Di bawah cahaya gemerlap Negara Korea, terlahir kembali seorang Dokter Genius Mafia yang menyembunyikan bakatnya. Saat takdir mengaitkannya dengan seorang anak keluarga Mafia, persaingan dan konflik memuncak dalam kerumitan yang tak terelakkan. Tetapi, ada perawat cantik yang misterius, memikat perhatiannya. Dalam perang antara dendam dan cinta, jam tangan kuno yang menjadi sistem pintar AI memberikan dimensi baru.
Dalam atmosfer misteri dan tarikan cinta, mampukah sang Dokter Genius menemukan kekuatan baru? Saksikan perjalanan yang menggetarkan ini, di mana masa lalu, kejutan, dan teknologi kuno menyatu dalam kisah yang takkan terlupakan. Dan di tengah segala pilihan, akankah misteri di balik perawat akan terbongkar?
*
*
Cerita ini murni karya sendiri dan semua karakter serta latar yang digunakan berasal dari imajinasi author sendiri dan tidak ada dalam sejarah manapun.
Jika ada kesamaan nama tokoh atau alur cerita itu hanyalah suatu kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ornies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32. Mengulang Waktu
Wanita itu menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Tidak ada yang kamu lakukan yang bisa membantu sekarang. Kenangan itu sengaja aku kunci untuk alasan yang baik."
Mata mereka saling menatap, terisi dengan campuran emosi yang rumit. Wanita itu merasa terkoyak antara perasaan rindu dan kemarahan yang membara. Dia tahu bahwa jalan keluar dari pengulangan ini mungkin melibatkan pengungkapan kenangan yang telah dia sembunyikan dengan hati-hati, tetapi dia tidak bisa menahan kemarahannya atas tindakan Luke.
Wanita itu merasa frustasi dan menggelengkan kepala. Dia merasa bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk membantu situasi saat ini, dan dia menyimpan kenangan tersebut dengan sengaja karena ada alasan tertentu.
Keduanya saling menatap dengan mata penuh emosi yang kompleks. Wanita itu merasa terjebak antara rasa rindu dan kemarahan yang membara. Dia menyadari bahwa untuk keluar dari situasi berulang ini, dia mungkin perlu mengungkapkan kenangan yang selama ini dia sembunyikan dengan hati-hati. Namun, kemarahannya terhadap tindakan Luke tetap sulit untuk dia tahan.
Terkoyak antara emosi yang bergejolak, wanita itu memutuskan untuk mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara. Dia merasa penting untuk mengekspresikan perasaannya dengan jujur, meskipun sulit.
"Dengarlah, Luke," katanya dengan suara gemetar. "Aku tahu bahwa kamu mungkin tidak mengerti mengapa aku merasa seperti ini. Tapi kenangan itu... itu adalah bagian dari masa lalu yang aku coba untuk hadapi. Aku tahu kamu ingin membantu, tapi ada hal-hal yang sulit untuk dibuka."
Luke merenung sejenak sebelum menjawab dengan suara lembut, [Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuat Tuan Pertama marah. Aku hanya ingin membantumu melalui ini.]
Wanita itu merespon dengan perasaan campuran. Meskipun amarahnya masih ada, dia juga merasakan kerinduan terhadap dukungan Luke. "Aku tahu kamu ingin membantu. Tapi kamu juga tau kenapa aku mengunci memori Eun Ji selama Kehidupan ke sembilan ini. Ini Kehidupan terakhir Alan mengulang waktu. Karena itu aku mengirimmu ke sisinya."
Luke mendengarkan dengan seksama, mencoba memahami kata-kata wanita itu. [Jadi, Tuan Pertama tahu bahwa aku di sini karena ada hubungannya dengan Alan yang mengulang-ulang waktu. Kamu ingin aku membantunya untuk keluar dari pengulangan ini?]
Wanita itu mengangguk perlahan. "Benar. Aku merasa bahwa kamu mungkin memiliki peran penting dalam mengakhiri siklus ini. Aku tidak ingin Alan mengulang kehidupannya lagi dan lagi. Aku harap kamu bisa membantunya menemukan jalan keluar."
Luke tampak terkejut, tetapi kemudian ia tersenyum tulus. [Aku bersedia membantu, meskipun aku mungkin belum sepenuhnya memahami segalanya. Tapi bersama-sama, kita bisa mencoba menemukan cara untuk mengakhiri pengulangan ini dan memberikan Tuan Alan kesempatan untuk keluar.]
Wanita itu tersenyum lega. "Terima kasih, Luke. Aku tahu ini tidak akan mudah, tetapi bersama-sama kita mungkin memiliki harapan."
