Menikah, Tidak seindah khayalan ku, adanya orang ketiga membuat bara api di atas pernikahan ku yang baru saja aku jalani. tapi Tuhan tidak tinggal diam, Malaikat penjaga selalu ada di sisi ku meski aku tidak menyadarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon St.Maryam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.33
Happy reading 😍
Riyu nampak sedih melihat bunda Ruby yang seakan membencinya, padahal Riyu tidak pernah bermaksud menyakiti Ruby sedikit pun. dia hanya ingin melihat keadaan Ruby,
FLASHBACK ON
Riyu mengetahui kamar Ruby yang terbuka, dia nampak tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan yang tidak ada orang sama sekali. mungkin bunda sedang keluar saat itu.
Riyu yang sudah dilepas infusnya karena sudah lebih baik, diam diam berjalan menuju ranjang tempat Ruby yang kini sudah terbangun.
"Hai Ruby...
"Ruby???
"Siapa...
Riyu terdiam melihat sikap Ruby yang terkesan seperti melihat orang asing. apa yang terjadi dengan Ruby...
"Kamu adalah Ruby...
"Dan aku Riyuu...
"Kita adalah teman...
Riyu mencoba menjelaskan satu persatu, sedangkan Ruby hanya memperhatikan apa yang dikatakan oleh Riyu. tiba-tiba Ruby menjerit kesakitan dan memegang kepalanya yang masih terbungkus perban. melihat Ruby yang kesakitan, Riyu tampak panik, dia berusaha menenangkan Ruby, dan berniat memanggil dokter, namun bunda Ruby datang dan langsung mencengkeram erat tangan nya dan memarahinya. untungnya ibundanya datang dengan segera dan membawa nya pergi.
FLASH BACK OF
"Hiks... ibuuu.... ini salah Riyu ya," Riyu kecil mulai menangis mengingat kejadian yang baru saja dia alami.
"Tidak nak, jangan bicara seperti itu," ucap Ibundanya dengan tersenyum.
"Ruby seperti itu karena sedang sakit, Ruby jadi tidak mengingat siapa pun, termasuk keluarga nya," ucap ibunda dengan tersenyum getir, dia memahami apa yang dilakukan oleh bunda Ruby barusan.
"Kenapa ibuu, apa Ruby benci Riyu?! tanya ya dengan polosnya, Riyu belum bisa memahami apa yang baru saja di katakan oleh ibundanya.
"Bukan kok, bukan benci hanya saja beri Ruby waktu ya, untuk mengingat kamu dan semuanya," terang ibunda dengan perlahan agar Riyu memahami apa yang di katakan oleh ibunda nya.
"Iya ibu," Riyu menjawab dengan lemah, baginya ini hal tidak baik, padahal selangkah lagi, untuk memberi kejutan kepada Ruby.
"Kita pulang ya," ucap Ibunda nya,
"Pulang???
"Engga mau...," Riyu menggeleng kan kepalanya berulang kali, dia tidak mau pulang sendirian, dia akan pulang bersama Ruby di sampingnya.
"Dengar ibuuu...
"Rawat inap di rumah sakit sangat mahal nak, dan ibu tidak punya uang yang banyak," ucap ibunya dengan wajah memelasnya.
Riyu mengerti, kini dia tidak bisa membantah apa yang di katakan oleh ibunya. meski dia tidak rela meninggalkan Ruby sendirian.
Diruangan lain...
Dokter menyuntikkan obat penghilang rasa sakit ke lengannya Ruby dengan hati-hati. karena Ruby tidak mau diam dan terus bergerak, Setelah lima menit, akhirnya Ruby tidak berteriak karena merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. matanya pun mulai terpejam, bunda yang tadi terlihat panik, mulai bisa bernafas dengan lega.
"Apa Ruby baik-baik saja Dok," tanya bunda dengan harap harap cemas.
"Ruby akan baik-baik saja bila tidak di paksa untuk mengingat hal apapun, " terang dokter dengan serius.
"Jadi jangan sampai ada orang yang malah membuat nya harus mengingat masa lalunya.
karena akan berakibat fatal bagi nya," penjelasan dokter kini membuat bunda semakin sedih.
"Kita pindah yah, jauh dari sini," ucap bunda dengan pandangan nya tetap ke Ruby yang tertidur.
"Kenapa Bun, haruskah kita pindah," tanya Ayah heran,
"Iya harus yah, karena anak itu pasti akan menganggu Ruby dan akan berusaha menemui anak kita," jelas bunda, dia tidak ingin melihat Ruby kesakitan seperti itu.
