🍁Sequel dari SEMESTA RAI.🍁
Ranu Wais Prianggoro.
Tampan, terlahir dari keluarga kaya. Sejak lahir, seolah seluruh perhatian dunia berpusat padanya. Pesonanya sebagai konten kreator nomor 1 di indonesia, membuatnya tidak pernah luput dari perhatian dari semua orang.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Miara Tisha, gadis yang sama sekali tidak peduli dengan ketenaran yang disandang Ranu. Gadis yang sama sekali mengabaikannya padahal orang-orang di sekitarnya sibuk menginginkan perhatian Ranu.
Dan sejak saat itu, hati Ranu seperti tertarik ke dunia Mia.
Bagaimana perjalaan kisah Ranu demi menarik perhatian Mia?
Yukk,, cuuussss...➡️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PiEl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Cocok Sekali.
Hari ini adalah jadwal kepulangan keluarga Mia. Tapi sayangnya Mia tidak bisa ikut mengantarkan mereka ke bandara. Karna ia harus masuk magang di kejaksaan. Gadis itu hanya menatapi ibunya yang sedang merapikan koper mereka di depan rumah.
“Maaf ya Bu, Mia gak bisa ikut antar ke bandara. Soalnya kalau ikut ngantar nanti terlambat masuk kerja.” Sesal Mia.
“Gak apa-apa, Nak. Ibu tau kamu sibuk.”
“Lagian kenapa sih Bu harus cepet-cepet pulang? Baru juga tiga hari. Kan Mia masih kangen.”
“Ya adikmu itu gak bisa libur sekolah lama-lama. Nanti kalau ada kesempatan Ibu sama Ayah bisa main kesini lagi. Kan wisudamu juga gak lama lagi. Pesan ibu, jaga diri dan selalu hati-hati, ya?”
Mia mengangguk.
Tak berapa lama kemudian, taksi online yang sudah dipesan sebelumnya sampai. Fuan segera memasukkan barang-barang ke bagasi mobil. Air mata sudah menumpuk di pelupuk mata Mia. Ia ingin keluarganya lebih lama berada disini. Namun apa boleh buat, adiknya masih harus sekolah.
“Ayah sama Ibu pulang dulu ya, Nak. Hati-hati disini. Jangan telat makan.” Pesan Pak Zul kepada putrinya.
Mia menganggukkan kepalanya. “Iya, Yah. Hati-hati di jalan ya, Yah. Selamat sampai rumah.”
“Aura pulang dulu ya Kak Mia.” Aura dan Mia saling berpelukan.
“Abang pulang dulu, ya. Jangan berantem mulu sama Ranu. Kasihan dia.” Seloroh Fuan.
“Abang kok malah bahas Ranu, sih? Gak ada hubungannya kali, Bang.” Protes Mia kesal.
“Hehehehehehe.” Fuan hanya terkekeh sambil mengusap puncak kepala adiknya itu.
Airmata Mia sempurna memeleh saat mobil yang membawa keluarganya sudah menghilang dan berbelok di ujung gang. Ia mengusapnya dengan ujung hijabnya. Malu dengan para pekerja yang bekerja di depan rumahnya, ia segera masuk ke dalam rumah.
*****
Mia baru saja pulang dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia melihat Haya dan Tari yang sedang sibuk mencari sesuatu di dapur. Tidak tahan karna penasaran, akhirnya ia menghampiri mereka.
“Kenapa, sih? Pada heboh?”
“Ini lho, Mbak. Tadi pagi kan kami itu beli banyak sayur mateng dari pasar. Di taruh di atas meja, niatnya buat nanti sore, pas kita pulang dari kampus, kok tiba-tiba itu sayur udah menghilang gak tau rimbanya.” Adu Tari.
“Masak sih? Salah naruh kali.”
“Gak, Mia. Tadi itu ku taruh disini.” Kekeuh Haya sambil menepuk meja. “Terus di tutup sama tudung saji. Tapi tudung sajinya udah kebuka.”
Setelah mengingat-ingat, ia juga pernah mengalami hal yang sama. “Oh, iya. Aku juga pernah begitu. Kucing kali. Soalnya kan ada kucing abu-abu yang sering masuk ke sini.”
Tari dan Haya hanya saling pandang dengan mimik wajah kesal.
“Itu di gudang pasti banyak tikusnya deh, soalnya aku sering dengar suara-suara kalau malem.” Adu Haya.
“Ya namanya juga gudang, ya. Pasti banyak tikusnya. Nanti kapan-kapan kita bersihin. Kalau ada waktu luang. Jadi, malam ini, makan di luar yuk.” Ajak Mia.
“Tanggal tua, Mia.” Protes Haya.
“Kirimanku udah tipis, Mbak. Mbak Mia sih enak, gak kenal tanggal tua tanggal muda.” Imbuh Tari.
“Tenang. Aku yang traktir. Tapi gantian lho ya.”
“Hehehehe. Siap!” Jawab Tari dan Haya kompak.
Ketiga gadis itu memutuskan untuk keluar setelah jam 7 malam. Soalnya Mia dan Haya tidak mau melewatkan sholat isya mereka. Sedangkan Tari, nampak setuju-setuju saja.
