Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turnamen
Gerbang Timur.
Qin Zhao yang baru saja kembali dari Kota Feiyun bergegas menemui Zhi Ruo di paviliun. Kedatangannya kali ini untuk memastikan sang pelayan berhasil menguras harta para bangsawan yang berkunjung ke paviliun.
“Tuan sudah kembali,” kata Zhi Ruo menyambutnya.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Qin Zhao penasaran.
“Mereka cukup royal, Tuan. Kita mendapatkan 1200 tael emas dari penjualan artefak spiritual tingkat bumi,” beber Zhi Ruo.
“Ha-ha, kau cukup pintar, Nyonya.”
“Oh iya, Tuan, bagaimana kondisi di kota?”
Sejenak Qin Zhao terdiam mengingat kondisi kota yang sudah hancur.
“Tidak ada yang bisa diselamatkan, tetapi sekarang sudah diambil alih pasukan Qin,” ungkapnya kemudian mengalihkan pandangan ke lantai atas paviliun, lalu melanjutkan, “Hancurnya Kota Feiyun membuat kita harus mencari jalur baru untuk mengisi ulang logistik paviliun.”
“Tuan tenang saja, aku sudah memikirkannya dan ….” Binar mata Zhi Ruo semakin cerah menatap Qin Zhao. “Aku menyepakati kontrak yang ditawarkan bangsawan Fei selama lima tahun ke depan. Mereka yang akan menyuplai logistik untuk kebutuhan paviliun. Nilainya pun sangat rendah,” sambungnya bersemangat.
Binar mata Zhi Ruo menulari Qin Zhao yang kemudian tertawa renyah.
“Tidak salah aku memilihmu menjadi orang kepercayaanku,” balas Qin Zhao memujinya. “Sekarang Nyonya bisa fokus mempersiapkan diri menyambut turnamen,” imbuhnya.
“Oh iya, sementara waktu ini aku akan fokus berlatih. Panggil aku sebelum turnamen dimulai.”
“Baik, Tuan.”
***
Dalam kebiruan langit yang terbentang, Qin Zhao merebahkan tubuhnya di atas lempengan batu dengan kedua mata yang memicing memandangi serakan awan yang bergerak tertiup angin.
“Aku ingin tahu apakah pandanganku bisa menembus langit?” kata Qin Zhao yang kemudian mengaktifkan mata monsternya dan berhasil menembus dinding langit hingga dapat melihat ribuan batu meteor yang beterbangan.
“Wow, ini sangat keren!” gumamnya takjub.
Ketakjuban Qin Zhao tidak sebatas bisa menembus dinding langit, ia pun dapat melihat susunan formasi dao yang memisahkan dimensi alam fana dengan alam dewa.
“Kupikir alam dewa itu berada di semesta yang berbeda, ternyata dimensinya saja yang berbeda.”
Tatapan Qin Zhao kembali normal ketika melihat formasi belenggu di atasnya bergetar keras oleh sebab pandangannya menembus formasi.
“Belum waktunya aku menjelajah lebih jauh. Sekarang aku hanya ingin santai sampai turnamen tiba,” ucapnya lalu menutup mata dan tertidur di atas lempengan batu.
Beberapa hari menjelang turnamen resmi dibuka, Paviliun Hitam milik Qin Zhao sudah ramai dipenuhi oleh para tamu yang datang dari seluruh penjuru, bahkan tidak sedikit pula para kultivator yang berasal dari luar wilayah Kekaisaran Qin ikut meramaikan.
Sebagian besar mereka merupakan perwakilan dari sekte-sekte ternama yang berambisi untuk menjadi sekte nomor satu di dunia kultivasi. Namun, fokus utama dari turnamen ini adalah menentukan posisi kultivator teratas.
Turnamen yang diinisiasi oleh Aliansi Kultivator dan didukung sepenuhnya oleh Kaisar Qin Zhang ini menjadi yang pertama diselenggarakan sejak perang besar sepuluh ribu tahun yang lalu.
“Tuan, Aliansi Kultivator Benua Timur meminta izin untuk mendirikan domain menara di sekeliling luar arena supaya dapat menampung semua tamu,” ujar Zhi Ruo melalui transmisi suara.
“Selama tidak mengganggu area istirahatku, aku izinkan,” balas Qin Zhao tidak mempermasalahkan.
“Satu lagi, Tuan. Utusan dari Kekaisaran Qin meminta Tuan untuk menyambut kedatangan Kaisar. Apa Tuan bersedia?”
“Sungguh merepotkan! Katakan saja aku sedang dalam pelatihan tertutup dan akan hadir ketika turnamen resmi dimulai.”
“Baik, Tuan.”
***
Hari yang dinantikan pun tiba. Ribuan orang sudah memadati kursi arena hingga nyaris tak tersisa. Di tengah arena, Kaisar Qin berdiri bersama jajaran dari Aliansi Kultivator untuk meresmikan turnamen.
“Aku katakan …!” Tatapan Kaisar Qin menyapu seluruh arena sebelum ia melanjutkan, “Turnamen Bintang Timur resmi dimulai!”
