Bahagiana Bahtiar adalah wanita cantik, cerdas dan kaya raya dari keluarga terpandang. Sosok yang tak pernah percaya dengan namanya cinta, kekasih, suami. Karena sesuatu terjadi pada salah satu organ tubuhnya, dia dijodohkan oleh sang Papi dengan Balin Azura, pria dewasa dan tampan dari kalangan biasa.
"Ilmu gaib apa yang kau gunakan hingga berhasil mencuci otak Papi?" bentak Bahagiana seraya berkacak pinggang, menatap tajam.
"Asal kau tahu bahwa salah satu dalam organ tubuhmu itu adalah alasan utamaku menerima PERJANJIAN PERNIKAHAN ini!" Batin Balin dengan perasaan murka karena kalimat yang dilontarkan Bahagiana.
"Tidak bisa menjawab? uang, harta dan kekayaan? selamat kau berhasil!" Teriak Bahagiana untuk kesekian kalinya.
Bagaimana kisah antara Bahagiana dengan Balin? dua sosok beda karakter, martabat yang akan hidup satu atap.
Ikuti kisahnya di karya author recehan ini yang masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 32. Tidur Bersama
Mami dibawa ke rumah sakit terdekat. Tuhan berkehendak lain, Mami tak diselamatkan akibat shock dan serangan jantung.
Gia menangis histeris. Usianya memang masih remaja tetapi ia benar-benar terpukul akan kejadian tersebut.
Gia murka dengan Papinya dan bahkan menyalahkan Papinya atas kepergian Maminya.
"Papi jahat, Papi jahat.....! Gia benci Papi, Gia benci." Tangis Gia histeris seraya memukul dada Papinya di depan jenazah sang Mami yang terbujur kaku di kamar mayat rumah sakit.
"Sayang Papi minta maaf sayang. Papi bisa jelaskan," ucap Papi dengan dada bergemuruh. Kepergian mendadak sang istri membuatnya shock berat. Ia tak pernah menduga jika hari ini keluarga besar Bahtiar berduka.
"Gia benci Papi sangat benci!" Teriak Gia menepis pelukan tersebut.
FLASHBACK OFF
***
"Papi bukanlah orang baik seperti yang kamu lihat," lirih Gia dengan berlinang air mata, mengakhiri cerita masa lalu tersebut.
Balin terenyuh setelah mendengar masa lalu yang membuat Gia terluka.
Gia menyeka air mata itu. "Berselang 1 tahun kepergian Mami, Papi menikahi wanita itu dan membawanya tinggal di rumah impian almarhum Mami. Kamu tahu apa yang aku rasakan pada saat keadaan waktu itu? aku masih tengelam dalam duka tapi dengan entengnya Papi menambah luka itu, luka yang belum kering." Pungkas Gia kembali.
Tidak tahan lagi melihat kesedihan Gia membuat Balin merengkuh tubuh itu, membawanya kedalam pelukannya.
"Papi jahat, benar-benar jahat. Apa kesalahan Mami hingga beliau tega mengkhianatinya?" lirih Gia dalam pelukan Balin.
"Tenanglah," bisik Balin seraya mengusap kepala Gia yang tengelam dalam dada bidangnya.
"Sampai sekarangpun aku belum bisa menerima wanita itu, wanita yang menyebabkan keretakan rumah tangga bahkan ikut dalam kepergian Mami," imbuhnya tersedu-sedu.
"Sudah, sudah." Balin kembali menenangkan Gia.
Cukup lama mereka tengelam dalam pelukan, pelukan menenangkan antara satu sama lainnya.
Hmm
Gia tersadar dengan keadaan mereka saat ini, hingga membuatnya melepaskan pelukan itu. Rasa canggung meliputi dirinya. Ia hanya bisa menunduk kikuk.
Balin menarik nafas dalam-dalam. Cerita Gia berhasil membuatnya sesak. Ia tak menyangka jika masa lalu istrinya itu cukup miris. Sungguh tidak mudah melupakannya. Ia paham sekarang jika sosok Gia dingin, tidak suka kepada para pria. Dan bahkan tidak percaya dengan namanya cinta.
"Semua memiliki masa lalunya masing-masing," tutur Balin, termasuk dirinya sendiri.
"Apa termasuk kamu?" tebak Gia.
Balin tertekun mendengar pertanyaan Gia. Tapi bukan waktunya ia menceritakannya. Gia sudah cukup sesak hari ini karena kembali membuka luka lama tersebut.
Balin mengangguk
"Ceritalah mungkin saja setelah menceritakannya sedikit merasa lega," ucap Gia sedikit penasaran dengan masa lalu Balin.
"Tidak untuk malam ini. Besok saja ya? ini sudah tengah malam. Bagaimana jika kita tidur saja?" kata Balin.
Gia mengangguk kecewa
Balin menyipitkan mata karena Gia tak kunjung beranjak dari sofa. Sofa yang menjadi tempatnya untuk tidur. Bagaimana bisa ia rebahan jika Gia masih duduk di sampingnya.
"Segeralah tidur," ucap Balin dengan lembut.
Gia tersentak karena ia sempat melamun.
"Hmm bagaimana jika kamu tidur bersamaku? hmm maksudku------"
Balin tersentak kaget mendengar kalimat yang dilontarkan Gia. Ia yakin bahwa salah mendengar.
"Maksudmu?" pancing Balin ingin mendengar lebih jelas.
Tanpa ingin berkata apapun Gia beranjak bangkit, menarik tangan Balin dengan spontan. Balin tentu saja kaget tetapi tak menolak.
"Ya Tuhan apa yang aku lakukan?" batin Gia dengan tingkahnya itu. "Bisa kamu temani aku tidur?" gumam Gia dengan gugup, bahkan Balin sadar dengan bibir bergetar itu.
Entah kenapa jantung Balin berdegup kencang mendengar permintaan Gia. Rasa bahagia dilubuj hatinya tak bisa ia sembunyikan.
Balin mengangguk
Mereka rebahan dengan jaga jarak, dibatasi dengan sebuah gulung. Gia memunggungi sedangkan Balin terentang, memandangi langit-langit kamar.
Sangat sulit untuk keduanya memejamkan mata. Membawa kedalam tidur nyenyak. Tidak ada lagi obrolan, seakan lidah keduanya keluh.
Balin melirik ke samping, memandangi punggung Gia yang diselimuti kain tebal. Entah pa yang membuatnya kerasukan hingga berani beringsut dan memeluk Gia dari belakang.
DEG
Bersambung....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi
jangan lupa juga yaaa kak mampir vote dan likenya cmiww💐