Aku dan kamu terikat dalam sebuah ikatan yang diwali dengan kata-kata, berbahan dasar Aksara.
Cinta yang berawal dari sebuah aksara itu, awalnya tidak saling mengenal dan memahami. Takdirlah yang seolah mempertemukan, mengikat, dan berakhir dengan kebersamaan. Lantas, mengapa takdir juga yang memberikan sebuah ujian penuh liku itu? Mengapa seolah akan ada hari dimana akan ada sebuah jarak yang memisahkan mereka dan berakhir menjadi sebuah peristiwa bertajuk ANTARA.
Lalu benci dan cinta itu beda tipis KATANYA. Kata yang awalnya tak ingin kenal mengenal, caci mencaci-caci, bahkan berang memerangi, mendadak ada rasa yang tumbuh bersamaan keluarnya warna-warni bunga yang bermekaran.
Cinta itu manis, hidup tak indah bila kita tak merasakan iramanya cinta, itu JELASNYA. Tetapi seutas kata Cinta tak ada artinya, jika tak mengandung sebuah keabadian yang menjelma. Anggap saja cinta kita perlu diuji untuk menumbuhkan kesetiannya. Dari hal itu kita hanya menemukan dua opsi setelah mendapat ujian itu, BERTAHAN UNTUK KEMBALI atau PERGI UNTUK SELAMANYA.
Percayalah dibalik cinta yang hampir terkoyak itu, akan ada kebahagiaan yang tak berujung sedang menunggumu.
[PLAGIATOR DALAM JENIS APAPUN DILARANG MENDEKAT!]
*****
@Copyright: Agustus 2019.
Move: 30 Agustus 2020.
Picture by: @Vaa_Morn
Story By: Vaa_morn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaa_Morn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH TIGA
Sama seperti dengan pikirannya, Aksen tak pernah menyangka bahwa seseorang yang hanya selalu menampakan kecantikan biasa, bisa berubah menjadi luar biasa. Rambut yang tak pernah rapi dan dibiarkan terikat secara asal, kini telah rapi dengan dibiarkan tergerai. Pakaian yang biasa menggunakan kemeja dan celana jeans, kini juga telah terganti dengan dress selutut berwarna putih pilihannya.
Aksen memang tak pernah salah kira, sehingga ia bisa saja menyombongkan diri untuk sejenal. Gadis yang memang dari awal berbeda dimatanya sekaligus bisa menggetarkan hatinya untuk pertama kalinya, nyatanya berani tampil berbeda dan berbanding terbalik dimatanya. Tetapi Aksen tetap munyakainya apa adanya.
"Lo ngapain ngelihatin Kakak gue kayak lagi ngelihat hantu. Horor!" Reval menunjuk Ara sesekeli berjinjit menyamai tinggi Aksen. "Mukanya kayak ondel-ondel aja lo banggain, mata lo katarak!"
Aksen yang sedar tadii terus memperhatikan Gadisnya yang menunduk gelisah, mendengar pernyataan calon Adik Iparnya mendadak ingin menerkamnya hidup-hidup. Apalagi cara bicaranya yang tidak ada embel-embel Kakak, rasanya ingin sekali membenturkan kepalanya ke tiang listrik. Kali ini Aksen pastikan, jika Reval sudah masuk ke dalam blacklist yang harus dibasmi secepatnya.
"Reval, ngomong apa kamu sama calon mantu Mamah!" Mamahnya yang sedang berjalan ke arah mereka, hanya bisa menatap bingung. Dalam pikirannya paling dalam, terbesit bahwa anak bungsunya itu pasti ngomong yang tidak-tidak.
"Nggak ngapa-ngapain kok Mah." Reval mengelak, "Cuma Reval ngomong sama dia, kalau cewek bar-bar itu mirip ondel-ondel. Bahkan nggak pantas dipajang di museum sama sekali."
Ara menegakkan kepalanya sengit. Antara ragu ingin menjitak Adiknya sampai pingsan, atau membuatnya sampai koma di rumah sakit. Paling tidak, ia bisa tidur dengan tenang, jika adiknya itu tidak lagi merecoki hidupnya.
"Mah, Ara ganti baju aja ya." pinta Ara sedikit merajuk. Membuat Aksen yang sedari tadi berbangga diri dengan kecantikan gadisnya, langsung membelalak kaget. Mau protes pun, ada calon Mamah mertuanya.
