“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.
Semuanya berawal dari ...
Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.
Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.
Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : Selembar foto
Keesokan paginya.
Nabila menghentikan langkahnya saat hendak masuk kedalam butiknya. Melihat sosok yang sangat dia benci. Isyana dengan senyuman nya yang jahat berdiri tepat di hadapan Nabila.
“Nabila, aku turut berduka untuk mobil barumu yang rusak,” ucap Isyana memasang wajah sedih.
“Kamu tau dari mana?” Nabila terkekeh dan berjalan mendekati isyana.
“Aku tahu itu pasti perbuatan mu kan, dasar jalang!” Nabila mengangkat tangan nya hendak menampar wajah Isyana.
Isyana dengan cepat meraih tangan nabila lalu menghempaskan nya dengan kuat.
“Ups, jangan sembarangan kamu menuduh. Akan ku buat tangan mu patah jika berani menyentuh wajahku! Kamu nggak punya bukti kan.” Isyana tersenyum menyeringai.
“Kamu ya....” Kata-kata nabila terhenti saat ada beberapa reporter mendatanginya.
“Mba Nabila, bisa minta wawancara nya untuk kejadian kemarin dan untuk pemotretan hari ini?” ungkap para reporter itu.
“Tentu saja, mari silahkan masuk,” ucap nabila dengan ramah kepada para reporter. Tidak kepada Isyana, Nabila malah melirik dengan sinis.
“Heh, dia antusias sekali untuk pemotretan hari ini ... maaf Nabila, hari ini kamu tidak akan menjadi pemeran utamanya,” ucap Isyana tersenyum menatap kepergian Nabila.
Isyana mendekatkan layar ponselnya ke daun telingan nya. “Dir, apa kamu sudah menyiapakan semua nya untuk pemotretan?”
“Sudah, Bu. Semuanya sudah saya siapkan. Kita langsung pergi ke studio nya saja.” Jawab Dira diseberang panggilan.
Hari ini jadwal Nabila menjadi model pemotretan pakaian musim panas brand terkenal dari Paris. Karena itu dia tidak mau kejadian yang menimpanya kemarin, membuat perasaan nya tidak karuan.
*
Waktu pemotretan sudah hampir tiba. Nabila dan beberapa model lain nya sudah menunggu di studio yang di sediakan.
“Hello, Miss Nabila you are so beautiful ... hari ini kamu terlihat sangat bersinar,” ujar Brilly Manager Operasional yang akan memimpin pemotretan tersebut.
“Thank you so much, Brilly. Apa kabar mu?” Nabila memeluk Brilly.
Wanita centil yang berpenampilan modis itu berusia 35 tahun. “Tentu saja aku baik.” Jawabnya.
“Bye the way, hari ini buat penampilan ku yang lebih bersinar dari yang lain, seperti biasanya,” ucap Nabila dengan percaya diri.
“Hahaha, kamu ini masih saja ya berenergik! I like that,” sahut Brilly sembari tertawa.
“Tentu saja!” Nabila ikut tertawa.
“Tapi maafkan aku, hari ini kamu tidak bisa menjadi peran utamanya, Nabila,” potong Brilly.
Nabila mengerutkan keningnya, menatap Brilly dengan bingung. “Maksudmu apa, Brill?”
“Everyone looks here, baby ... sambut bintang kita hari ini,” seru Brilly dengan heboh.
Nabila hanya bisa melongo, sedangkan model-modelyang lain ikut bersorak sepertiBrilly. Menyambut seorang wanita cantik yang masuk kedalam ruang ganti tersebut.
“Isyana?” Nabila mendelikan matanya jengkel.
“Hai, Brilly?” sapa Isyana kepada Brilly. Dia sempat menyeringai melirik Nabila.
“Isyana Germian Sen, kamu terlihat sangat luar biasa. Terima kasih karena sudah meluangkan waktumu untuk pemotretan ini,” ucap Brilly seraya memeluk Isyana.
Nabila mendengus kesal, dia menarik Brilly dengan sedikit kasar. “Apa yang dilakukan nya disini? Jangan bilang dia......”
Brilly mengangguk dan kemabli tersenyum pada Isyana.
“Hari ini Isyana akan menjadi bintangnya,” tutur Brilly. Nampak jelas Brilly sang senang Isyana bisa hadir hari ini.
“Brilly, bukan kah kamu bilang kemarin aku jadi model utama hari ini?” Nabila merasa tidak terima.
“Maafkan aku Nabila, awalnya aku memang meminta kamu jadi model utamanya, karena Isyana menolak tawaran pemotretan ini ... tapi tadi malam asisten nya menelpon ku, dia bilang bersedia hadir di pemotretan hari ini, aku sangat senang mendengarnya sampai lupa untuk mengabarimu,” jelas Brilly.
