Malam itu, semuanya berubah. Kegelapan yang seharusnya membaw kedamaian, justru menjadi saksi bisu atas kekerasan yang tak terkatakan.
Indira perempuan malang. Dia harus kehilangan kehormatannya yang di renggut paksa dari seseorang yang tidak di kenalinya. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami musibah itu, dia di usir sama tetangganya karena tidak mau nama baik lingkungannya tercoreng karena keberadaannya.
Angksa Bagaskara. Harus memilih antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau di coret dari hak waris keluarganya.
Simak ceritanya yu jangan sampai ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Antara Bahagia Dan Sedih
"Kemana Angkasa dan Indira? Kenapa mereka berdua enggak kelihatan? Apa Indira masih sakit itu sebanya Angkasa belum juga turun buat ikut sarapan?" tanya nyonya Aura di sela-sela sarapan paginya.
"Maaf nyonya saya kurang tau," jawab bi Narsih.
"Memangnya kak Indira sakit mah?" tanya Freya karena dia memang tidak tau.
Prang!
Tuan Edgar meletakan garpu dan sendok di atas piring dengan gerakan kasar! Beliau merasa terganggu mendengar nama Indira di sebut di depannya apalagi saat lagi sarapan. Mood tuan Edgar memburuk akibat ulah istri dan juga putrinya.
Nyonya Aura dan Freya tersentak kaget keduanya saling bersitatap, Nyonya Aura tersenyum menyuruh putrinya untuk kembali melanjutkan sarapannya, sedangkan bi Narsih sudah meninggalkan meja makan sejak tadi. Nyonya Aura meletakan sendok garpunya beliau mengingatkan sang suami agar tidak membuat keributan di pagi hari terlebih lagi masih ada Freya, beliau tidak mau kalau sampai putrinya itu tau permasalahan keluarganya.
"Kenapa pah?" tanya Nyonya Aura.
"Tidak papa. Papah sudah kenyang, Papah mau langsung berangkat ke kantor." sahutnya.
"Baiklah, ayo mamah antar papah kedepan, sayang kamu lanjutkan sarapannya yah? Mamah mau anterin papah kedepan dulu," ucap Nyonya Aura mengusap kepala putrinya yang tertutup hijab.
"Iya mah," Freya berdiri menyalami tangan papahnya.
Setelah memastikan Freya tidak menjangkau keberadaannya.. Tuan Edgar menarik paksa sang istri membawanya ke ruang tamu beliau mencekal lengan istrinya dan sedikit mendorong sang istri ke tembok, tuan Edgar mengacungkan jari telunjuknya di wajah nyonya Aura.
Nyonya Aura terkesiap dengan perlakuan sang suami terhadap dirinya, beliau mengusap lengannya yang terdapat jejak kemerahan dan menyingkirkan telunjuk suaminya dari wajahnya.
"Papah ini kenapa kasar sekali sama Mamah, memangnya mamah melakukan kesalahan apa?" tanya nyonya Aura menggeleng.
"Mamah, bisa enggak tidak usah membahas nama pembantu itu di depan papah? Papah tidak suka. Mamah kenapa sekarang suka sekali membantah ucapan papah? Awas saja sekali lagi papah mendengar mamah menyebut nama perempuan itu.. Papah tidak akan segan-segan mengusir dia dari rumah ini! Apa mamah mengerti!" tuan Edgar menajamkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Tapi..." Nyonya Aura mengunci mulutnya rapat-rapat melihat tatap mata sang suami.
Tuan Edgar meninggalkan istrinya begitu saja beliau berteriak memanggil supir pribadinya untuk segera berangkat ke kantor.
*****
"Tuan muda, anda kenapa membawa aku kesini? Aku harus menjaga Ibu." ujar Indira melepaskan tangan Angkasa.
Angkasa membalikan badanya melihat sang istri, ia bingung kenapa Indira selalu saja membantah perintahnya? Angkasa cuma mau kalau sang istri menuruti semua ucapannya. Dia berdiri tegap di depan sang istri dengan tangan dimasukan kedalam saku celananya.
Indira bingung kenapa juga suaminya itu malah membawanya ke ruangan spesialis kandungan? Padahal keberadaannya di rumah sakit hanya untuk menjaga sang, Ibu, dan bukan untuk yang lainnya. Angkasa memang semalem belum memberi kebenaran soal dirinya karena ia fokus mencari keberadaan mertuanya.
"Bisa tidak? Sekali saja kamu nurut apa kata saya," ujarnya.
"Bisa, tapi tidak untuk saat ini. Aku harus menjaga, Ibu. Dan kamu, gimana soal pencarian, Bapak? Apa anak buah mu sudah menemukan keberadaannya? Belum kan? Jadi fokus saja sama pencarian, Bapak, kamu sudah berjanji sama aku dan mau melakukan apapun untuk menemukan, Bapak." Indira sama sekali tidak mau mendengar ucapan suminya. Ia berbalik badan mau kembali ke ruangan ibunya. Seruan Angkasa membuat langkahnya terhenti.
"Aku cuma mau memastikan kalau kamu itu beneran hamil atau tidak, Indira!" serunya lantang.
Deg.
Indira berdiri mematung mendengar seruan suaminya senyum masam tersemat di bibir tipisnya, ia bahkan tidak berfikir sampai kearah sana. Indira mengusap air matanya yang entah sejak kapan keluar? Dia tetep melangkahkan kakinya seolah tidak ingin mendengar tentang semua yang suaminya katakan.