Jadilah mereka bertiga keluar setelah Haya dan Mia menyelesaikan sholat.
“Jadi makan dimana kita?”
“Deket kampus aja, yuk. Ayam kremes.” Saran Mia.
“Meluncur!”
Dan ketiganya langsung memesan taksi online.
Sesampainya di warung pinggir jalan yang berada tepat di depan dealer sepeda motor itu, Mia dan kawan-kawan langsung turun. Setelah memesan makanan, mereka langsung duduk lesehan di atas tikar yang sudah di sediakan.
“Lho? Kalian disini juga?” Suara seorang pria mengejutkan para gadis. Mereka langsung menoleh ke arah suara.
“Lho? Mas Vincent sama Mas Adib kok bisa ada disini?” Celetuk Tari. Wajahnya senang luar biasa saat melihat kekasihnya yang tiba-tiba muncul begitu.
“Ya mau makan. Udah pada pesen?” Tanya Adib.
“Udah.” Jawab Mia. “Kalian udah pesen?”
“Udah.” Jawab Vincent.
Tari segera menggeser duduknya agar Vincent bisa duduk di sebelahnya. Kedua sejoli itu langsung cengengesan dengan saling melemparkan senyuman.
“Ya ampun. Ceritanya kita bertiga jadi obat nyamuk ini.” Dengus Haya sambil terkekeh.
Selorohan itu terhenti saat ponsel Mia berbunyi. Ia melihat nama Ranu yang muncul di layarnya.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Mia.
“Wa’alikum salam. Mia kamu dimana? Aku di depan rumah kok rumah sepi?”
“Kamu di rumah? Ngapain malem-malem ke rumah?”
“Ya mau ngajak kamu makan malam lah.”
“Aku udah di luar sama Haya sama Tari. Lagi makan.”
“Oh ya? Ikut dong? Share alamatnya. Sekarang.”
“Tapi...”
Tut,, tut,, tut,,
Mia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Padahal ia ingin melarang Ranu untuk datang. Tidak punya pilihan lain, jadi Mia tetap mengirimkan lokasi mereka kepada Ranu.
“Siapa?” Tanya Haya.
“Ranu.”
“Suruh ke sini aja, Mbak.” Saran Tari.
“Iya, ini juga udah mau kesini.”
Ayam kremes sudah tersaji di hadapan Mia dan teman-temannya. Tapi mereka memutuskan untuk menunda dulu dan menunggu Ranu datang.
Tak berapa lama, pria bertopi dan bermasker tiba-tiba duduk di samping Mia. Mereka segera menyadari siapa itu.
“Oh, udah datang? Bentar aku pesenin dulu. Mau apa?” Tanya Mia.
“Sama kayak kalian aja.” Jawab Ranu yang membuka maskernya kemudian menaruhnya ke dalam tasnya.
Sementara Mia pergi untuk memesankan Ranu makanan, Ranu menyapa Haya, Tari, Vincent, Adib dan Haya.
“Hai. Ehm, kalau sama Haya sama Tari, udah kenal. Sama kalian yang belum.” Ujar Ranu mengulurkan tangan.
Adib dan Vincent nampak terkejut dengan kedatangan Ranu. Mereka memang bukan penggemarnya, tapi mereka tau siapa Ranu.
“Vinvent, Mas.”
“Pacarnya Tari, ya?” Tebak Ranu. Dan kedua sejoli itu kembali tersipu malu. Kemudian Ranu beralih kepada Adib.
“Aku Adib.”
“Ranu.” Ia menebarkan senyuman ramah kepada mereka semuanya.
Tak berapa lama kemudian Mia sudah kembali dan duduk di tempatnya semula.
“Aku gak tau kalau Ayah sama Ibu udah pulang. Kok gak ngabarin aku?”
“Hehehehe. Sorry, lupa. Kirain Abang udah ngabarin kamu.”
“Kalau udah di kabarin kan aku bisa nganter mereka ke bandara.”
“Kan kamu lagi di Semarang? Gimana ceritanya mau nganter ke bandara?”
“Ya kalau di kasih tau kemarin kan aku bisa kesini kemarin.”
“Ya udah lah, orang udah pulang ini. Ngapain di ributin.”
“Mas Ranu pacarnya Mia ya?” Tebak Vincent langsung. Soalnya dia heran dengan kedekatan keduanya.
“Hei! Ngarang.” Dengus Mia menolak tuduhan Vincent.
“Kenapa? Kita berdua cocok, ya?” Ranu jadi besar kepala. Membuat Mia langsung menyenggol lengannya untuk memperingatkannya.
“Cocok banget malah.” Timpal Haya. Dan Tari langsung mengangguk setuju.
Tapi Mia tidak setuju. Jadilah ia menatap tajam kepada satu-persatu
temannya. Yang langsung di sambut oleh gelak tawa dari mereka semuanya.
walaupun bukan otor/novel populer dan masih sedikit yg mengenal tp aku suka ceritanya
🤣🤣🤣🤣