NovelToon NovelToon
Suara Hati DARREN

Suara Hati DARREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Berbaikan / Anak Genius / Murid Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.

Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya

Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.



Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di lokasi yang berbeda namun di waktu yang sama terlihat tiga pemuda tampak saat ini tampak marah besar di rumahnya masing-masing. Ketiga pemuda tampan itu adalah Satria Antonius, Rama Dustine dan Danar Dominic.

"Aarrgghhh!"

Satria, Rama dan Danar seketika berteriak dengan tangannya memegang sebuah Map.

"Brengsek!"

Mendengar teriakan dari putra keduanya membuat kedua orang tua, kakak dan adiknya seketika terkejut. Mereka semua memutuskan untuk menghampiri sang putra keduanya/kakak keduanya/adiknya di ruang tengah.

Baik kedua orang tua, kakak dan adik dari Rama maupun kedua orang tua, kakak dan adik dari Satria dan Danar menatap khawatir putranya/kakaknya/adiknya.

"Sayang!"

Di lokasi yang berbeda. Sophia, Bella dan Yocelyn mengusap lembut kepala/wajah putra keduanya.

Kini mereka duduk di sofa. Tatapan mata semuanya menatap khawatir kearah Danar, Satria dan Rama.

"Ada apa, kak?" tanya Darel, Jerry dan Willy di lokasi yang berbeda. Mereka begitu khawatir terhadap kakak keduanya itu.

Danar, Satria dan Rama melihat kearah orang tuanya, kakak dan adiknya. Mereka menatap dengan tatapan menyesal.

"Ada apa?"

"Apa ada masalah?"

Eric dan Dendra, Dellano dan Ardy, serta David dan Angga bertanya kepada putra keduanya/adiknya.

Mendengar pertanyaan dari ayah dan kakaknya membuat Danar, Rama dan Satria melihat kearah ayah dan kakaknya dengan tatapan sedih dan menyesal.

"Apa yang dikatakan oleh Darren padaku itu benar."

"Dia sudah menipuku."

"Dia tidak bersungguh-sungguh menjalin b dengan perusahaanku."

Rama, Danar dan Satria menjawab pertanyaan dari ayah dan kakaknya dengan tatapan menyesal.

"Semua yang dikatakan oleh Andrean kepada Jerry semuanya benar," ucap Satria.

Mendengar jawaban dari putra keduanya/adiknya/kakaknya membuat mereka semua terkejut. Dapat mereka lihat ada rasa bersalah dan menyesal dari tatapan mata putranya/kakaknya/adiknya.

"Lalu apa yang terjadi?"

"Kamu tahu dari mana?"

"Kapan kamu mengetahuinya?"

David, Eric dan Dellano bertanya kepada putra keduanya itu dengan tatapan iba.

"Aku membawa berkas kerjasama itu pulang ke rumah sebelum aku menandatanganinya. Hasilnya, tulisan-tulisan itu menghilang.

Danar, Rama dan Satria menjawab bersamaan di lokasi yang berbeda.

Mendengar jawaban dari putranya/kakaknya/adiknya membuat mereka semua terkejut. Walau pun begitu, mereka tampak lega karena putranya/kakaknya/adiknya belum menandatangani berkas tersebut.

"Ya, sudah! Kamu jangan merasa bersalah seperti itu. Nanti kita ke rumah Darren. Setibanya disana, kamu minta maaf padanya."

David, Eric dan Dellano berucap sembari memberikan semangat pada putra keduanya itu.

***

Darren sekarang ini berada di halaman rumah orang tuanya. Dia memutuskan kembali dan tidak jadi pergi ke perusahaan Accenture miliknya.

Darren masih berada di dalam mobilnya. Pikirannya sekarang ini tertuju saat kejadian sang Paman yaitu Kishan Caggar diserang oleh beberapa laki-laki berpakaian hitam.

Yang membuat Darren marah adalah bahwa orang-orang itu hendak membunuh sang Paman atas perintah dari seorang wanita. Alasan wanita itu hendak membunuh sang Paman karena wanita itu sakit hati terhadap dirinya.

Tatapan mata Darren menatap ke depan. Sorot matanya tampak tajam. Dia benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh wanita yang bernama Wina tersebut.

