Shi Jin melewati lorong waktu. Dulu ia seorang permaisuri. Namun sekarang, ia sudah berubah menjadi wanita modern.
Berpura-pura menjadi wanita bernama Shu Qi.
Apa dia akan terus menutup identitas aslinya?
Apa yang terjadi, jika seorang permaisuri nyasar ke Dunia modern?
Apa dia akan kembali ke jaman kerajaan, atau. menetap di jaman Modern?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bab 31
Matahari kembali tenggelam dan hampir menghilang. Shi Jin memandang ke arah luar jendela memperhatikan suasana sore yang begitu indah. Bibirnya tersenyum manis, saat melihat keramaian kota saat itu. Wanita itu masih belum menyadari perubahan sifat Chen Ming saat itu.
“Sayang, lihatlah anak kecil itu? dia sangat lucu bukan?” Shi Jin merangkul tangan Chen Ming dengan begitu mesra. Ia melihat seorang ibu yang bermain dengan anaknya di pinggiran taman.
Chen Ming hanya diam tanpa ingin menjawab pertanyaan Shi Jin sore itu.
“Apa kita juga akan memiliki anak seperti itu?” ucap Shi Jin dengan mata berkaca-kaca.
Chen Ming mengerem mobilnya secara mendadak.
“Apa yang kau katakan?” teriak Chen Ming tidak terima.
“Chen Ming, apa yang terjadi padamu? kenapa kau berteriak seperti itu?” Shi Jin melepas tangannya, menjauh dari tubuh Chen Ming.
Chen Ming memejamkan matanya untuk mengatur emosinya saat ini.
‘Shu Qi, maafkan aku. Tadi aku melamun dan membayangkan wajah bosku, aku sangat kesal karena dia mengganggu bulan madu kita.” Chen Ming melajukan mobil itu lagi.
Shi Jin hanya diam. Hatinya sedikit trauma saat mendengar teriakan Chen Ming tadi. Shi Jin memandang keluar jendela dengan mata berkaca-kaca.
‘Apa kau tidak berbohong Chen Ming? kenapa tatapan matamu seperti itu sekarang? sebenarnya apa yang telah terjadi?
Mobil Chen Ming sudah memasuki wilayah kota tempat tinggalnya selama ini. Langit sudah berubah gelap, pemandangan kota diselimuti lampu warna-warni yang begitu indah.
Shi Jin tertidur dengan begitu lelap. Wajahnya menghadap ke arah Chen Ming dengan air mata yang ada di ujung matanya. Tangannya menggenggam erat dres yang ia kenakan dengan begitu erat. Bibirnya yang merah, tidak lagi terlihat ukiran senyuman indah.
Chen Ming memberhentikan mobilnya saat sudah tiba di dalam garasi mobil. Pria itu melepas sabuk pengamannya, dan mendorong pintu mobil secara perlahan. Langkah kakinya terhenti saat ingin melangkah keluar dari dalam mobil. Biasanya ia selalu menggendong tubuh Shu Qi, saat ketiduran di dalam mobil. Tapi, saat ini hatinya menolak untuk melakukan rutinitas yang biasa ia lakukan itu.
Chen Ming memandang wajah Shi Jin dengan tatapan sedih. Tanpa sengaja, ia menghapus buliran air mata yang menetes di wajah Shi Jin saat itu.
“Siapa kau sebenarnya?”
Tangan Chen Ming membuat Shi Jin tersadar dari tidurnya. Shi Jin membuka matanya, saat wajah Chen Ming berada dekat di depan wajahnya.
“Chen Ming, apa kita sudah sampai di rumah?” Shi Jin menatap wajah Chen Ming dengan seksama.
Chen Ming tersadar dari lamunannya memandang wajah Shu Qi.
“Iya, kita sudah tiba. Aku akan mengambil barang dari bagasi. Kau masuk duluan ke dalam rumah.” Chen Ming melangkah turun meninggalkan Shi Jin sendiri di dalam mobil.
Shi Jin menarik napas dalam sebelum turun dari dalam mobil. Wanita itu melirik Chen Ming yang masih ada di belakang mobil, sebelum berjalan masuk ke arah pintu.
Pintu terbuka, sebelum Shi Jin membuka pintu itu dengan kunci rumah yang ia miliki.
“Kak Dong Ming?” Shi Jin mengukir senyuman manis.
“Shu Qi, apa kau baik-baik saja?” Dong Ming membuka lebar pintu utama.
“Masuklah dan segera mandi. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk menyambut kepulangan kalian.” Dong Ming berjalan ke arah Chen Ming, membantu pria itu membawa beberapa barang yang ada di bagasi mobil.
Shi Jin tidak lagi ingin menjawan perkataan Dong Ming. Ia lebih memilih berjalan ke arah kamar, untuk membersihkan dirinya saat itu.
Di garasi.
