Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Setelah hampir dua Minggu ruangan Manager Divisi Pemasaran terlihat kosong dan sunyi. Bahkan karyawan lain hampir terbiasa melihat kursi di dalam ruangan kaca besar itu kosong setiap pagi.
Namun, Senin pagi ini suasana menjadi berubah.
"Pak Adrian datang!"
Kalimat itu menyebar dari lantai bawah ke lantai tujuh. Beberapa karyawan yang sudah datang lebih dulu, merapikan pakaiannya dan mejanya. Ada juga yang buru-buru menutup laman sosial medianya di layar komputer karena foto-foto pernikahan Adrian dan Mita masih menjadi trending topik di kalangan mereka juga satu kantor.
Hotel mewah, dekorasi yang megah, tamu dari kalangan pejabat dan artis pun ada, seluruh dewan direksi pun turut hadir.
"Gila sih... Adrian yang kelihatan dingin dan tegas, bisa ngadain acara semewah itu. Ngalahin artis."
"Honeymoon ke Swiss pula. Iri deh gue."
"Istrinya cantik pula. Pantesan aja Adrian klepek-klepek. Eh... Tapi dengar-dengar, istrinya Adrian itu mantan istrinya Rio dari divisi produksi. Gila ya..."
"Siapa yang gila?"
"Ya Rio lah! Gue rasa nyesel dia sekarang, lihat mantan jadi lebih berkilau."
"Alesannya cerai apa? Kita kan nggak tau!"
"Rio selingkuh. Gila sih, Istri canti aja masih diselingkuhin. Janda anak dua lagi."
"Alah, cuma gosip tuh!"
"Serius. Gue pernah denger sendiri kok."
"Udahlah, nggak enak nanti Adrian denger. Mampus kita."
Tiara tersenyum tipis mendengarkan ocehan para teman-temannya.
Dari jauh pintu lift terbuka dan Adrian keluar dari lift tersebut. Ia memakai setelan hitam rapi dan wajah yang terlihat lebih segar dibanding biasanya. Aura dingin dan tegasnya masih sama, tapi entah mengapa sekarang pria itu terlihat jauh lebih tenang dan lebih hidup.
Beberapa karyawan lain saling melirik dan menyapa.
"Pagi, Pak."
"Pagi semuanya." Adrian tersenyum tipis sambil terus berjalan ke ruangannya.
"Ah, gila. Pesona laki orang bikin hati gue meleleh."
Di tangan kirinya, di jari manisnya, cincin pernikahan platinum itu terpasang jelas.
Dan itu cukup membuat kantor kembali gempar.
"YA AMPUN, DOI PAKAI CINCIN."
"fix dia bucin!"
"Eh iya betul. Dulu mana pernah dia begitu kan ya."
Sekretaris Adrian bernama Dion, cuma bisa terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
"Rumpiiii... Aja kalian tuh." Dion pemuda yang tak kalah tampan dengan Adrian. Usia masih muda dan kini menjabat sebagai sekretaris Adrian. Dia juga yang menghandle semua kegiatan Adrian selama di kantor.
Dion membawa tablet ke ruangan Adrian. Ia mengetuk pintu sebelum masuk.
"Misi, Pak!"
"Masuk. Di. Makasih ya udah handle semua jadwal." Adrian menerima tablet dari Trian untuk memeriksa semua kegiatan hari ini.
"Welcome back, Pak." Dion tersenyum ramah. "Oya, Pak... Nanti siang itu ada rapat internal terus sorenya Pak Dirut buat janji untuk ketemu Pak Adrian."
Adrian sudah mendapatkan kabar itu semalam. Jadi, ia pun mengangguk. "Okelah. Kamu boleh balik. Eh... Tapi lupa. Nanti sebelum istirahat, tolong ambil oleh-oleh di bagasi mobil untuk semuanya."
Dion tersenyum lebar, "Siap, Pak. Wah... Kirain Bapak lupa sama saya. Ternyata nggak."
"Saya nggak gila lah. Pokoknya bagi rata aja ya." Adrian ikut senyum dan menyerahkan kunci mobilnya pada Dion.
Baru juga Dion berbalik, tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oya, Pak. Semua orang masih ngomongin tentang pesta pernikahan Bapak."
Adrian mengangkat alis tipis. "Biarin aja."
"Mereka bilang Bapak berubah sejak menikah."
Kali ini Adrian tersenyum tipis. "Memang berubah."
Jawaban singkat yang diberikan Adrian, mampu membuat Dion membeku. Selama bertahun-tahun bekerja menjadi sekretarisnya, Dion tidak pernah melihat Adrian setenang ini.
