Adis seorang gadis yang sangat membenci laki-laki, entah apa penyebabnya ia juga tidak tahu.
Yang jelas jika ada laki-laki yang mendekatinya, hati Adis bisa menjadi marah. Dan yang mengetahui penyebab itu adalah ibunya, hingga sang ibu memutuskan menyuruh Adis untuk menikah karena hanya itu jalan satu-satunya.
Meski kata menikah dalam benak Adis adalah 'Aneh' namun akhirnya Adis tetap menuruti permintaan ibunya itu meski ia sendiri ragu untuk menjalankan kehidupan berumah tangga.
Rahasia apa yang di sembunyikan oleh ibunya Adis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama
"Kamu nggak mau ajak istrimu bulan madu Bim?" Tanya Mama Desi. Wanita paruh baya itu sangat berharap agar segera mendapatkan cucu.
Adis yang tengah menonton sinetron pun beralih menatap suaminya. Jangan sampai Bima setuju dengan usulan Mama mertuanya itu. Adis saja tidak mau disentuh Bima meski mereka sudah menjadi suami istri. Dan Adis tetap memberi jarak pada Bima dan hanya di depan para orangtua saja dia terlihat mesra dengan suaminya itu.
"Bima belum ada waktu Ma." Jawabnya singkat. Membuat Adis bernafas lega.
"Syukurlah." Batin Adis.
"Kenapa? Sekali-kali kamu tinggalkan kerjaan kantormu itu. Ada Papa juga yang bakal menanganinya jika kalian pergi bulan madu." Ujar Mama Desi tetap maksa.
Bima menghela nafasnya.
"Proyek yang Bima tangani ini sangat penting dan tidak bisa digantikan oleh Papa." Sahut Bima memberi pengertian pada Mama tercintanya itu.
"Hmm, Susah banget ngebujuknya." Gerutu Mama Desi, gagal sudah merayu putranya yang gila kerja itu.
Dalam hati, Adis tersenyum puas. Suaminya ini tetap pada pendiriannya menolak untuk pergi bulan madu. Sering-sering aja dia sibuk dengan urusan kantornya jadi Adis tidak akan berduaan terus dengan Bima.
"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Bima dengan tatapan selidik. Apa istrinya ini senang jika ia menolak pergi bulan madu?
"Enggak siapa yang senyum-senyum." Elak Adis lalu kembali dengan sinetronnya.
"Tolong buatkan aku kopi terus bawa ke ruang kerjaku." Pinta Bima sambil berdiri.
"Iya." Angguk Adis.
Dengan segera Adis membuatkan kopi yang diminta suaminya itu lalu naik ke lantai dua menuju ruang kerja Bima yang berada di sebelah kamarnya. Tanpa mengetuk pintu Adis langsung masuk. Suaminya itu tengah berkutat dengan laptopnya.
"Kopinya." Ucap Adis sambil meletakkan secangkir kopi panas di atas meja kerja Bima.
"Iya terimakasih." Jawab Bima tanpa melihat Adis.
Setelah itu Adis segera keluar dan kembali berbaur dengan kedua mertuanya dan juga Ibunya di ruang keluarga.
"Suamimu emang gitu kerjaan mulu yang jadi prioritasnya." Ujar Mama Desi kepada Adis.
"Namanya juga pemimpin perusahaan Ma jadi tanggung jawabnya besar." Ucap Adis yang cukup paham.
"Kamu nggak keberatan kan jika bulan madu kalian di tunda?" Tanya Mama Desi dengan tidak enak hati.
"Ya enggak lah Ma." Jawab Adis dengan senyum lebarnya.
Malah aku seneng banget Ma, bulan madunya gagal, hehe..
"Ya seperti itulah suamimu. Kalau urusan kerjaan selalu jadi nomor satu." Ujar Mama Desi dengan kesalnya. Tidak habis pikir dengan putra semata wayangnya itu untungnya menantunya ini orangnya pengertian.
"Lagian masih ada hari lain Ma untuk mereka berdua bersenang-senang." Timpal Papa Adi.
"Iya, betul Des." Sambung Bu Sari.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Bima belum juga kembali ke kamar. Adis juga belum tidur masih sibuk video call dengan kedua sahabatnya.
Bahkan Anis dan Sekar tidak henti-hentinya menggoda Adis mengingatkan adanya malam pertama bagi pengantin baru.
"Dis kalau bisa, nanti kamu pakai baju yang seksi ya biar Pak Bima semakin tergoda." Kikik geli Anis dengan pikiran liarnya. Membayangkan malam pertama yang dilakukan sahabat dan Bosnya.
"Iya, kamu udah buka kado yang kami berikan kan?" Timpal Sekar. Mereka berdua patungan untuk membelikan hadiah spesial buat Adis.
"Aku belum sempat buka kado dari kalian." Jawab Adis yang memang lupa.
Anis menepuk jidatnya, untungnya ia sudah mengingatkan.
"Ayo sekarang kamu buka hadiah dari kami." Pinta Anis dengan tidak sabarnya.
"Besok aja deh, malas aku." Tolak Adis sambil memangku bantal di pangkuannya.
