follow igku @zariya_zaya
Refald dan temannya Eric, tak sengaja terjebak di sebuah desa yang penuh dengan misteri. Saat menunggu mobil Refald diperbaiki, ia tak sengaja melihat sosok Kuntilanak mengikuti sepasang muda mudi yang sedang asyik berkencan disebuah warung. Refald merasakan hawa jahat dari sosok Kuntilanak tersebut karena ia adalah salah satu manusia istimewa yang bisa melihat makhluk astral tak kasat mata. Kuntilanak tersebut memberi peringatan keras pada Refald untuk tidak ikut campur urusannya.
Apakah yang akan dilakukan Refald? Mengabaikan pasangan yang sedang dalam bahaya itu ataukah menyelamatkan mereka dari ancaman sang Kuntilanak? Bisakah Refald yang dijuluki sebagai pangeran dedemit ala Edward dan Eric keluar dari desa yang penuh dengan teror?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Jurus Rayuan Maut
Acuh tak acuh pada sikap Nana yang terkejut padanya, Eric memilih untuk memulai ritualnya. Sebenarnya, Eric tak benar-benar tahu makna bahasa Jawa yang diucapkan Nana. Ia hanya menebak dan sedikit membuka kamus RPAL bahasa jawa pemberian Refald beberapa waktu lalu. Refald juga memberi tahu bahwa malam ini adalah malam satu suro di mana menurut kepercayaan jawa, malam tersebut termasuk salah satu malam yang dipercayai punya beberapa pantangan bagi masyarakat suku Jawa.
Eric tak begitu paham mengenai mitos-mitos tersebut karena Refald tak menjelaskannya secara detail. Pangeran dedemit itu hanya memberi tahu kalau ia tak boleh meninggalkan garis batas yang telah dibuat Refald sebelumnya demi melindungi Eric dari godaan makhluk astral yang mencoba mengacaukan ritualnya selama 40 hari ke depan. Ericpun menurut dan melakukan apa yang dikatakan sahabat karibnya
“Aku harus mulai dan menyelesaikan ritualku, sampai kapan kau menatapku seperti itu nona Nana? Apa kau menyukaiku?” tanya Eric setengah menggoda Nana. Sepertinya virus Refald telah menular padanya.
“Idih, Ge-Er tenan sampean Mas, lek dikongkon milih, mending aku milih konco sampean seng ngganteng kui ketimbang sampean Mas. Sayang ae, cah ngganteng kui wes onok seng nduwe.” (Idih, Ge-Er banget kau, Mas. Kalau disuruh memilih, mendingan aku memilih temanmu yang tampan itu daripada kau, Mas. Sayang saja, si ganteng itu sudah ada yang punya) Nana mencibir ungkapan Eric.
“Aku sarankan jangan harapkan dia, Nona. Sebab yang dia cinta hanya satu wanita saja, yaitu calon istrinya yang sedang ia perjuangkan sekarang. Selama 40 hari aku akan ada di sini. Kita akan bertemu setiap hari, aku peringatkan supaya kau tidak jatuh cinta padaku. Karena itu sangat berat.” Eric semakin ngelantur ngomong kemana-mana sok penuh percaya diri dan membuat Nana semakin dongkol akut padanya.
“Ooo ancen bule gendeng!” (Memang bule gila) cibir Nana kesal.
Eric sudah tidak asing lagi mendengar cibiran Nana yang pastinya telah mengatainya gila karena Refald sudah memberitahunya sebelumnya. Namun kali ini, ia tak ingin terbawa emosi terlebih lagi ia akan bertemu gadis cantik ini setiap hari. Ericpun mengeluarkan jurus yang ia pelajari dari Refald ketika ia memikat hati Fey. Yaitu, jurus rayuan maut.
“Aku memang sudah gila, Nona. Aku gila karena ada kau disisiku,” ujarnya sambil tersenyum.
“Dasar wong stress!” (Dasar orang sinting) cetus Nana tak ingin semakin darah tinggi melihat Eric.
Gadis desa itu langsung masuk ke dalam rumahnya dan menuju kamar. Kebetulan, kamar Nana ada di depan dekat jendela tempat Eric melakukan ritualnya. Dari balik tirai, Nana mengintip Eric yang langsung berkonsentrasi.
Kalau dicermati, sikap Eric langsung berubah 180° dari yang tadi saat cowok bule itu menggoda Nana. Entah mengapa Nana jadi tak bisa berpaling dari Eric yang tampak terlihat keren saat dalam pose layaknya orang sedang bertapa. Posisi Eric juga memunggungi Nana sehingga gadis desa itu yakin, kalau Eric tidak tahu bahwa dirinya sedang diawasi si bunga desa.
Pada malam satu suro, biasanya di beberapa tempat, khususnya di daerah jawa, malam ini dirayakan dengan meriah sesuai adat dan kepercayaan mereka masing-masing. Namun tidak di desa ini. Semua penduduk desa masih memercayai mitos tertentu salah satunya adalah tidak bepergian kemana-mana dan tetap berdiam diri di dalam rumah.
