Di suatu malam yang kelam, pria bernama Fierce De Lance Tanson mendapati dosennya diperkosa. Wanita muda itu meringkuk sambil menangis, sementara pelaku telah kabur.
Karena perasaan cinta yang sudah cukup lama terpendam, Fierce membawa sang dosen ke rumah sakit dan berjanji akan bertanggung jawab.
Akan tetapi niat baik tak selalu membuahkan hasil. Tawaran Fierce ditolak mentah-mentah oleh wanita bernama Yuna, karena merasa tak pantas bersanding dengan muridnya itu. Terlebih Fierce masih sangat muda, masa depannya masih sangat panjang.
Namun, siapa sangka? Yuna harus menerima kenyataan pahit ketika dirinya dinyatakan hamil. Hingga akhirnya dia bersedia menerima lamaran Fierce.
Bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Akankah berjalan mulus, sementara di hati Yuna hanya ada perasaan bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika identitas si bayi terkuak?
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Persiapkan Dirimu
Matahari baru saja tenggelam, tetapi wajah Yuna sudah tampak gelisah, apalagi saat dia teringat ucapan Fierce tentang malam pertama mereka.
Dengan memikirkannya saja, sudah mampu membuat aliran darah di tubuh Yuna menjadi tak normal. Dia selalu membayangkan yang bukan-bukan.
Saat ini Yuna sedang membantu pelayan untuk menyiapkan makan malam. Sementara Junior berada di kamar bersama dengan Anna.
Setiap malam Fierce tidak bisa makan bersama keluarganya, karena setelah pulang dari perusahaan, dia langsung berangkat kuliah.
Jadi, Yuna selalu makan malam dengan anggota keluarga yang lain. Dia sudah tidak merasa canggung, karena semua orang memang begitu lapang untuk menerima kehadirannya.
"Yuna, kamu kenapa? Mommy perhatikan kamu melamun terus," tanya Zoya perhatian, karena dia memang kerap mengkhawatirkan keadaan menantunya itu.
Dan hal tersebut membuat Yuna bergerak salah tingkah. Pasalnya semua mata langsung mengarah padanya.
"Aku tidak apa-apa, Mom," balas Yuna dengan tergagap. Bahkan tangannya berkeringat dingin.
Ya Tuhan ... kenapa reaksiku berlebihan sekali?
"Tapi wajahmu terlihat tidak tenang."
Yuna bertambah gelagapan, ternyata dia memang tidak bisa menyembunyikan kegugupannya sedikitpun.
"Aku hanya sedikit khawatir dengan Fierce, Mom. Aku sempat menghubunginya untuk tidak melupakan makan malam, tapi dia tidak membalas. Mungkin karena dia sedang ada di kelas," jawab Yuna bohong, karena dia tidak mungkin mengatakan kalau dia sedang resah menanti malam pertama dengan suaminya.
Mendengar itu, Zoya mengulum senyum tipis. "Sepertinya begitu, karena Fierce tidak mungkin mengabaikan apa kata istrinya. Makanlah dengan tenang, Fierce pasti ingat dengan semua pesanmu, Yuna."
"Iya, Mom."
Balasan singkat itu menjadi penutup percakapan antara Yuna dan Zoya. Lantas setelah menyelesaikan makan malam, Yuna langsung kembali ke kamar.
Meskipun hatinya dilanda kecemasan, tetapi entah kenapa dia ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya, dia tidak ingin Fierce kecewa.
"Anna, kamu sudah boleh keluar," ucap Yuna dengan lembut, karena dia akan mengambil alih tugas Anna, untuk menjaga Baby Junior yang sudah terlelap di box bayinya.
"Terima kasih, Nyonya, seperti biasa kalau ada apa-apa tinggal panggil saya saja," jawab Anna dengan sopan.
Yuna mengangguk kecil, dan setelah kepergian Anna, wanita itu langsung bergerak untuk mengganti sprei dengan warna yang lebih cerah.
