[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Tiga hari berlalu dengan cepat. Sore itu, sekitar jam empat, cahaya matahari keemasan menerobos masuk dan memenuhi kamarku. Aku baru saja selesai bersiap setelah mandi yang cukup lama, mencoba membasuh rasa cemas yang tak kunjung hilang.
Tanganku meraih paper bag di ujung kasur. Saat kukeluarkan isinya, gaun itu jatuh dengan lembut seperti kepingan salju yang meluruh. Warna putihnya begitu tenang, dihiasi aksen emas tipis dan untaian permata biru langit di bagian pinggang. Tekstur kainnya terasa sangat mewah di kulit, lembut, ringan, namun terasa begitu berkelas di jemariku yang sedikit gemetar.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang mulai berisik, lalu mengenakannya. Gaun itu menyatu sempurna, seolah-olah memang dijahit khusus untuk setiap inci tubuhku. Wajahku memanas saat menatap cermin. Potongan depannya memperlihatkan kaki jenjangku hingga lutut, sementara bagian belakangnya menjuntai anggun menyentuh lantai. Sangat kontras, namun indah.
Setelah mengenakan set anting dan kalung mutiara untuk menghiasi leher V-neck gaun itu, serta sepatu hak tinggi hitam andalanku, aku berdiri sejenak. Aku siap berangkat, meski ada bagian dari diriku yang merasa asing dengan bayangan di cermin itu.
---
Aku sampai di Lumina Grand Hall tiga puluh menit kemudian. Aku harus mengangkat ujung gaunku agar tidak terkena debu semen parkiran. Di depan pintu masuk, aku melihat sepasang suami-istri paruh baya yang tampak panik.
"Aduh, Pa. Tadi kan Mama sudah minta dimasukkan ke dalam tas undangannya!" bisik sang istri dengan nada mendesak.
Suara itu pecah oleh kecemasan. Sebagai eksekutif di Lion Group, insting tanggung jawabku mengambil alih. Langkah kakiku mendekat secara otomatis, meski ada keraguan kecil di sana.
"Pakai saja punyaku, Nyonya. Aku karyawan di sini, aku bisa masuk lewat jalur staf," ucapku sambil menyodorkan undangan emas itu.
Mereka berterima kasih berkali-kali. Senyum mereka... terasa sangat familiar. Ada getaran aneh yang menjalar di punggungku saat melihat mereka, meski aku benar-benar tak ingat di mana pernah melihat wajah-wajah itu.
Setelah melewati prosedur keamanan yang sedikit formal, aku akhirnya melangkah masuk. Pikiranku kembali melayang.
"Bagaimana jika pasangan tadi orang jahat? Apa keputusanku benar?" pikirku waswas. Namun Pemandangan dalam Ruangan membuat pikiran itu terusir dari benakku.
Lumina Grand Hall benar-benar megah. Langit-langitnya dipenuhi lampu kristal yang berkilau seperti galaksi bintang. Dinding air berisi ikan eksotis mengelilingi ruangan, sementara karpet beludru merah terbentang megah di tengah aula.
"Hei, Diana!" seseorang menepuk bahuku. Itu Lyla dan teman-teman kantorku.
"Wah, Wakil Direktur kita penampilannya luar biasa malam ini!" seru mereka, membuatku tersipu. Namun, mata Lyla mendadak membelalak saat mengamati gaunku. "Tunggu... ini Snow Serenade dari Azure Couture, kan?"
"Hah? Yang benar saja?" yang lain ikut heboh.
"Snow Serenade?" tanyaku bingung.
"Oh, ayolah, Diana! Masa beli gaun semahal ini tidak tahu namanya? Ini koleksi terbatas yang hanya ada beberapa di dunia!"
Aku membisu. Aku tahu Azure Couture. Butik eksklusif yang harganya bisa membuat orang sesak napas. Tanganku segera meraba untaian permata di pinggangku. Permata biru langit itu... dingin dan nyata. Alasan Tuan Rylan tentang "hadiah kerja keras" seketika runtuh. Kebohongan pria itu terlalu mahal, dan itu membuat perutku mendadak mulas.
