"Cerai, atau kamu mau jadi yang kedua!"
Pagi itu Elena dan Arsen suaminya tengah melakukan sarapan bersama seperti biasanya, namun satu kalimat tanya dari Arsen sukses menghancurkan hati Elena berkeping-keping.
Arsen memiliki wanita lain yang ia cintai, dan Arsen akan menikahinya. Menduakan Elena yang sudah setia menunggunya selama dua tahun bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
#31
Beberapa hari ini aku tidak ke cafe, juga tidak keluar rumah, kabar pernikahan Kak Arsen dan Nindy sempat kuterima dari Sisca yang mendapat foto resepsi pernikahan mereka dari unggahan IG teman Nindy.
Tak ada rasa sakit maupun kecewa, hanya hampa. Seolah semua tak berguna dan aku tak peduli.
Hari ini aku mengendarai motor matic keluar dari rumah setelah beberapa hari hanya berdiam diri. Semua kebutuhan rumah mulai dapur, kamar mandi. Kulkas, sudah habis. Dan aku akan berbelanja ke swalayan.
Kudorong ranjang troli sambil mengambil satu dua barang yang kurasa butuh dan kumasukkan ke dalam troli tersebut. Hingga barang yang kubutuhkan semua kudapatkan, aku mendorong troli ke meja kasir, mengantri untuk melakukan pembayaran.
Dering ponsel menyita perhatianku, Sisca.
"Iya, Sis?" sapaku saat menerima panggilan dari Sisca.
"Kapan ke cafe? Udah lima hari ini. Kamu sibuk ngapain, sih? Sampai nggak dateng ke cafe. Kita yang main ke rumah juga nggak boleh." gerutu Sisca panjang-lebar.
Senyumku mengembang. Mendorong troli semakin maju, karena pembeli yang lain sudah usai melakukan pembayaran, dan kini giliranku.
"Besok aku ke sana." ucapku singkat.
"Sekarang lagi di mana, sih?"
Sisca meminta untuk dialihkan pada panggilan video. Dan kuterima hingga wajah Sisca memenuhi layar ponsel.
"Lagi belanja?"
"He em."
"Mohon maaf, Kak. Pembayarannya mau secara debit, kredit, cash atau dompet digital?" tanya mbak kasir ramah.
"Debit," kukeluarkan kartu kemudian menyelesaikan transaksi pembayaran, sambil menunggu barang-barang belanjaan ku di kemas dalam kantong belanja yang cukup besar.
"Ya sudah ya, Sis? Aku lagi repot sekarang, nanti aku hubungin kamu lagi, oke?"
"Oke deh, cantik. Bye...."
"Bye,,,," kututup telepon dan kumasukkan kembali ke dalam tas selempang.
"Ini, kak." Mbak Kasir memberikan tas belanjaan ku dan mengembalikan kartu.
"Terimakasih," ucapku.
Aku keluar sambil menggendong tas belanjaan yang kurasa cukup berat. Tiba-tiba kurasakan seseorang mengambil alih tas belanjaan tersebut dari tanganku.
"Kak Hengky?"
"Biar aku bawakan," Kak Hengky melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari titik kami berada.
"Kak,,,, tunggu. Elena bawa motor,"
"Ya nggak papa, Kak Hengky ikutin dari belakang."
Aku terdiam, memikirkannya cukup lama sampai Kak Hengky memaksa kembali, dan aku setuju, Kak Hengky mengikutiku yang naik motor di depannya dan dia menaiki mobilnya di belakangku.
***
"Hati-hati," ucapku saat Kak Hengky mengangkat tas belanjaan itu keluar dari bagasi mobilnya. Kututup bagasi itu setelah Kak Hengky berhasil membawanya.
Kami masuk ke dalam rumah.
"Mau minum apa? Dingin? Anget?"
"Air putih saja,"
Aku mengulas senyum akan jawaban yang Kak Hengky berikan.
"Tunggu sebentar," ucapku mengangkat belanjaan masuk ke dapur, kemudian mengambilkan air putih untuk Kak Hengky yang menunggu di ruang tamu.
"Silahkan," ucapku mengulurkan gelas berisi air putih pada Kak Hengky yang langsung diterimanya.
"Thanks."
Kami duduk pada sofa yang berbeda, saling berhadapan.
"Kemarin aku dari cafe, Sisca bilang kamu belum pernah datang. Terus tadi aku ke sini pas liat kamu keluar naik motor. Jadi_"
"Jadi Kak Hengky ikutin Elena sampai ke Swalayan?"
"Iya," Kak Hengky tersenyum kaku.
"Apa kabar?" tanya Kak Hengky.
"Seperti yang kak Hengky lihat, Elena baik."
Kak Hengky mengangguk beberapa kali.
"Kak Hengky ke mana aja? Maksud Elena. Setelah hari itu, Kak Hengky nggak pernah nemuin Elena."
"Kak Hengky kembali ke Amsterdam, menyelesaikan pekerjaan, dan Kak Hengky meminta untuk pindah tugas ke sini lagi, cukup sulit, tapi akhirnya disetujui."
Suasana hening beberapa saat. Hingga Kak Hengky kembali buka suara.
"Kau merindukan Kakak?" tanya Kak Hengky sontak membuatku kaget.
"Ehm,,,,? Yah,,,, Elena butuh teman bicara."
