Mendapati keponakannya yang bernama Sisi divonis leukemia dan butuh donor sumsum tulang, Vani membulatkan tekad membawanya ke Jakarta untuk mencari ayah kandungnya.
Rani, ibu Sisi itu meninggal karena depresi, tanpa memberitahu siapa ayah dari anak itu.
Vani bekerja di tempat mantan majikan Rani untuk menguak siapa ayah kandung Sisi.
Dilan, anak majikannya itu diduga Vani sebagai ayah kandung Sisi. Dia menemukan foto pria itu dibuku diary Rani. Benarkah Dilan adalah ayah kandung Sisi? Ataukah orang lain karena ada 3 pria yang tinggal dirumah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DADDY TAK AKAN KEMANA-MANA
"Daddy," seru Sisi saat melihat Dilan masuk keruang rawat inapnya. Senyuman langsung terukir dibibir mungil bocah berusia 6 tahun tersebut. Andai saja saat ini tubuhnya tak lemah, dia pasti sudah turun dari ranjang. Berlari menyongsong Dilan lalu menghambur dipelukannya. Sayang dia tak sekuat itu, hanya mempu merentangkan kedua tangan, menunggu pelukan hangat dari pria yang dia panggil daddy itu.
Sama seperti Sisi, Dilan juga sangat merindukan putrinya tersebut. Langkah kakinya lebar, tak sabar ingin segera mendekati Sisi dan memeluknya.
"Sisi kangen sama Daddy." Ujar Sisi yang saat ini berada dalam pelukan Dilan. Tak henti-henti Dilan mengecup puncak kepala dan kening Sisi, meluapkan rasa rindunya yang menggunung setelah hampir seminggu tak bertemu.
"Daddy juga kangen sama Sisi." Setelah puas memeluk Sisi, Dilan membuka paper bag yang dia bawa. Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu, tapi baru hari ini ada kesempatan untuk memberikannya langsung pada Sisi.
"Apa itu?"
"Taraa." Dilan menunjukkan boneka barbie yang ada dalam kotak plastik. "Bagus gak?"
Sisi mengangguk sambil tersenyum. Tangannya bergerak meraih boneka tersebut dari tangan Dilan. Namun karena kesusahan membuka kotaknya, Dilan mengambil kembali lalu membukakan.
"Cantikan mana barbie sama Sisi?" Sisi menyandingkan wajahnya dengan berbie. Mengerlingkan mata beberapa kali sampai Dilan tak kuasa menahan senyum melihat tingkah centil putrinya.
"Cantikan Sisi dong. Anaknya Daddy yang paling cantik pokoknya," sahut Dilan sambil menyentuh dagu Sisi.
Meski terkesan malasa melihat Dilan, Bu Mia dan Pak Cholis diam-diam memperhatikan interaksi mereka. Tak menyangka jika Sisi akan sebahagia ini saat bertemu Dilan. Apakah ini bukti, jika ikatan darah membuat mereka dekat satu sama lain.
"Kalau barbie sama Bibi, cantik mana?" Vani terkejut saat Sisi melontarkan pertanyaan tersebut pada Dilan. Dia yang saat ini berhadapan dengan Dilan dan hanya terhalang ranjang, jadi salah tingkah. Apalagi saat Dilan menatapnya.
"Cantikan barbielah," jawab Dilan. Ada rasa kecewa dihati Vani mendengar jawaban Dilan. Tapi dia tak mungkin menunjukkan itu. Hanya menunduk sambil tersenyum, agar tak ketahuan kalau hatinya sedang tak baik-baik saja. "Tapi banyakan Bibi." Vani reflek mengangkat wajah. Dan tepat pada saat itu, Dilan juga menatapnya, membuat dia malu dan kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Sisi makan dulu ya," Vani sengaja mengalihkan topik. "Katanya tadi mau makan kalau disuapin Daddy." Dia mengambil makanan yang ada diatas nakas lalu menyerahkannya pada Dilan.
"Manja banget sih anaknya Daddy," ujar Dilan sambil mengusap puncak kepala Sisi. Duduk dikursi yang ada disebelah brankar, dan mulai menyuapi Sisi.
