BLURB👇
Lian dan Yumna, adalah sepasang anak manusia yang berteman sejak kecil, harus berpisah ketika orang tua Lian memutuskan untuk memindahkan anaknya belajar ke luar negeri. Selama lima belas tahun mereka berpisah dan bertemu kembali saat mereka remaja. Mereka pun menjalin hubungan asmara. Namun, perjalanan cinta mereka tidak semulus yang mereka harapkan. Penuh permasalahan dan rintangan. Terlebih hadirnya orang ketiga di antara mereka. Suatu hari, Lian dan Yumna tak sengaja menghabiskan waktu bersama. Hingga hubungan mereka melampaui batas, dan menyebabkan Yumna hamil!! Hal itu membuat Yumna frustasi berkepanjangan. Apalagi orang tua mereka tidak merestui hubungan mereka. Yumna semakin terpuruk. Setiap hari hanya ada penyesalan yang tak berarti dalam dirinya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rayana Lovely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haruskah Aku Menjauhimu
"Haa.. haa. haaa.."
Suara tawa Randa terdengar renyah di kamar Lian. Lian sengaja menelepon asistennya itu untuk datang dan mendengarkan curahan hatinya. Mereka duduk di depan meja kerja Lian. Lian menatapnya sinis dengan raut muka yang sedikit kesal.
"Ops! Maaf, Pak! Saya keceplosan!" Randa merapikan bajunya dan mengubah posisi duduknya seperti semula.
"Kenapa kamu tertawa! Apa ada yang salah dengan pendapatku barusan?!" tanya Lian serius berharap Randa menjawab dengan cepat.
"Gak ada yang salah dengan pendapat Bapak! Tapi, yang saya gak habis pikir, kenapa Bapak langsung memintanya untuk menjadi istri Bapak dalam waktu yang begitu cepat. Dia bahkan belum mempersiapkan segala sesuatunya." Randa mengeluarkan pendapatnya, disusul dengan tatapan penuh tanya dari bosnya tersebut.
"Maksud kamu, aku salah karena memintanya untuk menikah denganku dalam waktu dekat? Kamu tahu kan kami sudah pacaran. Dia menerima cintaku, dan sekarang aku ingin melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius! Trus, salah ku dimana??!
"Bukan begitu, Pak! Saya tahu kalian sudah menjalin hubungan. Tapi, setahu saya hubungan kalian kan baru berjalan selama beberapa minggu! Wajarlah kalau Yumna sedikit terkejut dengan permintaan Bapak."
Lian termangu mendengarkan ucapan Randa. Benar juga kata Randa. Gimana Yumna tidak kaget. Tiba-tiba dia meminta kekasihnya itu untuk segera menikah dengannya. Padahal hubungan mereka baru berjalan kurang lebih dua bulan. Dia bahkan memintanya untuk mempersiapkan diri dalam minggu minggu ini untuk bisa menikah dengannya.
"Lalu aku harus gimana? aku ingin dia menjadi milikku seutuhnya! Hal apa lagi yang dia pertimbangkan?! Dia tahu kalau aku sangat menyayanginya. Kalau yang dia pikirkan adalah masa depan, aku ini cukup mapan!! Aku bisa memberikan segalanya untuknya! Masalah biaya persiapan pernikahan, tentunya aku yang akan menyediakannya." Lian semakin terobsesi pada dirinya.
"Pak, menurut saya ini bukan masalah harta ataupun tahta! Walau saya baru mengenal Yumna, tapi saya tahu bagaimana sifatnya."
"Lalu?!!" Lian meminta pendapat dari asistennya lagi.
"Menurut saya, seharusnya Bapak bertanya dulu padanya. Apakah dia siap untuk menikah dalam waktu dekat ini atau tidak. Jangan memaksakan kehendak. Karena itu bisa membuat perasaan wanita seperti tidak dihargai. Cobalah diskusikan ini berdua. Dan dengarkan setiap pendapatnya, lalu sama-sama ambil kesimpulan." Randa berbicara seolah-olah dia adalah seorang psikolog kondang. Haahaa....
Lama Lian terdiam. Dia menghela nafas panjang. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Lalu, bersender di kursi kekuasaannya sambil menatap ke langit-langit kamarnya.
****
"Yumna," bu Afni menyapa Yumna lembut.
"Ya, Bu!" Yumna mendekati ibunya. Dia baru saja mengantar kepulangan teman-temannya di luar rumah.
"Sini, ibu mau bicara sama kamu!" Bu Afni mengajak anaknya duduk di sofa ruang tamu. Yumna menurut.
"Yumna! Tadi Ibu tidak sengaja mendengar percakapan kamu dan teman-teman kamu di kamar! Ibu sangat terkejut, Nak! Ibu semakin tidak tahu harus mengatakan dan berbuat apa sama kamu!"
Wajah bu Afni tampak sangat serius. Ada mimik kesedihan di dalamnya. Tapi ada juga raut kemarahan pada wajahnya. Membuat Yumna tidak mengerti dengan air muka ibunya tersebut.
