NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 : Susana Tegang

Keesokan harinya...

Alarm Dara berbunyi tepat pukul lima pagi. Namun sebenarnya ia sudah terbangun sejak beberapa menit sebelumnya. Matanya langsung terbuka, hari ini. Hari pertamanya bekerja dan itu yang membuatnya semakin gugup...

Hari ini juga ia akan bertemu CEO PT Dirgantara Group. Pria yang sejak kemarin terus disebut-sebut Aldi. Perfeksionis. Tegas. Sulit puas. Dan konon membuat banyak karyawan gemetar saat berhadapan dengannya.

Dara langsung duduk di kasur. "Ya Tuhan..." Ia menatap langit-langit kamar. "Semoga aku nggak bikin masalah hari pertama."

Pukul tujuh pagi.

Dara sudah berdiri di depan gedung PT Dirgantara Group. Dengan pakaian kerja baru yang dibelikan Aldi. Blazer krem. Kemeja putih. Rok kerja yang rapi, serta rambutnya yang sudah tertata cantik dan profesional.

Beberapa orang bahkan sempat meliriknya saat ia masuk ke dalam lobby. Dara sendiri masih belum terbiasa melihat penampilannya yang sekarang. Ia merasa seperti orang lain.

"Tenang..." bisiknya. "Jangan gugup."

Sayangnya jantungnya tidak mau diajak bekerja sama. Begitu tiba di lantai eksekutif, seorang sekretaris senior langsung menyambutnya.

"Selamat pagi, Nona Dara."

Dara terkejut. "Selamat pagi."

"Saya Rina dari divisi administrasi direksi." Rina tersenyum ramah. "Mari saya antar ke ruangan Anda."

"Ruangan saya?"

"Iya."

Dara kembali terkejut. Ia tidak menyangka dirinya akan memiliki ruangan sendiri. Meskipun ukurannya tidak terlalu besar, ruangan itu sangat nyaman. Terdapat meja kerja modern, komputer, lemari arsip, dan sebuah pintu yang terhubung langsung ke area direksi.

"Mulai hari ini ruangan ini menjadi ruang kerja Anda."

Dara masih memandang sekeliling dengan kagum. "Terima kasih."

Rina tersenyum. "Lima belas menit lagi rapat direksi dimulai."

Dara langsung menegang. "Rapat direksi?"

"Iya."

"Kenapa saya ikut?"

"Karena Anda sekretaris pribadi CEO."

Jantung Dara langsung jatuh. "Astaga..."

Beberapa menit kemudian...

Dara sedang memeriksa agenda kerja yang diberikan Rina. Tangannya sedikit berkeringat, saat itulah pintu ruangannya terbuka.

Aldi masuk sambil membawa kopi. "Pagi."

Dara langsung berdiri. "Pagi."

Aldi menatapnya beberapa detik. Kemudian mengangguk puas. "Nah gitu dong."

"Kenapa?"

"Kamu terlihat jauh lebih percaya diri."

Dara menghela napas. "Percaya diri dari mana? Saya mau pingsan."

Aldi tertawa. "Kamu suka berlebihan."

"Saya serius."

Aldi menyerahkan sebuah tablet kepadanya. "Ini jadwal CEO hari ini."

Dara menerimanya, lalu mulai membaca. Semakin lama matanya semakin membesar. "Rapat, kunjungan klien, presentasi."

"Hm."

Dara menatap Aldi. "CEO tidur nggak sih?"

Aldi langsung tertawa keras. "Hahaha!"

"Saya serius."

"Kadang saya juga heran."

Dara menggeleng pelan. "Dia ini mesin apa manusia?"

"Kalau bisa nanti jangan katakan itu di depannya."

"Ya nggak mungkin saya bilang."

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar di koridor. Beberapa karyawan yang lewat langsung berdiri lebih tegak. Suasana mendadak berubah.

Dara mengernyit. "Ada apa?"

Aldi yang tadi santai mendadak berdiri. "Dia datang."

Jantung Dara langsung melonjak. "CEO?"

Aldi mengangguk.

Langkah kaki itu semakin dekat. Suara sepatu mahal menghantam lantai marmer. Dara tanpa sadar menelan ludah. Lalu, pintu utama area direksi terbuka. Semua orang langsung menundukkan kepala.

"Selamat pagi, Tuan."

Dara yang berdiri di dalam ruangan refleks menoleh ke arah pintu. Kini ia melihat sosok CEO PT Dirgantara Group. Pria tinggi dengan setelan jas hitam sempurna. Wajahnya tampan, tatapannya tajam. Aura dingin dan berwibawa langsung memenuhi ruangan. Ia berjalan masuk tanpa banyak bicara. Membuat seluruh area direksi seolah menahan napas.

(Alexander W. Dirgantara)

Sementara Dara membeku di tempat. Karena baru beberapa detik melihatnya. Ia sudah mengerti kenapa semua orang begitu segan pada pria itu.

Alexander W. Dirgantara berjalan melewati area direksi tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri. Langkahnya tenang, namun setiap orang yang dilewatinya tampak menahan napas.