"Sudah malam, cepet-cepet gih jalannya. Takut nanti pulangnya larut malam loh." ucap Mamahnya, yang membuat Ara mengangguk malas.
Aksen sendiri tersenyum senang, ia ingin malam ini menjadi malam yang terindah untuknya maupun Ara. Jadi ia sudah tidak sabar lagi untuk menghabiskan waktu berdua.
"Ya sudah, Aksen berangkat dulu ya Tan. Aksen janji, akan pulangin Ara dengan selamat sampai tujuan. Tentu tidak kekurangan atau kelebihan suatu apapun nanti." pamit Aksen.
Mamah Ara tertawa, kemudian mengangguk senang. "Iya, hati-hati di jalan ya. Panggilnya jangan Tante dong, panggil aja Mamah kayak Ara."
Reval sendiri hanya memutar matanya malas. Sambil berjongkok, ia menatap Ara dengan penuh sengit. Ia masih ingat karena Ara, ia jadi kehilangan uang jajannya hingga satu bulan lamanya.
"Gue harap lo kena karma karena lo udah buat gue nggak dapat jatah jajan!" teriak Reval setelah Mamahnya sudah masuk kedalam rumah.
Ara mendesis, membuat Aksen yang berada di sampingnya terkekeh pelan. Jadi ini yang membuat adik iparnya itu punya dendam terselubung dengan kakaknya.
"Kalian kayaknya selalu punya masalah ha?" Aksen terkekeh. Mereka sudah masuk ke dalam mobil, di sampingnya sudah ada Ara yang memilih untuk diam.
"Dia selalu ngejek gue habis-habisan, kayak niat banget buat ngajak tinju." jawab Ara sambil mengepalkan tangannta. Namun Aksen tahu didalam ucapan Ara itu tersirat emosi yang hampir meledak-ledak.
Aksen menggerakkan kepalanya kekanan kiri. Apa lagi yang harus ia nilai dari Ara yang tomboynya sampai selangit? Sebentar-sebentar Aksen hanya bisa tersenyum tipis, ketika menatap Ara yang sekarang nampak feminim dimatanya, dipadukan dengan tas selempang yang sepertinya milik Mamahnya itu.
"Kalau gue tahu lo ngasih beginian, udah gue tolak dari awal lo ngasih bingkisan itu. Gue bakalan bakar habis, atau kasih ke yang membutuhkan biar lebih berguna." curhat qAra dengan jujur.
"Hahaha..."
Aksen tertawa terbahak-bahak. Bisa dibayangkan begitu jijiknya ekspresi Ara ketika menerima pakaian yang dibelikan olehnya itu, bahkan dia saja mendengar teriakannya. Bermodalkan tenaga untuk berkeliling mall bersama Devon untuk mencari pakaian, alhasil ia jadi begitu terpana melihat Ara sekarang ini.
"Itu lo, ketawa?" tanya Ara polos. Namun ditelinga Aksen suara Ara itu seperti tikus mencicit, sehingga ia sendiri tak begitu mendengarnya.
Lagi-lagi Ara harus terpana dengan tawa Aksen yang nampak bebas. Ini pertama kalinya kan bagi Ara? Mendadak tawa itu membuat jantung Ara berdetak dengan ritme yang dua kali begitu cepat. Aksen yang datar dan dingin ketika awal mereka bertemu, tergantikan dengan Aksen yang berbeda sepenuhnya.
Deg...
Bahkan Ara sampai merona ketika melihat Aksen yang tidak ada henti-hentinya untuk tertawa. Apakah ia sudah mencintainya? Ara merasa bahwa perubahan detak jantungnya pada tempo lalu dikarenakan ia bisa melihat tawa dari seseorang yang dimatanya lebih tampan berkali-kali lipat gandanya. Tidak lebih!
Tapi sekarang? Ara merasa bahwa perubahan detak jantungnya itu karena ia sama sekali tak dapat berpaling dan ingin terus melihat tawa itu. Dan disaat genting seperti ini, kenapa Ara harus tersenyum! Seharusnya ia memalingkan mukanya, sebelum Aksen cepat menyadarinya.
"Akhirnya sampai di tempat tujuan." ujar Aksen bertepatan dengan dirinya yang sudah berhenti dari tawanya.
