Lily Rahmawati Gadis manis dari Desa kecil di daerah Brebes, terpaksa menjadi Buruh Migran Indonesia dan merantau ke Negeri Beton, Hongkong. Demi Ibu dan Adik tercintanya, Ia rela meninggalkan Negeri untuk mengais rezeki.
Tak disangka Ia mengalami malam yang buruk bersama Bos tampannya, Emiliano Davidson dan berakhir dengan pernikahan kontrak Antara mereka dikarenakan Lily yang tengah hamil anak David?
Tanpa cinta diantara keduanya,akankah pernikahan itu akan jadi awal dari hati mereka yang akan saling terpaut?
Ditambah Putri David yang sangat menyayangi Lily mampu menyatukan keduanya menjadi suami istri yang sebenarnya?
Ataukah perbedaan mereka yang menjulang tinggi hingga kehadiran wanita dari masa lalu David akan memisahkan keduanya?
*cerita ini adalah hasil imajinasi dan kehaluan mendarah daging dari mamak halu ini ya ibu-ibu.. semoga dapat dinikmati, dan apabila ada kesamaan atau banyak tulisan yang belum sempurna harap dimaklumi karena Saya masih belajar ❤️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepenggal Kisah Kelam (2)
Sarah Dengan cepat mengendarai mobil Maybach nya menuju apartemen pribadinya.
Sedari tadi Ia berusaha menghubungi Marry namun sepertinya wanita itu tengah sibuk. Terlintas di pikirannya untuk menghubungi Dominic, namun suaminya pasti tidak akan mempercayainya begitu saja meskipun Sarah telah berhasil mendapatkan buktinya dengan..... merekamnya.
Sarah akhirnya sampai di apartemen pribadinya, seperti mendapat firasat buruk, dalam benaknya, Wanita itu terfikir untuk mengamankan rekamannya terlebih dahulu. Wanita itu kemudian mengirimkan file rekaman yang ada di ponsel pintarnya ke email-nya sendiri dan email.... Dominic.
"Dengan begini, bukti ini tidak akan pernah hilang selama aku tidak menghapusnya, Maafkan aku Dom. tapi Kau harus tahu kejahatan ibumu, Kau adalah pria yang baik" Gumam Sarah.
Sarah telah sampai di pintu apartemennya, Ia sengaja tidak pulang ke Mansion karena sejujurnya ia takut bahwa Ibu mertuanya curiga jika dia ternyata berada di rumah. Jadi, dengan begini Sarah berharap Nyonya Charlotte tidak mencurigainya.
Tapi Sarah melupakan, bahwa Mansion seluruhnya telah di sadap.
Sarah membuka pintu ppartemennya, Kemudian melangkah menuju saklar untk, menyalakan lampu ruang tamu yang gelap gulita. tiba-tiba.
"Akhhhhhh" wanita itu menjerit saat ada yang menarik rambutnya dengan keras.
Prakkkkk!!!! tubuh wanita itu terpelanting datas lantai dan mengenai vas bunga yang ada disana.
Sekujur tubuh Sarah menggigil karena terkejut dan sakit yang luar biasa. beberapa pecahan kaca mengenai kulitnya. menciptakan rasa nyeri dan perih secara bersamaan.
Dari balik kegelapan terlihat langkah kaki yang mendekat. Merasakan aura bahaya dari orang tersebut tubuh Laura otomatis bergerak mundur.
Air matanya luruh begitu saja, rasa ketakutan menjalar dengan cepat sampai ke tulang rusuknya.
"Apa kabar, Sarah?"
suara itu! Sarah sangat mengenali suara maskulin itu.
"P-pa- paman Martin?" Ucap Sarah tergagap, saat melihat wajah tampan namun menyeramkan di hadapannya.
"Yah, menantu ini Aku, apa kau senang melihatku?"
Ucap laki-laki itu lembut namun jelas nada ancaman terselip disana.
Sarah menelan salivanya kasar.
'Mereka tahu!' batin Sarah menjerit namun tak bisa bersuara.
"Harusnya kau tidak perlu ikut campur, cantik. kau hanya tinggal menikmati hasilnya, apa susahnya?"
Ucap Martin dengan ekspresi seolah sangat menyesal dan prihatin.
Namun sebaliknya, Sarah dengan marah menatap Pria tidak tahu malu dihadapannya itu.
"Apa kau pikir, Aku bersedia berkomplot dengan manusia kejam seperti kalian? jangan harap!"
Entah keberanian dari mana, Sarah membalikkan pertanyaan pada Martin dengan lantang.
"Sayang sekali. itu berarti Kau harus..... pergi"
Seluruh tubuh Sarah membeku. Ia tahu apa yang akan terjadi padanya. Wanita itu hendak berlari namun dengan cepat Martin meraih rambutnya, dan dengan kuat mencengkeram dagunya hingga secara sistematis Sara membuka mulutnya.
Martin dengan sigap memasukkan butiran-butiran pil yang berjumlah tidak sedikit kedalam kerongkongan nya sekaligus, membuat Sarah terbatuk-batuk dengan rasa tercekik yang tajam.
Martin dengan paksa memasukkan cairan putih dengan bau menyengat khas alkohol untuk mendorong pil itu masuk.
Sarah benar-benar hampir mati. Pria kejam itu kemudian melempar tubuh lemas itu kelantai.