"Selamat pagi, Tuan Alex."

"Pagi."

Jawabannya singkat. Tetapi cukup membuat siapa pun enggan berbicara lebih banyak. Dara yang berdiri di dekat meja kerjanya hanya bisa memandang dalam diam.

Pria itu bahkan lebih mengintimidasi daripada yang ia bayangkan. Tinggi, tegap, dan wajahnya tegas dengan rahang yang terlihat kokoh. Tatapan matanya tajam seolah mampu membaca isi kepala seseorang hanya dalam sekali lihat.

Saat Alexander berjalan mendekat, Dara refleks berdiri lebih tegak. Jantungnya berdebar tidak karuan. Jangan lihat aku... jangan lihat aku... Namun doa itu terlambat.

Alexander menghentikan langkahnya. Tatapan gelapnya beralih ke Dara. Hanya beberapa detik, tapi rasanya seperti berjam-jam.

Dara langsung menelan ludah. Alexander kemudian mengalihkan pandangannya kepada Aldi.

"Ini orang yang kau maksud?" Suaranya rendah dan tenang.

Aldi mengangguk. "Iya."

Alexander kembali menatap Dara dari ujung kepala sampai kaki. Bukan tatapan yang tidak sopan, melainkan tatapan seseorang yang sedang menilai. Membuat Dara semakin gugup, beberapa detik berlalu.

Lalu Alexander bertanya. "Nama?"

Dara langsung tersentak. "Da-Dara, Tuan."

Alexander menunggu.

Dara buru-buru melanjutkan. "Dara Pramesti."

Alexander mengangguk kecil. "Pengalaman kerja?"

"Saya pernah bekerja selama tiga tahun di bidang administrasi, Pak."

"Terkena PHK?"

Dara membeku, matanya langsung melirik Aldi. Kenapa beliau tahu? Aldi hanya pura-pura melihat langit-langit. Alexander tetap menunggu jawaban.

"Iya, Tuan."

"Kenapa?"

"Perusahaan melakukan pengurangan karyawan."

Alexander mengangguk pelan, lalu ia membuka sebuah map yang sudah berada di tangannya. Beberapa lembar CV terlihat di dalamnya. CV milik Dara, pria itu membalik satu halaman. Lalu halaman berikutnya. Sampai akhirnya Alexander menutup map tersebut.

"Kamu bisa mengetik cepat?"

"Bisa, Tuan."

"Bahasa Inggris?"

"Bisa sedikit."

"Microsoft Office?"

"Sangat bisa, Tuan."

Alexander menatapnya lurus. "Jangan asal jawab karena hanya ingin diterima."

Dara langsung gugup. "Tapi saya menjawab dengan benar."

Dara menarik napas dalam. Kemudian menjawab lebih mantap. "Saya juga bisa disiplin."

Alexander memandangnya beberapa detik. Lalu sudut bibirnya bergerak sedikit, tapi bukan senyum. Responnya cukup membuat Aldi terkejut. Karena pria itu hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun saat bertemu kandidat baru.

"Baik."

Alexander menutup map. "Ikut rapat."

"Hah?"

Dara spontan mengucapkannya sebelum sempat berpikir. Ruangan mendadak hening, beberapa staf langsung menunduk.

Aldi menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Waduh..."

Dara baru sadar apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Wajahnya langsung pucat. "Maaf, Tuan!"

Alexander menatapnya.

Dara sudah siap dimarahi. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

"Saya bilang ikut rapat." Nada suaranya tetap datar. "Kecuali kalau kamu memang tidak mau bekerja."

"Baik, Tuan!"

"Kalau begitu jawab yang benar." Alexander berbalik dan berjalan menuju ruang rapat utama.

Pintu besar terbuka.

Semua direksi segera mengikuti. Tak lama kemudian hanya tersisa Dara dan Aldi. Dara masih berdiri membeku.

Aldi menghela napas panjang. "Hebat."

Dara menoleh. "Kenapa?"

"Hari pertama kerja." Aldi mengangkat jempol. "Dan kamu berhasil bilang 'hah?' ke CEO."

Dara hampir menangis. "Astaga..."

Aldi malah tertawa. "Hahaha!"

"Saya bakal dipecat."

"Tidak akan"

"Yakin?"

Aldi hanya mengangguk dan tersenyum.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

Aldi melirik ke arah pintu ruang rapat yang baru saja tertutup. Lalu senyum kecil muncul di wajahnya. "Karena kalau Bos tidak suka dengan seseorang..."

Dara menunggu.

"Dia tidak akan mengajakmu masuk ke ruang rapat."

Dara terdiam, jantungnya kembali berdebar. Dan tanpa ia sadari, di balik pintu ruang rapat itu, Alexander yang sedang duduk di kursi utama perusahaan justru teringat pada ekspresi gugup Dara beberapa saat lalu.

Ekspresi yang anehnya membuat sekretaris barunya itu jauh lebih menarik perhatian dibanding puluhan kandidat yang pernah ia temui sebelumnya.

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!