Membaca novel ini bisa menyebabkan baper akut, kesel, geregetan, emosi tingkat tinggi, juga sedih karena mengandung banyak bawang yang juga bikin nyesek. Yang lemah hati lebih baik menyingkir. Takutnya nggak akan kuat. Tapi semua akan edan pada waktunya, eh salah, maksudnya akan manis pada waktunya. Jadi, bijaklah dalam memilih bacaan.
Ini adalah season kedua dari novel 'SUGAR'. Kini cerita beralih pada keturunan mereka, Dygta Hanindiita.
Dygta berusaha keras meredam perasaannya kepada Arfan, asisten dari ayah, sambungnya, sekaligus sahabat ibunya.
Usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat segalanya terasa semakin sulit. Terlebih lagi, status Arfan yang sudah beristri dan memiliki satu anak balita.
Namun tugas Arfan yang diberi tanggung jawab penuh oleh Satria untuk menjaga Dygta hingga gadis itu beranjak dewasa, membuat mereka berdua semakin dekat.
Keadaan istrinya yang koma pun menambah segalanya menjadi semakin rumit.
"Jangan gila Arfan! dia sudah seperti anakmu sendiri!"
follow author di
ig @tiyanapratama
fb FitTri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan
*
*
Arfan memutuskan untuk segera pergi begitu Dimitri turun dari mobilnya. Dia hanya melirik sekilas, tampak mobil putih milik Sofia terparkir di halaman rumah. Yang artinya Dygta juga sudah pulang dari rumah sakit sore itu.
Sebenarnya dia ingin masuk kesana dan melihat keadaan Dygta, namun Arfan mengurungkan niatnya, tahu sesuatu hal yang lain telah terjadi pada perasaan mereka berdua. Alarm di kepalanya terus berbunyi nyaring memperingatkan.
Pria itu terus mengingat-ingat keluarganya yang menunggu dirumah. Agar tak terbawa perasaan yang membingungkan ini.
Tidak seharusnya perasaan ini ada, Arfan!
Atau mungkin ini sementara, hanya karena terkejut dan ...
Ah, ...membingungkan!
Batinnya bermonolog.
***
Amara menyambutnya diambang pintu saat dia tiba pada petang hari. Lalu berlari menghampiri sang ayah yang baru saja turun dari mobilnya.
Arfan segera memangku tubuh kecil putrinya kemudian membawanya masuk kedalam.
"Ara sudah mandi?" tanya Arfan, yang menciumi puncak kepala Amara. Menghirup aroma khas balita yang sangat dia sukai.
"Udah." jawab gadis kecil itu yang melingkarkan kedua tangan pada leher ayahnya.
"Sudah makan?" tanya Arfan lagi, seraya menganggukkan kepala kepada beberapa orang pegawai rumah yang berpapasan dengannya.
"Udah." Amara mengangguk.
"Oke." dia menaiki tangga kelantai dua rumahnya, kemudian menuju kamar Mytha untuk melihat keadaan perempuan itu seperti biasa.
"Mama!" bisik Amara.
Arfan segera mendekat, menatap istrinya yang masih saja belum sadarkan diri.
Tak seperti biasanya, Arfan mendudukkan Amara di sisi ranjang dekat Mytha. Lalu membiarkan putrinya itu melihat ibunya berlama-lama. Dia bahkan mebiarkan gadis kecil itu mendekat.
"Mama bobo telus?" ucap Amara yang menatap sang ibu dengan raut bingung.
"Mama belum mau bangun." sahut Arfan seraya menarik kursi di belakangnya, lalu duduk bersandar.
Amara terdiam sebentar, lalu dia lebih mendekat lagi kepada ibunya.
"Mama, ... bangun." bisik Amara di telinga Mytha. Dia menyentuh pipi perempuan itu yang semakin tirus.
Arfan membiarkan saja apa yang dilakukan anak perempuannya.
"Mama, ... bangun. Ayo main?" bisik Amara lagi. Walupun orang yang dimaksud tetap tak bereaksi. Hanya helaan napas pelan yang terdengar. Juga suara alat-alat penopang hidupnya yang terus menyala di samping tempat tidur.
"Mama? ..." panggil Amara lagi.
"Kamu dengar itu?" Arfan mencondongkan tubuhnya ke arah Mytha. "Tidak mungkin kamu tidak mendengarnya, kan?" katanya kepada Mytha.
Amara mendongak.
"Jika kamu tidak ingin bangun untuk aku, maka bangunlah untuk Ara. Dia sangat membutuhkanmu." lanjut Arfan.
Tanpa diduga sesuatu terjadi pada Mytha. Satu jari tangannya terlihat berkedut.
Arfan terhenyak.
"Kamu dengar?" dia bangkit lalu mendekat.
Jari tangan Mytha berkedut lagi, merespon perkataan suaminya.
"Lakukan lagi jika kamu benar mendengar kami. " ucap Arfan lagi.
Dengan perlahan tapi pasti, jari-jaru Mytha berkedut lalu sedikit terangkat.
Arfan membulatkan mata, lalu meraih ponselnya untuk melakukan panggilan telefon.
****
Dokter langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh. Denyut nadi, detak jantung dan memeriksa organ vital lainnya. Menyorotkan senter kecil pada kedua bola mata Mytha yang pupilnya membesar dan mengecil dengan cepat.
"Kondisinya stabil, denyut nadi dan detak jantungnya pun meningkat. Tekanan darahnya pun sedikit naik." dokter menatap monitor di sisi kiri tempat tidur. Lalu menuliskan sesuatu di buku catatannya.
"Apa dia mulai sadar?" tanya Arfan.
"Jika dia merespon ketika diajak bicara, mungkin saja dia sudah mulai sadar." jawab dokter.
