10 tahun sudah berlalu, kini tiga bocah kembar yang dulu selalu tampil menggemaskan, sekarang sudah tumbuh menjadi pria tampan dan gadis yang cantik.
Semenjak 10 tahun itu banyak hal yang sudah terjadi, Zio, Zayn dan Zea mengalami keterpurukan yang mendalam karena terbunuh atau meninggal nya dua orang terkasih nya, yang disebabkan oleh orang terdekat nya.
Namun sayangnya, semenjak hari kejadian itu, orang yang telah mencelakai keluarga mereka menghilang bak ditelan bumi. Dan semenjak hari itu tiga anak kembar itu berjanji akan mencari dan menemukan pembunuh itu dan akan membalas dendam atas kematian dua orang yang mereka sayangi.
Dan seperti apa kisah cinta mereka? apa kah mereka masih bersama orang yang sama yang mereka sukai dan mereka temui pada masa kecil atau kah justru berpindah hati?
Yuk ikuti kisah nya. selamat membaca🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Claudia dan Angel langsung bangkit dari duduk nya.
"Selamat malam." Claudia langsung menghampiri dan menyapa ramah wanita paruh baya yg merupakan keluarga Senna.
Wanita paruh baya tersebut juga membalas dengan senyum ramah nya.
"Maafkan kami Nyonya, gara-gara menolong putra kami, putri Anda harus terbaring disini." Ucap Claudia meminta maaf dengan rendah hati. Wanita itu bahkan mengatupkan kedua tangan nya di depan dada.
"Selain itu kami juga sangat berterimakasih pada putri Anda dan keluarga nya." Tambah Claudia lagi, senyum tulus terbit di sudut bibir nya.
"Tidak perlu meminta maaf nyonya, sepenuh nya ini bukan kesalahan putra Anda, saya sudah mendengar semua cerita nya dari suami Anda." Sahut wanita paruh baya tersebut juga dengan lapang dada.
"Dan mengenai rasa terimakasih kalian saya terima, tetapi Senna lah yg berhak mendapatkan hal itu." Jawab wanita paruh baya tersebut.
Kemudian dia izin untuk melihat Senna yg saat itu masih setia memejamkan matanya.
"Sayang, kamu pulang lah, besok kamu harus kerja, aku akan disini bersama Angel, menemani ibu gadis itu." Claudia mulai berucap pelan, karna tak enak mengganggu Wanita paruh baya tersebut yg tengah mengajak bicara Senna yg belum sadarkan diri. Elang baru saja ingin membuka mulut dan menolak, tetapi lekas-lekas dihentikan oleh Claudia.
"Jangan keras kepala, temani anak-anak di rumah dan beristirahat lah dengan benar." Titah Claudia, kali ini dengan nada tak ingin di bantah.
Akhirnya Elang pun hanya bisa menurut saja, lelaki itu kemudian pamit pulang. Kini hanya tersisa tiga wanita saja di ruang perawatan Senna, 4 orang bersama Senna yg masih belum siuman.
Tadi Luna mengatakan bahwa kemungkinan Senna akan tersadar 2 atau 3 jam kedepan.
Menit demi menit berlalu, dan berganti jam, ketiga wanita yg tengah menjaga Senna disana masih setia menunggu gadis itu membuka mata nya.
Sambil menunggu ketiga wanita tersebut berbincang, dan bercerita panjang lebar, tepat nya wanita yg merupakan keluarga dari Senna tersebut yg bercerita.
Wanita tersebut mengatakan tentang siapa Senna. Ternyata Senna anak yatim piatu yg kebetulan di rawat oleh Bu Fatimah.
Senna mulai berada di panti asuhan milik Bu Fatimah sejak gadis itu berusia 8 tahun, Senna bisa bersekolah saja karna ada beasiswa lantaran gadis itu cerdas.
Bu Fatimah mempunyai kurang lebih sepuluh orang lagi anak asuh, dan semuanya masih kecil, ada yg berumur 11 tahun dua orang dan yg lainnya sekitar 5 dan tahun.Bu Fatimah bukan orang kaya, yg bisa membiayai anak-anak asuh nya dengan layak, wanita itu hanya penjual nasi uduk di pasar.
Setiap hari Bu Fatimah berjualan untuk memenuhi kebutuhan mereka, yang jauh dari kata cukup. Sedangkan Senna yg paling besar diantara anak asuh Bu Fatimah membantu dengan bekerja part time sejak gadis itu masih SMP.
Senna kehilangan keluarga nya lantaran suatu musibah, kakek satu-satunya yg ia miliki meninggal dunia saat peristiwa yang menimpa pesantren milik kakek nya kebakaran.
Saat itu kakek Senna merupakan seorang ustadz, dan pemilik sebuah pondok pesantren. Akan tetapi pondok pesantren tersebut hangus menjadi abu akibat kebakaran beberapa tahun silam.
Untunglah saat itu anak-anak didik kakek Senna sedang libur dan pulang ke rumah masing-masing, hingga hanya ada Senna dan sang kakek saja yg tertimpa musibah itu.
Senna berhasil selamat, akan tetapi kakek nya meninggal dunia. Senna di temukan pingsan di pinggir jalan, dengan jarak kira-kira sepuluh meter jauh nya dari pesantren tersebut.
Senna berhasil di selamatkan oleh para tetangga, dan tetangga nya jugalah yg menitipkan Senna yg berumur 8 tahun di panti asuhan Mulia milik Bu Fatimah.Beberapa anak panti asuhan lain nya, ada yg telah diadopsi, namun tidak dengan Senna, saat masih kecil tidak ada satu keluarga pun yg berniat mengadopsi dirinya, itulah sebab nya Senna masih di panti asuhan hingga sekarang.
