Eva Calista, seorang siswa jenius berusia 17 tahun, terjebak dalam sebuah cerita novel yang membuatnya tertarik. Saat membaca tentang penindasan yang dilakukan protagonis terhadap antagonis, Eva merasa tidak tahan dan tertidur karena kelelahan.
Namun, saat terbangun, Eva menemukan dirinya berada di tubuh antagonis saat masih bayi. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi ada sebuah sistem yang muncul dan menjelaskan bahwa Eva telah bereinkarnasi ke dalam cerita novel.
Sistem tersebut memberitahu Eva bahwa ia harus mengarungi peran sebagai antagonis dan mengubah jalannya cerita. Eva harus menggunakan kecerdasan dan kemampuan analitisnya untuk memahami sistem dan mengubah nasibnya sebagai antagonis.
Dengan sistem yang menemani dan membantu, Eva mulai menjelajahi dunia cerita novel dan menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Apakah Eva bisa mengubah jalannya cerita dan menjadi antagonis sejati? Cerita ini akan membawa Anda ke dalam petualangan yang menarik dan penuh kejutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Sepanjang perjalanan di koridor sekolah, Cia terlihat melamun sambil melihat ponselnya sejak tadi bel pulang berbunyi. Aura yang khawatir, menyenggol pelan bahu Cia.
"Ada apa?" Aura tampak khawatir dengan Cia. Diantara mereka, memang Aura lebih dekat dengan Cia.
"Biasa ada job pemotretan buat drama terbaru."
"Sekarang?"
"Ya, maaf ya gue nggak jadi join kalian ke toko kita," sesal Cia
Reva dan yang lain sangat paham dengan pekerjaan Cia. Cia harus lah profesional dan segera pergi ke tempat pemotretan.
"Tidak masalah, lagipula kami tau kau sedang ada jadwalkan?. Santai saja," ujar Reva mencoba menenangkan Cia
"Yap! Lo santai saja Cia, toko bisa kita bertiga yang handle!" ujar Aura dengan anggukan Laila yang tampak ikut menghibur Cia
Cia merasa terharu. Teman-temannya selalu mengerti dirinya dan kesibukannya. Mengingat sesuatu, Cia yang awalnya tersenyum kembali lesu mengingat akan sesuatu.
"Kenapa lagi lo?" tanya Aura ketika menyadari bahwa Cia kembali menunduk lesu.
"Lo lupa tadi gue berangkat bareng lo, gue hari ini nggak bawa kendaraan sendiri!"
Cia seketika bingung sendiri. Dirinya telah terlanjur mengatakan akan datang sendiri dan menyuruh manager serta asistennya untuk langsung ke lokasi tanpa menjemput dirinya ke sekolah.
"Perlu di antar?" tawar Reva
"Lo bisa berangkat bareng gue!" ujar seseorang tepat di belakang mereka
Seketika mereka terkejut mendengar suara seseorang di tengah pembicaraan. Reva yang melihat kedatangan Bagas dan Yufran yang berjalan menghampiri dirinya dan teman-temannya.
"Ngapain gue berangkat sama lo?!" kesal Cia
Sejak dulu, mereka berdua selalu tidak pernah akur. Cia dengan Bagas layaknya tikus bertemu kucing, selalu bertengkar dan ribut. Mereka akan meributkan apapun, bahkan hal sepele sekalipun.
"Lo sama gue itu searah. Jadi sekalian aja bareng gue kan?"
Cia tampak berpikir. Dia memandang ke arah teman-temannya dan Bagas secara bergantian. Perkataan Bagas, membuatnya bimbang. Namun, tersadar akan sesuatu Cia menatap curiga Bagas.
"Searah? Emang lo tau tujuan gue kemana?" Cia memicingkan matanya menatap curiga Bagas
Bagas yang diperlakukan sepeti pelaku penguntit merasa tak terima. Dirinya segera maju dan mendorong pelan kepala Cia, dirinya gemas ingin sekali memukul kepala Cia saat ini.
"Lo mau ke Studio Jenka kan? Gue juga mau kesana. Ada keperluan juga di sana," ujar Bagas tepat di depan wajah Cia
"Jadi hilangkan pemikiran aneh lo itu!"
Semua tindakan mereka layaknya sebuah adegan romantis dalam sebuah film. Aura tampak menikmati setiap adegan yang ada. Laila diam-diam memfoto mereka sebagai senjata saat Cia mengganggu atau menjahilinya.
Sedangkan Reva, hanya diam tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Dirinya yak habis pikir, dilihat dari manapun Bagas dengan Cia tampak seperti pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta dengan penuh bunga yang bermekaran. Namun, mengingat pertengkaran mereka setiap bertemu, membuat sakit kepala.