Tak heran jika malam ini, suasana desa tampak begitu sepi, sunyi dan agak sedikit mencekam meski tak seseram sebelumnya karena Refald sudah mengusir semua hantu pengganggu dan hantu peneror desa ini. Namun bukan berarti, makhluk astral lain, tak berseliweran di sini lagi.
Mereka tetap ada, dan tidak akan mengganggu selama mereka merasa tak terganggu. Bahkan diantara para makhluk tak kasat mata itu sempat bersimpati pada Eric yang tiba-tiba saja melakukan ritual pembersihan kesalahan untuk para leluhurnya. Hal itu jarang sekali dilakukan manusia.
***
Sementara itu, Refald sengaja menemui Fey untuk memberikan perlindungan penuh pada wanita yang amat sangat ia cinta. Sebab, Refald merasakan bahaya besar sedang mengancam nyawa Fey. Banyak makhluk astral menginginkan Fey menjadi bagian dari mereka.
Disaat para senior Fey berkumpul, Refald sangat terkejut ketika salah satu senior Fey mengatakan bahwa mereka menggunakan kata sandi tertentu ketika melangsungkan kegiatan caraka. Hal itu membuat Refald ingin murka, tapi ia langsung sadar, bukan salah mereka bila kata sandi yang harusnya tak sembarang diucapkan, telah disalahgunakan dalam kegiatan ini.
Refald pergi menuju sungai dan memanggil seluruh pasukan dedemitnya untuk berjaga-jaga. Ia tahu ada beberapa makhluk astral sedang mengawasi semua orang yang ada di hutan ini termasuk Fey sendiri. Tentu apa yang Refald lakukan tak diketahui oleh Fey karena ia tak ingin membuat Fey cemas.
“Kenapa Anda tak membawa Tuan putri pergi dari sini, Pangeran. Dengan begitu masalah beres. Kita tak perlu repot-repot bermain petak umpet di sini dengan para dedemit lain. Tempat ini sangat berbahaya bagi Tuan putri,” usul pak Po.
“Tidak semudah itu, pak Po. Fey sudah menyiapkan acara ini jauh-jauh hari. Ia tak mungin lari dari tanggungjawab karena ia adalah ketua panitia acara ini. Lagipula, kemanapun Fey berada, makhluk-makhluk itu pasti akan mengikuti Fey. Apa bedanya di sini dan di tempat lain. Biarkan saja, kalian semua cukup waspada. Sebentar lagi lubang hitam itu akan terbuka, ketika aku masuk ke dalam lubang tersebut, kalian harus membukanya lagi secepatnya. Sebuah tabir akan terkuak ketika aku dan Fey memasuki kembali lubang hitam itu.”Refald menatap lurus aliran sungai didepannya.
“Bukankah banyak anggota lain? Tanpa tuan Putri, acara ini pasti bakal berhasil. Bagaimana kalau kita culik saja tuan putri Fey dan membawanya pergi dari sini, Pangeran? Lalu basmi semua dedemit yang ingin mengganggu Tuan putri di tempat lain, jangan di sini? Usulku keren, kan?”
Refald langsung menoleh pada pak Po.“Kenapa? Kau takut dengan mereka? Karena mereka jauh lebih kuat darimu?” tanya Refald.
“Bukan begitu Pangeran, satu-satunya yang membuatku takut adalah Anda. Entah sihir apa yang Anda gunakan sampai tuan putri Fey begitu terpesona dengan wajah Anda yang garang bin seram itu?”
Refald tertawa, “Terimakasih atas pujianmu pak Po. Aku memang mempesona, tak ada wanita manapun di dunia ini yang tidak terpikat akan pesona paripurnaku. Jika bukan karena ketampananku ini, mana mungkin aku bisa jadi pangeran dedemitmu!” Mata Refald melotot seolah hendak menggilis mulut pak Po karena sudah berkata lancang padanya. Namun pak Po terselamatkan karena Fey tiba-tiba saja datang dari balik punggung Refald.
“Apa yang kau lakukan di sini? Kau bicara dengan siapa?” tanya Fey bingung dan juga heran melihat pria tampan yang menjadi tunangannya bertingkah aneh.
Tanpa di suruh, pak Po dan rekan-rekannya langsung menghilang dari pandangan Refald. Saat ini, Fey memang masih belum bisa melihat semua pasukan dedemit tunangannya. Refald sendiri juga belum mau memberitahu Fey segalanya tentang fakta tersembunyi seorang Refald.
Pemuda tampan itu balik badan dan berjalan cepat menghampiri tunangannya lalu menatapnya lekat-lekat tepat di manik mata Fey. “Sejujurnya, aku sedang latihan," ujar Refald penuh teka-teki.
"Latihan apaan? Latihan kesurupan?" ledek Fey.
"Bukan, aku sedang latihan mengucapkan kata-kata yang pas, bagaimana caraku melamarmu, menjadi istriku,” ujar Refald sambil menahan senyum.
Bersambung
***
kangen