Di usia yang tak dikatakan muda, Amaira Husna selalu didesak untuk segera menikah. Alih-alih berkeluh-kesah kepada sahabatnya, Reynand. Menceritakan kegalauannya tentang bagaimana cara mengambil sikap sebab orangtuanya telah mencarikan jodoh untuknya, justru dia mendapati hal yang tak pernah dia sangka.
Salahnya yang bercerita atau inilah solusi satu-satunya untuk menolak jodoh dari orangtua. Sebab Reynand datang di hari yang sama bertepatan disaat tamu orangtuanya tiba. Reynand datang mengutarakan niat untuk melamarnya.
Akankah Amaira menerima tindakan konyol Reynand, yang notabenenya berstatus sahabat dengan hubungan yang jelas tanpa dilingkupi adanya cinta.
Atau terpaksa menerima dan menganggapnya sebatas solusi yang malah berbuntut frustasi akibat keputusannya?
Tpe-
20-09-2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Sore ini aku sudah bersiap menggunakan kaos warna putih yang modelnya oversize beserta hot pant ukurannya mungkin hanya sejengkal. Aku sedang sibuk men-touch up sedikit bedak, tapi begitu Reynand masuk ke kamar dia melirik dengan pandangan tak suka.
Apa ada yang salah dengan penampilan ku? pikirku.
Akupun mengamati tampilanku. Kupikir gak ada yang salah. "Kenapa?" tanyaku kemudian.
"Ganti!" ucapnya singkat dengan nada perintah.
Aku sontak menoleh memincingkan mata kearahnya, "Apa?"
"Apa kamu mau keluar dengan penampilan seperti itu?" Mata Reynand mengarah, menatapku dari atas sampai bawah.
"Apa ada yang salah?"
"Kalau gitu gak perlu keluar!" tegasnya.
"Lalu?"
"Pesen makanan, kita makan disini," ujarnya, kemudian dia mendudukkan diri di tepi ranjang.
Aku berdecak, "Ya sudah tunggu, aku ganti."
"Aku tunggu diluar." Reynand kemudian beranjak dan berjalan keluar kamar dilanjut menutup pintu.
"Rasa-rasanya kenapa Reynand mulai mengaturku. Okelah, hari ini aku turuti kemauannya daripada aku harus makan didalam kamar", ucapku menggerutu.
~
Aku keluar kamar hotel dan mencari-cari keberadaan Reynand. Tiba-tiba ponselku terdengar suara notifikasi. Setelah aku buka ternyata ada pesan whatsapp tertulis,
From : Reynand
Di depan Hotel
Aku sengaja tak membalas pesannya, langsung aku menuju keluar dari lokasi hotel. Didepan, terlihat Reynand duduk di atas motor matic. Lalu akupun berjalan menghampirinya.
'Gak mungkin protes lagi kan?, Celana yang kupakai panjangnya sedengkul' batinku.
"Motor siapa?" tanyaku sambil menerima uluran helm dari Reynand lalu memakainya.
"Pinjam dari tempat rental," jawabnya mulai menstater motor.
"Udah, ayo." Kataku langsung naik ke jok belakang setelah helm terpasang dengan benar.
Reynand malah berdecak, "jangan duduk miring."
Kini gantian aku yang berdecak. Turun lalu mengganti posisi dengan duduk mengangkang. Reynandpun mulai melajukan motornya. Awalnya pelan dan karena jalanan agak lenggang, sekali nge-gas malah kenceng. Refleks aku meraih pinggangnya.
Aku mendegus keras-keras. Ini orang paling hobi bikin jantungan, dumelku dalam hati.
Aku menepuk pundaknya, "pelan dikit gak bisa!"
Tanpa menjawab, dia mulai mengurangi kecepatan. Dia memang paling hobi bawa motor ngebut, tapi mana aku tahu kalau dia ternyata ngajak makan di luar naik motor. Tau gitu aku tadi gak usah dandan, kan kena angin begini bedak lipstikku luntur semua.
Tapi kalau dirasa-rasa enak juga ternyata berkendara di sore hari begini. Cuaca juga mendukung, terang tidak hujan, matahari sudah berada diufuk barat dan angin sepoi-sepoi.
Selama dalam perjalanan kita hanya diam tanpa ada percakapan. Aku sibuk dengan kegiatanku mengamati suasana jalanan yang terlewati. Dan kini air laut sudah nampak terlihat. Reynand pun menghentikan laju motornya, tepatnya di bahu jalan.
"Rey, ini dimana?" aku meletakkan dua tanganku pada pundak Reynand dan mendekat maju, tepatnya kiri kepalanya.
"Pantai Echo," jawab Reynand, lalu menoleh ke arahku hingga jarak kami begitu dekat.
"Kita lanjut cari makan?" ucapnya.
Akupun menggeleng, tapi Reynand menaikkan sebelah alisnya, dan akupun berucap, "Bentar lagi matahari tenggelam."
"Udah mau malem kan?"
Aku mengangguk dan berkata, "Aku mau lihat sunset Rey."
"Ya udah, turun!" perintah Reynand padaku.
Akupun tersenyum kemudian turun dari motor. Reynand pun mulai memarkirkan motornya ke tempat area yang disediakan. Aku mulai mendekat padanya untuk menyerahkan helm yang tadi kupakai padanya.
Begitu kakiku menginjak pasir, aku mulai berlari mendekati bibir pantai.
Pantai Echo menawarkan pesona pantai yang berada di atas karang yang indah, dengan kontur pasir landai dan pasir putihnya yang sangat mempesona.
Puas dengan kegiatanku berlari, bermain air bahkan sesekali berteriak tak jelas, aku kini duduk di tengah pasir putih. Sandal jepit kujadikan sebagai alas untuk duduk, dilanjutkan menikmati cahaya senja yang mulai menyapa.
Reynand menghampiriku melepas sandal yang dia pakai lalu duduk disampingku.
Kita berdua hanyut menikmati langit sore. Keindahannya mampu membius siapa saja yang memandangnya. Tanpa bicara, sinarnya yang hangat memberi kesan tenang dan memanjakan, oleh sinar matahari sore yang berwarna jingga dan Kemerahan.
"Di Bali masih berapa hari?" tanyaku memecah sunyi.
"Besok pagi kita pulang."
"Besok?" tanyaku memastikan menoleh ke arah Reynand.
"Hmm," dia bergumam mengiyakan dan kini dia menoleh menatap ke arahku.
"Kita baru sehari disini," ucap merajuk lesu.
Reynand mengangguk.
"Gak diperpanjang?"
"Bukankah lusa kamu sudah masuk kerja?" katanya mengingatkan.
Akupun menunduk lesu dan menggigit bibir bawahku karna kecewa. Masa baru sehari besoknya sudah pulang, kan sedih.
Reynand pun berdecak dan berkata "Kebiasaan."
Akupun mengangkat wajahku melihatnya, karna tak tahu maksud kalimat yang dia ucapkan.
"Kalau lagi kesal atau kecewa jangan dibiasakan," ucap Reynand lembut disertai mengetuk bibirku dengan jari telunjuknya.
Yang sudah baca Jangan lupa tinggalkan jejak
😘😘😘
To be continue