NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis / Tamat
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 32 Air Suci Himawari

Pagi itu aula utama kediaman Cenayang Wu dipenuhi cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela kayu besar. Sinar keemasan itu menerangi lantai aula yang luas, bercampur dengan aroma dupa dan bunga kering yang sudah lama menjadi bagian dari tempat tersebut.

Suasana biasanya tenang, namun pagi itu terasa berbeda. Para cenayang muda duduk rapi dengan wajah penuh rasa penasaran karena sejak subuh mereka dipanggil berkumpul tanpa penjelasan apa pun.

Di antara mereka, Arum duduk diam sambil memandangi bagian depan aula. Pikirannya masih dipenuhi banyak pertanyaan sejak kedatangan Yen malam sebelumnya. Ada sesuatu pada wanita itu yang membuat hatinya tidak tenang. Perasaan yang sulit dijelaskan, seolah kehadiran Yen membawa sesuatu yang besar dan berbahaya.

Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar memasuki aula. Seluruh bisikan langsung menghilang.

Cenayang Wu berjalan masuk dengan tenang, sementara Yen melangkah di sampingnya. Wanita itu tetap terlihat muda dan cantik, namun ada aura dingin yang membuat suasana ruangan terasa lebih berat. Tatapan matanya tenang, tetapi cukup tajam untuk membuat siapa pun menundukkan pandangan.

Cenayang Wu akhirnya berhenti di depan aula.

"Aku ingin mengenalkan seseorang pada kalian."

Suasana kembali hening.

Mulai hari itu, Yen diperkenalkan sebagai pengajar yang akan membimbing mereka dalam berbagai ilmu cenayang tingkat tinggi. Mendengar hal itu, para cenayang muda langsung saling bertukar pandang. Tidak semua orang mendapat kesempatan belajar langsung dari cenayang dengan kemampuan setinggi itu.

Namun perhatian mereka segera beralih saat Yen mengangkat sebuah botol kecil berwarna putih gading.

Botol itu tampak begitu indah di bawah cahaya matahari pagi. Ukiran naga kecil di bagian lehernya berkilau lembut, sementara cairan keemasan di dalamnya memantulkan cahaya seperti emas cair.

Untuk sesaat, seluruh aula terdiam.

Ada sesuatu yang memikat dari benda itu.

Sesuatu yang membuat semua mata sulit berpaling.

"Himawari."

Suara Yen terdengar tenang.

Arum ikut menatap botol itu tanpa berkedip. Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman. Benda itu terlihat indah, namun pada saat yang sama membuat bulu kuduknya meremang.

Semua mata langsung terpaku.

“Himawari,” katanya.

Nama itu terdengar ringan dari mulutnya, tapi tidak terasa ringan di telinga mereka.

Arum menegang tanpa sadar.

Benda itu… terlalu indah untuk sesuatu yang hanya disebut “air suci”.

“Tapi juga bisa menjadi racun.”

Suasana langsung berubah.

Salah satu cenayang muda berbisik pelan, “Racun?”

Yen mengangguk kecil.

“Bukan racun yang membunuh cepat.”

Kalimatnya pelan, tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih mengerikan.

“Melainkan yang merusak dari dalam.”

Arum menggigit bagian dalam bibirnya tanpa sadar. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak ia pahami. Setiap kata tentang Himawari seperti menempel di pikirannya.

Seakan benda itu tidak hanya tentang kekuatan.

Tapi tentang sesuatu yang lebih besar… yang belum waktunya ia tahu.

Yen menatap mereka lagi.

“Himawari akan mengikuti hati penggunanya.”

“Jika hati bersih… ia akan menyembuhkan.”

“Tapi jika hati penuh ambisi…” ia berhenti sebentar, “…ia akan menghancurkan pemiliknya pelan-pelan.”

Ruangan menjadi sangat hening.

Tidak ada yang berani bicara.

Cenayang Wu akhirnya menambahkan dengan suara berat, “Karena itu tidak semua orang boleh menyentuhnya.”

Arum menunduk sedikit, tapi pikirannya tidak berhenti bekerja.

Nama Himawari terasa asing, tapi di saat yang sama… seperti pernah ia dengar dalam mimpi yang tidak ia ingat jelas.

Yen menjelaskan bahwa Himawari bukan sekadar air suci biasa. Cairan itu mampu memperkuat energi, menstabilkan batin, dan membantu seorang cenayang mencapai tingkat yang lebih tinggi. Namun semakin lama ia berbicara, suasana aula justru terasa semakin dingin.

Karena Himawari juga bisa menjadi racun.

Bukan racun yang membunuh dalam sekejap.

Melainkan racun yang menghancurkan seseorang perlahan dari dalam.

Mendengar itu, beberapa cenayang langsung menelan ludah gugup.

Keindahan botol kecil tadi mendadak terasa menyeramkan.

Arum menggenggam jemarinya sendiri di atas pangkuan. Ia tidak tahu kenapa, tetapi setiap kali mendengar penjelasan tentang Himawari, bayangan Ravin terus muncul di kepalanya.

Seolah benda itu memiliki hubungan dengan sesuatu yang belum ia pahami.