Tak lupa dia juga menyemprotkan wewangian yang membuat hasrat ingin bercinta semakin membuncang.
Yuna mendapatkan semua ide ini dari artikel yang dia baca tadi siang. Tentang bagaimana caranya menyenangkan suami di atas ranjang.
"Sekarang aku hanya perlu menunggunya," gumam Yuna setelah menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan.
Hingga tak berapa lama kemudian, Fierce benar-benar pulang. Dia langsung membuka pintu kamar dan mendapati Yuna yang duduk di depan meja rias.
Dan hal tersebut sukses membuat jantung Yuna berdebar sangat keras. Bahkan dia sampai tak bisa menggerakkan kepalanya untuk sekedar melihat Fierce yang mulai mendekat.
Ya Tuhan ... aku gugup sekali.
Hingga tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan besar melingkar di pinggangnya. Yuna menggigit bibir bawahnya kuat, mencoba menetralkan dirinya yang terlalu berlebihan.
"Kamu sudah pulang, Fierce? Apa kamu juga sudah makan?" tanya Yuna dengan terbata-bata. Namun, bukannya menjawab Fierce malah melemparkan tas dan mengecupi tengkuk leher Yuna, hingga wanita itu meremang seketika.
Yuna menggeliat karena merasa geli saat benda kenyal itu menyentuh pori-pori kulitnya.
Dan setelah Fierce merasa puas, dia meletakkan dagu di bahu Yuna, matanya menatap lurus menelisik pantulan wajah mereka berdua di depan cermin.
Pada saat sorot mata mereka bertemu, Yuna langsung memutusnya lebih dulu. Dia berusaha melihat ke arah lain, asal jangan wajah Fierce.
Tiba-tiba Fierce mengerutkan keningnya, lalu bicara pelan tepat di telinga Yuna. "Wajahmu pucat sekali, kenapa? Kamu sakit?"
Yuna langsung merinding.
Tidak, aku tidak sakit. Aku hanya gugup karena kamu, Fierce!
"Sayang, kenapa diam saja? Apa yang kamu rasakan hem?" tanya Fierce, karena sedari tadi Yuna hanya mampu bergeming.
Fierce menggerakan tangan untuk menyentuh memutar tubuh Yuna, tetapi sebelum itu terjadi Yuna lebih dulu menahan pergelangan tangan suaminya.
"Tidak, Fierce, aku tidak apa-apa. Aku—aku hanya sedikit cemas," balas Yuna dengan kalimat yang selalu terpotong-potong.
Di dalam hati Fierce tersenyum sumringah, karena sebenarnya dia tahu bahwa Yuna hendak memberikan hak kepadanya. Sejak dia masuk, dia sudah sadar dengan keadaan kamar mereka yang sedikit berubah.
"Cemas kenapa? Apakah terjadi sesuatu pada Junior?" tanya Fierce, dan Yuna langsung menggeleng cepat. "Lalu?"
Yuna meneguk ludahnya dengan kasar. Menurut artikel yang dia baca, seorang istri juga harus sedikit agresif. Namun, bukan berarti murahan. Dia boleh menawarkannya lebih dulu, karena hal tersebut akan membuat suami merasa senang.
"Aku akan memberikan hakmu malam ini, Fierce."
Yuna langsung menutup matanya rapat-rapat setelah mengatakan kalimat itu. Karena dia benar-benar merasa malu.
Sementara Fierce langsung tersenyum lebar. Dia memperhatikan wajah Yuna yang terlihat menggemaskan, hingga tanpa segan dia mengecup pipi wanita itu sekilas.
"Terima kasih sudah mau berusaha menyenangkan aku. Aku akan mandi terlebih dahulu, jadi tunggulah di sini dan persiapkan dirimu."
Glek!
Dada Yuna langsung bergemuruh sementara anggota tubuhnya berubah gemetar.
***
Penonton harap sabar😝😝🤣🤣