Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Resign 2.
...~•Happy Reading•~...
Mala dan Kandara melihat ke arah Toby, setelah mendengar apa yang dikatakannya.
"Kau tau apa yang akan terjadi dengan project-project ini? Mereka tidak tau cara kerja kita bertiga. Apa lagi punya Dara belum disatukan dengan kita." Mala jadi tersenyum mendengar ucapan Toby.
"Bocah itu mau bawa orang-orangnya untuk meneruskan ini? Mereka akan kerja dari nol, karena punya kita masih belum apa-apa, masih mentah." Mala berkata lagi sambil melihat project yang sedang mereka kerjakan di laptop.
"Dara, kau belum kerjakan yang aku email untukmu itu?" Tanya Mala sambil melihat Kandara.
^^^Saat Kandara cuti, dia pernah email project yang akan mereka bertiga tangani. Toby dan Mala berharap, di sela-sela kesibukannya, Kandara bisa melihat dan memikirkannya.^^^
"Belum, Mas. Maklum, baru menikah jadi belum bisa konsen untuk condingan." Kandara berkata sambil tersenyum tipis, karena banyak peristiwa yang terjadi setelah menikah. Jadi dia belum sempat mengerjakan bagiannya untuk project yang dikerjakan bertiga. Sedang project untuk dia sendiri, diberikan dispensasi oleh Pak Ari untuk tidak pegang project selama cuti.
"No problema... Baru pernah kali ini, aku sangat lega, kau belum kerjakan bagianmu. Mari Mala, kita serahkan pekerjaan kita dengan surat pengunduran diri. Aku hanya perlu berkemas untuk bawa foto kita dan keluargaku di meja kerja." Toby berkata pelan, lalu menutup laptopnya.
"Ok... Aku akan ke ruang kerja untuk memasukan barang pribadi, agar bisa langsung pulang setelah serahkan semuanya ke Pak Ari." Mala juga ikut berkata dan menutup laptopnya.
"Jangan kembali ke ruangan dulu, Mas. Mari kita ke ruang programmer untuk berikan ini, sekalian pamit dari mereka. Tapi jangan katakan apa pun kepada mereka, agar ngga jadi masalah dengan Pak Ari." Kandara berkata cepat untuk mengingatkan Mala dan Toby.
"Anggap saja, Mas Mala dan Mas Toby mau bantu aku bagi ole-ole ini kepada mereka, sebelum kita pulang." Kandara berkata lagi sambil menunjuk paper bag yang sudah diletakan di atas meja kerjanya.
Mala dan Toby mengangguk mengiyakan yang dikatakan Kandara, lalu memasukan laptop mereka ke dalam tas. Mereka pegang beberapa paper bag, lalu Kandara segera mengunci pintu ruang kerjanya. Kemudian dia berjalan cepat mengikuti Mala dan Toby yang membawa sebagian paper bag menuju ruang programmer.
"Mba' Daraaa..." Teriak Yeni, saat melihat Kandara masuk ke ruang programmer Dia segera berdiri, lalu berlari mendekati Kandara.
"Sssstttt... Kau seperti lagi di hutan. Ayoo, kumpul." Kandara berkata sambil meletakan jari di bibirnya, agar Yeni berhenti histeris.
"Wuuuuiiii... Ada bau Korea nih.... Mas Mala dan Mas Toby keren sekali hari ini. Mba' Dara juga, sangat cantik. Sering-seringlah dadan beginian, yaa... sukaaa.." Yeni berkata sambil mengangkat dua jempolnya.
^^^Begitu juga dengan para programmer yang lain yang ikutan berdiri. Mereka mengakui ucapan Yeni dengan mengangkat jempol, setuju. Saat melihat kemeja Toby dan Mala dari merk yang sama, tapi warna saja yang berbeda membuat mereka tampak berbeda, walau wajah mereka tidak seceria biasanya.^^^
Kemudian Kandara meletakan semua paper bag di atas meja kerja Yeni, lalu membagikan paper bag untuk semua yang ada di ruang programmer. Kandara sudah menulis nama pemilik di paper bag, sehingga mudah dibagikan.
"Mba' Dara... Aku berterima kasih untuk ole-olenya, tapi lebih terima kasih lagi, jika bisa bertemu dengan biasku, Darel." Yeni berkata sambil meminta dengan wajah berharap.
"Nanti saja, kalau sudah bisa bertemu, aku kabari. Sekarang ole-olenya disimpan, lalu konsen kerja dulu." Kandara berkata pelan sambil melihat para programmer sedang memegang paper bag di tangan masing-masing.