Nabila menghela nafas dengan kasar lalu berlalu keluar dari ruangan tersebut. Karena waktunya yang sudah hampir dimulai. Nabila tidakbisa membatalkan pemotretan, jika tidak dia akan dikenakan denda pembatalankontrak tiga kali lipat.
Akhirnya mau tidak mau dengan hati dongkol Nabila mengikuti prosesnya. Walaupun sesekali dia dibuat kesal oleh Isyana yang terus menerus menerima pujian dari Brilly.
Setelah selesai. Isyana dan Nabila keluar dari studio pemotretan secara bersamaan. Nabila tidak menoleh sama sekali kepada Isyana. Karena sangat jengkel dia menahan dirinya untuk menjambak rambut Isyana. Dia pun segera masuk ke dalam mobil jemputan nya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Ahhh,aku sangat puas melihatnya kesal hari ini, besok-besok apa lagi ya,” gumam Isyana seraya terkekeh menatap mobil yang di tumpangi Nabila menjauh pergi.
Malam ini hujan turundengan sangat deras. Suasana di dalam rumah Elvano terasa dingin seperti tanpa penghuni. Nabila baru selesai mandi, dia mengenakan lingerie berwarna merah kesukaan nya.
“El?” panggil Nabila sembari menatap seisi kamarnya yang kosong.
“Dimana Elvano? Mungkin dia sedang berada di ruang kerjanya.” Nabila pun berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Nabila mengetuk pintu ruang kerja Elvano. Tapi tidak ada yang menyahut. Beberapa kali dia ulangi sembari memanggil nama sang suami. Tetap tidak ada sahutan dari dalam.
“Elvano!”
Merasa tidak ada sahutan. Nabila pun meraih gagang pintunya lalu memutarnya dengan pelan. Kepalanya lebih duluan masuk, celingukkan mencari sosok Elvano di dalam ruangan itu. Tapi tetap tidak ada.
“Dia juga tidak ada disini,” gumamnya sendiri.
Saat Nabila hendak menutup kembali pintu itu. Dia terhenti, pandangan matanya tertuju pada sebuah buku yang tergeletak di atas sofa santai yang menjadi pelengkap di ruang kerja Elvano.
“Buku apa itu?” Karena penasaran Nabila pun mendekat dan meraih buku tersebut.
Nabila membuka beberapa lembar halaman buku. Tiba-tiba selembar foto terjatuh kelantai. Nabila mengerutkan dahinya, memungut foto tersebut. Dia membalik foto itu dan membaca tulisan di baliknya.
“Tanggal 20 Desember New York...”
Di dalam foto tersebut. Ada seorang wanita yang berpose membelakangi kamera, menatap pemandangan kota dari balkon kamar hotel. Wanita itu memakai piyama tidur berwarna putih dengan rambut panjang terurai.
Seketika itu juga bulu kuduk Nabila berdiri. Darah di dalam tubuhnya juga mendidih. Dia menoleh kearah suara pintu yang terbuka. Elvano berjalan masuk kedalam ruang kerja nya tanpa mengetahui ada Nabila di sana.
“Nabila? Apa yang kamu lakukan diruangan ku?” Elvano heran melihat Nabila, dia pun berjalan mendekatinya.
“Aku kan istrimu El, memangnya aku nggak boleh kemari?” Nabila mendelik dan bicara dengan ketus.
“Apasih, kok kamu jadi bentak-bentak ... aku kan cuman nanya.” Elvano berbalik dan hendak meninggalkan ruangan itu.Terasa panas karena kehadiran Nabila.
“Elvano Mubarak! Kamu sudah berani main-main ya, sekarang jawab aku dengan jujur ... siapa perempuan yang ada di dalam foto ini?” Nabila menjegat jalan Elvano. Kemudian dia menekankan foto yang dia pegang ke dada Elvano dengan kuat.
Elvano terkejut dan sontak langsung meraih foto tersebut, sebelum terjatuh ke lantai.
“Jawab aku Elvano? Siapa perempuan itu? Kamu selingkuh ya? Kamu kok bisa setega ini sih ke aku,” ucap Nabila dengan wajah semerah tomat dan mata yang berkaca.
“Kenapa sih Bil kamu seperti ini? Kamu yang minta aku nggak ikut campur lagi dengan hidupmu, jadi kamu juga jangan ikut campur dengan kehidupan ku.Lama-lama aku jenuh hidup sama kamu yang seperti ini!”
Elvano pun berlalu pergi meninggalkan Nabila di dalam ruang kerjanya. Setelah melemparkan kata-kata yang kasar padanya.
“Elvano!” teriak Nabila. Tapi Elvano tidak perduli akhirnya menghilang dari balik pintu.
“SIAL!!!” Nabila menendang guci mahal yang ada di dekat sofa ruang kerja Elvano. Sampai pecahan nya berserakan di mana-mana.
.
.
.
To be continued.