Setelah melamun beberapa menit, Darren pun memutuskan keluar dari dalam mobilnya. Dan tak lupa mengambil ponselnya yang terletak di depannya.

Darren membuka pintu mobilnya. Setelah terbuka, dia pun keluar dari dalam mobil tersebut.

Dug..

Bunyi pintu mobil yang ditutup oleh Darren.

Kini Darren sudah diluar. Dia kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya.

Ketika baru beberapa langkah kakinya melangkah menuju pintu rumahnya, tiba-tiba Darren dikejutkan dengan suara dering ponselnya.

Drtt..

Dirtt..

Darren mengangkat tangannya ke atas guna untuk melihat ke layar ponselnya. Disana dia melihat nama 'Thomas' di layar ponselnya.

Tanpa pikir panjang lagi, Darren pun langsung menjawab panggilan dari Thomas, ketua kelompok Triad.

"Hallo, Thomas."

Darren menjawab panggilan dari Thomas sembari terus melangkah menuju pintu rumahnya.

"...."

"Aku di rumah orang tuaku. Kenapa?"

"...."

"Iya, itu benar. Memangnya kenapa? Apa yang dilakukan oleh wanita menjijikan itu?"

"...."

Seketika tatapan mata Darren membelalak ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Thomas.

"Apa yang akan dia lakukan terhadap laki-laki itu?"

Laki-laki yang dimaksud Darren adalah ayah kandungnya. Darren enggan menyebut kata 'ayahku' karena dia menyimpan rasa sakit yang besar di hatinya akan perbuatan ayah dan keempat kakak-kakaknya itu. Dia tidak tahu sampai kapan dia akan menyimpannya. Dia juga tidak tahu, apakah dia akan memaafkan kesalahan ayah dan keempat kakaknya itu jika ayah dan keempat kakaknya itu menyesali perbuatannya.

Sementara Thomas di seberang telepon seketika faham makna dari ucapan Darren yang menyebut laki-laki itu. Dia mengerti perasaan Darren.

"...."

"Kelompok Bingo?"

"...."

"Bukankah kelompok itu anti dengan kekerasan dan juga anti menyakiti orang lain. Justru kelompok itu sama dengan kelompokmu yang mana suka membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan?"

"...."

Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Thomas membuat Darren seketika mengepal kuat tangannya.

Cklek..

Pintu rumah dibuka oleh Darren.

Setelah itu, dia melangkah memasuki rumah tersebut sembari terus berbicara dengan Thomas.

^^^

Erland dan keenam putranya sudah di rumah sejak lima menit yang lalu. Mereka saat ini berada di ruang tengah.

Di ruang tengah itu bukan hanya ada Erland dan keenam putranya saja, melainkan dua adik kandungnya Erland yaitu Marco dan Clarissa serta keluarga kecil mereka masing-masing.

Erland bersama kedua adiknya tengah membahas tentang Darren. Dengan kata lain, Erland dan keempat putranya telah menceritakan tentang mereka yang sudah menyadari kesalahannya selama satu tahun ini terhadap Darren. Mereka juga menceritakan bahwa mereka berusaha untuk mendekatkan diri dan meminta maaf dengan Darren.

Erland dan keempat putranya juga sudah menceritakan tentang niat mereka yang mana masih berpura-pura membenci Darren. Alasannya mereka ingin mengetahui seberapa banyak yang diketahui oleh Darren tentang Riyo.

"Aku senang mendengarnya, kak!" seru Clarissa dengan tatapan matanya yang memancarkan kebahagiaan.

"Maafkan aku jika aku salah paham kepada kak Erland saat kejadian dimana aku menghubungi ketujuh sahabat-sahabatnya Darren untuk datang kesini. Aku pikir kakak benar-benar sudah tidak peduli dengan Darren," ucap Marco.

Mendengar ucapan dari adik laki-lakinya membuat Erland tersenyum. Dia tidak marah akan sikap dan ucapan adiknya itu beberapa Minggu yang lalu. Justru dia bahagia karena adiknya itu begitu menyayangi putra bungsunya disaat dia membenci putranya itu.

"Kalian pasti akan terkejut jika kami mengatakan ini!" seru Adnan tiba-tiba.

Mendengar seruan dari Adnan membuat Clarissa, Marco beserta istri/suami dan anak-anaknya langsung melihat kearah Adnan.

