Cinta bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.
Cinta tak kenal paksaan, cinta tak kenal status, cinta tak kenal usia.
Seperti yang terjadi pada Monica Alandra Putri. Rasa sayangnya pada teman baik ibunya, Egi Pramuja, tumbuh menjadi rasa cinta ketika dia sudah dewasa. Namun sayang, Egi sudah memiliki perempuan yang akan menjadi calon istrinya. Beribu-ribu cara Monica lakukan untuk memisahkan mereka, tetapi malah semakin menjauhkan dirinya dari Egi.
Ketika Monica ingin menyerahkan hatinya untuk orang lain, Egi datang membawa cinta untuknya. Kebimbangan datang di hati Monica, yang akhirnya membuat Monica terlibat cinta segitiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love
Mohon dukungannya, Like, vote, rate, tips, favorit dan komentarnya.
Happy reading....
Leo mengantar Panji ke sekolah. Leo tidak membiarkan Panji untuk membawa mobil sendiri. Panji pun akhirnya pasrah dan menuruti kemauan Leo karena Panji tidak ingin berdebat dengan kakaknya yang menurut nya sangat cerewet.
"Oke, tapi gue mau jemput Monica dulu."
Leo langsung memberi hormat pada Panji. "Siap, gue gak keberatan kalau mau jemput calon adik ipar gue yang manis itu." Leo langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Panji yang masih di luar mobil, mendengus melihat tingkah Leo. "Dasar Playboy cap kodok." Panji menggelengkan kepalanya lalu menyusul Leo masuk ke dalam mobilnya.
Leo menyalakan mesin mobilnya dan bersiap meluncur ke rumah Monica.
Di tempat lain...
Monica sedang membaca pesan di ponselnya, pesan dari Panji, kekasihnya. Di dalam pesan itu jika Panji sedang menuju rumahnya untuk menjemput dirinya bersama dengan Leo.
Monica mengerutkan keningnya. Monica mulai mengetik di ponselnya untuk membalas pesan dari Panji.
📨Apa kau sudah baik-baik saja?
Tidak ada balasan lagi dari Panji dan beberapa saat kemudian terdengar suara klakson mobil Panji di depan rumahnya.
"Hmmm, calon mantu kita sudah dateng tuh, Bun." Angga berusaha untuk menggoda anaknya.
Wajah Monica seketika menjadi merah merona, dan hal itu makin membuat Angga dan Ratna tertawa.
"Puas-puasin deh ketawain Monica. Nanti kalau Monica sudah menikah, Ayah sama Bunda gak bakalan bisa ngetawain Monica lagi." Monica merasa kesal karena ditertawakan oleh kedua orang tuanya.
"Kayaknya anak perempuan kita udah pengin nikah, Yah." Kini Ratna yang gencar menggoda anaknya.
"Bundaaaaaa."
"Udah lah, Bun. Jangan godain anak kita, gak lihat tuh wajahnya udah kaya kepiting rebus."
Monica melipat kedua tangannya dan memajukan bibirnya. Ratna beranjak dari kursinya dan memeluk anak perempuannya itu. "Sudah jangan ngambek terus, nanti Panji nungguin kamu kelamaan."
Ratna mencium kepalan Monica dan mengantarnya ke depan gerbang untuk menemui Panji. Monica menghabiskan sarapannya dan berpamitan kepada ayah tirinya itu.
Ratna mengantar Monica ke gerbang rumah nya dan melihat Panji yang sedang berdiri di samping mobilnya.
"Pagi, Panji," sapa Ratna.
"Pagi juga, Tante," balas Panji.
"Kok cuma Panji yang disapa, Tante. Leo gak nih." Ratna melihat ke dalam mobil Panji dan melihat Leo sedang duduk di bangku kemudi.
"Leo. Maaf ya, tante gak tahu kalau ada kamu." Ratna tersenyum dan melambaikan tangan pada Leo.
"Gak apa-apa kok." Leo memberikan senyum manisnya pada Ratna. "Yuk berangkat, sudah siang nih," ajak Leo pada Monica dan Panji.
Panji dan Monica mengangguk bersamaan, lalu bergantian untuk menyalami tangan Ratna. "Monica berangkat dulu, Bun."
"Iya, Sayang. Kalian hati-hati di jalan."
Panji membukakan pintu mobil untuk Monica. Setelah itu Panji menyusul masuk ke dalam mobil. Ketiganya pun berangkat menuju sekolah Panji.
Sepanjang perjalanan Leo tidak berhenti mengoceh membuat Panji kesal. Panji merasa kakaknya sudah seperti burung beo. Monica sendiri merasa senang melihat kedekatan kakak beradik itu. Terbukti, meski keduanya terlahir dari rahim yang berbeda tidak menjadi penghalang untuk keduanya saling menyayangi.