Ara tersadar, kemudian mengernyit bingung. Ia pikir, ia akan diajak Aksen ke ke restoran mahal untuk makan malam romantis. Atau pergi ke taman kota dengan lampu malam yang terpasang disegala arah, sambil memandangi langit bertabur bintang di angkasa. Atau mungkin juga, mereka pergi ke suatu tempat yang hanya diisi oleh mereka berdua saja.
"Kantor? Ngapain?" Ara bertanya dengan raut sedikit heran. Untuk apa ia merias diri berjam-jam lamanya, hanya untuk menemani Aksen ke kantor saja.
'Memang pikiran Mamah yang terlalu berlebihan.' gerutu Ara dalam hati. Aksen sendiri sudah keluar dari mobil, dan masih sibuk berbincang dengan satpam yang menjadi karyawannya.
"Ayo sayang." ajak Aksen, yang sudah membuka pintu mobil untuknya.
Ara sendiri tersentak kaget, kala tangan besar Aksen menganggam tangannya dengan jarinya yang saling bertaut. Membawanya ke alam bawah sadar, dan membayangkan sesuatu yang tidak sesuai dengan perkiraan Ara saat ini.
"Mikirin apa hm?" tanya Aksen yang menatap Ara yang sepertinya tengah merenung.
Ara yang baru saja ketahuan bodohnya, langsung menggeleng cepat. Jujur, ini bukan dirinya yang selalu cerdas. Kali ini Ara hanya perempuan berotak cetek layaknya Nadia.
"Kita mau kemana?" Ara bertanya kemudian. Membuat Aksen langsung senyum-senyum sendiri.
'AKU dan KAMU, menjadi KITA.' batin Aksen terkikik sembari yang bersorak riang. Sungguh receh!
"Udah jadi kita, hm?" Aksen bersuara, membuat Ara mengernyit bingung. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya?
Namun dibalik itu, entah kenapa pipi Ara sudah memanas semerah tomat. Terlihat malu, dan menutupi kedua pipinya. Sedangkan Aksen terlihat gemas ingin mencubiti pipi gadisnya, tetapi diurungkan niatnya itu.
"Aku ingin kamu temenin aku semalaman ini di sini." tutur Aksen.
Ara memelototkan matanya. "Lembur kerja gitu? Kenapa harus pakai dress kayak gini segala coba!"
Ara frustasi. Ingin memaki sebenarnya, namun tidak berani. Membogem mentah seseorang dihadapannya juga ingin ia lakukan, tetapi?
Arghhhh... Entah kenapa rasanya sayang.
Aksen dan Ara masuk ke dalam lift. Tapi sebelum itu Aksen menekan lantai yang ingin ia tuju, dan Ara hanya bisa memutar matanya jengah dengan fakta tempat yang baru saja diketahuinya.
"Jangan kelamaan kalau kerja!" seperti sebuah seruan kesal. Ara sudah gerah memakai pakaian seperti ini.
Aksen menghiraukan. Setelah lift terbuka untuk sekian lama, Aksen langsung membawa Ara menaiki tangga. Ara yang tak sadar, langsung membelalak. Ini bukan ruangan Aksen. Tentu saja Ara tahu, karena Ara pernah ketempat ini untuk pertama kali sebelumnya.
"Kita mau kemana?" Ara bertanya lagi. Rasa ingin tahunya sudah muncul ke permukaan saat ini.
"Lihat aja nanti." jawab Aksen yang kemudian mengambil kunci dari dalam saku, yang memang tergabung dengan kunci mobilnya.
Ara berpikir keras. Sepertinya ini lantai teratas bangunan ini. Apakah rooftop kantor?
Cklek...
Benar saja, Ara langsung dibuat ternganga ketika Aksen membuka pintu itu. Ternyata rooftop ini sudah disulap sedemikian rupa, perfect!
*****
1241 Kata.
Yang tanya cast, sorry banget. Aku nggak pernah mikirin visual, bahkan dari dulu aku nggak pernah mikirin itu.
Kalaupun aku harus nyari visual, juga sorry banget. Aku itu kudet, nggak terlalu ngikutin jaman. Nggak tau nama-nama publik vigur yang banyak diminati atau dikonsumsi khalayak ramai.
Oke, salam dari Author baru.
Selamat beraktivitas.