Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisy Arbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal Kamu Bahagia
"Jangan ketakutan seperti itu. Aku bukan penjahat. Kamu mau tahu sekarang atau esok hari?" Fathan berusaha memberikan penawaran. Wajah ketakutan Sashi terlihat semakin cantik.
"Sekarang!" Sashi benar-benar tidak sabar dengan apa yang disembunyikan suaminya.
"Kalau begitu, ambil buku nikahnya sekarang," ucap Fathan dengan lembut.
Sashi mencari keberadaan tasnya. Semula yang dia letakkan di atas nakas kamar hotel, beralih ke bawah ranjang.
"Eh, kenapa tasnya berpindah tempat?"
"Suamimu yang memindahkannya."
"Mengapa?"
"Aku takut saja kalau kamu langsung membuka buku nikahnya."
Sashi dengan perasaan yang tak menentu mengambil dua buku nikahnya. Warna hijau dan merah.
"Buka halaman pertama buku nikah warna hijau," perintah Fathan.
Di lembar pertama, Sashi menemukan selembar foto kopi KTP milik suaminya.
"Apa maksudnya ini?" Sashi benar-benar tidak tahu dengan teka-tekinya.
"Bacalah!"
Sashi membaca detail foto kopi KTP itu kemudian terhenti ketika membaca status perkawinannya yang ternyata belum kawin. Sashi menelisik wajah suaminya. Adakah kebohongan di sana?
Dari KTP yang dibacanya, Fathan Auriga memang pria kelahiran Turki sekitar 40 tahun yang lalu. Namun, mengenai status perkawinannya agak janggal sekali. Harusnya kalau memang dia ditinggal istrinya meninggal, status perkawinannya tertulis cerai mati. Atau mungkin bercerai di pengadilan sehingga statusnya berubah menjadi cerai hidup. Tetapi, ini sungguh di luar nalar Sashi.
"Maksudnya ini apa, Mas? Kamu bilang kalau kamu itu duda. Lalu, mengapa KTP-mu masih seperti ini? Ataukah ini caramu untuk mengelabuhi beberapa wanita agar tertarik padamu?"
Fathan tersenyum. "Aku dan kamu itu sama, Sashi. Aku duda karena terjebak dengan pernikahan siri dengan wanita yang tidak pernah kuinginkan."
Sashi menggeleng. "Jujur, aku masih tidak mengerti apa maksud ucapanmu, Mas."
"Pernikahan pertamaku karena aku dijebak seorang wanita. Namun, aku hanya menikah secara siri karena aku tahu bagaimana ribetnya pernikahan secara sah. Setelah aku tahu bahwa ini hanya permainannya, maka aku berinisiatif menceraikan dirinya. Dia hamil, tetapi bukan anakku. Dia hanya butuh kedudukan sebagai seorang istri. Dia berkhianat."
"Berkhianat yang bagaimana, Mas?"
"Istri siriku itu menikah denganku hanya untuk melancarkan hubungan dengan kekasihnya. Itulah sebabnya aku benar-benar terluka. Padahal sejak awal kalau dia bisa bersikap baik, aku akan menjadikannya istri sah. Menurutku pernikahan bukan permainan, tetapi dia yang lebih dulu mempermainkannya."
Sashi rasanya lega sekali. "Jadi, maksud Mas kita sama-sama pernah terjebak dalam pernikahan siri itu. Jadi, Mas juga belum pernah--"
"Tidak, Sashi. Aku tidak pernah menyentuh siapapun. Kamu yang pertama bagiku. Itulah mengapa aku selalu menunggumu. Biarkan waktu yang menjawab semua usaha dan doaku sepanjang waktu."
Sashi berkaca-kaca. Inikah buah kesabarannya setelah ujian pernikahan sirinya beberapa bulan yang lalu?
"Lalu, bagaimana bisa Mas membuat undangan tanpa disadari seluruh karyawan."
"Hemm, itu karena kebiasaan mereka menyebut nama panggilanmu saja. Kurasa itu bukan masalah. Hanya karyawanku saja yang suka lupa. Tetapi tidak denganku. Aku selalu mengingat namamu dalam setiap doaku. Kemarilah, istriku." Fathan merentangkan tangannya. Inilah kenyataan yang sesungguhnya. Fathan bisa memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Walaupun perbedaan usianya cukup lumayan jauh, tak membuat Fathan merasa kaku menghadapi istrinya.
"Kisah kita cukup rumit ya, Mas," ucap Sashi yang masih berada di pelukan suaminya.
"Tidak. Justru Allah mempertemukan kita di saat yang tepat. Kalau kamu tidak bekerja di perusahaanku, mana mungkin aku bisa mengenalmu."
