Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulah Brisia
Tubuh Ella terjatuh di lantai saat dua orang yang membawanya mendorongnya dengan kasar.
Ella yang masih mengumpulkan kesadarannya menggeleng pelan. Samar- samar dia mendengar suara seorang wanita bicara.
"Ini upah kalian, jangan lupa awasi di pintu jangan sampai ada yang masuk!" Ella memfokuskan pandangannya, namun yang dia lihat hanya sebuah kaki jenjang dengan high heels merah. Hingga kepalanya mendongak dan menemukan orang yang dia kenal.
"Br—isia?" ucapnya dengan terbata.
Brisia menunduk dengan senyum lebar. "Hai, sudah sadar? Baguslah, jadi kamu bisa menikmati kegiatan kamu nanti."
"Mau apa ... kamu Bri?"
"Dengar Ella, aku membutuhkan bantuanmu. Sekali saja layani paman Axel. Asalkan dia puas aku akan berikan separuh bayarannya untukmu. Kau tahu dia memberiku 100 juta."
"Kamu gila? Kamu jadi germo sekarang?" Ella mendudukan dirinya saat kesadaran semakin menguasainya. Kepalanya masih keliyengan, namun dia sudah lumayan sadar.
Brisia mencebik. "Bagaimana lagi. Perusahaan yang di bangun Papa bangkrut, kami tak punya uang. Dan aku terpaksa menjajakan diriku ke pria hidung belang untuk bertahan hidup."
Ella terkekeh miris.
"Kau tertawa!" Brisia menatap marah, lalu menarik rambut Ella membuat Ella mendongak. "Beraninya kau!"
"Itu karma kalian. Lihatlah, kalian sudah mengusirku, dan merebut semua milikku, akhirnya kalian sengsara," ejek Ella.
"Sial! Beraninya kau mengejekku?" Brisia menghempaskan kepala Ella. "Tadinya aku berbaik hati ingan membagi dua uang dari Paman Axel, tapi melihat kau seperti ini tidak usah saja."
Ella meludah kasar. "Aku tidak sudi." Wajah Brisia menjadi merah karena marah.
"Kau—" Baru akan melampiaskan kemarahannya, pintu terbuka menampakan pria tua yang Ella lihat di restoran tadi, tatapannya liar dan mesum menatap Ella yang duduk di lantai dengan tangan terikat.
Brisia berdecih lalu tersenyum menatap Axel. "Paman, sungguh tak sabaran, ya?"
Pria tua itu terkekeh dengan menjilat bibirnya. "Aku tidak sabar, Bri, kamu lama sekali. Meski dia terlihat berkaca mata, aku bisa lihat kulit mulus dibaliknya. Aku yakin dia akan sangat nikmat."
"Tapi aku belum mengajarinya..." Brisia berucap manja membuat Ella ingin muntah.
"Hal seperti itu tak perlu diajari, sayang. Dia akan belajar dari pengalaman."
"Kalau begitu nikmatilah malam ini, Paman. Sampai puas," bisik Brisia, jari lentiknya mengusap dada Axel sebelum melambai manja.
Ella berontak mencoba melepaskan diri, "Brengsek, kau, Bri. Kau akan mati mengenaskan!"
Brisia tertawa kecil tak peduli lalu melambaikan tangannya pada Ella dan pergi ke arah pintu meninggalkan Ella dengan Axel, pria tua mesum yang siap melahapnya hidup- hidup.
"Menjauh dariku!" teriak Ella dengan memundurkan dirinya saat Axel mendekat.
"Ayolah Sayang, kau akan menikmatinya nanti aku jamin kau akan memohon untuk melakukannya lag—"
Bugh!
"Akh!" Axel meringis saat Ella menendang miliknya dengan kakinya yang tak terikat.
"Mimpi saja, tua bangka sialan!"
Ella berlari ke arah pintu, namun pintu itu justru terkunci dari luar membuatnya semakin panik.
"Sialan, kau!" Axel yang sudah bisa menguasai diri menatap Ella dengan marah. Pria tua itu pergi ke arah laci dan mengambil sebuah bungkusan plastik berisi serbuk putih.
"Kita lihat apa kau masih bisa melawan."
Ella berlari ke arah lain saat Axel mendekat, namun ruangan sempit juga tangan terikatnya membuatnya kesulitan hingga kakinya tersandung ujung karpet membuatnya terjatuh, dan Axel berhasil meraih kakinya lalu menariknya, menahannya dengan lutut untuk mengunci gerakan Ella, dan memasukan bubuk tersebut dengan paksa ke dalam mulutnya.
Ella terbatuk saat serbuk itu memasuki tenggorokannya, perih, lalu berusaha memuntahkannya kembali.
Axel tertawa, dan melepaskan Ella menjauh beberapa langkah menunggu obat bereaksi.
"Tunggu beberapa menit, kau yang akan memohon padaku," katanya dengan membuka satu persatu kancing kemejanya.