"Percakapan yanga mana, Bu?!"
"Jangan sampai Ibu menjawab bahwa dia telah mendengar pembicaraan kami tentang lamaran Lian yang begitu mendadak kepadanya! Aku tahu Ibu pasti gak bakalan siap menerimanya dan berkata kepadaku bahwa aku harus berkarir dulu!" batin Yumna.
"Apakah kamu menjalin hubungan serius dengan Lian?!" bu Afni menatap tajam penuh tanda tanya.
Deg!
Jantung Yumna seketika terasa berdebar kencang mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut ibunya. Memang selama ini Yumna merahasiakan hubungan mereka karena Yumna tahu ibunya bakalan berontak. Bukan karena ibunya tidak menyukai Lian. Tapi, ibunya itu merasa terlalu banyak berhutang budi kepada orang tua Lian. Dia tidak ingin mengecewakan hati orang tua Lian. Dan nantinya mereka menjadi terpaksa menyerahkan anak semata wayangnya untuk perempuan seperti dirinya. Intinya, dia dan ibunya harus sadar diri!!
"Yumna, jawab pertanyaan Ibu!"
"Hubungan Yumna dengan Lian hanya sebatas teman Bu! Tidak lebih!" dusta Yumna.
"Rasanya percuma Ibu menanyakan ini kepadamu, Nak! Kamu pasti berbohong pada Ibu kan?! Ibu sangat jelas mendengar obrolan kalian tadi! Ibu tahu kamu menjalin hubungan dengan Lian. Ibu dengar sendiri tadi kamu yang berkata kalau Lian ingin segera menikahimu dalam waktu dekat ini..!!" tegas Bu Afni.
Yumna diam menunduk. Dia kehabisan kata-kata dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Emm.. Yumna..." ucap Yumna terbata-bata.
"Iya, Ibu tahu Nak! Kalian saling mencintai! Persahabatan kalian sudah menjadi cinta! Ibu tidak bisa mencegahnya! Tapi, Ibu mohon, pikirkan apa yang pernah ibu katakan kepadamu! Kita tidak pantas bersanding dengan keluarga mereka, apalagi sampai menjadi bagian dari keluarganya. Yumna, kamu harus ingat. Ada banyak perempuan sukses dan kaya di luar sana yang ingin menjadi bagian hidup Lian. Dan Ibu rasa, Om Mirwan dan Tante Sofie sudah mempunyai calon untuk Lian. Untuk itu, sebelum kamu kecewa nantinya, Ibu harap kamu bisa dengan lembut mengakhiri hubungan kamu dengan Lian. Ibu ingin hubungan kalian hanya sebatas teman, tidak lebih!"
Daaarrrr...
Seakan tersampar petir rasanya hati Yumna mendengar ucapan ibunya. Walau yang dikatakan ibunya hanya sebuah kalimat perandaian, tapi kalimat itu seakan menusuk jantungnya. Hatinya sakit memikirkan ucapan ibunya yang berkata kalau orang tua Lian mungkin sudah memiliki calon untuk anaknya. Andai itu benar adanya, haaahhh.. ntah bagaimana perasaannya saat itu.
Tak disadari Yumna, airmatanya telah jatuh membasahi pipinya. Jika dia sedang sendiri saat ini, mungkin dia akan menangis sekuat-kuatnya. Meluapkan perasaannya yang sedang kacau balau.
"Maafkan Ibu, Nak! Ibu ingin melihat kamu bahagia! Tapi tidak dengan cara seperti ini. Kamu tahu kan seberapa banyak Om Mirwan dan istrinya membantu kita! Jangan membuat mereka menjadi terpaksa merestui hubungan kamu dengan Lian, hanya gara-gara kasihan! Jangan Nak! Jangan! Ibu mohon...!!" bu Afni merapatkan kedua tangannya, memohon kepada Yumna. Air matanya juga ikut berlinang.
Yumna merasa salah tingkah. Dia menggenggam tangan ibunya yang memohon kepadanya. Dia merasa sangat bersalah.
"Tidak, Bu! Tidak! Ibu jangan seperti ini! Yumna jadi merasa bersalah dan tak berguna! Baik, Bu! Yumna akan menuruti permintaan Ibu! Yumna akan menolak permintaan Lian yang ingin menikahi Yumna! Yumna akan menjauhi Lian! Yumna akan membuat hubungan ini hanya sebatas rekan kerja! Yumna janji, Bu!" Yumna menangis sesegukan.
Bu Afni memeluk anaknya. Dia memeluknya erat. Seakan tidak ingin melepaskan anaknya tersebut. Dia tahu perkataannya tadi pasti membuat perasaan Yumna hancur. Tapi, dia harus tetap memberi pengarahan kepada anaknya itu agar lebih tepat mengambil keputusan.
***
Like, Comment, Vote and Follownya masih terus ditunggu ya para readers kesayangan😙😙
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa