Reno Sebastian seorang Mafia yang kejam di dunia bawah tanah, sifat kejamnya tidak luput dari kejadian masa lalu yang menyakiti dirinya, hingga dia memulai membalas dendam dengan seorang wanita yang diduga anak dari dalang penyebab kematian orang tuanya yaitu Dara Pratiwi.
"Mas, sakit mas tolong jangan siksa aku lagi, sudah cukup mas aku mohon ada anak kita di dalam tubuh ku ini" ucap Dara dengan pasrah.
"Aku tidak peduli dengan anak sialan itu, yang penting orang tuamu harus mengalami kesakitan yang sama denganku!"
Bagaimana jadinya, jika ternyata selama ini Reno salah paham sehingga dengan tega dia menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri yang bahkan belum lahir, apakah Dara akan memaafkan kesalahan Reno atau Dara kembali berbalik membalas dendam dengan Reno.
Semua itu dapat terungkap di dalam cerita "Penyesalan Balas Dendam"
Note, baca terlebih dahulu season 1 yang berjudul "Istri Kejam Milik Devan" agar teman-teman paham dengan alurnya nanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mimicoco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengintaian
Setelah Reno mendapatkan informasi dari Roy kalau markasnya kini telah dikuasai oleh mafia lain, maka sekarang dirinya mencoba untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.
"Roy, nanti malam kau ikut aku untuk menyelinap di markas kita, karena kita harus memastikan terlebih dahulu jumlah mafia mereka yang menjaga tempat kita itu," ucap Reno.
"Baik Bos, tapi kita harus berhati-hati Bos karena pihak lawan memiliki personil anggota yang cukup banyak."
"Hmm, kalau hanya itu saja kau tidak perlu khawatir, aku kan raja nya menyelinap jadi pasti kita aman," jawab Reno dan setelah itu mempersiapkan keberangkatannya untuk menyelinap ke markasnya yang sekarang sudah dikuasai oleh mafia lain.
Saat Reno hendak masuk ke dalam kamarnya, dirinya tiba-tiba berpapasan dengan Dara, sehingga otomatis diantara keduanya hanya ada keheningan saja. Namun, Dara yang hendak menuju ke dapur tiba-tiba tangannya langsung dicekal oleh Reno.
"Mau kemana, buru-buru sekali tampaknya atau jangan-jangan masih menghindar dariku," ucap Reno dengan sinis.
"Hmm, kalau sudah tahu kenapa harus menunggu aku menjawabnya, sudahlah aku tidak mau ribut Mas, lebih baik kamu mengemas seluruh pakaian kamu, bukan kah katanya malam ini mau menyelinap ke markas mu yang sudah direbut oleh musuh, jadi bersiap-siaplah dan banyak berdoa karena umur tidak ada yang tahu." Pungkas Dara yang kemudian mencoba melepaskan tangannya dari Reno.
Melihat usaha Dara yang melepaskan diri darinya, membuat Reno semakin mencengkram tangan Dara dengan kuat sampai buku-buku kukunya menancap tajam di tangan Dara.
"Aduh sakit!" teriak Dara dengan keras sehingga membuat Roy dan Putri langsung menghampiri ke arah Dara.
"Ada apa Kakak Ipar, eh Kak Reno jangan-jangan Kakak mengganggu Kakak Ipar lagi ya?" tanya Putri dengan melirik tajam ke arah Reno.
Seketika Reno langsung melepaskan tangan Dara dari genggaman tangannya dan berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Mana ada, orang dia saja yang terlalu lebay Dek," kilah Reno yang membuat Dara menjadi jenuh melihat tindakan dan ucapannya.
"Oh iya kah? ingat ya Kak, kalau Kakak mengganggu Kakak Ipar lagi maka Kakak akan menghadapi Putri, tentu Kakak masih ingat bukan bagaimana ganasnya Putri kalau sudah ada yang berani macam-macam dengan Putri," imbuh Putri dan setelahnya membawa Dara ke dapur, sebab Putri tahu kalau Dara saat ini hendak memasak.
......................
Menjelang malam hari, Reno dan Roy langsung bersiap-siap hendak pergi ke markasnya yang saat ini telah dikuasai oleh musuhnya.
Dengan berjalan mengendap-endap, akhirnya mereka berhasil menyelinap ke dalam ruang inti markasnya.
Saat Reno masih mengintai ke arah dalam ruangan itu, dirinya tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan Paman Aksa yang tiba-tiba saja menduduki tahta kursinya.
"Jadi, musuh ku selama ini adalah Paman Aksa sendiri, jangan-jangan selama ini aku dibohongi olehnya, dasar sialan," batin Reno dengan Marah, sebab Reno melihat secara langsung bagaimana Paman Aksa yang mengurus mereka selama ini tiba-tiba menjadi musuh dalam selimut yang telah menjungkirbalikkan Reno dari markasnya.
