Dunia persilatan ibarat lorong goa yang panjang.
Tempat ancaman kematian selalu datang dari balik kegelapan.
Pertarungan demi pertarungan yang selalu berakhir dengan kematian.
Itulah jalan para pendekar membunuh atau di bunuh.
Bagiku seorang pendekar mengusai ilmu beladiri bukan mencari kesempurnaan melainkan untuk membela mereka yang lemah dan tak berdaya.
Apakah arti kesempurnaan ilmu, jika tak di abadikan untuk kemanusiaan.
Namun dalam setiap pertarungan yang berakhir dalam kematian lawan, hanya kehilangan yang kurasakan.
Semakin lama semakin dalam.
Ada yang hilang dan ada yang ku temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizan Armand, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tupai Pertapa
Matahari mulai mengintip dari sela-sela goa, membangunkan kesadaran Hong Mingzhu dan Arya.
"Guru, disekitar sini apakah terdapat sebuah sungai? Aku ingin membersihkan badanku." Tanya Arya setelah mereka berdua sudah berada di mulut goa.
"Yang paling dekat dari sini adalah air terjun," Hong Mingzhu menunjuk ke suatu arah. ”jika kau ingin pergi ke sungai berjalanlah menuju kesana, aku akan mencarikan makanan dan beberapa tanaman-tanaman racun." Kata Hong Mingzhu menunjuk sebuah arah lain lalu berjalan masuk ke dalam rimbunnya hutan.
Arya berjalan ke arah yang di tunjukkan Hong Mingzhu. Setelah 15 menit berjalan, dia mulai mendengar adanya suara sayup-sayup air terjun. Pemuda itupun lalu bergegas mempercepat langkahnya.
Air terjun itu memiliki tinggi 100 meter dengan kubangan air dibawahnya yang cukup luas dan beberapa pelangi yang terlihat begitu indah di atas bebatuan. Pemuda itu sejenak menikmati suasana, sebelum akhirnya terjun ke dalam air.
Saat sedang menikmati sejuknya air, Arya tiba-tiba merasakan adanya sebuah aura yang tengah mengawasinya, pemuda itupun menyudahi aktifitasnya, lantas mencari sumber dari aura tersebut. Tapi sebelum Arya mendekati sumber aura tersebut, tiba-tiba ada beberapa ranting melesat ke arahnya.
Dengan mudah Arya menghindari setiap lesatan ranting tersebut dengan melompat-lompat dari batu ke batu sambil terus menuju ke arah sumber aura itu. Arya yakin jika aura yang dirasakannya itu adalah aura milik seekor siluman.
Dugaannya ternyata tidak meleset, Arya yang sudah berdiri tepat dihadapan aura itu berasal, dia mendapati seekor tupai yang memiliki ukuran sebesar sapi dewasa.
"Maaf anak muda, aku tidak bermaksud mengganggu aktifitasmu. Aku hanya penasaran ketika merasakan aura aneh dari tubuhmu." Siluman tupai itu angkat bicara untuk mencegah Arya yang nampak ingin menyerangnya.
Arya mengerutkan dahinya keheranan, karena memang baru kali ini dirinya bertemu siluman yang dapat berbicara bahasa manusia. "Kau bisa bicara? Apa aku tidak salah mendengar." Arya menghentikan langkahnya tapi tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaannya.
"Hahaha... Jangan terkejut seperti itu anak muda. Aku adalah Pertapa." Siluman tupai itu terkekeh sesaat, lalu merubah ukuran tubuhnya ke ukuran tupai pada umumnya.
"Pertapa? bukankah kau itu siluman. Jangan membohongiku."
Arya yakin dia merasakan aura siluman pada tupai dihadapannya itu, walaupun aura yang dirasakannya tersebut sangatlah tipis. Kalaupun sebelumnya Arya melihat tupai itu dengan ukuran tupai pada umumnya, mungkin saja pemuda itu tidak akan mengetahui jika tupai di hadapannya itu ternyata adalah bangsa siluman.
"Siluman? Hahaha jangan sebut bangsa rendahan itu padaku. Itu sudah ratusan tahun berlalu, aku kini sudah menjadi pertapa." Tupai itu terkekeh sambil memegangi perutnya, lalu melompat-lompat ke arah Arya.
Arya termundur beberapa langkah, pemuda itu masih menjaga kewaspadaannya pada tupai kecil yang tengah mendekatinya.
"Hahaha... Kenapa kau takut padaku yang imut ini."
Tupai itu melompat cepat ke pundak Arya. sangking cepatnya, tupai itu seolah menghilang dan tiba-tiba berpindah posisi, hingga Arya dibuat begitu terkejut dan hampir kehilangan keseimbangan.
"Apa? Cepat sekali." Arya reflek melompat karena terkejut.
Tupai itu kembali melompat turun ke hadapan Arya. "Di daratan ini tidak ada yang bisa menandingi kecepatanku. Aku kesini karena merasakan aura yang aneh dan ternyata itu berasal dari pemuda biasa sepertimu."
"Lalu mengapa kau tadi menyerangku? Dan apa sebenarnya urusanmu denganku?" Arya mulai sedikit tenang, karena merasa tupai itu tidak akan melukainya.
"Aku hanya mengetes kemampuanmu saja anak muda, bagaimanapun aku sudah bukanlah lagi siluman. Aku penasaran kenapa kau masih bisa merasakan dan melacak auraku?." Tupai itu berbicara santai sambil melompat-lompat.
"Jika sudah tidak ada urusan lagi, bolehkah aku kembali." Ucap Arya lalu melangkah pergi.