Leo menghentikan laju mobilnya di depan gerbang sekolah. Ketiganya turun dari mobil, dan langsung menjadi pusat perhatian terutama Leo. Banyak gadis-gadis di sekolah itu yang meleleh saat melihat kadar ketampanan Leo yang tidak jauh berbeda dengan Panji.
Leo yang menyadari hal itu langsung mengejek Panji. "Wah kayaknya gue bakal ngalahin pamor lo." Leo melambaikan tangannya pada gadis-gadis yang yang sedang melihat ke arahnya. Panji mendengus sedangkan Leo terkikik geli.
"Dasar penyakit Playboy nya kumat," gerutu Panji.
"Ya sudah, gue cabut dulu. Lo kabarin aja, jam berapa lo balik, nanti gue jemput," ucap Leo pada Panji.
"Oke, thank's, Bang." Panji menyalami Leo sebelum Leo masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Dah, Bang Leo. Terimakasih ya, sudah jemput Monica." Monica melambaikan tangannya saat Leo berjalan masuk ke dalam mobil.
"Anything for you, Honey." Leo mengerlingkan satu matanya pada Monica.
"Tuh mata dikondisikan," omel Panji yang langsung membuat Leo dan Monica tertawa.
Monica langsung menggandeng tangan Panji dan masuk ke dalam area sekolah. Panji melirik ke samping dan melihat Monica sedang tertawa geli.
"Ada yang lucu?" tanya Panji.
"Kamu?"
Panji menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Monica. "Aku?" Panji mengerutkan keningnya.
"Iya, kamu lucu kalau lagi cemburu." Monica kembali melangkah namun langkahnya terhenti karena Panji menahan tangannya. Dan tanpa Monica duga, Panji menarik tangannya membuat Monica jatuh di pelukan Panji. Segera Panji melingkarkan tangannya ke pinggang Monica. Wajah Monica berubah merah, saat pandangan nya dekat dengan wajah Panji.
"Panji, lepas. Aku malu dilihatin sama orang-orang." Monica menoleh ke samping kanan dan kirinya, banyak pasang mata dari teman sekolahnya sedang melihat ke arahnya.
Beberapa detik kemudian Panji tertawa lepas melihat wajah merah Monica yabg menurutnya sangat lucu.
"Oh jadi kamu balas dendam sama ku." Panji mengendurkan tangannya yang melingkar di pinggang Monica.
"Iya maaf-maaf. Aku hanya senang melihat wajahmu itu." Panji mengulurkan tangannya. "Ayo masuk ke kelas, sebentar lagi masuk." Monica menerima uluran tangan Panji. Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju kelas mereka.
Di sepanjang koridor, Monica dan Panji tertawa di sela-sela obrolan mereka. Tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar mereka. Namun, tiba-tiba langkah mereka terhenti saat ada tiga orang yang menghadang langkah mereka, Selina dan kedua temannya.
Selina menatap tidak suka dengan kemesraan Panji dan Monica. Selina merasa iri pada Monica, karena selama dua tahun dirinya mengejar Panji namun tak bisa mendapatkan hatinya, sedangkan Monica yang baru beberapa bulan datang ke sekolah itu, berhasil mendapatkan hati Panji sepenuhnya.
"Lo ngalangin jalan kita," ucap Panji tanpa basa-basi.
Selina menoleh ke arah Panji. "Apa kurangnya gue, kenapa lo lebih milih gadis ini dari pada gue?" tanya Selina.
"Perasaan gak bisa di paksa, Selina. Gue udah pernah bilang jangan terlalu berharap sama gue." Panji berbicara dengan tegas.
Selina mengeram kesal, ia pergi setelah menghentakkan kakinya dan berjalan diantara Monica dan Panji membuat genggaman tangan keduanya terlepas.
"Kasihan sekali dia. Kamu jahat, Panji." Monica tersenyum kecil.
Panji merangkul pundak Monica, "Kamu yang jahat membuat aku jatuh cinta sama kamu." Panji berbisik di telinga Monica.
Monica menyunggingkan senyumnya kali ini lebih lebar. "Kau manis sekali, Panji." Keduanya kembali tertawa lebar, mereka kembali melangkahkan menuju jelas mereka.
Terimakasih banyak yang sudah mampir ke karyaku ini. Mohon dukungannya, Like, Vote, Rate, favorit dan komentarnya.
Mampir juga ke karyaku yang lain.
In the name of love
Raja bertemu Ratu
panji juga knp ga jujur aja...