Menikahi Pria terpopuler dan Pewaris DW Entertainment adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di hidupnya. Hanya karena sebuah pertolongan yang memang hampir merenggut nyawanya yang tak berharga ini.
Namun kesalahpahaman terus terjadi di antara mereka, sehingga seminggu setelah pernikahannya, Annalia Selvana di ceraikan oleh Suaminya yang ia sangat cintai, Lucian Elscant Dewata. Bukan hanya di benci Lucian, ia bahkan di tuduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap kekasih masa lalunya oleh keluarga Dewata yang membenci dirinya.
Ia pikir penderitaannya sudah cukup sampai disitu, namun takdir berkata lain. Saat dirinya berada diambang keputusasaan, sebuah janin hadir di dalam perutnya.
Cedric Luciano, Putranya dari lelaki yang ia cintai sekaligus lelaki yang menorehkan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenni Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Pertemuan Anna dan Lucian
Maaf, maaf gengs...
Kemarin author kecapean karena lembur....
Jadi lupa update 🤧🙏
Semoga suka Chapter ini ya...
...****************...
Deg!
Anna tertegun, tubuhnya kaku. Sepintas bayangan kejadian-kejadian masalalu berputar di pikirannya dengan cepat, menambah rasa takut dan kecewanya.
"Tu-Tuan..." Gumam di bibir Anna lolos.
'Bagaimana bisa Papa disini...' Cedric ikut merasa gelisah, setelah melihat raut wajah Anna yang memucat.
"Anna..." Lucian nampak senang, wajahnya menunjukkan ekspresi bahagia sekaligus sedih. Namun, saat matanya menangkap sosok anak kecil yang sangat ia kenal, Cedric. Bocah yang ia temui beberapa waktu lalu, bocah yang berhasil membuatnya bahagia. Seketika raut wajahnya berubah seolah tak percaya.
"Ce-Cedric?" panggil Lucian, lirih.
Anna seolah tersadar, ia dengan sigap menutup Cedric dari Lucian. Tangannya gemetar, ia takut jika Lucian mengenali Cedric sebagai Putranya.
"Ke-kenapa kau bersama Cedric? Apa hubungan kalian? Se-sejak kapan kau menikah lagi?" tanya Lucian, merasa kecewa. Ia sangat takut, jika benar apa yang dikatakan oleh Raven bahwa gadis itu telah menikah dan memiliki seorang anak.
Deg!
Anna tertegun, seolah tak percaya. Tangisnya yang tadi membanjiri wajahnya, terhenti. 'Di-dia bahkan tak mencurigai ini adalah Putranya?' batin Anna seolah tak percaya, ia merasa senang sekaligus sedih. Sebegitu tak inginnya Lucian memiliki anak dengannya, sehingga kejadian itu tak pernah teringat di memorinya.
'Apakah semenjijikan itu aku dimatamu?' batin Anna.
Anna membalik tubuhnya menatap Lucian. Sontak itu terkejut, melihat raut wajah lelaki itu yang berkaca-kaca. Bahkan, tubuhnya kini tak lagi se kekar dulu. Terlihat kurus tak terawat. 'Apa yang sebenarnya ia lakukan? Kenapa dia tak menjaga tubuhnya? Padahal dia adalah seorang aktor?' batin Anna, sebesit rasa iba di hatinya.
'Sadar Anna! Kau harus menjauh sejauh mungkin darinya...'
"Tuan Muda tidak perlu tahu... Yang jelas saya tidak ingin berhubungan dengan anda lagi, jika tidak saya akan membuat... Suami saya cemburu," ucap Anna, walau merasa canggung dengan kata 'Suami'.
Deg!
Dunianya seolah runtuh. Lucian berusaha mendekati Anna. "An-Anna ini bohong, kan? Benarkan?" tanya Lucian, berusaha menyangkal.
Anna terus mundur saat Lucian mencoba untuk meraih tangannya. Ia tak mau lagi luluh. Ia takut, di kecewakan lagi. Ia takut jika Lucian pada akhirnya tidak mempercayainya lagi. Kembali pada lelaki itu hanya akan berakhir dengan kekecewaan dan patah hati.
