Celine, seorang mahasiswi cantik yang kabur dari rumah karena ingin menghindari perjodohan yang telah direncanakan oleh Ayahnya. Selama pelariannya, ia bertemu dengan seorang laki-laki dengan tingkah laku yang nakal, bernama Raymond. Dan ternyata Ray adalah Dosennya dikampus.
"Kak Ray lo jangan berani macam-macam ya sama gue." Celine.
"Bibir lo itu selalu menggoda gue, tau nggak?" Raymond
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih Untuk Semuanya
Mencintai memang tidak butuh logika, hanya butuh hati dan perasaan, kemudian tindakan. Itulah yang sedang Celine alami saat ini, memastikan lelaki itu benar-benar sudah pergi, dengan berderai air mata ia mulai membereskan barang-barangnya. Satu persatu, hingga akhirnya semuanya selesai, sebelum benar-benar pergi, Celine meninggalkan satu buah kartu debit yang Ray pinjamkan untuknya, tak lupa ia menuliskan selembar memo berwarna ungu.
Terimakasih untuk semuanya Kak ❤ sampai ketemu nanti saat lo jadi doping gue. Dan mungkin saat itu, gue udah jadi istri orang, jadi lo nggak boleh godain gue lagi nanti.
Meski saat menuliskan itu Celine mengukir senyum, namun air matanya tetap tumpah. Ya mungkin nanti saat mereka bertemu lagi, status Celine sudah berubah, menjadi istri orang. Itulah yang ada didalam pikiran Celine.
Dengan membawa semua barang-barangnya, Celine berjalan pelan, matanya tertuju pada setiap sudut apartemen itu. Mengingat begitu banyak kenangan disini, saat ini ia sudah diambang pintu apartemen, tidak ada lagi yang membuatnya ragu untuk melangkah. Terlebih ia sudah mengungkapkan perasaannya pada Ray, ia merasa lega.
Pilihannya sudah tepat untuk meninggalkan kehidupan dan hubungan yang tidak sehat seperti ini, bagaimanapun ia seorang wanita yang menginginkan kejelasan dalam suatu hubungan. Sementara bersama Ray, meski mereka sudah saling mengungkapkan isi hati, namun tak ada kejelasan hingga saat ini.
Salah satu alasan kepergian Celine meninggalkan Ray adalah untuk menguji lelaki itu, sejauh mana ia butuh Celine. Hanya untuk bermain-main sajakah atau benar-benar tulus? Celine sungguh penasaran akan hal itu. Jadi, menurutnya memberi jarak diantara mereka itu perlu agar mengerti sejauh mana mereka saling membutuhkan.
------------------------------
Ray sudah berada didalam ruangannya, sejak didalam perjalanan tadi, ia benar-benar tidak bisa fokus. Pikirannya tertuju lada Celine, Celine dan Celine. Gadis itu terus terngiang-ngiang dikepalanya, terlebih tadi saat Celin mengatakan sayang padanya. Bak abege yang sedang jatuh cinta, saat ini jantung Ray berdegup kencang, sekilas ia menyungging senyum, mengingat betapa konyol dirinya.
"Pak Ray, maaf..." suara Debby, mahasiswi bimbingannya menyadarkan lamunannya. Mata Ray memang tertuju pada lembaran-lembaran kertas hasil penelitian Debby, namun pikirannya tertuju pada Celine.
"Ya?" Ray tercengang, "Apa hasil ketikan saya ada yang lucu?" tanya Debby hati-hati, karena sedari tadi Debby memperhatikan raut wajah yang aneh, dari Dosen dihadapannya.
"Oh enggak, itu udah saya tandain, yang harus kamu revisi," Ray menutup kembali lembaran-lembaran itu, kemudian meninggalkan Debby begitu saja. Sepertinya ia butuh sesuatu untuk menyegarkan pikirannya.
Debby berdecak kesal, entah sudah berapa kali ia harus merevisi ulang skripsinya, "Kayaknya gue harus pake cara lain nih," Debby melangkah keluar ruangan, langkahnya ia percepat untuk mengejar Ray. Ia tahu apa yang harus dilakukan, semoga saja kecantikannya bisa meluluhkan hati Ray. Di beberapa kalangan mahasiswi, Ray terkenal sebagai si Dosen patah hati-ditinggal kawin. Begitulah, makanya ia selalu bersikap dingin.
"Pak Ray," panggilnya.
"Apa lagi?" Lelaki itu pun menoleh.
"Ehm... Pak, tolong dong, revisinya jangan kebanyakan," ucap Debby sambil memperhatikan sekeliling mereka yang kebetulan sepi, gadis itu mencoba meraih tangan Ray. "please, Pak." memasang wajah memelas, semanis mungkin. Sambil mengusap lembut punggung tangan Ray.
"Lo-- kamu berani nyentuh saya?" segera Ray tepis tangannya, kemudian berjalan lagi meninggalkan Debby.
"Pak, gimana kalau sesekali kita bimbingan diluar, jangan dikampus terus?" Debby masih mengikuti Ray, suaranya ia pelankan dan terdengar sangat lembut. Debby termasuk salah satu mahasiswi yang nekat, berbagai cara bisa ia lakukan asal tujuannya tercapai.
"Kalau kamu masih terus begini, revisi kamu saya perbanyak lagi!" Hentak Ray.
Debby terdiam, ternyata usahanya tidak berhasil, dan Ray bukan cowok yang mudah untuk ditaklukkan. Hati, dan naluri kelaki-lakiannya begitu pemilih, tidak mudah tergoda dengan sembarang perempuan.
------------------------------------
Tepat pukul satu siang, Celine sudah berada di stasiun, diantar oleh Pandu. Bagaimanapun, ia tidak bisa jika tak melibatkan lelaki itu dalam setiap keputusannya.
"Anggap aja disana lo tenangin diri, lumayan kan dua minggu? lo bisa fokus ngerjain proposal," ucap Pandu sebelum Celine benar-benar masuk kedalam kereta.
"Ehm iya, lo baik-baik yah," Celine berbalik dan hendak melangkah masuk kedalam kereta.
"Beneran cuma dua minggu lo disana?" tanya Pandu.
"Iya, soalnya... Ayah gue cuma ngasih waktu tiga minggu Pan. Gue kira rencana perjodohan itu udah nggak diterusin lagi, tapi ternyata Ayah masih tetap ngelanjutin dan gue nyerah..."
"Sabar ya Cel, mungkin emang gini jalan takdir dan jodoh lo," Pandu mengacak rambut Celine. "Ish kan berantakan rambut gue," Celine manyun, kemudian bercermin pada layar ponselnya.
"Lo nggak usah cantik-cantik banget, lo pergi sendirian, dan kalau ada cowok jahat yang mau gangguin lo gimana?"
"Benar juga apa yang lo bilang, eh Pan udah ya, gue masuk. Bye."
Melambaikan tangan kemudian benar-benar masuk dan mencari tempat duduknya sesuai tiket.
----------------------------
Votenya yang kencang, biar upnya juga kencang 😂