Sorak sorai semua orang bergemuruh menyambut peresmian turnamen. Mereka yang sudah mendapat token pertarungan pun tak sabar untuk memulai pertarungan dengan berbagai format yang disesuaikan di setiap kategori yang dipilih.
Qin Zhao sendiri terdaftar dalam kategori Laskar Bumi yang akan memperebutkan posisi 61–100, artinya ada 39 kuota untuk menembus predikat Laskar Bumi. Namun, jumlah peserta dalam kategori tersebut menjadi yang terbanyak dibanding kategori di atasnya.
Lebih dari sembilan ratus kultivator yang terdaftar pada kategori Laskar Bumi dan semuanya merupakan kultivator Condensation Qi satu sampai sembilan, termasuk kultivator fisik yang setingkat.
Meskipun digolongkan ke dalam kategori paling rendah, tetapi berada dalam urutan seratus besar kultivator yang diakui di Benua Timur menjadi daya tarik yang tak bisa dilewatkan. Kategori ini pun merupakan misi setiap murid sekte untuk mendulang poin kontribusi dan menaikan status murid ke jenjang lebih tinggi.
“Pertandingan pertama akan diawali oleh pemilik Gerbang Timur menghadapi putra suci dari Sekte Qinshan!” teriak seorang tetua aliansi dengan penuh semangat.
Seperti mendengar petir di siang bolong. Semua orang terkejut mendengar sosok misterius pemilik Gerbang Timur berada di kategori terendah kompetisi. Sebelumnya mereka menduga sosok itu akan langsung bertarung memperebutkan posisi puncak. Kasak-kusuk di antara mereka pun cepat menyebar dengan berbagai persepsi yang masih harus dibuktikan.
Di arena pertandingan, Gu Shan sudah berdiri tegak di tengah kebisingan yang belum mereda. Terlihat ia sangat percaya diri dengan kemampuannya. Sebagai seorang putra suci yang sudah berada di ranah Condensation Qi tujuh, ia diprediksi akan mengungguli semua lawannya. Namun, lawan yang akan dihadapinya adalah sang pemilik wilayah Gerbang Timur yang masih samar diketahui kekuatannya.
Pertarungan keduanya pun diprediksi menjadi pertarungan sengit yang terlalu dini untuk dilihat.
Dari lorong timur, Qin Zhao melangkah keluar dengan balutan pakaian putih dan topeng hitam yang menutupi seluruh wajahnya. Di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang yang memancarkan kilatan petir merah.
Keriuhan para penonton mendadak hilang begitu Qin Zhao menaiki lantai arena. Mereka terlihat sedang menelusuri fluktuasi energi yang bersemayam di tubuh Qin Zhao, tetapi upaya mereka tidak mendapatkan hasil. Lapisan batu hitam telah sepenuhnya menutupi energi di tubuh Qin Zhao.
“Sesuai kontrak darah yang disepakati, mati atau menyerah dengan membayar denda seribu batu roh kualitas tinggi. Apa kalian sudah paham?” ujar tetua aliansi kepada Qin Zhao dan Gu Shan.
Keduanya mengangguk tanpa ragu dan melangkah mundur untuk bersiap.
Sebelum keduanya memulai pertarungan, Qin Zhao menyempatkan diri untuk bertanya kepada Zhi Ruo, “Nyonya, berapa yang kita dapat?”
“Lebih dari sepuluh juta batu roh, Tuan. Perhitungannya 20% biaya pendaftaran, 50% jaminan, dan 30% sisanya dalam bentuk tagihan setelah pertarungan,” papar Zhi Ruo.
“Berarti semakin banyak yang menyerah, semakin banyak pula keuntungan kita.” Qin Zhao menghitung keuntungan dari ribuan peserta termasuk penonton yang hadir.
“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan membunuh lawanku,” imbuhnya bersemangat.
“Tapi, Tuan. Peserta yang tewas, semua jaminannya menjadi milik kita,” ujar Zhi Ruo menambahkan.
Qin Zhao sangat bahagia dan hendak membalas ucapan anak buahnya, tetapi bilah pedang Gu Shan terlebih dulu menghantam dadanya dengan keras hingga menimbulkan dencingan nyaring yang memekakkan telinga.
Tanpa memberi waktu untuk bernapas, Gu Shan kembali melayangkan tebasan vertikal yang kuat ke arah tubuh Qin Zhao. Namun, Qin Zhao tak membiarkan lawannya kembali menebas. Ia angkat pedangnya secara diagonal untuk menangkis serangan; benturan keras tersebut menghasilkan dentang yang menggetarkan hingga ke pergelangan tangan sang lawan.
“Kau … kau bisa menahan seranganku?” Gu Shan menyipit sulit percaya.
Di balik topengnya, Qin Zhao menyeringai dingin. Ia masih ingin melihat serangan terkuat dari lawannya itu dengan menggantung pedang ke samping. Sikapnya yang pasif memantik kebencian di benak Gu Shan.
“Cih, kau meremehkanku!” desis Gu Shan mulai tersulut.
“Apa yang dilakukan si pemilik paviliun?” Banyak pertanyaan heran yang terlontar dari para penonton.
Pasifnya Qin Zhao dalam pertarungan membuat mereka sulit menebak. Namun, hal itu justru membuat turnamen sangat menarik untuk disaksikan.