Dena adalah seorang wanita berusia 25 tahun yang sudah memiliki suami, namun tidak ada satu orangpun yang mengetahui kalau Dena sudah menikah bahkan sahabat baiknya sekalipun.
Kenapa bisa begitu? Pasti kalian akan berpikir seperti itu, tapi hal itu tentu saja bisa terjadi, karena Dena adalah seorang istri simpanan...
Bagaimana kisah Dena dan suami rahasianya? Apakah hubungan keduanya akan terjalin selamanya atau akan kandas di tengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khintannia Viny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AHIS 33
Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan untuk menguji kekuatan akarnya.
***
Semua orang sudah berada di dalam ruangan rapat, walaupun masih ada beberapa menit sebelum waktunya rapat, tetapi semua orang terlihat sangat tepat waktu saat itu.
Dena dan Dastan adalah orang yang terakhir masuk ke ruang rapat membuat semua orang menoleh ke arah mereka berdua.
Terutama Irham yang menatap keduanya dengan tatapan tajam.
Dastan yang melihat kakak sepupunya menatapnya dengan tajam hanya tersenyum sinis seperti sedang menantang, sedangkan Dena hanya menggelengkan kepalanya perlahan untuk memberi jawaban, lalu dia segera duduk di kursi yang ada di sebelah bu Sinta.
Rapat pun di mulai, dan benar saja Irham mengadakan rapat itu untuk mengenalkan Dastan sebagai wakilnya yang akan mulai bekerja minggu depan saat semua orang sudah kembali bekerja.
“Keluarga tuan Irham memang semuanya ganteng-ganteng ya.” Bisik bu Sinta kepada Dena.
Mendengar ucapan bu Sinta membuat Dena menaikkan alisnya, sejak kapan bu Sinta sedekat itu sampai membuat mereka saling berbisik.
“Sepertinya ibu sangat menyukai Dastan ya?” balas Dena dengan berbisik juga.
“Dastan? Beraninya kamu asal menyebut nama!” ketus bu Sinta.
“Yaelah bu, baru aja tadi bisik-bisik, sekarang udah ketus aja.” Ucap Dena sambil menggelengkan kepalanya.
“Tuan Irham, apakah skandal yang sedang beredar benar adanya?” tanya salah satu kepala divisi.
“Apa? Skandal tentang apa?” tanya Irham pura-pura tidak tau.
“Skandal tentang anda dan model cantik itu.”
“Aku dan dia hanya berteman, sejak dulu kami sudah sering mendapatkan rumor seperti ini, kalian tidak perlu mengkhawatirkan hal ini.” Jelas Irham.
“Lagipula skandal seperti ini tidak akan mempengaruhi nilai saham, karena nona Sita adalah model terkenal dan menurutku itu justru membuat saham perusahaan naik dengan skandal itu.” Ucap Dena yang membuat semua perhatian mengarah ke arahnya.
“Ehem,, masalah skandal aku bisa menyelesaikannya, kalian bisa tinggalkan ruang rapat karena semua yang ingin aku bicarakan sudah di bicarakan.” Ucap Irham.
Setelah selesai membicarakan tentang pekerjaan yang harus di selesaikan selama liburan, Irham segera menutup rapat tersebut dan menyuruh semua orang untuk pergi meninggalkan ruangan.
“Dena, kamu bereskan semua berkas yang tadi aku bawa ya.” Ucap bu Sinta yang langsung pergi begitu saja meninggalkan ruang rapat.
Dena hanya bisa menghela nafas panjang karena dia sudah tau kalau dia pasti akan di suruh untuk membawa semua berkas.
Semua orang sudah meninggalkan ruang rapat, di sana hanya tersisa Irham, Johan, Dastan dan Dena saja.
“Dena, kamu serius mengatakan hal tadi?” tanya Irham.
“Serius lah, kenapa? Bukannya dari dulu kalian selalu di jodohkan oleh para fans? Jadi hal ini tidak akan terlalu mempengaruhi turunnya saham, jangan khawatir.” Ucap Dena.
“Pfftt..” tawa Dastan tiba-tiba saja pecah membuat Irham dan Dena menoleh ke arahnya.
“Kamu tertawa?!” ketus Irham.
“Apa yang kamu tertawakan?!” ketus Dena.
“Kalian berdua ini sebenarnya suami istri yang kayak gimana sih?” tanya Dastan yang masih berusaha untuk menghentikan tawanya.
“Bukan urusanmu!” ketus Irham dan Dena secara bersamaan.
Dena tidak memperdulikan Dastan kembali, dia segera merapihkan berkas yang ada di meja satu per satu.
“Sini biar aku bantu membawakan berkas-berkas ini ke ruanganmu.” Ucap Dastan menawarkan diri.
“Tidak perlu terimakasih.” Ucap Dena tanpa melihat ke arah Dastan.
“Dastan, lebih baik kamu pulang karena nenek sudah merindukanmu.” Ucap Irham.