Dan saat tatapan Yen berhenti tepat padanya selama beberapa detik, perasaan tidak nyaman itu semakin kuat.

Seakan wanita itu sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Di sisi lain, rumah keluarga Arum terasa jauh lebih sepi dibanding biasanya.

Tidak ada suara Arum yang membantu ibunya di dapur.

Tidak ada tawa gadis itu yang biasanya memenuhi halaman rumah.

Yang tersisa hanya kesunyian.

“Aku kangen dia…” katanya pelan, hampir seperti bisikan yang tidak ditujukan pada siapa pun.

Ayahnya yang duduk di dekatnya hanya menghela napas panjang. Ia tidak membantah, karena ia juga merasakan hal yang sama.

Namun ia tahu, memanggil Arum sekarang hanya akan membuatnya semakin sulit fokus.

Ketika nama Cenayang Yen disebut, wajahnya berubah sedikit lebih serius.

“Kalau dia sudah turun tangan,” katanya pelan, “berarti ini bukan latihan biasa.”

Ibu Arum duduk sambil melipat kain dengan gerakan lambat. Beberapa kali matanya melirik ke arah pintu depan tanpa sadar. Harapan kecil bahwa putrinya tiba-tiba pulang masih tersimpan di dalam hatinya.

Rasa rindu itu semakin sulit ditahan setiap hari.

Sebagai seorang ibu, ia tahu Arum sedang menjalani sesuatu yang penting.

Namun mengetahui dan menerima adalah dua hal yang berbeda.

Ayah Arum yang duduk di dekatnya hanya memperhatikan dalam diam. Ia juga merindukan putrinya, tetapi berusaha tetap tenang.

Ketika nama Yen disebut, ekspresinya perlahan berubah serius.

Ia tahu siapa wanita itu.

Dan ia tahu betapa berat pelatihan yang akan dijalani Arum mulai sekarang.

Untuk pertama kalinya sejak Arum pergi, ia mulai merasa khawatir.

Bukan karena kemampuan putrinya.

Melainkan karena takdir yang perlahan bergerak menuju sesuatu yang tidak bisa mereka hentikan.

Sementara itu, suasana pasar desa jauh lebih hidup.

Pedagang memenuhi jalan dengan berbagai barang dagangan. Aroma makanan hangat bercampur dengan suara tawar-menawar yang terdengar dari segala arah.

Di tengah keramaian itu, Ravin berjalan santai tanpa tujuan jelas.

Ia hanya ingin menghilangkan rasa bosan.

Namun langkahnya berhenti ketika melihat seorang anak perempuan kecil duduk sendirian di pinggir jalan.

Anak itu sedang merangkai kalung dari tali dan batu-batu kecil.

Tangannya bergerak cekatan.

Wajahnya terlihat tenang.

Terlalu tenang untuk anak seusianya.

Ravin yang penasaran akhirnya jongkok di depannya.

"Kamu bikin sendiri?"

Anak itu hanya mengangguk.

Ravin tersenyum kecil dan mengambil salah satu kalung yang sudah selesai.

Ia sempat menganggap pertemuan itu biasa saja.

Sampai anak perempuan itu tiba-tiba bertanya apakah dirinya memiliki seseorang yang dicintai.

Dengan santai Ravin menjawab bahwa tentu saja ada.

Namun jawaban berikutnya membuat senyumnya perlahan menghilang.

"Percuma."

Anak itu mengucapkannya tanpa ekspresi.

Ravin mengernyit.

Sementara anak kecil itu kembali merangkai kalung seolah tidak sedang mengatakan sesuatu yang aneh.

"Karena akhirnya kalian tidak akan bersama."

Suara pasar yang ramai terasa mendadak menjauh.

Untuk sesaat hanya ada dirinya dan anak itu.

Kemudian kalimat berikutnya membuat udara siang terasa jauh lebih dingin.

"Dan kalian akan mati."

Ravin berdiri perlahan, wajahnya mulai serius.

“Anak kecil jangan ngomong sembarangan.”

Namun anak itu hanya tersenyum tipis.

“Kakak boleh tidak percaya.”

Ia menatap Ravin sekali lagi.

“Tapi aku sudah melihat akhirnya.”

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Ravin merasakan sesuatu yang benar-benar membuatnya merinding.

Bukan ancaman dari orang dewasa.

Bukan perang kerajaan.

Tapi dari seorang anak kecil yang berbicara seolah masa depan manusia sudah tertulis di tangannya.

Senyum Ravin lenyap sepenuhnya.

Kini ia benar-benar memperhatikan anak itu.

Mata anak perempuan tersebut terasa berbeda.

Bukan mata seorang anak biasa.

Melainkan mata seseorang yang seolah sudah melihat terlalu banyak hal.

Angin berhembus pelan melewati pasar.

Sementara anak itu kembali berbicara dengan suara ringan.

Seolah sedang membicarakan sesuatu yang biasa.

Tentang darah.

Tentang kematian.

Tentang masa depan yang dipenuhi kehancuran.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Ravin merasakan firasat buruk yang jauh lebih menakutkan daripada apa pun yang pernah ia hadapi sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!