Kak Hengky mengangguk.
"Nanti malam keluar, yuk?" ajak Kak Hengky.
"Ke mana?"
"Ke mana aja, makan, nonton, jalan."
'Plok plok plok.'
Tiba-tiba suara tepuk tangan dari seseorang yang memasuki rumah menyita perhatian kami.
Kak Arsen datang bersama Nindy, pintu utama memang kubiarkan terbuka sejak tadi.
"Luar biasa, hubungan kalian sudah sejauh ini? Berduaan di dalam rumah?"
"Kak Arsen?" aku berdiri kaget, begitu pun Kak Hengky yang menatap tajam pada Kak Arsen.
"Kau, keluar dari rumahku, atau akan kupanggil polisi untuk menangkapmu." gertak Kak Arsen pada Kak Hengky.
Tangan Kak Hengky mengepal, jelas terlihat jika ia sangat kesal dengan Kak Arsen.
"Aku tidak mengerti, setelah diriku, kau malah mencintai perempuan ini, apa yang kau lihat dari dia? Kenapa tidak bisa mendapatkanku, seleramu berubah jadi rendah?"
"Tutup mulutmu, Nindy!" bentak Kak Hengky pada Nindy.
"Jangan bicara kasar dengan istriku, Bangsat!" Kak Arsen tak terima.
"Cukup!" teriakku menghentikan mereka yang sudah bersitegang.
"Kak Hengky, pulanglah, Elena mohon!"
"Kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk.
"Jika ada apa-apa. Hubungi Kakak. Nomor Kakak masih yang sama."
"Cih, pria rendahan, menggoda istri temannya di depan suaminya. Apa kau mau cari mati?"
"Kak Arsen, kumohon." aku menatap nanar Kak Arsen dengan sorot memohon.
Kak Hengky menatap benci Kak Arsen sebelum ia benar-benar melangkah pergi. Keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil, dan melajukannya dengan kencang meninggalkan halaman depan rumah kami.
"Kenapa Kak Arsen datang membawa wanita ini?"
"Jaga bicaramu, Elena. Kau harus belajar sopan santun dan lebih menghargai Nindy."
"Elena tidak sudi, kenapa? Apa yang akan Kak Arsen lakukan jika Elena tidak menuruti permintaan Kak Arsen, Apa Kak Arsen akan memukul Elena? Lakukan! Elena sudah pernah merasakannya."
Kak Arsen terdiam. Ia tak menjawab dan menarik Nindy ikut bersamanya masuk ke dalam kamarnya.
Tidak, aku tidak mau jika wanita itu tinggal di sini.
"Tunggu," aku menghadang jalan mereka.
"Jika Kak Arsen tetap membawa Nindy masuk ke dalam kamar Kak Arsen, maka Elena akan angkat kaki dari rumah ini detik ini juga."
"ELENA!" teriak Kak Arsen. Tersungging senyum sinis di ujung bibir Kak Arsen.
"Luar biasa, Elena yang sekarang sudah berubah, sangat berani dan pembangkang, bukan lagi Elena yang pura-pura lemah seolah paling tersakiti dan hanya menangis saja."
Aku dan Kak Arsen saling pandang cukup lama dalam diam, berperang melawan pikiran masing-masing.
"Baik, Kak Arsen mengalah, Nindy tidak akan tinggal di sini. Tapi dia akan menginap di sini sebagai teman Kakak, kau tidak berhak mengusirnya." ucap Kak Arsen kembali melangkah menarik tangan Nindy agar ikut bersamanya, menabrak bahuku dengan kasar dan sengaja.
Hatiku sakit, kedua mataku terpejam membiarkan buliran bening itu mengalir.
"Aku tidak boleh lemah, bertahanlah Elena. Manfaatkan waktumu yang tersisa dengan sebaiknya." gumamku dalam hati menyemangati diri sendiri.
***
Sore ini aku tidak memasak apapun untuk Kak Arsen, aku bersikap seolah tak peduli meski ia ada di rumah ini, untuk apa? Di sampingnya juga ada Nindy yang bisa mengurusnya.
Aku membuat nasi gorengku sendiri, kemudian memakannya dengan lahap seorang diri.
"Mana nasi gorengnya?" tanya Nindy yang masuk ke dapur, mencari makanan yang sedang kumakan.
"Memang kau memasak nasi goreng?" tanyaku sinis.
"Elena, kau kan memasak nasi goreng? Baunya aja sampai ke kamar." keluh Nindy.
"Ya itu kan nasi goreng buatanku, ya aku makan sendirilah."
"Iih, pelit bange sih, kamu!"
"Kalau mau makan ya masak. Lagian udah numpang nggak tahu malu banget, sih."
"ELENA?" teriak Kak Arsen yang baru memasuki dapur, dan apa yang terjadi? Nindy berlari menghamburkan diri ke dalam pelukan Kak Arsen, ia menangis. Aku menatapnya geli, kemudian mengangkat piring berisi nasi gorengku dan kubawa ke kamar.
"Arsen, lihat apa yang Elena lakukan? Gimana kalo bayi kita nanti ileran?"
Aku tertawa terbahak mendengar rengekan Nindy. Kak Arsen hendak marah tapi tak ada kesempatan, karena aku sudah menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya rapat.
***
btw lanjut donk yg banyak up nya.
sayang kl nanggung