"Tuan! Saya mohon, jauhi saya. Jangan pernah temui saya lagi! Anak saya akan takut, jika anda terus begini!" bentak Anna, dengan tangan gemetar memeluk Cedric.
"Ti-tidak, Anna... Ini bohong, kan? Katakan padaku!" bentak Lucian, tanpa sadar. Membuat Anna tertegun, dengan raut wajah kaget.
"Ma-maaf, Ak-Aku tidak bermaksud membentakmu... Hanya saja, aku ingin minta maaf atas semua yang telah kulakukan padamu..." Ucap Lucian pada akhirnya, ia menundukkan kepalanya merasa sangat hancur. Mungkin ini karma untuknya, karena telah menyia-nyiakan gadis itu.
'Tuan meminta maaf?'
"Ayo pergi, sayang..." Anna berusaha menghindari Lucian. Ia tak yakin bisa terus menatap lelaki itu. Walau rasa kecewanya begitu besar, akan tetap rasa cintanya pada lelaki itu jauh lebih besar.
'Aku hanya tidak ingin terluka lagi... Aku lelah dengan semua itu,' batin Anna, langkahnya semakin menjauh dari sosok yang dulu sangat ia kagumi itu.
Lucian hanya bisa terdiam, dengan sendu. Matanya telah meneteskan butiran butiran bening, sejak Anna menjauh darinya.
Perasaannya campur aduk. Ia lega akhirnya ia bertemu dengan gadis itu, bahkan telah meminta maaf walaupun tak ada jawaban. Lucian pikir dengan meminta maaf saja, rasa sesak di dadanya akan hilang.
Bruk!
"Tuan!" pekik Juan, yang sedari tadi menunggu di mobil. Ia meringis melihat kejadian saat Anna menolak keras kehadiran Lucian.
Lucian pingsan, karena tubuhnya yang ia paksakan bergerak, tanpa menyentuh makanannya sejak kemarin. Apa lagi dengan perasaannya yang terguncang.
"Ayo kita kerumah sakit!" titah Juan.
...****************...
Anna dan Cedric telah sampai di rumah. Keduanya diam, tanpa berniat membuka suara. Anna yang masih merasa syok dan bingung. Sedangkan Cedric, menunggu perasaan Bundanya tenang.
'Kenapa Papa jadi begitu? Tubuhnya seperti di paksakan bekerja tanpa asupan?' batin Cedric, mengingat bagaimana bedanya Lucian saat terakhir kali mereka bertemu dengan sekarang.
'Apakah Papa sudah mengetahui semuanya? Dan, sekarang dia menyesal? Mangkanya dia menemui Bunda, padahal dari ceritanya kemarin Papa terlihat membenci Bunda....'
'Kenapa Papa tidak mengenaliku sebagai Anaknya? Malah menuduh Bunda menikah lagi...' Cedric merasakan kekecewaan walaupun ia ingin menyangkalnya.
"Ceddy... Bunda mau mengemasi barang-barang. Ki-kita berangkat hari ini saja," putus Anna pada akhirnya. Ia tak bisa menunggu lebih lama. Lucian pasti akan mencarinya lagi. Ia takut, jika tiba-tiba Lucian akan menyadari bahwa Cedric adalah Putranya.
"Apa? Sekarang Bunda? Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Cedric. Berpura-pura tak tahu.
Anna menatap Putranya dengan rasa bersalah. "Maafin, Bunda ya... Bunda enggak bermaksud melakukan ini, hanya saja..." Anna terdiam cukup lama, memilah-milah kata yang ingin ia sampaikan.
"Hanya saja, kita harus menjauh dari Lucian. Bunda enggak mau dia mengambil kamu dari Bunda... Bunda takut," jujur Anna. Sedari tadi ia terus berusaha menutupi perasaannya namun sulit.
Cedric memeluk Anna erat. "Bunda adalah yang paling utama untuk Ceddy. Ceddy enggak akan bersama Papa, jika Bunda tidak izinkan," jelas Ceddy, berusaha menenangkan Anna.
"Kita bisa pergi sekarang." Ceddy mencoba menerima keputusan Anna.
"Kamu siap-siap ya. Bunda mau hubungi Om Raven dulu..."
Semangat selalu
Cpt sembuh author