"Ada apa dengan kedua bapak ini? Hari ini mereka tampil keren sekali, tapi membawa mendung ke tuangan ini." Kata Yeni, saat melihat Mala dan Toby hanya diam berdiri memperhatikan mereka tanpa canda atau senyum seperti biasanya.
"Kalian bekerjalah seperti biasa, jangan tertekan dengan lingkungan sekitar. Ruangan ini milik kalian semua, jadi tetap bekrja seperti biasa, atau bisa lebih baik lagi. Semangat...!" Toby berkata sambil mengepalkan tangannya untuk memberi semangat untuk para programmer.
"Siapa pun pimpinan kalian, tetaplah jadi diri kalian. Bekerjalah untuk masa depan kalian lebih baik. Jangan suka bercanda lagi." Mala berkata serius, sambil melihat satu persatu.
"Mas mau wajah kami jadi kotak? Jangan serius-serius, Mas. Nanti kami lupa cara coding." Yeni berkata sambil mengibaskan tangannya, seakan menepis apa yang dikatakan Mala, bercanda seperti biasanya.
"Dara, nanti ngga usah undang dia. Bercanda terus dipelihara." Kata Toby lagi sambil melihat Yeni dengan serius.
"Eeeeh, jangan marah, Mas. Kami tetap coding dengan benar. Mba' Dara, aku nomor urutan 1 di daftar undangan. Project yang kami kerjakan, segera selesai, saat kami dapat undangan." Yeni berkata sambil mengangkat tangan. Kandara tersenyum melihat cara Yeni, lalu mengangkat jempolnya.
"Ole-olenya, lihat di rumah, yaa. Trima kasih untuk semua yang sudah bekerja dengan baik selama aku cuti. Sini Yeni, aku mau memelukmu mewakili yang lain." Kandara berkata pelan dengan hati terharu, lalu memeluk Yeni yang datang mendekatinya.
^^^Toby dan Mala mendekat ke arah Yeni, lalu menepuk pundaknya pelan. Juga dengan para programmer yang lain, tanpa berkata-kata. Membuat semua programmer melihat mereka dengan heran.^^^
Kandara segera mengajak mereka keluar dari ruangan, sebelum timbul kecurigaan dan akan ada banyak pertanyaan dari para programmer atas sikap Mala dan Toby, yang membuat mereka sulit menjawabnya.
~•••~ ~•••~ ~•••~
Di sisi lain ; Setelah ditinggal Kandara, Mala dan Toby, Pak Ari melihat Lucha dengan serius. Suasana hatinya sangat tidak enak, terutama kepada Mala dan Toby yang selama ini mendukung kariernya.
^^^Pak Ari menyadari, sampai pada posisi yang sekarang, karena kesuksesan Kandara, Mala dan Toby bekerja dengan maksimal. Sehingga para client mau kerja sama dan kembali lagi mempercayakan project mereka kepada perusahaan.^^^
"Pak Lucha, saya tidak tahu apa yang sedang terjadi antara Pak Lucha dengan mereka bertiga. Saya tidak mau ikut campur, jika itu menyangkut hubungan pribadi." Pak Ari berkata serius, karena baginya, Lucha telah melukai harga diri Mala dan Toby, sebagai karyawan senior dan juga lelaki.
"Saya berharap, Pak Lucha bersikap profesional dalam memutuskan hal ini, bukan karena emosi sesaat atau sentimen pribadi. Saya juga berharap, apa yang saya katakan ini tidak terlambat untuk memulihkan hubungan Pak Lucha dengan mereka bertiga." Pak Ari berkata tegas dan serius.
"Mungkin Pak Lucha melihat mereka bertiga sebagaimana karyawan pada umumnya. Tapi seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, untuk pertimbangkan baik-baik dalam mengambil keputusan. Terutama berhubungan dengan mereka bertiga." Pak Ari berkata serius, saat melihat Lucha yang sedang melihatnya dengan serius dan tidak tenang.
"Selama ini, mereka bertiga pegang project vital yang mendukung perusahaan ini. Memang bukan mereka sendiri, dibawa mereka ada beberapa programmer yang sangat loyal kepada mereka. Jadi apa yang mereka bertiga minta agar bisa bekerja cepat, para programmer akan bekerja dengan cepat untuk menyelesaikan project sesuai tenggang waktu." Pak Ari menjelaskan tentang pekerjaan Kandara, Mala dan Toby.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..