"Gak enak, hambar." Sisi tampak ogah-ogahan mengunyah makanannya. Efek kemoterapi membuat dia mual dan kehilangan selera makan.
"Sisi mau cepet sembuh gak?" Sisi langsung mengangguk. "Kalau gitu Sisi harus makan."
"Tapi gak enak," Sisi menunduk lemas.
Dilan mengambil ponsel disaku celananya. "Sisi suka princess kan? Snow white, Rapunzel, Frozen." Dilan menyebutkan nama tokoh-tokoh disney. Membuka internet lalu menunjukkan gambar disney land pada Sisi. "Nanti kalau Sisi sembuh, kita jalan-jalan ke Disneyland, ketemu princess."
"Beneran disana bisa ketemu princess?"
"Bener dong. Mau gak?" Sisi mengangguk cepat, menunjukkan keantusiasannya. "Kalau gitu makan ya, biar cepet sembuh dan bisa langsung kesana."
"Bibi diajak gak?" Sisi sambil mendongak, menatap Vani yang berdiri disamping ranjang.
"Ya kalau mau," Dilan tersenyum sambil menatap Vani, membuat yang ditatap langsung salah tingkah.
Sisi makan sambil bermain barbie, tapi saat sedang menyisir rambut barbie, raut wajahnya langsung berubah.
"Kenapa?" tanya Vani yang menyadari perubahan raut wajah Sisi.
"Rambut barbie bagus, tapi rambut Sisi rontok." Karena efek kemo, rambut Sisi mulai rontok. Gadis kecil itu menatap Vani. "Bi, apa nanti Sisi akan botak kayak upin ipin?"
Dilan meraih tangan Sisi lalu menggenggamnya. "Sekarang rontok, tapi nanti pasti tumbuh lagi. Dan tumbuhnya akan lebih bagus. Nanti Sisi bakalan punya rambut seperti Rapunzel," hibur Dilan.
"Beneran, Daddy?"
"Iya dong."
Selesai makan, Dilan membacakan dongeng untuk Sisi hingga bocah itu beberapa kali menguap. Tapi sepertinya dia menahan kantuknya, tak ingin sampai tertidur. Dan tangannya menggenggam erat tangan Dilan.
"Daddy, jangan bacakan dongeng lagi, Sisi ngantuk."
"Sisi tidur saja kalau ngantuk."
"Enggak," gadis kecil itu menggeleng. "Sisi gak mau tidur."
"Kenapa?"
"Nanti Daddy akan ninggalin Sisi kalau Sisi tidur, seperti hari itu." Vani memalingkan wajah, menyeka air mata yang tak bisa ditahan luruhnya. Pantas saja Sisi menggenggam erat tangan Dilan, jadi itu sebabnya.
"Daddy gak akan kemana-mana," sahut Dilan.
"Janji."
"Iya janji." Sisi tersenyum saat Dilan menautkan kelingking mereka. Baru bebera baris kalimat dibacakan oleh Dilan, Sisi sudah tertidur.
Setelah Sisi tidur, suasana mendadak canggung. Jelas Dilan bingung harus berbuat atau bicara apa saat berada satu ruangan dengan orang tua Vani. Sampai akhirnya, terselip sebuah ide dikepalanya. Ya, sepertinya membelikan mereka makanan tak ada salahnya.
"Aku keluar dulu," pamit Dilan pada Vani.
"Iya," sahut Vani sambil mengangguk.
"Mau ikut?" tawar Dilan.
"Gak usah." Jawaban Bu Mia membuat Vani yang akan membuka mulut langsung mingkem lagi.
"Kalau mau keluar, keluar saja. Gak usah ajak-ajak anak saya." Tatapan sengit Bu Mia membuat nyali Dilan menciut. Dia kembali mengantongi ponsel yang ada diatas nakas lalu pamit. Menghampiri kedua orang tua Vani untuk mencium tangan, namun baik Bu Mia maupuan Pak Cholis, tak ada yang mau menerima uluran tangannya. Dengan terpaksa, Dilan menarik tangannya kembali.