Teruntuk kau yang terlambat mengatakan cinta.
Aku di sini, di tempat tanda cinta berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurwahidah Bi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: Recognition (1)
***
Wanita itu perlahan mendekat dan menyentuh pundak Min Joon muda sambil berkata, “Aah … itu pasti karena sesuatu yang kau tempelkan di mobil Ibunya.”
“Istriku! Apa yang sedang kau katakan?” tegur ayah Min Joon kesal.
“Benarkah?” Min Joon mulai merasa aneh.
“Min Joon, masuklah ke kamar! Ayah harus bicara dengan Ibumu,” pinta ayahnya. Min Joon menurut dan bergegas menuju tangga dengan sesekali melirik Ayah dan Ibunya yang mulai tampak tegang satu sama lain.
“Apa yang sudah kau lakukan? Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan padanya, bagaimana jika Min Joon mengerti apa yang terjadi? Dia bukan anak berusia 6 tahun, kau tahu!” bentak ayah Min Joon sedikit keras.
“Maaf!”
“Apa yang sudah kau lakukan? Hah!”
“Aku hanya meminta mereka untuk sedikit menyenggol mobil Moon Ha Na, itu saja!” jawabnya tanpa rasa bersalah.
“Apa? Menyenggol? Untuk apa kau melakukannya?” tanya ayah Min Joon mulai panik.
“Moon Ha Na tidak mau berinvestasi di perusahaanmu, dia lebih memilih perusahaan lain! Dan kudengar dia sedang berusaha untuk mengambil alih perusahaanmu. Dasar wanita licik.”
“Istriku, inilah alasan kenapa aku melarangmu mencampuri urusan pekerjaan. Cukup besarkan anak-anak dan jadilah ibu rumah tangga yang baik, aku akan sangat menghargainya,” potongnya merasa bersalah.
“Tapi, dia sedang mencoba menghancurkan bisnismu!!!”
“Kau pikir aku tidak terkejut saat melihat rivalku tiba-tiba menjadi tetangga? Kau pikir untuk apa aku memberi alat pelacak di sana, jika bukan untuk melacak ke mana mereka akan pindah? Kau pikir untuk apa semua itu? Kau pikir aku melakukannya bukan untuk pekerjaan?” ungkap ayahnya tertekan, “Bagaimana jika polisi mengetahuinya, kita berdua bisa di penjara karena telah melakukan percobaan pembunuhan?” lanjut ayah Min Joon panik.
“Mereka tidak akan mati! Aku yakin!” seru ibu Min Joon serius.
“Kau ini benar-benar!” Tangan lebar dan kuat hampir mendarat di pipi wanita itu. hanya terhitung beberapa senti saja.
“Percayalah padaku! Hah … aku sudah tidak tahan melihat Moon Ha Na dia selalu menindasku!” selanya.
“Menindas apanya?”
“Dan apa kau tahu? Jin Hee yang selama ini kupikir adalah keponakannya ternyata adalah puteri kandungnya!” ucapnya mencari alasan, “dia membohongi kita semua, apa salahnya memberinya pelajaran!” lanjutnya berteriak.
“Kau gila!” seru ayah Min Joon memaki.
“Dia sudah berbohong! Jika bukan Min Joon yang memberitahukan bahwa Jin Hee adalah adik tiri Sun Woo, mungkin aku akan terus berpikir bahwa Jin Hee adalah sepupu Sun Woo. Jika seperti itu siapa yang gila? Aku atau dia?” ungkapnya kesal.
“Aku tahu tentang hal itu dan mengapa jika dia berbohong? Apa itu menjadi urusan kita?”
“Bagaimana jika perusahaanmu jatuh karena perempuan gila itu, aah apa kau ingin membunuh salah satu dari kita? Lagi?”
“Apa maksudmu? Kenapa kau bersikap seperti ini?”
“Ikuti saja permainanku!” tegas ibu Min Joon.
“Kau benar-benar sudah gila! Kau ingin aku jadi pembunuh jika polisi menemukan alat itu di sana?” seru ayah Min Joon marah.
“Alat itu pasti sudah terjatuh dalam kecelakaan,” ucapnya mencoba tenang.
“Lalu, bagaimana dengan Min Joon? Dia yang meletakkan alat itu di sana.”
“Kau ayahnya, jika aku jadi kau, aku akan jujur padanya!”
Min Joon kebingungan. Ia mendengar apa yang tak seharusnya didengar, dia hanya terdiam dan mengurung diri di kamar. Kaki itu bahkan mulai gemetar saat membayangkan situasi saat ini.
“Min Joon?” panggil Ayahnya mencoba tenang.
“Ayah apa yang terjadi?”
“Ayah dengar mobilnya meledak karena alat yang kau letakkan di sana?” bohongnya.
“Apa itu bom?” tanya Min Joon.
“Apa? Yang kau tempelkan di sana …,” Min Joon mengangguk takut, “Sepertinya … orang lain telah menggantinya dengan bom, kita berdoa saja jika kedua orang tuanya bisa selamat,” lanjutnya gugup sambil memeluk Min Joon.