Sarah menggelinjang, suara jeritannya terdengar mengerikan sekaligus menyedihkan. wanita itu merasakan tubuhnya seperti di tusuk ribuan jarum dengan sensasi terbakar di dalam paru-parunya.
tubuhnya mengejang dan bergetar hebat. sakit luar biasa.
"Dokterku bilang obat itu akan mampu membawamu ke neraka hanya dalam waktu 10 menit saja. Jika terpampang di dalam sampul surat kabar, Istri Dominic Crambhell bunuh diri karena tidak bisa melupakan mantan kekasihnya... sepertinya akan seru, hahahah "Tawa mengejek Martin saat melihat Sarah yang sudah mengeluarkan busa putih.
Sarah merasakan kesulitan bernafas, Dia menangis namun tidak menyesal, setidaknya dia bisa menyelamatkan Pria yang sampai saat ini menempati posisi khusus dihatinya, David.
Ia menikmati detik-detik terakhirnya.
Yah, Sarah tahu dia pasti tidak akan selamat.
Martin kemudian menggeledah tas Sarah, mencari ponsel pintar milik wanita itu untuk menghapus bukti.
Senyum liciknya terbit saat melihat rekaman itu dan kemudian menghapusnya.
"Tamat" Ucapnya kemudian menoleh Ke arah Sarah yang sudah tak bergerak sedikitpun.
"Selamat Tinggal" Ucap Martin kemudian berlalu dari sana dengan segera.
Sejurus kemudian,
Marry tergesa-gesa berlari menuju kamar Apartemen sahabatnya, Sarah.
20 panggilan tak terjawab dari wanita itu. membuatnya khawatir. Apalagi pesan terakhirnya yang membuat Marry semakin panik.
"Semoga tidak terjadi apa-apa" gumam Marry yang merasakan firasat buruk.
Sesampainya di pintu apartemen Sarah, Marry berulangkali menekan bel yang ada di sana namun tidak ada jawaban.
"Apa Sarah tidak ada didalam?" Marry bertanya-tanya sendiri, kemudian Ia bergegas kembali ke lobby untuk menanyakannya pada resepsionis.
Namun jawaban dari resepsionis justru membuatnya panik.
"Aku minta tolong, sungguh! Aku pikir temanku dalam bahaya. berikan kunci cadangannya Aku mohon" Ucap Marry memohon. jantungnya serasa akan melompat keluar saat resepsionis mengatakan Sarah baru saja masuk ke dalam dan belum melihatnya keluar.
Ditambah, Mobil Sarah masih ada di parkiran! itu berarti sahabatnya masih berada di apartemennya.
Marry sungguh gemas melihat Resepsionis yang hanya saling pandang seperti orang bodoh.
"Baiklah, kalau kalian tidak percaya padaku. Salah satu dari kalian ikutlah denganku, dan buka pintu apartemen Nona Sarah Crambhell. Aku yakin dia dalam masalah"
Kedua resepsionis itu pun mengangguk, kemudian salah seorangnya mencari duplikat kunci apartment Sarah, dan mengikuti langkah cepat Marry setelah berhasil menemukan kunci itu.
"Cepat-cepat" Suara Marry menginterupsi resepsionis itu.
Sesampainya di depan apartemen mewah itu, Resepsionis itu segera membuka pintunya dan secepat kilat Marry menerjang masuk ke dalam.
"Sarahhhhhh!!! Suara Marry mengaung, membuat Resepsionis itu terkejut dan sontak berlari ke arah sumber suara. Kemudian wanita berseragam itu hampir melompat keluar bola matanya melihat Nona muda keluarga Crambhell sudah terbujur kaku.
"Panggil ambulance cepat!! dia masih hidup!" Suara Marry histeris, membuat Resepsionis yang masih setengah sadar itu berlalu dengan linglung mencari pertolongan.
"Bertahanlah Marry, Aku mohon" Tangisnya tak dapat ditahan. Seluruh tubuh Marry ikut merasakan sakit. sahabatnya sudah membiru, wajahnya sudah seputih kertas.
Tiba-tiba jemari Sarah bergerak. menggenggam tangan Marry dengan lemah.
"E mil, em- ail" Sarah bergumam seraya menatap sayu Marry.
"E-mil.. Do-minic" Ucapnya lagi.
"Email? Dominic? apa maksudmu Sarah?" Marry putus asa. dia tidak juga memahami maksud sahabatnya. Sementara Sarah sudah tak bergerak lagi. genggamannya terlepas. matanya sedikit terbuka. Wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya.
"Tidak, tidak, tidak Sarah bangunlah, aku mohon jangan seperti ini, Katakan sesuatu lagi, Aku mohon! Sarah!!!!"
Marry menangis dalam. Penyesalan menyelimuti hatinya. Andai saja dia datang lebih cepat. Andai saja dia menerima panggilan telepon dari Sarah, dan banyak lagi 'andai' yang ia sesali, namun pada kenyataannya dia... terlambat.
kyk yg bikin
kalau tau marah tu yaaa
ga elit amet mabok kecubung
🤭
curhat y Mak..
aku mampir Thor
yg disini
rumahnya baojia masih sepi ga ada orang ya lanjut kesini🤣🤣🤣
dengan kemasan yg oke bacaannya jadi menarik thor...
ceritanya lain dari pada yg lain.dengan latar negara luar
terus semangat berkarya thor 🥰🥰🥰