"Apa itu kak Adnan?" tanya Davian.

"Kami bisa mendengar suara hati Darren."

Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Adnan yang mengatakan bahwa dia bisa mendengar suara hati Darren.

"Apa itu benar, kak Erland?" tanya Evan dengan tatapan matanya menatap kearah sang kakak ipar.

"Iya, Evan! Itu benar. Dari suara hati Darren itulah kami bisa sedikit demi sedikit mengetahui kebusukan Riyo selama ini," jawab Erland.

"Dari suara hati Darren, kami juga mengetahui bahwa Riyo ingin membunuh Darren melalui susu pisang milik Darren. Riyo menyuntikkan sesuatu ke dalam semua susu pisang milik Darren," sela Adnan kembali.

"Apa?!"

Clarissa, Marco beserta suaminya/istrinya dan anak-anaknya terkejut ketika mendengar ucapan dari Adnan. Mereka tidak menyangka jika Riyo memiliki niat seperti itu terhadap Darren.

"Jadi ini menyebabkan Bibi Diah tewas?" tanya Delia dengan tatapan matanya menatap kearah kakak iparnya dan keponakan-keponakannya.

Erland dan keenam putranya menganggukkan kepalanya secara bersamaan.

"Brengsek!"

Seketika mereka semua terkejut mendengar teriakkan seseorang dari ruang tamu. Mereka mengenali suara tersebut.

"Itu suara Darren!" seru Evan.

Mereka semua melihat kearah dimana Darren akan muncul dari ruang tamu menuju ruang tengah.

Dan benar saja...

Mereka semua melihat sosok Darren melangkahkan kakinya menuju ruang tengah sembari berbicara dengan seseorang di telepon.

"Aku tidak pernah mengusiknya. Bahkan aku juga tidak memiliki masalah apapun padanya. Kenapa dia mencari masalah denganku melalui paman Kishan dan ayahku?!"

"...."

"Lah, kan dia sendiri yang terlebih dahulu mengusikku ketika dia datang ke rumah keluargaku untuk melakukan penandatanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan ayahku. Jika dia tidak terlalu ikut campur urusan orang lain, maka aku juga tidak akan melakukan hal buruk itu."

"...."

Mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Thomas membuat Darren seketika tersenyum di sudut bibirnya.

"Aku mau kau mencari tahu tentang semua anggota keluarganya, baik dari pihak ibunya maupun ayahnya. Setelah itu, aku mau kau juga mencari tahu semua jenis pekerjaan mereka. Setelah kau mendapatkannya, buat mereka semua kehilangan pekerjaan tersebut. Baik mereka berstatus karyawan maupun pemilik perusahaan."

Thomas seketika tersenyum di seberang telepon ketika mendengar permintaan sekaligus ide dari Darren. Dia begitu menyukai ide tersebut.

"...."

Kini Darren yang tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Thomas.

"Eeemmm... Jika diantara mereka ada yang kuliah atau pelajar. Aku mau mereka dikeluarkan secara tidak terhormat dari kampus atau sekolah itu. Kalau perlu buat seolah-olah mereka telah melakukan kejahatan."

"...."

"Jika setelah mereka dikeluarkan dari kampus atau sekolah mereka, buat mereka tidak diterima di kampus atau sekolah manapun."

"...."

Darren seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari Thomas.

"Terima kasih, Thomas!"

"...."

"Baiklah."

Tutt..

Tutt..

Panggilan seketika langsung dimatikan oleh Thomas.

Darren menatap tajam kearah depan. Tangannya mengepal kuat. Dia tampak marah saat ini.

[Wina, kau sudah melampaui batasanmu. Kau sudah berani mengusik anggota keluargaku. Tunggu kejutan dariku. Aku bersumpah akan membuatmu bersujud di kakiku memohon ampun dan belas kasihan]

Deg..

Erland serta yang lainnya terkejut ketika mendengar suara isi hati Darren. Mereka tidak menyangka jika wanita yang bernama Wina tersebut telah berani mengusik anggota keluarganya.

Disini yang paling terkejut adalah Marco, Clarissa beserta istrinya/suaminya dan anak-anaknya. Mereka terkejut karena mereka bisa mendengar suara hati Darren.

