Sebuah cinta terlarang.
Sebuah pengkhianatan dalam keluarga.
Zavier hanya ingin mencintai wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun — namun takdir berkata lain ketika wanita itu kini bersanding sebagai istri sang ayah.
Di antara rasa bersalah, cinta, dan kehancuran, adakah kesempatan kedua untuk hati yang sudah hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-24
Matahari pagi menyelinap lewat tirai ruang makan yang sudah terbuka. Aroma nasi goreng ayam memenuhi ruangan. Veyra tampak sibuk menuang jus ke gelas sambil sesekali mencuri pandang ke arah tangga.
“Zavier belum turun?” tanya Ardian sambil menyeruput kopi hitamnya.
Veyra menggeleng pelan. “Belum, Mas. Biasanya jam segini dia sudah duduk di sini.”
Ardian melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul delapan.
“Aku cek ke atas sebentar, ya.”
Namun sebelum Ardian berdiri, Veyra lebih dulu melangkah. “Biar aku saja, Mas. Siapa tau dia bisa lebih baik padaku dan menerima kita,” ucap Veyra beralasan.
“Baiklah,” kata Ardian santai tanpa berpikir buruk sama sekali.
Veyra berjalan cepat menaiki anak tangga, jantungnya entah kenapa terasa tidak tenang. Setelah mengetuk pintu kamar Zavier beberapa kali dan tak ada jawaban, Veyra mencoba memutar gagang pintu. Tidak dikunci.
Saat pintu terbuka, Veyra membeku sejenak. Zavier masih terbaring di ranjang, tubuhnya terlihat menggigil meski selimut menutupi sampai ke dada. Keringat dingin membasahi pelipisnya, wajahnya pucat.
“Zavier?” panggil Veyra panik, segera menghampiri dan menyentuh dahinya. “Astaga, panas banget.”
Zavier membuka mata pelan. “Kamu... udah di sini...” suaranya serak, lemah.
“Kenapa tidak bilang kamu sakit?” Veyra segera mengambil air dan kain kecil dari kamar mandi, lalu mengompres dahi Zavier. “Mas Ardian ada di bawah. Biar aku panggil...”
“Tidak usah...” Zavier menahan tangan Veyra. “Aku tidak mau dia tahu.”
“Zavier... kamu demam tinggi. Ini bisa bahaya.”
Zavier memejamkan mata lagi. “Malam tadi... aku tidak bisa tidur. Kupikir... kamu...”
Veyra terdiam. Ada luka di mata Zavier yang tak bisa ia abaikan. Luka yang ia sebabkan.
“Aku tidak bisa berpura-pura, Veyra. Aku sakit bukan cuma karena demam… tapi karena semua ini,” gumam Zavier lirih.
Veyra tertawa kecil melihat kelakukan Zavier. “Ya ampun, masa sampai sakit begini?”
“Kenapa kamu malah ketawa? Kamu tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku, Vey? Tersiksa batin, jiwa dan raga,” kata Zavier dengan nada manja yang membuat Veyra tidak bisa menahan tawanya.
Veyra lalu menggenggam tangan Zavier erat. “Aku akan jaga kamu hari ini. Diam di sini, istirahat, biar aku urus semuanya.”
Zavier tersenyum tipis di tengah lemahnya. “Kalau kamu yang bilang begitu… aku bisa sedikit tenang.”
Ardian yang masih di ruang makan, melihat ke atas tapi Veyra tak kunjung kembali dan Zavier juga tidak juga turun. Ia akhirnya memutuskan untuk menyusul ke kamar Zavier. Langkah kaki Ardian terdengar tergesa menaiki anak tangga.
Veyra yang mendengar suara langkah kaki segera menjauh dari Zavier. Ia lupa tidak memberi tahu Ardian karena terlalu khawatir pada Zavier.
Begitu membuka pintu kamar Zavier, Ardian mendapati putranya masih tergolek di tempat tidur. Wajahnya pucat, napasnya terdengar berat.