Dalam ruang yang redup, wanita itu duduk di sisi tempat tidur tempat Alan tertidur. Dia memandang wajah Alan dengan ekspresi haru dan penuh perhatian. Mata wanita itu terfokus pada wajah Alan yang tenang saat dia terlelap, dan dia bisa melihat jejak perjalanan panjang yang telah dilalui Alan dalam setiap detail wajahnya.
Di matanya yang lembut terpancar campuran emosi yang kompleks. Ada sentuhan kelelahan dari perjuangan yang berulang kali dia lalui bersama Alan. Karena dia yang telah menghapus memori Alan. Setiap dia mengulang waktu. Alan hanya tau kalau dia mengulang kehidupan kedua setiap bangun dari kematiannya.
Dalam tatapannya yang dalam, terlihat juga nuansa harapan. Wanita itu ingin sekali melihat Alan keluar dari siklus tanpa akhir ini dan memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang berbeda. Dia tahu bahwa ada potensi besar di dalam diri Alan, dan matanya mencerminkan harapannya akan masa depan yang lebih baik, di luar batas-batas pengulangan waktu yang selama ini mengikatnya.
Alan, pria yang menjadi pusat perhatian wanita itu, adalah seseorang yang mendalam di hatinya. Dalam setiap pandangan yang dia curahkan padanya, terbaca cinta yang mendalam dan rasa sayang yang tak terucapkan. Dia tahu betapa berartinya Alan bagi dirinya, tidak hanya sebagai subjek dari pengulangan ini, tetapi juga sebagai sosok yang telah mengisi hatinya dengan emosi yang rumit.
Mereka berbagi kenangan yang hanya dimiliki oleh keduanya, terikat oleh pengalaman-pengalaman yang telah mereka alami bersama dalam pengulangan waktu ini. Rasa cinta yang dia rasakan untuk Alan tergambar dalam setiap tatapan dan senyumnya saat dia melihatnya tidur, mungkin dalam harapannya yang dalam bahwa akhirnya mereka bisa melampaui pengulangan ini bersama.
Namun, wanita itu juga merasakan kesedihan yang dalam. Kesedihan karena melihat Alan terjebak dalam lingkaran tak berkesudahan ini, terpaksa mengulang pengalaman yang sama berulang kali. Setiap kali dia melihat Alan tidur, dia merasakan campuran emosi yang tak terduga: cinta, kerinduan, dan juga perasaan tak berdaya.
Dalam kedalaman hatinya, wanita itu berharap agar usahanya, bersama dengan dukungan Luke, bisa membantu Alan keluar dari pengulangan ini. Dia ingin melihat Alan tersenyum dalam kehidupan yang berbeda, bebas dari beban masa lalu yang menyiksanya. Karena cinta yang mereka bagi tidak hanya terikat pada pengulangan ini, tetapi juga pada harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Dengan lembut, wanita itu menyentuh wajah Alan yang tertidur dengan kepalan tangannya. Jemarinya mengusap perlahan pipi pria itu, seolah ingin merasakan jejak hidup yang tersembunyi di balik mata yang tertutup rapat. Dalam keheningan ruangan yang sunyi, dia berbicara dengan suara lembut yang hampir sepenuhnya lenyap, seperti bisikan angin yang hanya dapat didengar oleh mereka berdua.
"Alan," bisiknya dengan penuh kelembutan, suaranya hampir seakan-akan menyatu dengan getaran alam semesta di sekitarnya. "Kehidupan kali ini, aku ingin berbicara padamu meskipun kamu terlelap. Aku juga merasa sakit melihatmu menghadapi tragedi yang sama berulang kali."
Sentuhan tangannya masih tetap lembut di pipi Alan, seolah ingin mentransmisikan kehangatan perasaannya melalui sentuhan tersebut. "Tapi, Alan, aku ingin kita memandang masa depan dengan keberanian dan tekad. Aku ingin kita menghadapi segala cobaan dengan hati yang terbuka dan tanpa dendam. Biarkan kejadian tragis itu menjadi kenangan, tetapi jangan biarkan kenangan itu membatasi kita."
Matanya tetap terpaku pada wajah Alan yang tertidur, seakan ingin memastikan bahwa pesannya sampai ke dalam alam bawah sadarnya. "Aku di sini untukmu, selalu mendukungmu dalam perjuangan ini. Kita bisa melawan siklus pengulangan ini, bukan dengan kebencian, tetapi dengan cinta dan tekad untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah."
Dalam keadaan tidur yang dalam, Alan mungkin tak bisa merasakannya secara sadar, namun pesan itu mengalir ke dalam jiwa pria itu, mengguratkan harapan akan perubahan dan kekuatan yang tak terduga.
yuk saling dukung #kuambil apa yang menjadi milikku #Sweet love level 999