"Aku bisa mendengar suara hati Darren," ucap Marco pelan, dan ucapannya itu didengar oleh semua anggota keluarganya.

"Aku juga bisa mendengar suara hati Darren!" seru Evan.

"Kami juga!" seru yang lainnya.

Mereka semua masih melihat kearah Darren. Tatapan mata mereka fokus pada wajah Darren. Mereka menyakini terutama Marco dan Clarissa bahwa Darren tak baik-baik saja.

Darren kemudian kembali melangkahkan kakinya. Dia hendak langsung menuju kamarnya di lantai dua. Tiba-tiba dia merasakan sesak di dada kirinya. Dan dia ingin segera istirahat.

Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Darren mengerang kesakitan bersamaan tangan kanannya meremat kuat dada kirinya.

"Aarrgghhh!" teriak Darren.

Mendengar teriakkan dari Darren membuat Erland serta yang lainnya langsung berdiri dari duduknya. Mereka menatap khawatir kearah Darren, terutama Erland dan keenam putranya.

[Sial! Kenapa sakit ini datang lagi? Ini untuk kesekian kalinya aku merasakan sakit di dada kiriku. Apa yang terjadi padaku?]

[Bibi Celsea! Ya, Bibi Celsea. Aku harus menanyakan masalah ini padanya. Selama ini dia yang selalu memeriksa kondisi kesehatanku]

Sementara Erland dan anggota keluarganya terkejut dan syok ketika mendengar ucapan suara hati Darren.

Namun tidak dengan Marco dan Clarissa! Keduanya sudah mengetahuinya sejak lama sakit yang dirasakan oleh Darren. Begitu juga dengan Agneta, adik perempuan dari Belva.

"Aarrgghhh!" Darren kembali berteriak. Dan kali ini teriakan cukup keras, disertai dengan rematan di dada kirinya.

"Darren!"

Mereka semua berlari menghampiri Darren. Yang paling kencang adalah Gilang dan Darka.

Mereka seketika memeluk tubuh adiknya. Mereka menangis melihat adiknya yang kesakitan.

"Ren," lirih Gilang dan Darka bersamaan. Tangan mereka mengusap-usap punggung dan kepala belakang Darren.

"Aahhh... Aahhh..." nafas Darren seketika tersengal-sengal dan tak beraturan. "Mama... Mama..."

Tes..

Seketika air mata Darren mengalir membasahi pipinya disaat setelah menyebut kata 'Mama'.

Detik kemudian..

Bruukkk..

Tubuh Darren seketika terjatuh ke samping dan dengan gesitnya Gilang dan Andra yang berada di samping Gilang langsung menahan bobot tubuh adiknya. Darren jatuh tak sadarkan diri seketika.

Mereka semua menangis melihat Darren yang tak sadarkan diri, terutama Erland dan keempat putra tertuanya. Bibir mereka bergetar hebat dan air matanya berlomba-lomba keluar membasahi pipinya.

"Ren." ucap lirih Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.

"Sayang," ucap Erland.

Davin kemudian mengambil tubuh adik bungsunya, lalu dia menggendongnya.

Setelah tubuh adik bungsunya dalam gendongannya, Davin langsung berlari keluar. Dia ingin segera membawa adiknya ke rumah sakit. Dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap adik bungsunya. Dia tidak ingin kehilangan adiknya.

Erland serta yang lainnya langsung mengikuti Davin. Mereka semua saat ini tampak khawatir dan juga takut.

"Ren, kakak mohon. Bertahanlah. jangan tinggalkan kakak. Maafkan kakak... Maafkan kakak," ucap Davin, disertai air matanya mengalir membasahi pipinya.

1
MifadiruMzn
cerita nya bagus thor. bahasanya ringan, mudah dimengerti
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
lagi kak
sri wahyu
up yg banyak
penasaran kelanjutannya
sri wahyu
makasih kak
semangat
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
semangat kak
up lagi ya
Glastor Roy
up
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
makasih kak semangat updatenya
sri wahyu
baru sadar setelah satu tahun benci
sri wahyu
semangat kak
sri wahyu
menyesal kan
sri wahyu
semngat kak
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
semngat kak
sri wahyu
jantungnya kambuh kah


kasian Darren
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
emang enak di cuekin
semangat trus kak
Glastor Roy
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!