Tupai itu tidak menghalangi ataupun mencegah Arya yang berniat pergi meninggalkannya.
Sedangkan Arya sendiri berjalan kembali ke goa tempat dirinya dan gurunya tinggal. Setelah beberapa saat pemuda itupun sudah tiba di depan mulut goa. Arya kemudian memutuskan untuk berlatih seperti biasanya.
Tanpa Arya sadari, tupai itu masih membuntuti dan mengawasinya dari kejauhan.
Setelah beberapa jam, akhirnya Hong Mingzhu kembali ke goa. Arya menghentikan latihannya, pemuda itu menoleh dan hendak mendekati gurunya tersebut. tapi Hong Mingzhu memberi tanda agar Arya melanjutkan saja pelatihannya.
Hong Mingzhu lalu masuk ke dalam goa, ia menyiapkan bahan-bahan yang akan menjadi pembelajaran bagi muridnya. Sesekali pria tua itu menoleh dan tersenyum mengamati latihan yang dilakukan oleh Arya.
"Muridku.., jika di lihat dari gerakan-gerakan yang kau latih. Aku bisa melihat bahwa jurus itu cukup rumit dan mematikan. Kau beruntung nak, memiliki guru hebat yang bersedia menurunkan ilmu luar biasa seperti itu." Ucap Hong Mingzhu mendekati Arya sambil tersenyum bangga pada muridnya tersebut.
Arya hanya tersenyum menanggapi perkataan dari guru barunya itu. Lalu ia membungkukkan badan memberi hormat.
"Ini adalah kitab yang di dalamnya terdapat teknik dan berbagai pengetahuan mengenai racun, kau pelajarilah kitab ini dulu. Oh iya apa kau memiliki elemen racun nak?" Hong Mingzhu memberikan sebuah kitab yang memiliki sampul terbuat dari pelepah pohon, bentuk kitab itu sendiri nampak sudah termakan usia.
Arya mengangguk. "Aku juga mempunyai elemen racun guru."
"Sebenarnya berapa banyak elemen yang kau miliki nak? Aku lihat sebelumnya kau bisa menggunakan elemen api, air dan angin." Tanya Hong Mingzhu menatap Arya dengan ekspresi penuh penasaran.
Arya terdiam sesaat, pemuda itu berfikir apakah dia harus berkata jujur ataukah akan tetap menyembunyikan elemen yang dimilikinya dengan teknik yang diberikan oleh kaleknya Zhen Long dulu. Pemuda itu takut memberikan informasi yang dapat membuat dirinya dalam bahaya.
"Aku mempunyai 9 elemen guru." Ucap Arya pelan, ia sebenarnya ragu untuk berkata yang sebenarnya. Tapi setelah mempertimbangkan, Arya akhirnya jujur karena dia sudah menganggap pria tua di hadapannya itu sebagai guru, mau tidak mau dia harus berkata yang sebenarnya.
"Apa kau bilang... 9 elemen?" Hong Mingzhu berkata agak keras karena terkejut. Ia kembali bertanya untuk menyakinkan bahwa pria tua itu tidak salah mendengar.
Arya mengangguk pelan dan lalu berkata. "Sebenarnya guruku ingin aku merahasiakan semua ini. Tapi karena anda juga sekarang adalah guruku, aku tidak mungkin membohongi anda."
Hong Mingzhu tersenyum bangga lalu menepuk pundak Arya. "Aku bangga mempunyai murid sepertimu nak. Tapi memang benar apa yang dikatakan oleh gurumu sebelumnya, hal seperti ini akan sangat berbahaya jika sampai ada orang lain yang mengetahuinya. Lalu apakah gurumu juga yang mengajarimu teknik untuk menyembunyikan elemen yang kau miliki?.
Sebenarnya tadi malam aku telah mengecek elemen yang ada dalam tubuhmu, namun aku heran kenapa aku tidak bisa melihat satupun elemen yang kau miliki."
"Iya guru. aku memang menyembunyikan elemen yang ada di dalam tubuhku dengan teknik yang telah di ajarkan oleh guruku sebelumnya." Ucap Arya sambil mengusap tengkuknya.
"Gurumu sebelumnya pastilah orang yang sangat hebat, dia juga beruntung memiliki murid yang berbakat sepertimu." Hong Mingzhu lalu mengajak Arya untuk memasak makanan.
Tupai yang masih mengawasi Arya juga di buat terkejut, ketika mengetahui bahwa pemuda yang menarik perhatiannya itu ternyata memiliki 9 elemen.
"Pemuda yang menarik. pantas saja aku merasa ada sesuatu yang spesial di dalam tubuhnya." Tupai itu tersenyum diatas ranting pohon yang lokasinya tidak jauh dari mulut goa.
****
Selepas menyantap makanan, Arya lalu membuka buku yang di berikan oleh Hong Mingzhu. Dia mempelajari untuk dapat memahaminya terlebih dahulu, sebelum melatih teknik yang terdapat di dalam kitab tersebut.
Kitab itu sendiri berisi informasi berbagai tanaman untuk meracik racun, cara membuat penawar racun, teknik-teknik penyerapan racun untuk di rubah menjadi energi Qi, dan juga jurus-jurus racun mematikan.
Arya sedikit bingung karena baru kali ini dia belajar mengenai seni racun, tapi pemuda itu sedikit banyak dapat memahami cara kerja kitab ini sama seperti kitab pengobatan surgawi.
"Mungkin aku bisa menggabungkan teknik yang ada didalam kitab ini dengan teknik kitab pengobatan surgawi." Pikir Arya sambil terus membaca penjelasan demi penjelasan yang terdapat di dalam kitab pemberian Hong Mingzhu tersebut.