Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Prioritas Tertinggi
“Sebagai permintaan maafku, biarkan aku yang mengurus proyek ini.”
Suasana menjadi hening.
“Clarissa tersenyum penuh keyakinan. “Aku sudah memimpin beberapa proyek besar di Rothmere Cabang. Kau tahu hasil kerjaku tidak pernah mengecewakan.”
Bastian tetap diam. Sesaat kemudian mata pria tegas itu bergeser ke arah Reynard. Sahabat Bastian itu langsung menggeleng pelan sangat pelan. Namun cukup jelas mengatakan jangan.
Clarissa kembali membuka suara. “Membujuk Kemala kembali jelas membutuhkan waktu. Sementara proyek nasional ini tidak bisa menunggu. Aku hanya ingin membantu.”
Bastian hendak menjawab. Namun ponsel pria kaku itu tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuat wajahnya langsung berubah.
[Madam Eleanora.]
Tanpa ragu Bastian menerima panggilan itu. “Ya, Ma?”
“Saat ini juga kamu pergi ke rumah sakit.” Suara di seberang terdengar tegang.
Jantung Bastian seolah berhenti berdetak sesaat. “Ada apa?”
“Nathan sesak napas,” suara wanita tua itu terdengar sedikit bergetar.
Tubuh Bastian langsung menegang.
“Dokter menduga dia tidak cocok dengan ASIP baru yang diuji sejak kemarin,” suara Madam terdengar jauh lebih tua dari biasanya. “Cepat ke sini.”
Sambungan terputus. Bastian langsung berdiri. Kursi sofa pria kaku itu terdorong ke belakang dengan keras.
“Bastian?” Reynard hendak ikut berdiri.
Tanpa menjawab, Bastian meraih tas pendingin besar yang masih berada di atas meja. Tas berisi ASIP dari Kemala. Reynard melihat gerakan sahabatnya itu. Pria santai itu tak mengeluarkan satu pun lelucon karena Reynard melihat sesuatu di mata sahabatnya. Kepanikan meski wajah Bastian tetap dingin seperti biasa.
“Ada masalah?” Clarissa mencoba melangkah mendekat.
Bastian bahkan tak menoleh.
“Pak …” Alya cukup terjekut dengan Bastian yang sudah berada di depannya.
“Alya,” suara Bastian memotong tajam. Alya langsung berdiri tegak.
“Tunda semua agenda dan tutup ruang kerja saya,” perintah Bastian begitu tegas.
“Baik, Pak. Siap.” Alya segera mengangguk mendengar perintah pria kaku itu.
Tanpa memberi kesempatan siapa pun berbicara lagi, Bastian langsung keluar. Langkah pria kaku cepat bahkan nyaris berlari. Clarissa hanya bisa melihat punggung pria itu menghilang di balik pintu.
Beberapa saat kemudian Reynard ikut berdiri. Pria santai itu memasukkan kedua tangan ke saku celana. Saat melewati Clarissa, langkah Reynard berhenti.
“Sebaiknya kau hentikan semua kepura-puraan busuk itu.”
Senyum Clarissa tidak berubah sedikit pun. “Orang luar tidak memiliki hak untuk berkomentar mengenai urusan Rothmere.”
Reynard mendengus pelan.
“Mungkin.” Tatapan pria santai itu turun ke arah ruang kerja yang baru saja ditinggalkan Bastian. “Tapi sebaiknya kau juga pergi.”
“Kenapa?” Clarissa mengangkat alis.
“Karena ruangan itu bukan hakmu,” jawab pria itu langsung membuang wajahnya.
Sesaat senyum Clarissa menegang.
Reynard sudah berlalu sambil melambaikan tangan pada Alya. “Jangan terlalu stres.”
Alya memijat pelipisnya. “Yang membuat saya stres justru kalian semua.”
Reynard tertawa lepas.
Sementara Clarissa berdiri memandangi ruang kerja direktur utama Rothmere. Tatapan wanita elegan perlahan menyapu meja besar, jendela tinggi, kursi eksekutif, dan seluruh simbol kekuasaan tertinggi Rothmere. Senyum tipis muncul di bibir Clarissa lalu wanita elegan itu berbalik keluar. Tak lama kemudian Alya menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.
***
Rumah Sakit. Bastian tiba hampir bersamaan dengan suara pintu lift yang terbuka. Langkah panjang pria itu langsung menuju ruang perawatan khusus. Dan saat melihat kondisi di balik kaca, dada Bastian langsung terasa berat.
Nathan terbaring di ranjang kecil. Tubuh mungil itu dipenuhi kabel monitor. Beberapa perawat dan dokter silih berganti memeriksa kondisi bayi Rothmere itu. Bastian sama sekali tak bergerak. Tatapan pria kaku itu terpaku pada ruang perawatan khusus itu.
Madam Eleanora berdiri di samping Bastian yang baru datang itu. Biasanya wanita tua itu terlihat kokoh dan tak tergoyahkan. Namun hari ini berbeda, mata Madam merah seolah baru saja menangis. Tongkat yang selalu dibawa wanita tua itu digenggam sangat erat.
Bastian jarang melihat ibunya seperti ini.
“Apa yang terjadi?” tanya Bastian.
Madam tak langsung menjawab. Tatapan wanita tua itu masih tertuju pada Nathan.