“Bagaimana bulan madu kalian? apa berjalan lancar?” Dong Ming merebut satu koper yang ada di genggaman Chen Ming.
“Seperti yang kakak lihat,” jawab Chen Ming tidak bersemangat.
“Apa yang terjadi? apa kalian berkelahi lagi?” Dong Ming menatap wajah Chen Ming dengan seksama.
“Kami baik-baik saja. Hanya sedikit lelah saja, Kak.” Chen Ming berjalan masuk membawa beberapa tas.
“Kau berbohong Chen Ming, selelah apapun dirimu, Kau tidak akan pernah memasang wajah seperti itu saat bersama Shu Qi.” Dong Ming melanjutkan langkah kakinya mengikuti Chen Ming dari belakang.
“Apa Kakak sudah masak? aku sangat lapar.” Chen Ming berjalan ke arah meja makan.
“Chen Ming, kau tidak mandi dulu?” Dong Ming memperhatikan Chen Ming yang sedang cuci tangan.
“Aku sangat lapar, aku akan mandi setelah makan.” Tanpa menunggu Shu Qi, Chen Ming melakukan ritual makan malamnya dengan begitu tenang.
“Apa kau berkelahi dengan Shu Qi?” Dong Ming masih penasaran dengan perubahan sikap Chen Ming malam itu.
“Gak, Kak,” jawan Chen Ming di sela-sela kegiatannya mengunyah makanan.
“Jangan bohong. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” Dong Ming memasang wajah serius.
“Aku mau mandi dulu,” jawab Chen Ming santai, setelah perutnya merasa kenyang.
“Chen Ming!” ucap Dong Ming dengan begitu kesal.
“Lain kali akan aku ceritakan,” teriak Chen Ming dari kejauhan.
Dong Ming hanya bisa menghirup udara segar dengan wajah kecewa.
“Kak, Kakak kenapa?” Shi Jin berjalan mendekati Dong Ming yang masih duduk di meja makan.
“Apa tadi kau berjumpa dengan Chen Ming?” tanya Dong Ming cepat.
“Ya, kami baru saja berpapasan. Ada apa kak?” Shi Jin membalik piring untuk mengisinya dengan nasi.
“Shu Qi, kenapa Chen Ming terlihat berbeda? apa terjadi sesuatu di sana?” Dong Ming mulai menyelidiki Shi Jin untuk menjawab rasa penasarannya saat itu.
Shi Jin menghentikan sendok yang akan masuk ke dalam mulutnya. Meletakkan sendok itu kembali ke atas piring.
“Aku juga gak tahu kak. Sejak tadi pagi sifat Chen Ming berubah. Aku merasa jauh dari dirinya.” Wajah Shi Jin berubah sedih.
“Apa kalian bertengkar sebelumnya?” Dong Ming mengkerutkan dahinya.
Shi Jin menggeleng cepat, “Kami tidak berkelahi sama sekali. Mungkin, karena preman-preman itu menyentuhku. Hingga Chen Ming tidak lagi ingin memandang wajahku.” Shi Jin kembali mengingat perlakuan preman-preman itu.
“Shu Qi, Chen Ming bukan pria yang seperti itu. Mungkin dia ada masalah di kantor yang membuat suasana hatinya menjadi buruk. Jangan dipikirkan lagi, semua akan kembali normal.” Dong Ming beranjak dari duduknya.
“Cepat habiskan makan malammu, Shu Qi, dan segera istirahat. Tubuhmu pasti sangat lelah.” Dong Ming mengacak rambut Shi Jin.
“Jika kau menemaninya malam ini, suasana hatinya akan kembali senang.” Dong Ming pergi meninggalkan Shi Jin yang masih ada di meja makan.
“Chen Ming, sebenarnya apa yang terjadi?” Shi Jin melanjutkan makan malamnya, melupakan sikap Chen Ming untuk beberapa saat.
Dalam waktu singkat, Shi Jin sudah selesai menghabiskan makan malamnya. Wanita itu mencuci piring kotor dan membersihkan meja makan. Malam itu tubuhnya benar-benar terasa lelah, Shi Jin memijat pelan bahunya yang terasa kaku.
“Aku ingin segera tidur.” Shi Jin berjalan ke arah kamar.
Di dalam kamar, Shi Jin melihat Chen Ming yang sudah tertidur lelap. Shi Jin menutup pintu dengan pelan agar tidak mengeluarkan suara. Wanita itu menyelimuti tubuh Chen Ming sebelum naik ke atas tempat tidur.
“Selamat tidur Chen Ming.” Shi Jin mencium bibir Chen Ming. Sebelum mengatur posisi tidurnya dengan nyaman.
Like jangan lupa...😊
tetap semangat berkarya
wajar kl dia.mendapatkan fakta.kl Chen ming miskin
d luar ekspektasi ya
makanya kelakuan nya jd bar bar
g tau diri..dulunya jg berasal dr kelas bawah🙄🙄🤬