“Zavier?” Ardian segera menghampiri, duduk di sisi ranjang. Ia meletakkan punggung tangannya ke dahi putranya. “Panas banget…”
Zavier membuka mata perlahan, tampak lemas. “Pa… maaf, aku tidak enak badan…”
“Kenapa tidak bilang dari tadi?” Ardian berdiri cepat. “Tunggu, Papa panggil dokter. Atau kamu mau ke rumah sakit?”
“Tidak usah, Pa. Cuma demam biasa kok,” ucapnya dengan suara lemah.
Ardian menghela napas panjang, mencoba tetap tenang. Ia mengambil gelas berisi air putih di meja nakas lalu membantu Zavier duduk untuk minum.
“Kamu tetap harus diperiksa. Jangan disepelekan.”
“Aku tadi langsung mengompresnya, Mas. Maaf ya Mas, aku sampai lupa memanggilmu. Karena tadi aku melihat Zavier menggigil,” kata Veyra memasang wajah bersalah.
Ardian menoleh dan tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Sayang. Terima kasih kamu sudah perhatian pada Zavier.”
“Aku sudah menyuruh istri mudamu pergi, Pah. Tapi, dia keras kepala dan berusaha untuk menjadi orang baik seperti malaikat,” ucap Zavier ketus memainkan dramanya seolah tidak suka pada Veyra.
“Zavier, jangan bersikap begitu pada Veyra. Papa tau kamu tidak suka dengan dia dan tidak setuju dengan pernikahan ini tapi jangan hina Veyra ya. Perhatian dan kasih sayang Papa padamu juga tidak akan berkurang,” kata Ardian dengan tenang.
Veyra mendekat, membantu Ardian mengompres dahi Zavier. Wajahnya terlihat cemas. “Maaf, Zavier. Aku tidak bermaksud apa-apa.”
“Pah, aku istirahat dulu. Sebaiknya aku kembali ke apartemen saja.”
“Kamu disini saja, Zavier. Biar Veyra yang merawat kamu. Kalau kamu di apartemen, siapa yang akan merawat dan menjaga kamu? Jangan buat Papa khawatir.”
“Pah, aku sudah dewasa. Aku tidak mau diganggu sama dia,” ucapnya sambil mengarahkan pandangannya pada Veyra. Veyra menunduk. Ia merasa sebagai aktris handal yang pintar berakting di depan Ardian. Zavier merasa senang karena Veyra bisa mengimbangi permainannya.
“Kamu sakit, jadi tidak usah kemana-mana. Nnati biar Flora saja yang menjaga kamu.”
“APA? NO! Yang ada aku malah sakit lebih parah, Pah. Sudahlah aku tidur saja Pah. Minum penurun demam juga cukup,” ucap Zavier dengan nada kesal.
Ardian menghela. “Ya sudah, kalau itu memang yang kamu mau. Papa akan ke kantor dulu. Kamu istirahat saja dulu. Kalau butuh sesuatu panggil saja Veyra.”
“Mas, biasanya kalau Zavier sakit suka makan apa?” tanya Veyra pada Ardian.
“Setiap kali Zaver sakit, almarhumah mamanya selalu membuatkan Zavier sup ayam dan kentang.”
“Baiklah, Mas. Aku akan buatkan. Setidaknya jangan sampai perut Zavier kosong.”
“Terima kasih ya, Vey.”
“Sama-sama, Mas.” Veyra kemudian berlalu meninggalkan kamar dan bergegas ke dapur.
“Papa lanjut sarapan dulu. Kamu istirahat saja,” ucap Ardian penuh perhatian. Zavier hanya mengangguk.
Melihat keduanya merawatnya begitu perhatian, Zavier hanya bisa diam. Perasaan hangat dan sekaligus sesak berkecamuk dalam dirinya.
awal nya bagus, lanjut thor