"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Perlindungan Nicktan
Nicktan beranjak dari ruang tengah setelah obrolan singkat dengan Kakek dan Azeus. Ia berpamitan ke kamarnya dengan alasan lelah. Namun, belum ada sepuluh menit, ia sudah turun lagi dengan jaket denim hitam dan kunci motor di tangan.
"Mau ke mana lagi lo, Nick? Nyari Elea?" tanya Azeus yang sedang bersantai, matanya tak lepas dari layar televisi namun instingnya tepat sasaran.
"Gak... Papa sok tahu," sahut Nick cuek. Langkahnya dipercepat, ia hampir berlari keluar rumah.
"Halah! Jangan pulang terlalu malam, Singa! Inget balapan!" teriak Azeus dari dalam, hanya dibalas oleh raungan mesin motor sport Nick yang melesat membelah malam.
Nick memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang pernah ia singgahi saat mengantar Elea pulang tempo hari. Begitu memasuki kawasan perumahan Elea, Nick mendadak mematikan mesinnya. Ia turun dan mendorong motor sport nya yang berat itu dari jarak sekitar seratus meter. Terlalu gengsi jika Elea langsung menyadari kehadirannya lewat suara knalpot yang menggelegar.
Saat jaraknya sudah dekat dengan gerbang tinggi rumah Elea, Nick bersembunyi di ujung gerbang. Matanya menyipit tajam. Di teras rumah, terlihat seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun sedang duduk bersama seorang wanita.
Clarissa? Ngapain dia di sini? batin Nick kaget. Rahangnya mengeras saat melihat keakraban Clarissa dengan pria yang ia asumsikan sebagai paman Elea.
Tak lama, pintu rumah terbuka. Elea muncul dengan penampilan yang sangat berantakan. Ia memakai kaos oversize putih dan hotpans. Wajahnya pucat, jauh dari kesan gadis ceria yang menyiramnya dengan kopi.
"Paman, gue mau ke minimarket depan. Beli pereda nyeri haid," ucap Elea tanpa nada, suaranya terdengar sangat lelah.
"Jangan lama lama. Fokus belajar!" sahut Seno, si Paman, dengan nada dingin.
"Awas, jangan bohong ya, Elea. Kamu cuma mau curi curi waktu buat nyamperin pacar atau temen temen kamu itu diam diam kan?" timpal Clarissa dengan nada provokasi yang kental.
Elea berhenti melangkah, ia menoleh ke arah Clarissa dengan tatapan benci. "Nggak usah nuduh ya, Nenek Lampir! Urus saja hidup lo sendiri!"
"Elea! Jaga mulut kamu!" bentak Seno. Ia berdiri, menarik kasar tangan keponakannya itu hingga Elea terhuyung.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Elea. Nick yang melihat dari kejauhan tersentak, tangannya mencengkeram stang motor begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah mendidih di dadanya, ingin rasanya ia melompat dan menghajar pria itu.
"Paman bilang saja kalau sudah nggak suka sama gue di sini!" teriak Elea meledak, air matanya mulai menggenang namun ia tahan. "gue bakal buktiin ke Paman, kalau wanita di samping Paman ini nggak lebih dari seorang jalang yang cari muka di sirkuit!"
"KURANG AJAR!" Seno kembali mengangkat tangannya.
PLAK!
Tamparan kedua mendarat lebih keras. Elea tidak terjatuh, ia tetap berdiri tegak meski pipinya memerah padam dan sudut bibirnya yang baru mulai kering kembali sobek. Detik itu juga, rasa lelah Elea memuncak. Ia tidak berkata apa apa lagi, berbalik, dan melangkah keluar gerbang dengan langkah cepat dan napas memburu.
Elea berjalan menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang hancur. Namun, langkahnya terhenti total saat matanya menangkap siluet pria jangkung berdiri di samping motor sport hitam tepat di depannya.
Nicktan berdiri di sana. Matanya yang biasanya dingin kini memancarkan kesedihan dan penyesalan yang dalam. Ia menatap wajah Elea yang lebam, pipi yang bengkak, dan sudut bibir yang berdarah.
Elea membeku. Ia merasa sangat malu tertangkap basah dalam kondisi sehina ini. "K-kak Nick? Sejak... sejak kapan di sini?" cicitnya lirih, ia segera membuang muka, mencoba menutupi wajahnya dengan rambut.
Nick tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman yang biasanya ia jaga karena gengsi. Ia melihat Elea yang gemetar, bukan karena dingin, tapi karena menahan isak tangis. Nick merasa sangat bersalah karena menganggap gadis ini menghilang karena bosan padanya, padahal Elea sedang berada dalam neraka.
"Kenapa lo nggak bilang?" suara Nick berat, ada getaran amarah dan luka di sana.
"Pergi, Kak. Jangan liat gue sekarang. Gue... gue cuma mau ke minimarket," Elea mencoba menghindar, melangkah memutar untuk menjauh.
Namun, Nick bergerak cepat. Ia mencekal pergelangan tangan Elea dengan lembut namun kokoh. "Gue antar."
"Gak usah, Kak. Gue bisa sendiri. Nanti Paman liat—"
"Gue bilang, gue antar," potong Nick mutlak dengan nada datar andalannya, namun kali ini terdengar sangat protektif. Ia menarik Elea menuju motornya, melepaskan jaket denimnya sendiri lalu menyampirkannya ke bahu mungil Elea yang hanya memakai kaos tipis. "Pake!. Dingin."
Elea tidak bisa menolak lagi. Ia naik ke boncengan motor Nick. Begitu mesin menderu dan motor melesat membelah jalanan komplek yang sepi, pertahanan Elea runtuh total. Ia membenamkan wajahnya di punggung kokoh Nick, tangannya meremas kaos pria itu.
Elea menangis sesenggukan. Ia mengusap air matanya berkali kali dengan lengan kaosnya, namun air mata itu terus turun seolah tidak ada ujungnya.
Nick bisa merasakan punggungnya basah. Ia bisa merasakan tubuh Elea yang bergetar hebat di belakangnya. Tanpa bicara, Nick meraih satu tangan Elea yang melingkar di pinggangnya, menggenggamnya erat dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengendalikan kemudi.
"Nangis aja. Jangan ditahan," gumam Nick di balik helmnya, meskipun ia tahu Elea mungkin tidak mendengarnya dengan jelas karena deru angin.