"Ayo lah Dis, buka sekarang juga." Rayu Sekar.
"Apa sih hadiah yang kalian berikan padaku hingga kalian segitunya." Selidik Adis dengan pandangan heran.
"Udah jangan banyak tanya. Sekarang cepetan buka." Pinta Anis dengan paksaan.
"Iya-iya." Adis beranjak dari ranjang lalu mengambil bungkusan kado yang ada di atas nakas. Terdapat lima kado yang ada dan Adis mengambil kado yang berwarna merah muda hadiah dari kedua sahabatnya.
"Nih, aku buka ya." Sambil menunjukkan pada kedua sahabatnya.
Di dalam layar ponsel itu Anis dan Sekar senyum-senyum tidak jelas sambil melihat Adis membuka kertas pembungkus nya. Dan tara...
Ternyata mereka memberi Adis sebuah lingerie berwarna merah nyalang. Bola mata Adis hampir keluar begitu baju haram itu di peruntukkan untuk dirinya.
"Gimana bagus kan hadiah dari kami." Ujar Anis dengan bangganya.
"*ila ya kalian nggak ada kerjaan banget ngasih aku baju ginian." Sewot Adis membetangkan lingerie yang tidak dia sukai itu. Untuk apa juga dia memakai baju kurang bahan kayak ginian.
Sementara kedua sahabat gesrek itu hanya tertawa cekikikan tanpa dosa.
"Eh, itu baju wajib Dis bagi pasangan baru seperti kalian." Sahut Sekar menegaskan.
"Benar-benar parah otak kalian." Ujar Adis sambil geleng-geleng kepala. Semangat sekali mereka menyuruh dirinya memakai baju transparan itu.
"Ibadah Dis ibadah, menyenangkan hati suami dapat pahala gede." Ucap Anis berlagak sok jadi ustadzah dadakan.
Adis hanya mendelikkan matanya. Dia aja nggak kepikiran untuk malam pertama. Pernikahan ini adalah pernikahan paksa jadi jangan salahkan dia kalau tidak bisa memberi hak Bima.
Ceklek.. Pintu kamarnya terbuka.
Gawat, Bima udah kembali dari ruang kerjanya. Buru-buru Adis meraih lingerie nya lalu ia sembunyikan di belakangnya. Dan ponselnya langsung ia matikan begitu tahu suaminya sudah masuk kamar.
"Belum tidur kamu?" Tanya Bima yang hendak masuk ke kamar mandi. Saat ini sudah pukul setengah sepuluh lebih.
"Belum." Jawab Adis dengan senyum kikuk sambil memunguti sobekan kertas di atas ranjangnya.
"Huuft.." Lega Adis setelah Bima masuk ke kamar mandi. Gara-gara kedua sahabat gesreknya itu hampir aja ketahuan.
Adis bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah lemari memasukkan baju tidak layak pakai itu di sana. Dengan asal Adis main masukkan saja padahal pintu yang ia buka bukan pintu lemarinya melainkan milik Bima.
"Aman.." Gumamnya setelah menutup pintu lemari.
Tak berselang lama Bima sudah keluar dari kamar mandi. Adis semakin mengeratkan selimut yang ia pakai. Jujur saja ada rasa takut dan juga deg-degan malam ini tidur seranjang dengan laki-laki. Bagaimana nanti kalau ia sudah tertidur pulas terus Bima ngapa-ngapain dirinya? Oh, jangan sampai itu terjadi.
Bima merebahkan tubuh kekarnya setelah mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur yang temaram. Ia cukup paham kalau tidak akan ada malam pertama, untuk itu ia tidak memaksa Adis untuk melayani dirinya.
"Eh, kok lampunya dimatikan." Protes Adis.
"Kenapa?" Tanya Bima.
"Aku nggak bisa tidur kalau cahayanya remang-remang kayak gini." Jelas Adis.
"Mulai sekarang harus kamu biasakan." Ucap Bima.
"Ayolah Bim..nyalakan lampunya." Pinta Adis memelas.
"Panggil aku Mas, aku ini suami kamu!" Ucap Bima tegas.
"Iya-iya, aku panggil Mas tapi nyalakan lampunya ya." Pinta Adis lagi.
"Udah sekarang tidur." Perintah Bima tetap tidak menyalakan lampunya.
"Nggak mau, lebih baik aku tidur dengan ibu saja." Ucap Adis melemparkan selimutnya.
Namun lengan Adis langsung di tarik Bima hingga jatuh ke pelukannya.
"Aaa..." Jerit Adis.
"Sstt, jangan berisik!" Ucap Bima.
Sedang di kamar lain, Mama dan Papa mendengar jeritan Adis.
"Pa, Papa dengar jeritan itu?" Tanya Mama Desi.
"Iya dengar." Jawab Papa Adi dengan mata terpejam.
"Pasti Bima ganas sekali, hihi.." Ucap Mama Desi terkikik geli.
"Mungkin Ma." Sahut Papa Adi.
"Gimana kalau kita intip mereka." Ajak Mama Desi dengan semangat.
.
.
Bersambung...
.