"Roy, lebih baik kita keluar saja dari tempat ini, sebelum ketahuan sama bajingan tua itu," ucap Reno dengan pelan. Saat Reno hendak keluar, dirinya tidak lupa untuk memasang kamera pengintai dan juga alat perekam suara yang terhubung langsung dengan komputer miliknya.
"Selesai," ujar Reno pelan dan langsung bersiap-siap pergi dari tempat persembunyiannya.
Setelah dirasa aman, Reno dan Roy akhirnya mengganti pakaiannya saat setelah jauh dari markasnya.
"Arghhh sial, ternyata orang tua itu telah membohongi aku selama ini dan diam-diam dia telah menikam aku dari belakang!" ucap Reno dengan berteriak seraya melepaskan seluruh amarahnya yang sedari tadi tertahan di dalam dirinya.
"Sabar Bos, pokoknya yang sekarang kita lakukan adalah bagaimana memikirkan strategi untuk merebut tempat mafia kita lagi," nasihat Roy yang membuat Reno mencoba sebisa mungkin meredamkan amarahnya.
"Iya kamu benar Roy, pokoknya mau bagaimana pun, markas itu harus kita ambil alih kembali," balas Reno dengan sorot mata mengarah ke markasnya.
Sementara itu, di sisi lain tampak Dara telah memanaskan beberapa makanannya yang saat makan malam tadi tidak habis untuk dimakan.
"Kakak Ipar, kenapa Kakak memanaskan makanan itu, apa masih enak kah, bukan kah kalau makanan yang masih banyak sisa bisa kita buang saja Kak, dari pada harus dipanaskan, takutnya malah jadi penyakit," jelas Putri dengan pelan dan sopan.
"Adik Ipar, tidak semua makanan itu harus dibuang, mungkin kalau sayuran iya kita buang, tapi kalau ikan dan sejenisnya masih bisa dimakan walau harus dipanaskan kembali," jelas Dara memberikan pengertian kepada Putri.
Sementara Putri yang mendengarkan penjelasan Dara hanya menganggukkan kepala saja.
Saat selesai Dara memanaskan makanannya, tiba-tiba saja dari arah pintu luar tampak pintu rumahnya diketuk dengan kuat.
Dor.
Dor.
Dor.
Bunyi suara pintu yang diketuk dengan sangat keras, sehingga membuat Dara dan Putri menghentikan sementara kegiatan memanaskan makanannya.
"Iya sebentar saya buka," ucap Dara dengan suara yang sedikit keras.
"Ceklek," suara pintu yang dibuka oleh Dara yang memperlihatkan bahwa orang yang menggedor-gedor pintunya ternyata adalah Reno sendiri.
Reno yang dengan tampang tidak bersalahnya, langsung masuk begitu saja melewati Dara yang kemudian disusul oleh Roy, bawahannya.
"Kakak, kenapa cepat sekali pulangnya, apa Kakak bisa masuk menyelinap ke markas kakak sendiri?" tanya Putri yang baru menyusul Dara dari belakang.
"Hmm, Kakak selesai menyelinap nya dan baru mendapatkan fakta yang mengejutkan Dek."
"Ha, maksud kakak?" tanya Putri dengan mengerutkan keningnya.
"Ya asal kau tahu Dek, ternyata selama ini Paman Aksa adalah musuh dibalik selimut kita, bahkan kau tahu ternyata penyerangan markas milik Kakak, ada kaitannya dengan bawahan Paman Aksa" jelas Reno pelan sembari memikirkan nasibnya yang sudah tidak memiliki markasnya lagi.
"Apa, jadi selama ini Paman Aksa ada berniat buruk kepada kita, jadi sekarang apa yang harus kita lakukan Kak, apa mungkin kita bisa melawannya, sedangkan kita sudah menganggapnya sebagai Ayah kita sendiri." Keluh Putri dengan perasaan dilema.
"Entahlah dek, untuk saat ini Kakak tidak melakukan pergerakan terlebih dulu untuk melawannya, lebih baik kita ikuti saja alurnya sembari mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuknya.
"Iya Kak, untuk sementara waktu lebih baik kita tinggal di rumah Kakak Ipar saja, dari pada kembali ke rumah takutnya anak buah Paman Aksa kembali mengincar kita lagi," imbuh Putri.
"Bolehkan Kak, kalau kami masih tetap di sini?" sambung Putri dengan menanyakan kehadirannya dan kakaknya di kediaman rumah Dara.
Dara yang tidak punya pilihan lain hanya bisa menganggukkan kepala saja sembari mempersiapkan diri akan gangguan dari Reno.
hajat Reno untuk bersatu kembali dengan Dara tak kesampaian....