Claudia dan Angel yg mendengarkan cerita bu Fatimah hanya bisa menatap prihatin pada Senna, si gadis malang namun baik hati. Bertepatan dengan Bu Fatimah menyelesaikan kisah tentang Senna, sebuah lenguhan pelan mulai terdengar.
Ketiga wanita tersebut sontak langsung menatap kearah brankar tempat Senna berbaring. Jari jemari gadis itu mulai bergerak, dan tak lama setelah nya gadis tersebut mulai membuka mata nya.
"Senna, Alhamdulillah kamu sudah sadar nak." Bu Fatimah mulai berucap, dan mengusap lembut rambut gadis itu.
Senna tampak memutar bola mata nya. Gadis itu mencoba mengingat apa yg terjadi pada nya, sedetik kemudian dia ingat semua nya, bahwa dirinya menyelamatkan seorang pemuda dan berakhir diri nya lah yg celaka.
"Bu, aku dimana?." Tanya Senna lirih.
"Saya akan panggilkan Dokter untuk memeriksa nya." Claudia langsung menekan tombol di samping ranjang.
"Bu, kenapa semuanya gelap, apakah disini mati lampu?." Tanya Senna lirih, yang membuat Bu Fatimah, Claudia, dan juga Angel mengernyitkan dahi mereka.Gelap, apakah maksud nya? Itulah yg ada di dalam benak tiga wanita tersebut.
"Bu, gelap Bu, Aku tidak bisa melihat apapun." Senna kembali berucap, karna semua tampak gelap di penglihatan nya.
Sekarang ketiga wanita itu mulai mencerna apa maksud perkataan Senna, dan sontak hal itu membuat mereka terenyuh. Senna mencoba untuk bangun dari dan duduk, tangan gadis itu meraba-raba.
"Ayo Ibu bantu." Bu Fatimah langsung mendekati Senna dan membantu nya untuk duduk dengan setengah bersandar di brankar.
"Bu, kenapa mati lampu nya lama sekali." Keluh Senna lagi, dia masih mengira bahwa disana memang mati lampu, oleh sebab itulah semua begitu gelap.
Claudia dan Angel saling bertukar pandang, kedua nya menatap prihatin dan penuh iba pada Senna. Hingga terdengar pintu ruangan tersebut terbuka, dan tampaklah seorang Dokter.
"Dokter, tolong periksa keadaan nya, dia sudah sadar." Claudia langsung berkata pada sang Dokter.
Dokter laki-laki tersebut langsung mengangguk, kemudian mendekati ranjang Senna.
"Permisi, biar saya periksa dulu ya Bu." Ucap Dokter tersebut dengan sopan. Bu Fatimah langsung mengangguk, dan berdiri dari untuk memberi ruang pada Dokter tersebut.
"Senna, bagaimana perasaan mu, apakah masih ada yg sakit?." Dokter tersebut menyapa ramah pada Senna, bahkan dia sudah tersenyum ramah.
Namun reaksi dari Senna membuat Dokter tersebut mulai mengernyitkan dahi nya, bagaimana tidak, Senna malah menatap kearah lain.
"Dokter, saya tidak bisa melihat anda, disini mati lampu." Sahut Senna, gadis itu masih saja berpikir kalau lampu diruangan sana mati.
Dokter tersebut langsung melambaikan tangan nya tepat di depan Senna, namun sama seperti tadi, gadis itu sama sekali tak bereaksi, matanya terbuka dan hanya mengerjap-ngerjap saja.
Dokter tersebut menghela nafas berat.
"Senna, coba berbaring ya, biar saya periksa kondisi mu dulu." Dokter itu berkata seraya membantu Senna berbaring.
Setelah Senna berbaring, Dokter tersebut langsung memeriksa kedua mata Senna.
"Sudah." Ucap Dokter tadi, setelah selesai memeriksa keadaan Senna, kondisi fisik nya memang telah stabil, hanya satu yg bermasalah yaitu penglihatan gadis tersebut.
"Bisa bicara di ruangan saya." Dokter laki-laki itu menatap ketiga wanita yg tak lain dari Claudia, Angel dan Bu Fatimah, secara bergantian.
"Baik." Bu Fatimah langsung menanggapi.
Bu Fatimah mengikuti langkah Dokter tersebut, hingga tiba di ruangan nya.
Begitu tiba di ruangan nya, Dokter tadi langsung meminta Bu Fatimah untuk duduk disalah satu kursi yg ada disana.
"Apa yg terjadi pada anak saya Dok?." Tanya Bu Fatimah terus terang, wanita paruh baya itu faham betul pastilah ada masalah serius yg ingin di katakan sang Dokter.
Bu Fatimah telah menguatkan hati, agar siap menerima apapun yg akan disampaikan sang Dokter.
"Maaf, dengan berat hati saya harus menyampaikan hal ini, berdasarkan hasil pemeriksaan tadi, seperti nya putri anda mengalami kebutaan, akibat benturan keras yg terjadi di kepala nya dan itu berpengaruh pada sistem saraf mata nya ." Jelas Dokter tersebut.
Meskipun sudah menduga apa yg akan di katakan oleh Dokter tersebut, akan tetapi mendengar hal itu tetap saja Bu Fatimah langsung lemas bagai tak bertulang.
*
Bersambung..................
salam kenal Thor maaf baru menyapa 😅 ,karna trllu serius mmbca cerita mu jd lp ma yg nulis crt ny😅.
di tggu up slnjut ny
lanjut ceritanya
bikin bingung membaca