Mengisahkan tentang seorang kakak yang memendam perasaannya terhadap adiknya.
Seorang Ma Jiaqi pemuda pendiam, yang menyimpan rasa cintanya terhadap sang adik selama lebih dari sepuluh tahun. Perasaan itu seakan terus tumbuh seiring berjalannya waktu yang selama itu juga menyebabkan dirinya harus melewati rasa sakit yang Ia pendam.
"Apa benar bahwa kakak menyukaiku?"
"Maafkan kakak."
"JAWAB PERTANYAANKU!" Teriak Wati saat mengetahui semua fakta.
Sehingga ... pada suatu hari sang adik mengetahui tentang perasaannya. Jawaban apa yang akan sang kakak berikan? Apakah Jiaqi akan memberitahu tentang perasaannya? Atau bahkan sebaliknya?
Juga beberapa dari sahabatnya yang mengalami permasalahan CINTA yang mereka lalui.
"Pergilah dari hadapanku! Aku tak butuh kau berada di kehidupanku."
"Dewi sebegitu benci kah kamu terhadapku?"
"Ben j-jangan terlalu kasar! Ini sa-sakit."
"M-maaf aku terbawa suasana."
Penasaran? Yuk ikuti terus cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wati Charoline H., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Mereka.
Episode sebelumnya.
"Berhenti!!!"
Dewi dan Whidie berhenti saat suara Menik menyuruhnya untuk berhenti. "Ada apa nik ...?" tanya Dewi.
"Terimakasih, sudah mau mengerjakan tugas sekolah ku."
"Tidak apa-apa, lagian kau kan sibuk."
Menik hanya tersenyum getir. 'Maafin aku.'
***
Mereka pun akhirnya menuju gerbang sekolah, namun tiba-tiba suara Ivander terdengar memanggil. "Sayang."
Mereka bertiga pun menoleh dan saling pandang satu sama lain. 'Aduh ... ngapain sih si ketoprak basah itu manggil sayang pas ada teman-teman ku,' batin Whidie. Ia meng-geplak jidatnya pelan.
"Dia manggil sayang ke siapa?" ucap Menik yang melihat ke arah Ivander yang tengah melambaikan tangan.
Dewi hanya diam tanpa bersuara mengabaikan Pertanyaan Menik, ia tau siapa yang laki-laki itu maksudkan. Dewi melirik ke arah Whidie yang terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sayang, yuk!!!" Ivander telah tiba di depan ketiga gadis itu dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
Menik mengernyitkan keningnya bingung. "Kamu manggil sayang ke siapa?"
"Aku manggil ke Whid- emmm...," Whidie segera menutup mulut Ivander dengan tangannya, "Emm ... hehehe aku pulang duluan ya, babay," Whidie segera menarik tangan Ivander agar menjauh dari tempat itu.
Menik si mata terbuka kaya laler itu hanya menatap kepergian sahabatnya bingung. "Mereka ada hubungan apa sih? Kok mereka udah kaya akrab banget, bukannya tuh hari saling mengumpat?" ujar Menik dengan celotehnya.
Yang mendengar celotehan sahabatnya hanya diam tanpa berniat mengeluarkan suara. Menik menoleh ke arah Dewi yang tidak merespon ucapannya. "Dew ... kok diam? Aku lagi bertanya loh!"
"Aku harus jawab apa nik, aku juga gak tau hubungan antara mereka apa," jawab Dewi yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, "Nih ...," imbuhnya lagi dan memberikan sebungkus roti untuk Menik.
"Roti ...?"
Dewi mengangguk. "Aku tau saat siang kamu sering sekali melewatkan makan siang kan? Jadi aku ingin memberikan roti itu untuk kamu makan nanti."
Menik yang menatap Dewi sekarang beralih menatap roti isian strawberry yang di berikan oleh Dewi padanya. Memang benar, ia sering sekali melewatkan kesempatan waktu makan siangnya lantaran kekangan dari kedua orangtuanya yang menyuruhnya untuk menjadi yang terbaik hingga membuatnya menjadi lupa akan kesehatannya.
Menik tersenyum melihat roti yang di berikan oleh sahabatnya, ia sungguh bersyukur bisa mendapatkan sahabat yang selalu memperhatikannya meskipun Dewi terlihat dingin dan acuh.
"Makasih Dewi," ucapnya lirih.
Dewi lagi lagi terdiam, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain hingga suara klakson mobil terdengar di arah samping mereka.