“Kami mencoba ASIP baru sejak kemarin,” jawab Madam masih menatap ruang perawatan. “Awalnya tidak ada masalah. Tapi dini hari tadi dia sesak.”
Suara Madam bergetar tipis.
Bastian menelan ludah. “Kondisinya?”
“Dokter masih menangani.” Madam semakin menggenggam erat tongkatnya itu.
Keheningan kembali turun. Mereka berdiri berdampingan. Sama-sama menatap bayi kecil di balik kaca. Dalam waktu lama, tak ada pembahasan mengenai perusahaan, tak ada pembahasan proyek, tak ada pembahasan saham. Hanya Nathan.
Beberapa menit berlalu. Lalu suara Madam pecah. “Apapun yang terjadi ... Nathan harus selamat.”
Bastian menoleh.
Tatapan Madam tetap lurus ke depan.
“Nathan sudah melalui terlalu banyak hal sejak awal.” Tongkat itu kembali digenggam semakin kuat. “Untuk mendapatkannya saja tidak mudah. Harga yang harus dibayar keluarga ini terlalu besar.”
Suara wanita tua itu terdengar berat.
Bastian memahami maksud ibunya. Nathan bukan sekadar bayi. Nathan adalah pewaris yang dipersiapkan sejak awal. Penerus yang diperebutkan. Penerus yang keberadaannya dijaga mati-matian.
“Dia adalah prioritas tertinggi dalam Rothmere.” Madam menoleh. Tatapan mata wanita tua itu tajam meski masih menyimpan kesedihan. “Di atas segalanya.”
Bastian mengangguk pelan. Kemudian mengangkat tas pendingin besar yang dibawanya. “Aku membawa ASIP Kemala.”
Madam membeku. “Apa?”
“Reynard baru menyerahkannya,” jawab Bastian.
“ASIP Kemala?” Mata Madam kembali hidup.
“Ya,” jawab pria kaku itu singkat.
Madam langsung menoleh ke arah ruang dokter. “Ayo.”
Beberapa menit kemudian dokter menerima tas pendingin itu. Seluruh prosedur dilakukan cepat. ASIP diperiksa dan dipanaskan lalu diberikan kepada Nathan. Bastian dan Madam menunggu dengan tegang. Puluhan menit berlalu, kemudian salah satu dokter keluar. Wajah dokter itu terlihat heran.
“Ini luar biasa.”
Bastian langsung berdiri. “Bagaimana?”
“Kondisinya membaik.”
Madam mengembuskan napas panjang. Seolah beban besar baru saja dilepaskan dari pundak wanita tua itu.
“Selama beberapa hari terakhir kami mencoba berbagai alternatif. Tubuh Nathan selalu memberikan respons penolakan.” Dokter melanjutkan sambil membuka catatan medisnya. “Namun ASIP ini diterima dengan sangat baik.”
Bastian dan Madam saling berpandangan. Mereka berdua sudah mengetahui jawabannya. Namun tetap terasa mengejutkan ketika mendengarnya langsung dari dokter. Nathan hanya cocok dengan ASIP Kemala.
Sore menjelang malam. Kondisi Nathan jauh lebih stabil. Warna wajah mungil itu kembali membaik. Napas bayi itu tak lagi seberat sebelumnya. Namun Madam masih berdiri di dekat ranjang bayi itu. Wanita tua itu selalu mengamati dan memperhatikan cucunya sangat lama.
“Dia masih gelisah.”
Bastian ikut melihat. Memang benar, Nathan tak lagi sesak. Namun bayi itu tetap tampak tak nyaman. Bayi Rothmere itu tak setenang dulu. Tak setenang saat berada dalam pelukan Kemala. Tak setenang saat menyusu langsung dari wanita desa itu.
Madam perlahan menutup mata. Amarah, harga diri, ataupun ego. Semua yang dulu membuat wanita tua itu mengusir Kemala. Kini terasa tak berarti. Karena Nathan jauh lebih penting dari semuanya. Madam membuka mata kembali. Lalu menoleh pada putranya.
“Bastian.”
“Ya?” tanya Bastian menatap ibunya.
“Bujuk Kemala kembali,” ujar Madam terlihat sangat serius.
Bastian terdiam.
“Nathan membutuhkan dia.” Madam melanjutkan.
Ucapan wanita tua itu hanya memunculkan keheningan yang memenuhi ruangan.
“Nathan tidak hanya membutuhkan ASIP-nya.” Tatapan Madam kembali jatuh pada cucunya. “Dia membutuhkan Kemala.”
Bastian tak membantah karena pria kaku itu juga melihatnya setiap saat.
Madam menarik napas panjang. “Jika masalahnya Arkana, aku tidak keberatan.”
Bastian menoleh.
“Biarkan dia membawa bayinya ke Kediaman Rothmere.” Madam berkata tegas.
“Ma?” tanya Bastian mencondongkan tubuhnya ke arah Madam Eleanora.
“Ada cukup banyak pengasuh di sana,” ujar Madam Eleanora menatap jauh ke depan. “Hanya satu hal yang penting.”
Madam kembali melihat Nathan. “Nathan harus sehat.”
Hening sesaat.
“Pergilah. Temui Kemala,” lanjut Madam Eleanora menatap Bastian begitu lekat. “Dan bawa dia pulang kembali ke Kediaman Rothmere.”
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