainnya... bukankah mereka berada di pihak kita?"
"Benar. Kalian simpanlah lembaran instruksi itu masing-masing," balas Elouis sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Perlahan-lahan, Vincent membuka kelopak matanya dan menatap lurus ke arah Elouis. "Saya telah menemukan dua kandidat yang sangat cocok untuk tugas tersebut," ucapnya.
"Bagus. Temui saja mereka setelah jam makan malam nanti," balas Elouis tenang.
Keheningan sempat menyelimuti meja rapat mereka sejenak, sebelum Elouis mengalihkan pandangannya menatap ukiran di langit-langit perpustakaan.
Ia kembali menatap kelima rekannya. "Apakah kalian pernah mendengar tentang 'Pulau Matahari'? Dan apa makna di balik ungkapan 'Anak Keturunan Naevallen'? Apakah ada di antara kalian yang mengetahuinya?" tanya Elouis dipenuhi rasa penasaran.
Mereka berlima saling bertukar pandang dalam kebingungan, lantas serempak menggelengkan kepala.
"Mohon maaf, Kapten... namun dari mana Anda mengetahui perihal tersebut?" tanya Vincent yang turut diliputi rasa penasaran.
"Pulau Matahari...?" gumam Eric pelan, mencoba mengingat-ingat pustaka sejarah yang pernah ia baca.
"Anak Keturunan Naevallen...?" gumam si kembar kompak dari balik barisan.
"Apakah kau membaca ukiran bahasa kuno lagi?" tebak Edith.
"Ah... benar. Aku tidak sengaja menafsirkannya. Aku mengetahuinya dari sana," balas Elouis seraya mengarahkan telunjuknya ke langit-langit perpustakaan di atas mereka.
Seketika itu pula mereka mendongakkan kepala masing-masing, mencoba mencari ukiran bahasa kuno yang dimaksud oleh sang Kapten.
Cukup lama mereka mengamati deretan balok kayu dan atap batu perpustakaan itu, namun...
"Aku tidak melihat ukiran apa pun di atas sana..." gumam Kael berkerut dahi.
"Di sebelah mana letak ukiran itu berada...?" gumam Vincent semakin penasaran.
"Apakah ukuran tulisannya sangat kecil hingga tak kasat mata...?" tanya Kazel.
"El, di bagian mana persisnya kau melihat ukiran tersebut?" seru Eric seraya menyempitkan pandangannya.
"Tidak ada ukiran apa pun yang kau maksudkan, El," ucap Edith menundukkan kepalanya kembali dan menatap Elouis dengan raut keheranan.
Elouis segera mendongak kembali ke langit-langit, lalu mengalihkan pandangannya menatap kelima rekannya secara bergantian. Sedetik kemudian, ia menundukkan kepala, menatap kosong pada lembaran kertas di hadapannya.
‘Apa lagi maksud dari semua ini...? Mengapa tempat ini menyimpan begitu banyak kejutan di luar dugaanku?’ batin Elouis bergejolak.
"... Elouis...?" panggil Edith lembut, menatap penuh kebingungan ke arah sang Kapten yang mendadak tenggelam dalam lamunan yang dalam.
‘Pulau Matahari...? Anak Keturunan Naevallen...? Apa sebenarnya makna di balik semua ramalan itu?!’ jerit batin Elouis.
‘Mengapa rekan-rekanku tidak sanggup melihat ukiran seluas dan sejelas itu?! Mengapa hanya aku?!’
"Elouis! Sadarlah...!"
Tepat saat sebuah sentuhan mendarat di bahunya, Elouis tersentak dan kembali menatap teman-temannya.
"Ada apa? Mengapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Elouis dengan raut kebingungan yang tak sanggup ia sembunyikan.
Sementara itu, kelima rekannya menatap Elouis dengan raut cemas yang amat nyata.
"Sebaliknya kami yang bertanya, kau yang kenapa?" sela Eric dengan nada tegas namun hangat. "Jika kau memang melihat sesuatu di atas sana... katakan saja pada kami. Kami akan membantumu sebisa yang kami sanggup."
"Jangan menanggung serta memikirkan segalanya seorang diri, El," timpal Kael menyimpulkan, menatap sang Kapten dengan penuh keyakinan. "Kau memiliki kami sekarang untuk berdiri di sisimu."
Elouis memperhatikan raut cemas di wajah rekan-rekannya, lalu terkekeh pelan. Ketegangan yang tadi mengikat dadanya perlahan mencair.
"Aku bukannya menanggung semuanya sendirian... dan terima kasih karena telah menyadarkanku," ucap Elouis jujur.
Mendengar kekehan kecil dan pengakuan yang keluar dari bibir sang Kapten, kelimanya tak sanggup menahan senyum tulus yang mengulas di wajah masing-masing.
"Tentu saja kau harus berterima kasih pada kami," sahut Edith seraya mengibaskan rambutnya pelan. "Sebab jika tidak... kau mungkin sudah melangkah ke jalan yang benar-benar menyesatkan."
"Jadi, apa saja hal yang sebenarnya telah kau baca dari ukiran itu?" tanya Eric yang sudah tidak sanggup membendung rasa penasarannya.
Elouis kembali melirik sejenak ke arah ceiling perpustakaan sebelum mengalihkan pandangannya pada Eric dan yang lainnya.
"Hanya seputar... sosok yang ditakdirkan untuk menjadi cahaya penuntun bagi para pengikut yang mempercayainya tanpa syarat," terang Elouis pelan.
tpi kamu harus tetap waspada dn jaga dirimu baik2 👍