"Baik, Pak. Saya keluar dulu," pamit Dion.
Adrian hanya mengangguk dan terus melanjutkan pekerjaannya.
Selang sepuluh menitan, pintu ruangan kembali diketuk.
"Masuk."
Tiara masuk dengan mengenakan kemeja dan rok berwarna beige yang membentuk tubuhnya sempurna. Rambut panjangnya tergerai rapi dengan senyum manis yang dibuat-buat.
"Pagi, Mas—eh, Pak."
"Pagi." Adrian melirik sekilas.
Tiara membawa nampan berisi kopi. Ia terus melangkah mendekati Adrian.
"Saya bawakan kopi nih, Mas. Kamu kan dari perjalanan jauh, pasti suka deh sama kopi yang aku buat," jelas Tiara meletakkan kopi di atas meja.
Adrian menatap kopi itu beberapa detik sebelum kembali fokus pada tabletnya.
"Istri saya sudah membuatkan saya kopi sebelum berangkat tadi," jawabnya singkat, datar dan dingin.
Senyum Tiara lenyap. "Oh gitu."
"Nggak apa-apa deh. Siapa tau nanti Mas mau minum kopi lagi," godanya lagi sambil tersenyum manis yang dibuat lagi.
Tiara melangkah semakin dekat, terlalu dekat.
"Aku lihat foto-foto honeymoon kamu di Swiss." Suaranya dibuat lembut. "Romantis sekali ya."
Adrian tak menjawab.
"Aku nggak menyangka akhirnya Mas Adrian benar-benar menikah."
Kalimat itu membuat Adrian mengangkat kepalanya. Tatapannya dingin.
"Saya sudah bilang jangan kurang ajar. Ini di kantor , panggil saya pak Adrian."
Tiara tercekat sesaat.
"Mita boleh panggil—"
Adrian menatap tajam ke arah Tiara. "Mita istriku. Mita memanggil ku dengan sebutan Mas, karena Mita menghormati aku. Kalau tidak ada urusan penting, keluar!"
Tiara seperti ditampar.
"Maaf... Saya nggak sengaja."
"Biasakan yang benar."
Suasana langsung berubah canggung. Namun, Tiara tidak mudah menyerah begitu saja. Ia malah duduk di depan meja Adrian sambil menyilangkan kaki perlahan.
"Pak Adrian terlihat lebih bahagia ya sekarang?!"
"Memang."
"Berarti Bu Mita sangat spesial ya?"
Kali ini Adrian menutup tabletnya pelan. "Tidak ada perlu dibahas tentang istri saya di kantor." Nada suaranya datar, tapi cukup tajam untuk membuat Tiara diam.
Wanita itu tersenyum kecil, mencoba tetap tenang walau di dalam hati mulai panas. Karena sejak sepengetahuan Tiara, sejak dulu Adrian tidak pernah memperhatikan perempuan mana pun. Tapi sekarang semuanya berubah hanya karena satu wanita bernama Mita.
Bahkan saat Tiara mencoba mendekatinya lagi. Perhatian Adrian justru tertuju pada layar ponselnya yang tiba-tiba menyala.
Nama 'Mita❤️' muncul di sana.
Dan hal yang paling menyakitkan lagi adalah... Adrian langsung mengangkat telepon itu tanpa ragu.
Suaranya berubah menjadi jauh lebih lembut.
"Iya, Sayang..."
"..."
Tiara mengepalkan tangannya di bawah meja.
Sementara Adrian justru sedang tersenyum kecil mendengar ocehan istrinya dari sebrang sana.
"Aku udah sampai kantor 30 menit lalu. Maaf ya lupa ngabarin. Karena langsung dapet kerjaan." Adrian menyesal karena lupa kasih kabar.
"..."
"Iya, sayangku... Kamu juga jangan lupa minum vitaminnya ya. Jangan kecapean, santai aja di rumah."
"..."
"Iya, nanti aku usahakan pulang cepat."
"..."
Tiara menunduk pelan, untuk pertama kalinya ia memperhatikan dan benar-benar sadar. Pria seperti Adrian Azzam ternyata bisa mencintai seseorang sedalam itu.
Sayangnya, orang itu bukan dirinya.
Adrian melirik ke arah Tiara yang beranjak lalu berbalik untuk keluar dari ruangannya. Semua yang ia lakukan demi kebaikan. Ia tidak ingin memberikan celah untuk siapapun mendekati dirinya.
[]