"Baiklah kita akan pindahkan Ruby, kita akan kembali ke kota kelahiran Ayah," ucap pak Nirwan dengan tersenyum. baginya di manapun tidak masalah, yang terpenting istrinya merasa nyaman.
"Besok kita pindah ya," ujar bunda dengan tersenyum, lebih cepat lebih baik bagi Ruby.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Bun... kenapa melamun?! Pak Nirwan menepuk bahu bunda dengan pelan, pasti istrinya sedang memikirkan sesuatu yang membuat nya sampai melamun seperti ini.
"Engga...engga kok yah," Bunda pergi begitu saja menuju kamarnya. bunda tidak ingin suaminya tahu bila dirinya memikirkan kejadian yang pernah Nessa alami semasa kecil yang membuat nya hilang ingatan sampai sekarang, makanya bunda dan ayah mengganti nama nya agar bisa melupakan peristiwa itu dan memberi kehidupan baru bagi Nessa.
Sampai suatu hari bunda berjumpa dengan ibunda Riyu di jalan dan mengajak nya untuk bicara, meski bunda enggan untuk menyetujuinya tapi bunda memberikan kesempatan untuk ibunda Riyu. dia bilang akan pergi dari kota dan akan menetap di negara lain agar Riyu tidak bisa menggangu Ruby lagi. bunda pun sebenarnya tidak enak hati, tapi saat Ruby dan Riyu dekat, Ruby terus merasakan sakit di kepalanya, cara satu-satunya yaitu memisahkan keduanya.
"Ku harap kita tetap berteman ya," ucapnya dengan memeluk bunda untuk terakhir kalinya karena hari ini juga mereka akan berangkat dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.
"Ya, maaf aku sudah emosional," ucap bunda dengan tersenyum.
"Ya, semoga Ness...sa bahagia," ucap ibunda Riyu dengan sedikit terbata saat memanggil nama baru Ruby.
"Buuuuuuuun..." Pak Nirwan sedikit kesal karena merasa terabaikan oleh istrinya yang asyik dengan lamunannya.
"Eh...iya yah kenapa," tanya bunda yang seolah tidak mengerti dengan sikap suaminya.
"Jalan yoook, ke mall...," ajak pak Nirwan akhirnya, sudah lama juga tidak healing sama istrinya karena kesibukan masing-masing.
"Hmm... mau ngapain ke mall?! tanya bunda dengan tersenyum kecil melihat suaminya yang tidak mengenal usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Nyusul Anak kita lah, yoook...," tanpa berpikir panjang pak Nirwan menggandeng tangan bunda menuju mobil.
DI MALL...
"Gue mau ituuu...," Nessa menunjukkan suatu toko food court yang di dalamnya sedang diadakan demo masak, dan yang sedang dibuatnya adalah berbagai jenis donat dengan berbagai toping di dalamnya.
"Ayooo kesana...," Yoga juga penasaran dengan apa yang sedang dilakukan di sana. begitu banyak orang yang menyaksikan acara itu, sehingga membuat Yoga harus ekstra hati-hati dalam menjaga Nessa yang sedang hamil muda. jangan sampai Nessa terjatuh ataupun tersenggol oleh orang lain.
"Hati-hati...," Yoga menarik Nessa agar tidak tertabrak orang yang menyerobot masuk antrian.
"Terima kasih," Nessa menatap Yoga dengan intens karena posisinya yang begitu dekat,
"Ma...maaf," Yoga melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang tangan Nessa.
"Ya... gak papa," ucap Nessa dengan canggung, entah apa yang di rasakan nya saat ini.
"Ituuu....
Nessa menyipitkan matanya, sepertinya ada yang dia lihat meski itu samar samar. namun dia hafal sekali perawakan orang itu, seperti Randy suaminya, dengan...
"SELVY...
"OH, hebat ya kalian, sudah berani muncul di depan umum," batin Nessa, Nessa mengikuti pasangan itu yang tampak mesra dengan saling bergandengan tangan.
"Hei Ness, mau kemana," Yoga yang tidak tahu kalau Nessa sedang mengikuti suaminya, terpaksa mengikuti langkah Nessa yang tergesa-gesa.
"Sampai kapan mau di sembunyikan," Yoga sudah ada di hadapannya, menghalangi pandangan Nessa.
"Sampai anak ini lahir...," ucapnya, kini Nessa yang menatap Yoga.
"Izinkan aku membantumu," pinta Yoga dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Nessa.
"Tentu saja...
Happy reading 😍
aku mampir kesini thor dan langsung favorit dong... ❤❤