NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Bencana Bernama Pesantren

​Udara di ruang tengah kediaman keluarga Kyai Hasyim terasa lebih padat dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang rusak, melainkan karena ketegangan yang memancar dari sosok gadis muda yang kini berdiri dengan tangan bersedekap di dada.

​Aadila Akerina Jeniha, gadis berusia 20 tahun itu, menatap kedua orang tuanya dengan pandangan horor, seolah baru saja dijatuhi vonis hukuman mati. Kulit putih bersihnya yang biasanya merona karena tawa, kini memucat karena syok.

​"Abi, Umi... pokoknya Jeni nggak mau masuk ke pesantren! Big no!" serunya histeris. Suaranya memantul di dinding ruang tamu yang dihiasi kaligrafi indah. "Jeni masih muda! Masa depan Jeni masih panjang! Kenapa harus dikurung di sana?"

​Di sofa seberang, Umi Laila menghela napas panjang. Wanita paruh baya yang masih menyisakan guratan kecantikan masa muda itu menatap putrinya dengan sorot mata tegas, namun penuh kasih.

​"Jangan menolak lagi, Dila," jawab Umi Laila, suaranya tenang namun menghunus tajam.

​Mata gadis itu membola, protesnya beralih topik seketika. "Jeni bukan Dila, Umi! Yang keren dong panggilnya. Jeni. J-E-N-I," ralatnya dengan nada absurd yang sudah menjadi ciri khasnya. Di tengah situasi genting pun, dia masih sempat mempermasalahkan nama panggilan.

​Umi Laila memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Adila Akerina Jeniha. Tetap saja ada Dila-nya," sahut Umi, pening melihat tingkah laku putri bungsunya.

​Dari ketiga anaknya, memang hanya Aadila—atau Jeni, sebagaimana ia bersikeras dipanggil—yang memiliki "kelainan" genetik dalam hal kepribadian. Kedua kakaknya tumbuh menjadi sosok pendiam, tawadhu, dan kini telah menjadi ulama muda lulusan Universitas di Madinah. Sementara Jeni? Dia seperti petasan kembang api yang meledak sembarangan. Indah, tapi berisik.

​"Dengar Umi, Nak," Umi Laila mencoba pendekatan diplomatis. "Kedua kakakmu sudah menyelesaikan studi agamanya di Saudi. Sekarang giliran kamu. Umi tidak akan memaksa kamu pergi jauh seperti kakak-kakakmu. Cukup belajar agama di pesantren yang ada di Indonesia. Itu saja permintaan Umi."

​Jeni menggeleng kuat-kuat. Bayangan harus bangun jam 3 pagi, antre mandi, dan makan dengan lauk seadanya membuatnya merinding. Dia menoleh ke arah sosok laki-laki paruh baya yang baru saja melipat sajadah dan meletakkan mushaf Al-Qur’an di atas meja.

​"Abiiii, tolongin dong, Bi..." rengek Jeni, kali ini menggunakan jurus andalan: puppy eyes. Dia bersimpuh di dekat kaki Abinya, memegang ujung koko putih yang dikenakan sang ayah. "Abi tega lihat Jeni menderita? Jeni kan princess-nya Abi."

​Abi Hasyim tersenyum tipis. Wajahnya teduh, memancarkan wibawa dan kesabaran yang tak terbatas. Beliau menatap putri bungsunya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa sayang dan ketegasan yang tak terbantahkan. Tangan kekarnya terulur, membelai lembut kepala Jeni yang tertutup jilbab instan berwarna pastel.

​"Nak, dengarkan Abi," suaranya lembut, namun getarannya menyentuh hati. "Usia Abi dan Umi sudah tidak muda lagi, Nak. Rambut Abi sudah memutih, tenaga Umi sudah tidak sekuat dulu."

​Jeni terdiam, tenggorokannya tercekat mendengar nada suara itu.

​"Nanti, jika kami tiada... kami tidak butuh harta dari kamu. Kami butuh doa dari anak yang sholehah. Doa dari kamu dan saudara-saudaramu yang akan menjadi penerang kubur kami," lanjut Abi, matanya berkaca-kaca menatap manik mata putrinya. "Ini demi kebaikanmu juga, Jeni. Agar kelak kamu bisa menyelamatkan kami di akhirat."

​Pertahanan Jeni runtuh seketika. Dinding keegoisannya hancur lebur oleh kalimat sederhana tentang kematian itu. Jeni memang jahil, absurd, dan sedikit pembangkang, tapi dia sangat mencintai kedua orang tuanya. Membayangkan Abi dan Umi tiada saja sudah membuat dadanya sesak.

​Gadis itu menunduk, memainkan ujung karpet dengan jari telunjuknya. "Oke..." cicitnya pelan, hampir tak terdengar. "Abi selalu bisa buat a-aku berhenti menolak."

​Abi tersenyum lebar, menepuk bahu putrinya bangga. "Alhamdulillah. Besok Abi dan Umi akan antarkan kamu ke Boarding School dekat pesantren teman Abi. Itu pesantren modern, fasilitasnya bagus. Sekarang kamu istirahat, biar Abi siapkan dokumennya."

​Jeni mengangguk lemah. Dengan langkah gontai seberat ton timah, ia berjalan menyeret kakinya menuju kamar.

​Di dalam kamarnya yang bernuansa lilac, Jeni menghempaskan tubuh ke kasur empuk yang mungkin akan segera ia rindukan. Ia meraih ponsel pintar di nakas, mengetikkan panggilan grup video kepada dua sahabat sejatinya, Ria dan Alin.

​Layar ponsel menyala, menampilkan wajah Ria yang sedang memakai masker wajah dan Alin yang sedang mengunyah keripik.

​"Wihhh, tumben nih Tuan Putri nelpon malam-malam begini. Kangen ya?" ledek Ria, suaranya cempreng memecah kesunyian kamar Jeni.

​Jeni mendengus, memutar bola matanya. "Udah deh jangan bercanda. Serius ini, guys."

​Mendengar nada suara Jeni yang tidak seperti biasanya, kedua sahabatnya langsung diam. Alin berhenti mengunyah, Ria memperbaiki posisi duduknya.

​"Kenapa, Jen? Lo sakit?" tanya Alin khawatir.

​"Lebih parah dari sakit," Jeni menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. "Gue bakal ke pesantren besok. Fix, nggak bisa diganggu gugat. Dan itu artinya... kita gagal ngerayain ulang tahun gue yang ke-21 di pantai bulan depan."

​Hening sejenak. Lalu, tawa Alin meledak, diikuti oleh Ria.

​"Hahahaha! Sumpah demi apa?! Lo? Pesantren?" Alin tertawa sampai tersedak keripiknya. "Oh ayolah, kenapa sih bisa begitu? Orang se-absurd lo dimasukin ke tempat suci? Nggak banget, Jeni! Kasihan pesantrennya!"

​"Bener tuh! Lo di sana bakal ngapain? Ngajarin santriwati makeup?" timpal Ria, masih terkikik.

​Jeni cemberut, bibirnya manyun beberapa senti. "Mau gimana lagi, Lin, Ri... Jeni kan anak dari Ustadz. Dan anak Ustadz mana bisa hidup bebas kayak kita? Haha..." tawa Jeni terdengar hambar, sarkasme untuk nasibnya sendiri.

​"Udah ah, doain gue betah. Atau minimal, doain gue nggak diusir di hari pertama."

​Mereka mengobrol hingga larut malam, menghabiskan sisa kuota kebebasan Jeni sebelum fajar menyingsing dan mengubah takdirnya.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!