“Ayah, apa yang sudah kau lakukan? Kau memintaku menempalkan itu di sana, kau bilang kita bisa tahu kemana mereka pergi. Tapi, apa ini? Apa yang sudah kulakukan,” ucapnya menangis.
“Tidak ada, kau tidak melakukan hal yang buruk,” katanya meyakinkan Min Joon muda, “Kau tidak salah, Nak! Ini salahku, sepenuhnya salahku!” batinnya meronta.
***
“Cukup ayah!” seru Min Joon menghentikan ingatan dan cerita Ayahnya sembari memandang sedih ke arah Ibu yang tertidur.
“Aku tahu kau pasti sedih mendengar apa yang sebenarnya terjadi di hari itu,” lanjut ayahnya tertahan, “kau bahkan sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu, tapi kami berdua membuatnya seolah-olah kau sudah melupakannya!”
Min Joon mendadak merasa dirinya sebagai pelaku. Keinginan Ibunya hanya memberi pelajaran kepada saingan bisnis itu. Siapa yang menyangka orang-orang suruhannya membuat gerakan yang besar, hingga harus merenggut nyawa tak berdosa. Dan membuat Min Joon hidup dalam penyesalan.
***
Min Joon kini paham mengapa Jin Hee menghindarinya, bahkan Jin Hee sudah membencinya.
Mungkin saja Jin Hee sudah tahu apa yang terjadi, seperti apa yang dikatakan Ibu Min Joon. Yang masih tak bisa dimengerti adalah tindakan Ibunya di masa lalu dan dua tahun lalu. Kenapa dia harus berbuat hingga sejauh itu? Benarkah karena gangguan kejiwaan yang dimilikinya?
Min Joon bingung, batin dan kepala terus bertanya-tanya, mengapa Ibu yang dipercaya bisa begitu membenci Moon Ha Na. Ibu dari seseorang yang paling diinginkannya.
Sebelum mengenal Sun Woo di sekolah. Ibu dan kedua anaknya itu merupakan panutan di sekolah. Dua orang putera pandai yang dididik oleh seorang Ibu yang baik, adalah gelar berharga bagi Song Hye Sun. Tapi, semenjak Moon Ha Na pindah ke lingkungan tempat tingganya, Ha Na dan Sun Woo merebut semua dari Ibu Min Joon. Hal ini membuatnya iri dan sakit hati, seorang wanita pecinta kesempurnaan, yang berhasil dipecundangi Moon Ha Na.
Moon Ha Na terkenal akan kepandaian dan kecerdikannya, sebagai Ibu tunggal ia terkenal sebagai pemburu saham. Semenjak menikah lagi, dirinya menyerahkan perusahaan kepada Ayah Sun Woo. Karena suaminya itu tidak bisa menjalankan perusahaan dengan baik, Moon Ha Na mengambil alih semuanya. Hingga akhirnya, wanita licik itu mulai melirik perusahaan-perusahaan besar untuk berinvestasi di pabrik sepatunya.
Perusahaan Ayah Min Joon dan Ibu Jin Hee sendiri telah terjalin sejak beberapa tahun. Tapi, setelah memata-mati keadaan finansial keluarga Park, melalui Ibunya. Dirinya mengorbankan perusahaan Ayah Min Joon dan tiba-tiba menghentikan investasi.
Meskipun wanita yang penuh kesempurnaan, Song Hye Sun adalah seorang Ibu yang ceria dan penuh kepolosan. Dirinya tak menyadari bahwa Jin Hee adalah puteri kandung Moon Ha Na dan merasa telah dikhianati oleh tetangga yang dianggapnya teman.
“Itu aneh!” gerutu Min Joon, saat mendengar semua kisah lalu.
“Kau benar, itu sangat aneh! Aku tidak tahu, jika hal kecil dan seremeh itu bisa menciptakan rasa benci di hati Ibumu. Rasa benci yang tak normal. Mungkin karena penyakit yang diderita dan membuatnya menjadi tak terkendali.”
“Ayah, apa saja yang sudah Ibu lakukan?”
“Ibumu sudah melakukan banyak hal, mulai dari menghancurkan keluarga Moon Ha Na secara perlahan, membantuku dalam melindungi perusahaan, hingga aksi-aksi berat lain yang menyebabkan keluarga itu pindah dari lingkungan mewah ini dan juga kecelakaan tersebut,” jelas ayahnya secara rinci.
Min Joon sejenak terdiam, merasa kehabisan kata-kata. Tiba-tiba melengkungkan bibir, dengan sangat misterius.
“Kau pulanglah, ayah akan menjaganya!” pinta ayahnya.
“Aku khawatir dia kembali ke sini untuk menjebloskan Ibu ke penjara!” tebak Min Joon.
“Apa maksudmu? Siapa yang—”
“Jin Hee sudah kembali!” Min Joon membalikkan tubuhnya menatap jalanan depan rumahnya yang sepi.
“Apa? Kapan anak itu kembali?”
“Aku tidak tahu!” pungkas Min Joon.
***
Bersambung
cerita yg menarik karena kekuatannya ada pada kata2 yg indah