Ella terus berusaha memuntahkannya kembali dan meludah sebanyak yang dia bisa, meski Ella tak yakin serbuk itu akan benar-benar keluar dari mulutnya.
"Tidak! Aku tidak sudi!"
Masih bagus dia melakukannya dengan Dominic, setidaknya dia tampan dan di penuhi otot keras, dan yang terpenting Ella tak melakukannya dipaksa atau terpaksa.
100 juta?
Ella bahkan mendapatkan 1 milyar, dari Dominic. Bonus tampan dan tubuh atletis, bukan pria tua bangka yang botak dan berperut buncit seperti Axel.
Namun apa yang terjadi tetap tak bisa dihindari saat serbuk itu sudah benar-benar tertelan olehnya.
Ell merasakan tenggorokannya mulai kering, juga jantung yang terasa berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Ella menelan ludahnya, dia penulis, mengarang, juga pernah membuat adegan dimana seseorang di jebak dengan menggunakan obat perangsang. Dan itu semua hanya mengandalkan pengetahuan yang di dapatnya dari internet, tentang bagaimana obat itu bereaksi jika benar-benar di konsumsi.
Namun kali ini dia benar-benar merasakannya, rasa panas yang membakar tubuhnya, juga intinya yang terasa berdenyut dan basah.
"Sial! Kau benar-benar murahan, Ella," umpatnya pada diri sendiri.
Ella mencoba terus sadar dengan mengepalkan tangannya erat. Bahkan saat kuku- kukunya melukai telapak tangannya Ella tak merasakan apapun selain gairah yang semakin tinggi.
"Tidak, mau!" Namun yang terdengar hanya nafas terengah dan desahan menjijikan dari mulutnya.
"Tolong aku, Dom." Entah bagaimana dia justru terus mengingat Dominic. Ella harap pria itu bisa menemukannya, dan menolongnya. Ella sungguh tak mau hidupnya berakhir di tangan pria tua itu.
"Sudah mau menyerah?" Axel melangkah mendekat, lalu melepas ikatan tangan Ella merasa kalau Ella sudah tak berdaya.
"Aku lebih baik mati!" desisnya dengan mata merah yang tajam.
Plak!
Ella melayangkan tangannya di pipi Axel, menampar pria itu sekeras yang dia bisa.
Bukannya marah Axel justru terkekeh. "Baiklah, aku suka yang liar. Kamu semakin membuatku bergairah."
Namun Ella masih mempertahankan sisa- sisa kesadarannya. Dia mendorong tubuh Axel, mencakar wajah pria tua itu dengan kuku- kukunya dan menekannya kuat membuat Axel menjerit sebab tutu tajamnya berhasil membuat jejak darah di pipinya.
"Brengsek!" Axel yang kesakitan tak bisa lagi membendung amarahnya.
Plak!
Plak!
Suara tamparan terdengar nyaring membuat pipi Ella tertoleh bahkan mengeluarkan darah sebab ujung bibirnya yang robek saking kuatnya tamparan tersebut.
Ella merasakan pipinya panas, namun karenanya dia mulai kembali sadar akan panas dalam tubuhnya yang harus dilawan.
"To— long!" teriaknya terbata, gerakan tangannya mulai melemah mendorong Axel, saat tubuhnya semakin terasa panas.
"Dom!" Ella berteriak sekeras yang dia bisa, bertepatan dengan pintu terdorong keras hingga terlempar dan terlepas dari engselnya.
"Brak!"
"Brengsek!" Axel mengeluarkan umpatannya, namun saat ini dia terkejut saat sebuah pistol tertuju padanya.
Ella menoleh saat ketukan sepatu terdengar diikuti langkah kaki lebar menuju ke arahnya.
"Tuan—" Ella menangis melihat Dominic, dia kira dia akan mati disana, berakhir ternoda pria tua. Tapi rupanya pria itu menemukannya.
Dominic meraih tubuh Ella yang tergeletak mengenaskan di lantai dengan pakaian yang robek di beberapa bagian, menggendongnya dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya menodongkan pistol pada Axel yang menciut ketakutan.
"Si—apa kalian?" tanya Axel dengan tergagap. "Be— raninya kalian menerebos masuk!"
"Beraninya kau menyentuh milikku," ucap Dominic dengan dingin di susul suara tembakan.
Dor!
Peluru menembus inti si pria tua, membuatnya menjerit memegangi miliknya yang sudah pasti tak bisa bangun lagi.
"Habisi, tanpa sisa!" katanya dengan berbalik.
Yang Dominic maksud termasuk seluruh keluarga, bahkan keturunan Axel.
"Mau apa kalian, Tidak! Tidak!"
"Tidak!!!"
Ella mengeratkan pelukannya di leher Dominic saat mendengar jeritan demi jeritan dari dalam kamar. Ella bahkan harus menutup matanya saat melihat dua orang pria yang menculik dan menjaga di depan pintu terkapar tak bernyawa dengan urat leher yang putus.
ya sdh cukup mendukung dgn membaca saja