"Seperti yang saya katakan tadi, dia menggerakkan tangannya setelah Amara bicara." jelas Arfan, menunjuk tangan Mytha di sisi kiri tubuhnya.
Dokter mendongak. "Mungkin suara anaknya berpengaruh pada ingatannya. Apa selama ini anda tidak pernah membiarkan anaknya mendekat?" dia bertanya.
"Sesekali. Tapi setelah insiden pencabutan slang oksigen itu, saya jarang membiarkan Amara mendekati ibunya." Arfan mengingat kejadian enam bulan yang lalu ketika tanpa diketahui, putrinya yang lepas dari pengawasan Sandra menyelinap sendirian kedalam kamar, lalu menarik slang oksigen yang tersambung pada hidung Mytha dan membuat istrinya itu hampir gagal napas dan kehilangan nyawa.
Dan dengan polosnya, Amara berkata sambil menangis jika dia kasihan kepada ibunya karena diperlakukan seperti itu.
Dokter terdiam.
"Apa mungkin dia perlu sering berinteraksi dengan Amara?" ucap Arfan kemudian.
"Sepertinya patut dicoba. Mungkin akan berhasil. Walaupun percobaan dulu tidak berhasil, mungkin kali ini akan berbeda." jawab dokter.
"Baiklah." Arfan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau begitu saya pamit. Anda tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi sesuatu lagi." dokter membereskan peralatan medisnya, lalu pergi setelah memastikan segalanya dalam keadaan baik.
***
Arfan menyandarkan tubuhnya pada pintu yang tertutup rapat setelah sebelumnya membersihkan diri di kamarnya. Dia menatap Mytha yang masih memejamkan mata, lalu mendekat.
"Cepatlah bangun jika memang kamu akan bangun. Jangan membuat kami menunggu lebih lama lagi." katanya, lirih.
Dia terus memperhatikan Mytha yang kali ini tak merespon.
Klek!
Pintu dibuka dari luar. Kepala Sandra menyembul, diikuti Amara yang langsung mendorong benda tersebut hingga terbuka lebar.
"Mama bangun!" Amara berteriak sambil berlari ke arah tempat tidur, lalu naik dan menghampiri ibunya.
"Maaf pak, Ara terus memaksa ingin masuk." Sandra dengan takut-takut, dirinya masih ingat enam bulan yang lalu ketika Amara lepas dari pengawasannya, dan hampir melakukan hal yang sangat fatal.
Masih jelas di ingatannya saat majikannya itu melupakan kemarahannya. Dia bahkan terkena tamparan keras di pipinya karena telah lalai.
"Tidak apa-apa. biarkan saja." ucap Arfan, tanpa diduga.
Sandra terkejut dengan reaksi majikannya.
"Mm ...
"Istirahatlah, sudah malam. Biar Ara dengan saya." Arfan berujar, setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 21.30 malam.
"Ba-baik, pak. Permisi." Sandra berpamitan.
Arfan menganggukan kepala, lalu perempuan itu berjalan keluar dan menutup pintu.
"Papa, ... mama bangun?" Amara mendongak, menatap wajah Arfan dengan matanya yang bening tertimpa cahaya lampu dari langit-langit kamar.
"Belum sayang." jawab Arfan, dia juga mendekat.
"Belum?" bocah itu mengerutkan dahi.
Arfan menggeleng. Dia teringat kata-kata dokter tentang interaksi antara Amara dengan ibunya mungkin dapat membuat perempuan itu cepat tersadar dari koma nya.
"Ara mau bobo sama mama?" ucapnya kemudian.
"Humm?" mata Amara membulat. "Bobo sama mama?" katanya.
Arfan kemudian mengangguk.
"Mau mau mau!" teriak bocah itu dengan girang.
Arfan tersenyum melihat keriangan putri kecilnya. Dia memang jarang dibiarkan tidur dengan ibunya, dan hanya bisa dihitung dengan jari sejak lahir. Maka hal yang terjadi kali ini merupakan hal istimewa bagi anak itu.
"Baiklah, kita bereskan sebelah sini... " Arfan mulai membenahi sisi lain tempat tidur Mytha untuk dirinya dan Amara berbaring.
Mengambil bantal dan selimut baru dari dalam lemari, lalu meletakkannya di samping Mytha.
Mereka berdua mulai merebahkan diri di samping Mytha, dengan posisi Amara di tengah. Tetap dalam pelukannya, lalu celotehan pun segera keluar dari mulut gadis kecil itu. Dia bercerita tentang segala hal yang dilakukannya seharian bersama Sandra, atau pegawai lainnya di rumah itu. Yang sesekali ditanggapi Arfan dengan antusias dan diselingi dengan candaan khasnya. Membuat mereka berdua tertawa riang bersama. Juga membuat suasana di dalam kamar itu menjadi menghangat.
Dan tanpa mereka sadari gerakan-geraka kecil terjadi pada tubuh Mytha, yang dalam ketidaksadarannya mendengar suara-suara yang paling dia kenal dan paling sering dia dengar selama ini.
*
*
*
Bersambung...
oke readers, ... jangan lupa untuk selalu kasih jempol dan tinggalkan jejak ya biar novel ini makin naik ke permukaan. Kalau ada, kirim hadiah biar aku makin semangat nulisnya, tapi kalau ngga, ya jangan maksa... hahah... kalian tetap yang terbaik kok.
oia, kalau mau bantu promosi juga boleh banget kok. Di share di gc yang kalian ikuti, atau di up di media sosial kalian biar lebih banyak yang baca. oke?
i love you full😘😘😘
Mau mulung recehan dulu buat buka puasa nya bocah kesayangan..😁😁😁