“Hah? Nenek?” tanya Dena.
“Yah, kalo di sini Dastan adalah anak nenek.” Ucap Irham.
“Hahaha, untung saja aku tidak jadi dengan Dastan, mungkin kalo aku sama Dastan bisa-bisa nenek menggantungku hidup-hidup!” ucap Dena.
“Apa kamu bilang?” tanya Dastan.
Dena langsung menutup mulutnya saat menyadari kalau ucapannya sudah kelewatan.
“Sorry..” ucap Dena sambil melihat ke arah Dastan dengan sekilas lalu kembali membereskan berkas yang ada di atas meja.
Setelah selesai menumpuk berkas-berkasnya, Dena berpamitan kepada Irham dan Johan untuk keluar dari ruang rapat.
“Dena, kamu pulang sendiri ya, pak Joni sudah membawa mobilmu kemari dan menaruhnya di parkiran.” Ucap Irham.
“Mobilku sudah di antar? Benarkah? Asikk..” seru Dena.
“Pulang ke mansion Dena, ajak temanmu tidak apa.” Ucap Irham.
“Nanti aja ajak temannya, aku kan mau liburan kak jadi jangan ganggu aku selama seminggu ini.” Ucap Dena yang langsung berlari keluar dari ruangan rapat.
Dastan ikut berpamitan kepada kakak sepupunya itu lalu berlari keluar ruangan menyusul Dena.
“Apa saya perlu mengikuti nona Dena saat berlibur tuan?” tanya Johan.
“Tidak perlu, biarkan saja dia bersenang-senang dengan teman-temannya.” Ucap Irham.
“Baiklah tuan, apa kita pergi sekarang tuan?” tanya Johan.
“Hm, ayo kita pergi Johan, tapi apa menurutmu ucapan Dena benar?” tanya Irham.
“Ucapan nona Dena yang mana tuan?” tanya Johan.
“Tentang skandalku tidak akan mempengaruhi saham.” Ucap Irham.
“Sepertinya benar tuan, sejak dulu anda dan nona Sita seringkali di jodohkan, jadi skandal seperti ini tidak akan mempengaruhi harga saham.” Ucap Johan.
“Tapi kamu harus tetap menghapus berita itu, kalau tidak mamaku akan menggantungku beneran.” Ucap Irham.
“Baik tuan.” Ucap Johan.
Drrtt,, drrtt… Belum saja Irham tutup mulut, tiba-tiba saja ada telfon yang masuk dan itu berasal dari mamanya.
“Lihat bukan? Baru selesai ngomong mamaku sudah menghubungiku.” Ucap Irham sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Johan.
“Apa perlu saya yang angkat tuan?” tanya Johan.
“Tidak perlu, semakin aku lari semakin aku di kejar.” Ucap Irham yang langsung mengangkat telfon dari mamanya.
“Hal…”
“Irham!!!!” teriak mama Ira yang membuat Irham sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya.
“Yaampun ma, mama mau buat telinga Irham budeg ya?” tanya Irham.
“Biarkan saja! Apa maksud dari skandal itu hah? Kamu datang ke bandara menjemput wanita itu?!” ketus Ira.
“Mama, kenapa mama berteriak hanya karena hal itu saja?” tanya Irham dengan santai.
“Hanya karena hal itu kamu bilang? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Dena melihat suaminya di rumorkan dengan wanita lain?! Itulah kenapa mama ingin kamu mempublikasikan hubungan kalian.” Ucap mama Ira.
“Ma, bukankah dulu Irham pernah membahas hal ini? Sudahlah tidak ada yang perlu di publikasikan, selama ini Dena juga bisa melakukan kegiatan dengan leluasa, kalau kami mempublikasikan hubungan kami, aku yakin Dena tidak akan bisa lagi melakukan kegiatan dengan leluasa seperti sekarang.” Ucap Irham.
Mendengar ucapan Irham membuat mama Ira terdiam sejenak, lalu dia kembali berbicara.
“Yah pokoknya mama mau kamu segera menghapus berita itu! Mama ga mau sampe nenek kamu lihat dan kamu akan di marahi saat pertemuan keluarga!” ketus mama Ira.
“Iya ma iya, aku sudah menyuruh Johan untuk menghapus berita itu tenang saja ma.” Ucap Irham.
“Baguslah! Jangan sampai mama melihat wanita itu!” ketus mama Ira yang langsung mematikan telfonnya begitu saja.
Setelah telfon di matikan, Irham hanya menghela nafas panjang lalu menatap wajah Johan yang juga sedang menatapnya.
sudah biasa menolong orang di masa lalu dan nnti tergoda deh suaminya ocha seharusnya tidak satu atap juga kali Thor
kuharap alurnya berbeda Derian tetap mencintai ocha tidak menerima penghiatan
hadapi ya ocha dengan kepala dingin walaupun ada rasa cemburu, semangat ocha🥰🥰
semangat juga author up nya🥰🥰🥰❤❤❤