Kemudian pandangannya beralih ke arah Yufran yang berdiri di sisi lain. Dia menatap penuh tanda tanya dan curiga dengan Yufran. Entah kenapa, Yufran di pandangan Reva selalu tampak mencurigakan. Dirinya selalu secara naluri menatap waspada ada Yufran.
"Lo ngapain kesana?" tanya Cia dengan menantang
"Gue kan udah bilang, ada urusan." ujar Bagas sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
Cia kembali menunduk dan berpikir, "Iya sih, mending bareng Bagas daripada nebeng sama yang lain. Arah toko dengan Studio berlawanan, kan nggak enak juga gue,"
Melihat Cia yang melamun, Bagas yang merasa gemas pada akhirnya menarik pelan pipi milik Cia.
"Kenapa diam? Lo bareng gue apa nggak. Gue bisa telah ini!" gemas Bagas
Cia dengan cepat memukul tangan Bagas yang sedang menarik kedua pipinya secara berulang. Saat terlepas, Cia mengusap pipi pelan karena merasakan perih akibat cubitan dari seorang Bagas.
"Iya, iya! Gue bareng sama lo," ketus Cia
"Yaudah, ayo!" Bagas menarik tangan Cia agar bisa berjalan mengikutinya.
Merasa risih, Cia mencoba melepas pegangan Bagas. Namun nihil, itu hanyalah usaha yang sia-sia.
"Kita ditinggal begitu saja?" heran Aura saat melihat Cia yang dibawa pergi Bagas.
Kejadian yang baru saja terjadi, tidak hanya dilihat oleh mereka. Namun, dilihat semua orang yang sedang berlalu lalang di koridor menuju area parkir.
"Sebaiknya kita segera pulang," ujar Yufran yang pergi begitu saja
Hal itu membuat yang lain heran. Tidak biasanya Yufran tampak pendiam dan terlihat dingin kepada mereka. Tidak seperti biasanya.
"Dia kenapa?" heran Aura
"Lagi badmood kali, atau ada masalah," ujar Laila yang ikut keheranan
"Sudahlah, lebih baik kita ke toko sekarang!"
...****************...
Di sisi lain, Mason yang masih terjebak dengan tugas kelas bersama dengan Ellie dan yang lainnya mulai merasa lelah. Apalagi hari ini jam terakhir adalah mata pelajaran olahraga.
"Mason, minum dulu. Biar aku aja yang nyapu. Pasti kamu lelahkan?" tawar Ellie
Namun, sebelum Mason menjawab Ellie sudah bergerak merebut sapu yang dipegang Mason dan meletakkan minuman yang dibawanya di meja Mason.
Semua yang melihat kejadian yang baru saja terjadi langsung terbagi menjadi dua kubu. Ada yang mendukung hubungan Ellie dengan Mason, ada juga yang mencibir karena mereka tau bahwa Mason memiliki hubungan dengan Reva dan mereka memiliki status yang cukup jelas yaitu tunangan.
Orang- orang yang mendukung hubungan Mason dengan Reva tampak tak senang saat melihat ada yang ingin merusak hubungan idola mereka, termasuk Ria. Ria adalah siswa yang mendukung siapapun yang menjadi pasangan Reva karena bagi Ria Reva adalah penyelamatnya. Dan saat melihat Ellie ingin merebut Mason dari Reva, membuat geram sendiri.
Diam-diam Ria mendekati Ellie, dan berbisik, "Jangan pikir lo bisa menang dengan mudah. Gue bakal awasin lo. Awas aja lo deketin Mason, Mason hanya milik Reva, ingat itu?" peringatnya
Setelah mengatakan itu, Ria segera kembali membersihkan kelas sesuai pembagian. Sedangkan Ellie, dia terdiam. Kemudian menatap tak suka Ria yang berusaha mengganggu dirinya.
Semua kejadian itu dilihat dengan jelas oleh Mason dan seseorang yang mengintip di balik jendela. Dia adalah Erika. Erika selalu mengawasi Ellie, dirinya tak akan membiarkan Ellie berhasil mencapai tujuannya.
Berbanding terbalik dengan Erika. Mason tampak tersenyum melihat kejadian itu. Karena baginya, Ellie menjadi kunci untuknya bebas dari kekangan keluarga, yaitu mamanya. Dia juga bisa bebas dari Reva dan tak merepotkannya lagi.
"Sorry Ellie, tapi dengan adanya lo rencana yang gue susun selama ini bisa gue realisasikan dengan mudah." batin Mason sambil terus mengawasi Ellie
setelah sekian purnama