"A-aku ke toilet dulu!" pamitku tergesa.
Di depan cermin toilet, aku menatap bayanganku dengan napas yang mulai tidak beraturan. "Kenapa aku tidak menyadarinya?" bisikku. Wajahku merona hebat, tapi ujung jemariku terasa dingin. Aku membasuh pergelangan tanganku dengan air dingin, mencoba meredam perasaan yang mulai merayap. Tuan Rylan... pria itu benar-benar gila.
---
Aku kembali ke aula dan mencari sosoknya. Ketemu. Tuan Rylan berdiri di ujung ruangan dekat tangga, menggoyangkan gelas anggur dengan gerakan elegan. Dari kejauhan, mata kami bertemu. Senyumnya terbit, dan entah kenapa, jantungku berdetak dengan ritme yang menyakitkan.
"Tuan Rylan!" panggilku saat jarak kami tersisa dua meter.
"Hai, Diana. Selamat datang."
"Terima kasih. Tapi Tuan, gaun ini–"
"Itu tampak sangat cocok denganmu," potongnya. Dia menatapku dalam diam, seolah waktu melambat. "Kau terlihat... cantik."
Aku membeku. Kata itu sederhana, tapi keluar dari mulutnya, efeknya menghancurkan pertahananku. Namun, momen itu terganggu oleh kedatangan Tuan Hans dari Chrono Tech. Tatapan pria itu padaku terasa tidak sopan, seolah sedang memindai tubuhku, membuatku sangat risih.
Gerakan Tuan Rylan sangat cepat. Dia menarik tanganku, menempatkan tubuhnya di antara aku dan pria itu. Perlindungan yang terasa sangat posesif.
"Nikmati pestanya, Diana. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku," bisiknya tepat di telingaku sebelum melangkah pergi.
Aku mengangguk kaku, menatap punggungnya yang menjauh. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Diana. Lama tak jumpa."
Suara dingin itu menusuk telingaku. Calantha berdiri di sana dengan gaun gotik hitam yang menyeramkan.
"Aku sedang tidak ingin mencari masalah, Calantha."
"Jahat sekali. Aku hanya menyapa," seringainya. Matanya memindai gaunku, memastikan keasliannya. "Snow Serenade? Menurutku kau tidak cocok. Cahaya alamimu hilang tertutup gaun ini. Kau terlihat seperti orang asing yang memaksakan diri."
"Aku tidak butuh pendapatmu."
Calantha tertawa mengejek. "Kau berpura-pura tegas seperti di pesan kemarin? Padahal aku tahu betapa rapuhnya dirimu."
"Pesan kemarin? Aku tidak pernah menerima pesan darimu."
Calantha menatapku tajam, seolah mencari kebohongan di mataku. Lalu dia menyeringai puas. "Pura-pura lupa lagi? Ya sudah. Tapi ingat ini, Diana. Kau tidak cocok dengan barang mahal. Ingat apa yang terjadi pada mawar emas itu dulu?"
Aku mematung. Mawar emas? Perasaanku merosot tajam. Kata-katanya selalu berhasil menyentuh titik terlemah yang berusaha kukubur dalam-dalam. Tubuhku terasa kaku seketika.
Aku melangkah menjauh, mencari udara di balkon lantai dua dengan kaki yang terasa lemas. Angin malam menyapu wajah, namun tidak mampu mendinginkan pikiran yang kalut. Mataku berkeliling ke arah area parkir yang remang di bawah sana.
Di antara deretan mobil mewah, seorang pria berdiri diam. Dia mendongak, menatap langsung ke arahku. Mata hazelnya berkilau di kegelapan, dan sebuah seringai mengerikan muncul di wajahnya.
Pria itu... dia sedang menungguku.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