Angkasa mengerutkan dahinya bingung sang istri malah kembali melanjutkan langkahnya. Dengan langkah lebarnya dia mendekati istrinya membalikan badannya.
"Hei, apa kau tidak dengar apa yang aku katakan barusan!" bentak Angkasa.
"Aku tidak mau mendengarnya." jawab Indira sudah bajir air mata.
"Ya ampun, kenapa kamu gampang sekali menangis? Seenggaknya ikutlah aku sebentar, kita harus memastikan kau beneran hamil atau tidak," Angkasa menarik paksa tangan sang istri.
Kini Dokter lagi melakukan proses USG terhadap Indira, untuk mengetahui apakah pasiennya itu hamil atau tidak? Selama proses pemeriksaan, Indira lebih banyak diam dan sesekali menjawab saat Dokter menanyakan sesuatu padanya, Indira tidak tau apakah ia senang mendengar kabar kehamilannya atau menolak kenyataan kalau seandainya dirinya beneran hamil. Tapi apapun hasilnya ia pasti menerimanya dengan tangan terbuka karena itu memang anaknya, bayangan beberapa bulan lalu kembali melintas di ingatannya.
Walaupun tidak tau gambar di dalam layar monitor itu, Angkasa tetep memperhatikan layar monitor di depannya tanpa berkedip walaupun hanya 1 detik. Ia harap-harap cemas menanti kebenarannya dari Dokter yang lagi memeriksa istrinya. Dia melihat Dokter itu tersenyum kecil membuatnya semakin penasaran apa arti makna dari senyuman itu? Angkasa memegang dadanya merasakan detak jantungnya berdegup hebat.
"Gimana hasilnya, Dokter?" tanya Angkasa tidak sabaran padahal Dokter baru saja selesai memeriksa istrinya.
Dokter itu tersenyum melihat dua orang di depannya sebelum akhirnya ia memberi tau kabar bahagia untuk kedunya.
"Selamat ya, Nona Indira, tuan Angkasa, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua, usia kandungan, Nona Indira, kini sudah menginjak 4 minggu." jawab Dokter membuat Indira dan Angkasa saling berpandangan.
"Dokter, ini enggak salah kan? Istri saya beneran hamil kan?" tanya Angkasa memastikan kalau tidak ada kesalahan sama periksaan yang di lakukan, Dokter itu sama istrinya.
"Tidak tuan, istri anda beneran hamil. Sekali lagi saya ucapkan selamat buat kalian, Nona Indira jaga kesehatan anda dan makanlah makanan yang bergizi agar calon anak anda yang ada di dalam perut selalu sehat, ini saya sudah buatin resep untuk, Nona ya." ucap Dokter panjang lebar.
"Terimakasih, Dokter, aku akan selalu mengingat pesan Dokter," ujar Indira memaksakan senyumnya.
Indira berjalan mendahului suaminya. Ia mengusap perutnya yang masih rata, Indira tidak pernah menyangka kalau di dalam rahimnya ada calon buah hatinya, entah dirinya harus mengekspresikan seperti apa? Senang atau sedih karena janin itu hadir di saat hubungannya bersama sang suami tidak di inginkan.
"Indira." panggil Angkasa.
"Iya," sahut Indira berbalik badan.
"Terimakasih, kau sudah mau menerima anak itu berada di rahim mu, jaga dia baik-baik." ucap Angkasa membawa Indira kedalam pelukannya.
"Dia juga anak ku, tanpa kamu minta aku pasti akan menjaganya dengan baik," jawabnya. Indira melepaskan pelukan suaminya.
Angkasa merasa tidak suka saat Indira melepaskan pelukannya begitu saja, ia berfikir kalau istrinya itu tidak senang dengan kehamilannya. Angkasa melihat istrinya yang kini sudah semakin jauh dari pandangannya.
Indira sudah lengkap dengan perlengkapan medisnya dari mulai baju, sarung tangan dan juga masker. Dia masuk ke ruangan UGD mau melihat keadaan, Ibunya. Indira menarik kursi dan duduk di samping brangkar ia menempelkan tangan sang Ibu, di pipinya bulir bening menetes mengenai tangan sang Ibu.
"Ibu, aku hamil. Aku enggak tau ini kabar bahagia atau bukan, kalau menurut Ibu gimana? Ibu bahagia enggak dengar kabar ini? Aku takut, takut kalau tuan Edgar tau soal kehamilan ku ini, beliau pasti akan marah besar dan semakin membenci ku. Tapi aku tidak peduli, Bu, apapun yang terjadi aku akan tetep menjaga anak ku, seperti Ibu yang selalu menjaga ku dengan baik," Indira mengajak ibunya berinteraksi, ia berharap sang ibu mau meresponnya.
"Ibu, sampai saat ini, Bapak, belum juga di temukan, aku berharap dimanapun, Bapak, berada semoga ada orang baik yang mau menolongnya. Ibu, ceritakan padaku siapa orang yang sudah membuat kalian jadi seperti ini?" lanjutnya kemudian. Indira menangis tersedu-sedu memeluk lengan ibunya.
Tes.
Tanpa Indira sadari, Bu Sukma menetakan air matanya, seolah-olah beliau bisa mendengar sama semua cerita yang di sampaikan putrinya. Tidak sadar Indira kini tertidur di sambil menggenggam tangan ibunya.
******
Bersambung......