Sashi merasa tentram dan damai sekali berada di pelukan suaminya saat ini. Menyadari dirinya terlalu terbuai, akhirnya Sashi mendorong dada bidang suaminya yang masih berbalut kemeja lain yang baru saja dipakainya.
"Kenapa mendorong suamimu seperti itu?" protes Fathan.
"Aku malu, Mas. Mas sudah memberikan semua kebahagiaan untukku, tetapi aku belum pernah sama sekali membahagiakanmu."
Fathan tersenyum. Di usianya yang sudah kepala empat ini baru mendapatkan jodohnya dengan benar versinya. Dia sangat bersyukur karena mendapatkan Sashi. Wanita muda, cekatan, mandiri, dan sangat berdedikasi di dalam pekerjaannya.
"Perlahan kamu akan memberikan kebahagiaan untuk suamimu ini, Sashi. Oh ya, bagaimana rencanamu ke depannya? Apakah kamu akan bekerja di perusahaan atau menjadi ibu rumah tangga saja?"
Deg!
Sashi hampir lupa. Sebagai karyawan perusahaan suaminya, dia belum mengajukan surat resign apabila dia memutuskan untuk berhenti bekerja.
"Menurut Mas, bagaimana?"
"Jadilah ibu rumah tangga saja. Aku yang akan bekerja. Aku ingin seperti kebanyakan orang-orang yang diperlakukan manis oleh istrinya," jelas Fathan.
Kini Sashi yang bingung. Kalaupun dia menjadi ibu rumah tangga, dia akan pulang ke rumah suaminya atau rumahnya sendiri? Kalau sampai suaminya memutuskan untuk tinggal di rumahnya, bagaimana dengan rumah peninggalan orang tuanya yang sudah bisa dipastikan akan kosong?
"Tapi, aku belum resign dari perusahaan. Bagaimana?" tanya Sashi. Semenjak keduanya terlibat hubungan yang cukup dekat, panggilan mereka berubah menjadi aku-kamu.
"Aku akan memecatmu secara terhormat, bagaimana Nyonya Sashi?" canda Fathan membuat Sashi tersenyum malu.
"Caranya?"
Pada umumnya memecat dengan tidak hormat kan sudah jelas kalau atasannya yang memecat secara sepihak. Lalu, bagaimana kalau suaminya memecat istrinya dengan cara terhormat?
"Kita akan adakan syukuran di perusahaan. Kamu bisa memesan tumpeng atau prasmanan. Terserah kamu saja."
"Mas paham tumpengan juga?" tanya Sashi penasaran.
"Ibuku orang Indonesia asli, Sashi. Jelas saja sedikit banyak aku tahu seperti apa seharusnya."
Sashi tersenyum puas. Rupanya selama ini yang menjadikan penasaran tentang mengapa suaminya menduda sudah terjawab dengan jelas. Kini saatnya Sashi hidup berbahagia bersama pria yang hari ini baru saja mengucapkan ijab qobul untuknya. Sashi berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik.
"Baiklah, jadi apa keputusanmu, Mas? Mau tumpengan atau prasmanan saja?"
"Kan sudah kubilang terserah kamu. Mengapa diulang lagi?" balas Fathan.
"Hanya menentukan suara terbanyak saja. Kurasa lebih enak prasmanan. Mereka bisa leluasa untuk menentukan makanan apa yang masuk ke piringnya. Kalau tumpengan, jelas mereka akan berebut. Kasihan yang pemalu kayak aku, Mas." Kalau disuruh berebut seperti itu, Sashi pilih mundur saja. Yang ada, dia hanya capek berdiam diri di antara orang-orang yang sedang berebut tumpeng.
"Baiklah, Nyonya Auriga. Semua sudah kuserahkan padamu."
"Mas, boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Hemm."
"Setelah dari hotel, kita akan pulang ke mana?"
"Kamu maunya ke mana?"
Sebenarnya Sashi ingin mengajak suaminya itu pulang ke rumahnya, tetapi dia merasa kalau suaminya tidak akan nyaman berada di sana.
"Ke rumahku, bagaimana?"
"Boleh. Ke manapun asal kamu bahagia."
"Tapi, aku takut kalau kamu tidak nyaman. Rumahku kecil, tidak seperti rumahmu, Mas."
"Jangan seperti itu. Rumahmu bagus dan nyaman. Aku pasti betah berada di sana."
"Terima kasih, Mas."
Sashi sangat bersyukur sekali memiliki suami seperti Fathan. Dukanya selama ini terbayar sudah ketika mendapatkan pria yang baik seperti Fathan.
...🪴🪴🪴...
Yuk mampir karya keren Author Kirana Pramudya. jangan lupa tinggalkan jejaknya