Tet... tet...
"Aku duluan ya," ucap Dewi yang diangguki oleh Menik. Ia pun meninggalkan tempat itu karena Yoonikha telah menjemputnya.
Menik menatap mobil yang telah menjauh itu. Lalu kembali melirik roti yang ia pegang dan segera meletakkannya di dalam tasnya
"Iya kak aku tunggu di luar gerbang ini, iya iya bawel deh."
Menik menoleh ke arah sumber suara di sampingnya. Ia tersenyum saat tau siapa orang itu. 'Itukan adiknya kak Jiaqi.'
Ia mencoba menghampiri Wati yang telah menutup panggilan ponselnya. "Hai ...."
Yang di sapa menoleh dan mengeluarkan senyumannya. "Hai ... Menik?"
"Iya aku Menik," ucap Menik. dirinya tersenyum ternyata Wati tidak melupakan namanya.
"Kamu lagi nunggu jemputan?" tanya Wati yang menatap Menik.
"I-iya ak-aku lagi nunggu jemputan," ucapnya dengan gugup.
Wati hanya mengangguk lalu tersenyum. "Kalau gitu selagi nunggu jemputan kamu datang, aku temani kamu aja di sini sekalian aku juga lagi nunggu kakak ku."
Menik tersenyum. "I-iya."
Wati terkekeh. "Kenapa gugup gitu sih, kaya ketemu artis cantik aja."
Mereka berdua pun akhirnya tertawa hingga Menik tidak menyadari bahwa Ben telah berada di sampingnya. Wati yang menyadari hal itu langsung bertanya pada Menik.
"Nik, pacarmu udah datang tuh."
Menik yang tidak paham maksud Wati hanya menatapnya bingung. "Maksud kamu ...?"
Ehem ...
Menik yang mendengar suara deheman seseorang langsung menoleh, dan betapa kagetnya ia sampai tak mengedipkan matanya.
"Yuk pulang ...!" ucap orang itu yang tak lain adalah Ben.
Menik menunduk menatap ke arah bawah, matanya nampak terlihat berkaca-kaca. Wati yang menyadari hal itu langsung menepuk pundaknya pelan. "Kamu tidak apa-apa?"
"Dek ...?" Jiaqi yang kebetulan baru tiba di tempat mereka menambah rasa ketakutan Menik.
Wati menoleh ke arah Jiaqi. "Kakak."
"Kamu ngapain sama dia," ucap Jiaqi dan melirik laki-laki di sampingnya.
"Jadi kamu yang bernama Jiaqi?" ucap Ben dengan mata menyipit.
Jiaqi menatap ke arah laki-laki di depannya dengan tatapan bertanya. "Kok anda tau nama saya?"
Ben tersenyum meremehkan yang membuat Jiaqi tambah menyipitkan matanya heran.
"Ayo kita pulang," ucap Menik yang langsung menyeret kasar lengan Ben seraya menjauh dari kedua kakak beradik itu.
Ben hanya mengangguk. "Calon istri yang baik."
Sebelum mereka memasuki mobil, Ben membalikkan badannya untuk menatap Jiaqi yang juga menatap ke arahnya lalu menyunggingkan senyum tipis.
Saat mobil itu telah tak terlihat Wati menatap sang kakak seraya berucap. "Orang itu kenal ya sama kakak? Kok dia bisa tau nama kakak?"
Jiaqi menggeleng pelan. "Kakak juga gak tau! Yaudah sebaiknya kita pulang," sahut Jiaqi dan meraih tangan Wati karena mobil jemputannya telah sampai.
Bersambung.
Mohon maaf, ijin promo ya thor. Ada suka cerita perang epik dng MC yg punya bnyk pasukan..mampir yuk di novel sy " penguasa dua benua" moga suka..
semangat semoga dengan sedikit kritikan bisa memotivasi penulis untuk menjadikan karya yg lebih baik.. aminn
1. akhirnya wati tau klo jiaqi bukan kakak kandungnya.
2. sera sama tony akhirnya pisah.
3. dewi meninggoy, cowoknya jadi sad boy.
4. menik mencoba menerima ben.
5. whidie nikah sama cowoknya.
btw berarti yg happy ending cma si whidie dong yg lainnya sad ending and open ending 😭😖
paling menarik peehatian kata2 patkay coklat, masa upil disamakan sm cinta 🤣🤣🤣